~ 27 ~

Write. Anywhere. Anytime.

Selasa, 01 Januari 2019

Maafkan Saya yang Telah Merusak Kencan Pertama Kita

Orang tak semestinya berjanji jika pada akhirnya tak sanggup menepati.



Sebuah kencan pada umumnya sering dikaitkan dengan sesuatu yang manis dan berkesan. Terlebih-lebih jika itu adalah kencan pertama. Orang pasti akan menyiapkan apa-apa yang terbaik dari diri mereka; penampilan, topik perbincangan, sampai sederet detail terkecil yang mungkin tak terlalu penting. Ada pun sebagian orang menganggap kencan pertama seperti panggilan wawancara kerja dari salah satu perusahaan favorit mereka.

Saya mengenal orang ini sudah cukup lama. Sekitar satu tahun, kurang lebih. Dimulai dari perbincangan kecil di jejaring sosial Twitter, saling bertukar nomor telepon, dan sebagainya.

Ada banyak kesan yang saya terima dalam rentang waktu sebulan perkenalan kami. Dia ramah, pandai membangun obrolan yang seru, menyenangkan, dan saban waktu terlihat agak misterius. Seperti ada bagian dari dirinya yang tak sudi dia bagi kepada siapa pun. Barangkali karena dia lahir di bawah konstelasi bintang Scorpio, saya rasa.

Dan selama sebulan itu, saya dengan polosnya membayangkan ke mana hubungan pertemanan kami akan berlanjut. Maka tak tanggung-tanggung saya mengajak dirinya untuk berlibur bersama ke Bandung pada bulan September mendatang. Ide itu tercipta begitu saja usai menerima kabar dari salah seorang sahabat yang hendak melangsungkan pernikahannya di bulan itu.

Tak biasanya saya bertindak impulsif. Orang-orang lebih mengenal saya sebagai pribadi yang independen, tak takut sepi, dan gemar bertualang sendiri. Namun, pada kala itu saya optimis bahwa hubungan kami akan berlanjut ke arah yang baru. Terlalu optimis sehingga saya tak mempertimbangkan segala kemungkinan yang mungkin saya terima — penolakan.

Padahal, sekadar bertatap muka atau menghabiskan waktu satu-dua jam bersama pun kami belum pernah. Lalu saya dengan percaya diri mengundang dirinya untuk berlibur bersama.

Hanya berselang satu minggu setelah menerima tawaran saya, dia pun memberi jawaban yang saya tunggu-tunggu. Lengkap dengan kejutan yang tak pernah saya harapkan sebelumnya. Sekadar mengetahui dia tak menyanggupi ajakan saya mungkin masih bisa dimaklumi. Saya terbiasa dengan fake promises maupun clear rejections. Namun yang membuat saya hancur adalah fakta bahwa dirinya telah dimiliki orang lain.

Lalu bagaimana dengan pelbagai janji dan lusinan agenda yang telah kami rancang bersama? Apa yang terjadi dengan rayuan, ucapan selamat tidur, menit-menit yang bergulir lewat perbincangan di telepon sepanjang malam? Seperti apa nasib mereka semua?

Entahlah. Yang saya ingat, ketika itu saya ingin mengubur semuanya dalam-dalam dan bergegas melangkah ke depan.

Barangkali, orang tak semestinya berjanji jika pada akhirnya tak sanggup memenuhi. Atau barangkali semua ini merupakan kesalahan terbesar saya yang telanjur berekspektasi ketinggian.


*


Pengujung bulan Juni 2018 lalu, dia muncul lagi di kehidupan saya. Saling bertanya kabar dan kesibukan, bertukar emoji senyum yang menandakan kecanggungan, dan tak lupa dia meminta maaf atas apa yang telah terjadi di antara kami. Betapa dia tak ingin hubungan pertemanan ini putus begitu saja.

Sejujurnya saya tak pernah berpikir dia akan kembali dan menghubungi saya layaknya seorang teman lama. Mungkin beberapa kali terlintas di benak saya seperti apa kabar dirinya, apakah dia baik-baik saja; tetapi hal itu tak berlangsung lama. Saya pun kala itu sempat percaya bahwa dia telah bahagia sehingga dia tak pernah berusaha menghubungi saya sama sekali.

Dan saya menganggap kedatangannya tak lebih dari sekadar angin lalu. Sebab, bisa saja dia menghilang lagi, atau mengecewakan saya untuk kesekian kali. Maka dengan sewajar mungkin saya menyambut kabar itu, berusaha keras bersikap dingin semata-mata supaya dia sadar bahwa saya sedang sibuk menata dunia saya sendiri.

Namun, kau tak akan pernah tahu cara kerja semesta bukan? Ia sanggup membolak-balikkan hati setiap orang tanpa alasan yang bisa kaupelajari dengan logika.

Itulah ketika dinding pertahanan saya runtuh secara perlahan.

Janji untuk pertemuan itu saya penuhi, waktu dan tempat telah kami sepakati, dan semua itu hanya masalah waktu saja untuk mengetahui pihak mana yang akan tersakiti.

Saya masih ingat dengan jelas — itu adalah Jumat sore yang rusuh di bulan Juli. Tugas di meja saya sedang penuh-penuhnya, jadwal rapat yang mungkin akan berlangsung sampai lewat jam makan malam, batere ponsel yang lupa diisi ulang, janji mengambil kamera di bilangan Jakarta Barat, belum lagi pengambilan cucian yang harus dikerjakan pada Sabtu pagi.

Sementara itu, ponsel saya tak henti-hentinya menghadiahi notifikasi pesan WhatsApp. Sesekali dia bergetar karena saya tak ingin deringnya menganggu orang-orang di ruang rapat. Dan kesemua pesan itu berasal dari orang yang sama.

Tentu saya masih ingat dengan janji bertemu itu. Saya bahkan sengaja membuat pengingat khusus di ponsel beserta itinerary-nya sekaligus. Semua itu saya lakukan agar saya tahu apa-apa saja yang harus saya lakukan.

Akan tetapi, kau akan tahu warna aura seseorang ketika dia sedang berada di bawah tekanan.

Saya mencoba bersikap tenang saat kalimat-kalimatnya diselubungi kekesalan. Saya berusaha melunak ketika dirinya nyaris kehilangan kendali. Meskipun tak dimungkiri, sesekali saya terpaksa menghindar sebentar lantaran tak kuat menerima cacian darinya yang menyerupai teror.

And in the end, I couldn’t really make it.

Beberapa menit lewat tengah malam, saya baru tiba di Kemang Timur. Satu demi satu penerangan mulai padam. Sebagian rumah tampak redup. Lampu jalanan mengantar cahaya temaram yang tak bersahabat di penglihatan. Hiruk pikuk kendaraan tak seperti biasanya. The Reading Room telah tutup satu jam yang lalu.

Itu artinya, saya terlambat lima jam dari waktu yang telah kami janjikan.

Dan saya sama sekali tak memiliki ide ke mana pergi dirinya pada saat itu. Mungkin dia sedang dalam perjalanan menuju rumahnya di Lebak Bulus, mungkin dia masih setia menunggu di dalam kafe itu sampai saya benar-benar muncul (saya pun tak tahu dari mana keyakinan ini muncul), atau mungkin dia sengaja menunggu saya di Kalibata City sebagai alternatif.

Yang saya ingat, saya masih mematung di depan The Reading Room sambil celingak-celinguk ke sekitar. Sesekali saya menghubungi nomor teleponnya, tetapi sia-sia saja. Tiga kali saya mencoba dan nomor itu mendadak tak bisa dihubungi.

Seandainya peristiwa seperti ini terjadi pada sebuah panggilan kerja, sudah pasti saya akan dibenci oleh sang pewawancara dan tak mungkin mendapat kesempatan bekerja di perusahaan itu.

Lalu, tanpa pernah saya prediksi sebelumnya, telinga saya menangkap sebuah suara yang berasal dari seberang jalan. Suaranya menyerupai seruan yang singkat, tegas, tetapi tidak terlalu keras. Kehadirannya diiringi deru mesin motor yang tampaknya sengaja tidak dimatikan.

Sebagian wajahnya tertutup oleh masker dan helm. Kabel earphone berwarna merah menjuntai keluar lewat jaketnya. Selama sejenak pandangan kami bertabrakan, dan selama beberapa detik itu saya sempat ragu apakah saya harus mendekat atau justru melarikan diri. Sebab, saya temukan kilau benci di sepasang mata itu.

Akan tetapi, logika saya kalah oleh rasa ingin tahu yang teramat besar. Saya berjalan mendekati dirinya, memberanikan diri untuk setiap risiko yang akan saya terima selanjutnya.

Sisa malam itu lebih banyak kami habiskan dalam diam. Di sepanjang perjalanan, hanya beberapa patah kata saja yang terlontar dari mulutnya. Itu pun dia tujukan kepada salah seorang pengendara sepeda motor yang jaketnya menutupi lampu sign dan lampu rem di belakangnya. Selebihnya, dia lebih banyak bungkam dalam hening yang dia ciptakan sendiri.

Saya pikir, kebisuan itu akan berakhir ketika kami berada di dalam kamar. Saya melempar tanya sesekali, dan semua yang saya terima hanyalah raut muram sekaligus jawaban singkat.

Malam mulai beranjak tua. Saya berusaha memejamkan mata dalam gelap yang pekat. Wajah saya menghadap dinding, berpura-pura tidur meskipun saya masih sanggup mendengar napasnya yang lirih. Segala yang terjadi pada hari itu sudah pasti membuatnya lelah. Wajar saja jika dirinya terlelap lebih awal.

Pada awalnya saya mengira dia telah tersesat di alam mimpi. Oleh sebab itu saya berani memulai sentuhan-sentuhan itu secara diam-diam; mengusap punggungnya yang masih berbalut kaus hitam, memainkan jemari saya menelusuri riak rambutnya — yang tanpa saya sadari membuat dia tersadar dan menarik saya ke dalam pelukannya.

Terang yang nihil, kau yang tunggal.
Riak airmu menyesatkan.
Sedang aku adalah tanah yang patuh atas titah dan marahmu.
Tetaplah dekat, dekap aku lebih lama.

Terendus oleh saya aroma tembakau yang melekat pada kaus yang dia kenakan. Membaur bersama wangi vanila yang menguar dari dalam tubuhnya. Saya ingin merengkuhnya. Saya ingin berada di dada itu lebih lama.

Dan untuk pertama kalinya, sunyi menjadi saksi abadi atas terciptanya lumpur malam itu.


*


Jika ada satu tempat yang bisa menjadi pelarian saya saat ini, mungkin jawabannya adalah The Reading Room.

Tempat-tempat umum seperti mal, pusat perbelanjaan, kelab malam, bukanlah tempat yang tepat untuk orang seperti saya. Kafe The Reading Room adalah pengecualian, saat saya hendak minum sambil menulis ataupun membaca buku. Selebihnya, waktu senggang yang saya miliki lebih banyak saya habiskan di dalam kamar seorang diri.

Secangkir teh chamomile hangat dan buku For Nadira milik Leila S. Chudori menjadi teman saya pada Sabtu sore ini. Samar-samar terdengar lagu Golden Slumber milik The Beatles dari pengeras suara.

Betapa lagu itu mengingatkan saya pada percakapan kami pada Minggu siang pada 15 Juli silam.

Saya baru saja bertolak dari Taman Suropati seusai mewawancarai salah satu narasumber untuk buku yang sedang saya tulis. Narasumber ini adalah pendiri orchestra musik yang sering hadir setiap Minggu pagi di Taman Suropati. Dan saya sempat bercanda bahwa wajah narasumber ketika sedang tersenyum sangat mirip dengan dirinya.

Mungkin benar yang mereka katakan tentang jatuh cinta. Seluruh elemen Semesta ini secara tidak langsung akan menyerupai orang yang sedang kau cintai, kapan pun wajah orang tersebut selalu melekat di kepalamu.

Dan memang benar, dia telah membuat saya terjatuh begitu keras sejak pertemuan kami.

Selagi percakapan kami di WhatsApp itu berlangsung semakin jauh, telinga saya menangkap lagu Golden Slumber dan Carry The Weight bersenandung di TV. Stasiun TV HBO kebetulan sedang menayangkan film SING!, dan sebentar saja saya sanggup mengenal bahwa Jennifer Hudson-lah yang menyanyikan lagu itu.

Ke arah luar saya melabuhkan pandangan, menatap jalan Kemang Timur dengan keramaiannya yang khas. Sejumlah kendaraan di lot parkir. Papan plang The Reading Room. Langit sore yang redup. Saya tak sanggup menghitung berapa kali hujan bulan Desember mengguyur kota Jakarta akhir-akhir ini.

Saya masih ingat beberapa kisah yang kami bagi pada Sabtu sore itu. Tentang dirinya yang gemar menceracau bukan-bukan saat sedang terlelap. Pernah satu kali ibunya mengungkit salah satu ocehannya.

Ungkapnya, “Aku pernah ngigau lagi beli rujak, terus pas bangun Mama langsung nanya, ‘itu kamu abis ngigau apaan? Bilang sambel rujaknya jangan pedes, terus mangganya dibanyakin’.”

Saya menyimak cerita itu sambil tertawa. “Tapi kamu sadar kalau lagi mimpi rujak?”

“Rada lupa, sih. Yang jelas aku di mimpi itu lagi pesen rujak. Cuma aku nggak yakin kalau aku sambil ngomong juga,” jawabnya sambil cengar-cengir. “Makanya tadi aku tanya ke kamu, pas aku tidur sempat ngigau atau nggak.”

“Nggak ada. Ngorok pun nggak,” jawab saya.

“Biasanya aku kalau lagi capek banget pasti tidurnya ngorok.” Dia tergelak, sehingga saya bisa melihat barisan giginya yang rapi. “Kalau ngorok, kira-kira kamu bakal ngapain?”

“Tutup hidung kamu sampai nggak ngorok lagi. Itu efektif, lho.”

Mendengar ucapan itu, lekas-lekas dia mencubit hidung saya dengan teramat keras.

Terkadang saya berterima kasih lantaran kencan kami tak berjalan seperti orang-orang pada umumnya. Andai saja saya tiba di The Reading Room tepat waktu dan menghabiskan waktu di sana sampai tempat itu tutup, mungkin kami berdua tak akan seintim ini. Tak mungkin sedekat ini.

Dia pun pernah bercerita tentang tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga. Saya bangga karena dia sanggup menghidupi keluarga sekaligus adik-adiknya yang masih kecil. Semua itu bahkan telah dia lakukan sejak kecil. Dibandingkan dirinya, saya tak ada apa-apanya.

“Aku mah kerja apa aja ayo. Yang penting halal, nggak bikin malu keluarga.”

“Coba aku tebak,” saya menyela, “kalau kamu jadi orang tua, pasti kamu tuh tipikal orang yang keras dan disiplin sama anak kamu!”

Dia menjawab dengan kepala terangguk. “Nggak cuma itu, aku juga bakal nasihati mereka supaya masa lalu aku nggak perlu dijadikan contoh. Karakter anak-anak itu bisa dibentuk dengan baik kalau cara mendidiknya pun baik.”

“Kamu nanti nikah sama siapa?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut saya.

Dia menatap saya lekat-lekat sebelum akhirnya menjawab, “Belum mikirin itu. Emang kenapa? Kamu mau ngajak aku nikah?”

Hal berikutnya yang saya lakukan adalah mengecup bibirnya, melumatnya habis-habis sambil menerima perlakuannya yang tak kalah buas, yang membuat saya ingin mengulang apa yang terjadi semalam.

Seketika, ingatan saya kembali terlempar di masa kini di mana saya sedang duduk menekuri secangkir teh yang kian mendingin. Bangku di hadapan saya pun senantiasa kosong. Tak ada dirinya di sini yang bisa saya ajak sebagai teman bicara.

Langit semakin gelap. Dan seiring dengan turunnya hujan dari langit, saya berharap akan datang satu waktu di mana saya berkesempatan untuk menebus segalanya, meminta maaf atas keterlambatan yang membuatnya marah seperti pada saat kencan pertama. Dan saat itu pun saya berdoa, masih ada ruang di hatinya untuk menyimpan nama saya.  

Rabu, 10 Oktober 2018

Segenap Doa dan Pinta Di Hari Bahagia


Yang saya ingat, dialah poros dari semua cemas dan takut yang menghantui pikiran saya belakangan ini.



Apa yang ada di pikiran kalian ketika mendengar kata wisuda? Tawa bahagia dari orang-orang tercinta? Keharuan yang identik dengan air mata? Buket bunga dan aneka cindera mata? Well, pada akhirnya masa kelulusan tak ayalnya seperti akhir dari suatu perjuangan dan awal bagi sebuah perjalanan.

Dalam beberapa waktu terakhir, saya tak ingat sudah berapa kali mengucapkan kata tersebut baik secara lisan maupun lewat tulisan. Yang saya ingat, dialah poros dari semua cemas dan takut yang menghantui pikiran saya belakangan ini.

Dan hari ini, seharusnya saya berada di sana. Menyambut dirinya keluar dari gedung gymnasium, dengan toga di atas kepala, senyum merekah lantaran perjuangannya telah berakhir. Seharusnya saya berada di sana, mendapati sosok itu dikelilingi keluarga dan teman-teman terbaiknya, dan saya akan datang mendekat dengan sebuah bingkisan — setelah terlalu lama memandanginya dari jauh.

Saya nyaris senekat itu, Kiddo, andai kamu tahu.
Saya bisa saja datang ke kotamu tanpa persiapan apa-apa, muncul di sana pada suatu petang atau tengah malam sebelum hari wisuda itu diselenggarakan. Bila perlu, saya bisa saja hadir di depan pintu kosmu dan berkata bahwa saya rindu. Tanpa perlu basa-basi.

Namun, saya tahu bukan itu yang kamu mau dari saya. Kamu pernah bilang, bertindak impulsif bukan solusi untuk segala masalah. Seperti yang kamu ucapkan sewaktu kamu jatuh sakit, hanya lima hari setelah kepulangan saya dari sana. Dan saya bertekad menghampirimu pada saat itu juga. Sekadar mengantar obat-obatan dan makanan yang layak. Atau sekadar memberi peluk, barangkali itu dapat meringankan segalanya.

Kala itu, kamu menolaknya, Kiddo. Alasanmu macam-macam. Dan kamu berkata bahwa tak ingin mengenal saya lagi jika saya sampai bertindak senekat itu.

Itulah yang membuat saya kembali mempertimbangkan rencana yang sempat mengusik isi kepala saya kemarin. Saya tak ingin jika kedatangan saya justru memperburuk keadaan. Belum lagi, opini-opini tak mengenakkan yang mungkin saja datang dari pihak keluarga dan teman-teman terdekatnya. Sudah saatnya dia membagi momen-momen berharga itu dengan orang-orang yang tepat.

Maka, Kiddo, jika suatu hari nanti kamu menemukan tulisan ini, ketahuilah bahwa saya tak bermaksud melupakan hari bahagiamu. Saya hanya ingin menghargai ruang yang kamu punya — tanpa pesan singkat, tanpa dering telepon, tanpa notifikasi yang terkadang mengganggumu. Dengan demikian, kamu bisa mereguk sukacita yang sesungguhnya.

Bagaimana rasanya sekarang, Kiddo? Setelah melahap lusinan buku demi mendukung validitas tulisanmu, setelah berhadapan dengan dosen pembimbingmu yang sering kita perbincangkan itu, setelah melewati malam-malam panjang tanpa tidur yang lelap, setelah ragam pertikaian di WhatsApp yang sering membuat mood-mu berantakan, setelah pulang-pergi ke kampus hanya untuk sebubuh tanda tangan.

Kini, perjuangannya telah terbayar lunas. Sudah saatnya dia memikirkan kehidupan yang baru dan pulang ke pelukan Ibunda. Sebab, dia sudah terlalu lama jauh dari rumah.

Dan untuk masa depanmu yang masih penuh misteri, izinkan saya mengirim jutaan doa kepada Tuhan. Agar gelapmu tak lagi gulita, agar langkahmu diringankan, agar bimbangmu sirna dan terganti oleh bijaksana. Asahlah ilmu yang kamu punya di mana pun kamu berada, dan jadilah persona yang rendah hati.

You have done very well.
Sabtu, 06 Oktober 2018

Babak Baru Dalam Merindu


Sebagaimana yang dikatakan Eka Kurniawan; seperti dendam, rindu pun harus dibayar tuntas.


Ide untuk bertemu dengannya sebenarnya sudah terbentuk sejak lama. Bahkan sebelum kami sempat bertatap muka satu sama lain. Dengan naif, saya susun sejumlah agenda sedemikian rupa. Menulis daftar tempat yang akan kami kunjungi, menata aneka kegiatan yang bisa kami lakukan bersama. Lalu, saya simpan baik-baik kesemua itu di dalam binder , dengan harapan kami memiliki waktu yang cukup untuk mewujudkannya. Dan entah bagaimana, setelah pertemuan di bandara itu, saya tak pernah lelah mencari peluang agar — setidaknya — jarak di antara kami dapat berakhir.

Sebagaimana yang dikatakan Eka Kurniawan; seperti dendam, rindu pun harus dibayar tuntas.

Maka, pada pertengahan Agustus lalu, saya memutuskan untuk mengambil kesempatan itu. Saya tak ingin menyia-nyiakannya lagi. Karena, saya tak tahu sampai kapan saya harus  tersiksa jika saya tak bersedia mengerahkan sedikit usaha. 

Berminggu-minggu saya merahasiakan keputusan itu dari dirinya, berusaha menjaga komunikasi kami agar berjalan tanpa perdebatan, meskipun pada akhirnya saya gagal mempertahankan itu semua. Hari demi hari selalu terlewati dengan pertikaian. Dan tak jarang saya melewati malam seorang diri sambil mencemaskan apa yang akan terjadi pada kami selanjutnya.

Namun, kau tak akan pernah tahu betapa kata maaf dapat menyembuhkan luka dan memadam benci.

Itulah yang saya utarakan ketika kami duduk berhadapan di KFC Setiabudi pada Senin malam yang dingin itu. Secangkir float miliknya telah tandas. Sosok pria dalam balutan hoodie Adidas hitam ini tak banyak bicara. Dia terus memandang saya lekat-lekat, seakan memaksa saya tenggelam di sepasang danau gelap itu. Dan saya, dengan segala kerapuhan yang saya miliki, hanya sanggup mengabaikan tatapan milikinya.

Lama, barulah saya memiliki keberanian untuk mereguk surga yang dia tawarkan.

Saya rindu menyaksikan dia tergelak malu dengan wajah tertunduk. Dan saya sama sekali tak keberatan ketika dia terpaksa menarik telinga saya seusai menyaksikan foto usangnya yang tersimpan di laptop saya.

“Itu fotonya nemu dari mana coba?” protesnya.

I know every single thing like no one has to tell me,” jawab saya.

“Dari Facebook deh pasti!”

Saya hanya mengedikkan bahu, kembali sibuk dengan helai demi helai kertas nota dan membentuknya menjadi perahu kertas mungil. Tak butuh waktu lama, dia bergabung dengan saya di atas ranjang, dan turut melipat-lipat kertas sedemikian rupa.

“Kamu tahu, kertas sekecil ini bisa dibikin macam-macam selain perahu-perahuan.”

“Origami?” Saya meliriknya sejenak, lalu menceletuk, “That’s so obvious.

“Jangan salah. Nih, kamu perhatikan, ya.”

Sekejap saja, di antara jari-jari kurus miliknya, perahu kertas sederhana milik saya merupa sesuatu yang baru. Ujung perahu itu tak lagi runcing. Kini bentuknya lebih menyerupai sekoci alih-alih perahu layar.

Kemudian, dia meraih selembar struk belanja dari Supermarket Borma. Saya memperhatikan jemari itu kembali bergerak dalam manuver yang lebih rumit dari sebelumnya.

Dalam keheningan, dia bersuara, “Dulu, waktu masih SMA, anak-anak di kelas suka bikin beginian pas jam pelajaran kosong. Tahu nggak fungsinya buat apa?”

Saya menggeleng.

“Buat nampung kulit kuaci,” tukasnya, sembari memamerkan sebuah kotak berukuran mini lengkap dengan penutupnya. “Jadi, sampahnya nggak bakal berserakan di lantai dan buang ke tempat sampah juga lebih gampang.”

Imajinasi saya terlempar ke sebuah potret di mana lelaki ini mengenakan seragam sekolah yang rapi, jauh dari kesan dungu dan musuh guru-guru, sebab saya tahu dia selalu menjaga reputasi dirinya di lingkungan sekolah. Betapa menyenangkan masa SMA-mu, Kiddo.

“Aku boleh foto ini?” tanya saya. “Anggap aja oleh-oleh dari kamu.”

Dia mengangguk setuju dengan seulas senyum. Mata sendunya mengirimkan kehangatan. Usai kegiatan lipat-melipat itu, kami kembali bersandar di kepala ranjang. Ponsel saya menyenandungkan daftar putar yang berisi sederet lagu instrumen piano, yang setidaknya terdengar jauh lebih menyenangkan ketimbang detik jarum jam di dinding kamar.

Di tangannya, terdapat sebuah buku bersampul merah muda. Itu adalah buku ketiga yang saya tulis. Pembicaraan kami kembali bergulir pada proses penulisan buku itu, tentang siapa saja yang menginspirasi saya, lagu-lagu yang saya putar, dan seperti apa saya mempromosikan buku itu pada suatu acara yang digelar di LBH Cikini pada Mei dua tahun silam.

Kisah demi kisah meluncur bagai cucuran air dari langit. Kami bertukar tawa yang melebur dalam kata. Dan untuk pertama kalinya, saya memberanikan kontak fisik itu berlangsung dengan intim. Telapak tangan saya menyentuh dadanya yang masih terbungkus kaus biru gelap. STAY EVIL. Begitu yang tertulis di sana. Jantung saya berdegup hebat. Sementara dia tak menunjukkan tanda-tanda penolakan. Sepasang danau gelap itu menenggelamkan saya.

Yang saya tahu, pada saat itu segalanya terjadi begitu saja. Ia mengurung saya dalam dekapannya, mengisi setiap sela jemari saya dengan jemarinya yang ramping. Napasnya memburu, tetapi sesekali terdengar teratur. Kecupan itu jatuh di bibir saya tanpa rencana. Saya menerimanya seperti kemarau yang merindukan hujan. Begitu lembut, begitu sempurna, sehingga rasanya menyatu sampai ke tulang belulang.

Matahari luruh perlahan. Malam pun merambat naik. Di luar sana langit mulai gulita. Namun, kami masih jauh dari kata selesai. Berkali-kali kami bertukar ciuman di sana dan di sini tanpa henti. Perjalanan masih panjang, ucap saya dalam hati. Saya tak ingin menghentikannya lekas-lekas. Sebab, separuh nyawa saya telanjur menghilang entah ke mana.

Saya telah ditarik ke permukaan. Layaknya seekor ikan yang megap-megap dan merindukan lautan, saya terus berusaha menerima perlakuannya dengan sekuat tenaga. Sampai tak terasa gelap semakin pekat.

***


Izinkan saya sependapat dengan peribahasa ‘malu bertanya sesat di jalan’. Sebab, pada umumnya bertanya sama sekali tak dikenakan biaya. Ahwal bertanya dan menjawab ini merupakan hal yang lumrah dalam percakapan sehari-hari. Terlebih jika suatu pertanyaan menerima respons yang layak. Namun, sebagian orang cenderung takut bertanya lantaran tak sanggup dengan jawaban yang akan mereka dapatkan.

“Mungkin cara ini bisa membantu kamu,” saya mengangsurkan pulpen dan sehelai tisu yang saya lipat membentuk persegi panjang tak beraturan. Di sana tertulis enam buah pilihan yang tertulis dengan tinta biru.

Dia menyambutnya dengan bibir terkunci. Saya dengan sabar menanti saat tangan kanan yang menggenggam pulpen itu mengguratkan sesuatu pada kertas tisu tersebut. Sesekali dia membuang muka, menatap langit-langit kamar seakan ada jawaban di atas sana. Tak lama, dia menyerahkan kembali tisu itu kepada saya.

Feeling?” alis saya terangkat. Suara saya lirih, takada penghakiman di sana. “Ayo kita bahas bareng-bareng.”

Bantahnya, “Jangan, nggak usah. Anggap aja aku nggak nanya apa-apa.”

“Kamu bercanda? Mana mungkin aku bisa melupakan ini gitu aja? Coba, apa yang pengin kamu ungkapkan dari sesuatu yang udah kamu tulis di sini?”

Bibirnya senantiasa bungkam. Di tatapannya saya temukan kegelisahan, sesuatu yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Namun entah mengapa, orang ini — lelaki ini — enggan mengutarakan keganjalan itu dengan saya. Padahal, saya teramat bersedia membantunya memikul sebagian beban itu. Tanpa pamrih sekalipun.

Sebab, terkadang bahumu tak cukup kuat mengampu pelbagai masalah yang ada di dunia. Kau harus membaginya dengan orang lain, agar letihmu ikut berkurang.

Takada tanggapan. Tak peduli seberapa dalam permohonan saya, tak peduli seberapa tulus air mata saya, tetap saja dia bertahan dengan kemandiriannya. Dan saya nyaris meninggalkannya pada malam itu. Nyaris membiarkan diri saya luntang-lantung di suatu tempat agar masalah ini kepalang kacau, kepalang tak terselesaikan— jika memang demikian yang ia mau. Tetapi, saya takingin menyerah begitu saja. Saya ingin mempertahankannya tak peduli seberapa sering saya mencoba.

Setidaknya begitulah yang mereka katakan tentang suatu hubungan.

Bukan jarimu yang harus kaupotong, melainkan kukumu. Bukan hubungan yang harus kauakhiri, tapi egomu yang harus kaurendahkan.

Dan seketika, saya teringat dengan perbincangan pada malam di KFC itu, pada aneka kekacauan yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Betapa banyak masalah yang kami lalui, dan semua itu pada akhirnya terselesaikan dengan satu kata yang tulus. Betapa dahsyatnya kata maaf, yang sanggup menyembuhkan luka dan memadam benci.

Sisa-sisa malam itu, kami lewati dalam keheningan. Mencoba saling mengerti, mencoba saling memperbaiki karena masing-masing di antara kami tak sempurna. 

***

Itu adalah Jumat yang teduh di kota Bandung. Sehari sebelumnya langit memang tampak redup dan sendu. Mungkin ia mengetahui ada seseorang yang harus pergi sebentar lagi. Empat hari bersama dirinya merupakan momen yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Satuan waktu terlewati begitu cepat, dan akan terasa lama ketika jarak kembali berkuasa.

Dan saya akan selalu mengingat setiap peristiwa tanpa melewati satu detail sedikit pun. Obat penurun panas dan sepuluh tusuk sate di malam itu, potongan-potongan pizza yang tak termakan, segelas madu hangat di pagi hari, aneka kekonyolan dan lelucon milik saya yang berhasil membuatnya tertawa — tawa yang membuat sepasang danau gelap itu menjelma garis. Satu di antara sekian banyak hal pada dirinya yang ingin selalu saya rengkuh.

Dari bawah Gedung Fakultas Ilmu Pendidikan, saya melihatnya berdiri menekuni ponsel di genggamannya. Kemeja abu-abu lengan pendek, pandangannya menyapu ke sana kemari. Sementara saya menatap dirinya dari kejauhan dengan penuh rasa kagum. Sosoknya begitu cemerlang, begitu membanggakan, begitu dicinta. Saya terus memandanginya diam-diam, mengabadikannya lewat kamera ponsel — dalam hati berharap suatu saat dirinya dapat saya miliki.

Lalu, di antara hiruk-pikuk mahasiswa yang berkeliaran di sana, dia menyadari kehadiran saya. Melambaikan tangan seolah-olah taksabar bertemu kawan lama.

Saya selalu di sini, Kiddo.
Saya tak akan lari.

Senyumnya terkembang ketika mendapati saya berdiri di halaman itu. Kumis-kumis tipis di atas bibirnya, yang tak pernah ingin dia cukur. Dan lengkung senyum itu masih tampak sama sewaktu dia berhasil menangkap foto saya diam-diam lewat ponselnya. Dia tertawa, memamerkan ekspresi saya yang jauh dari kata sempurna.

Tak apa. Setidaknya kamu masih memiliki foto itu jika suatu hari saya telah tiada.

Detik-detik menuju perpisahan itu terasa begitu cepat. Saya tergerak menjenguk kembali tempat-tempat yang pernah saya lewati bersama dirinya; gang sempit di mana sejumlah rumah kos saling berdempetan, tangga menuju kamarnya di lantai atas, pintu kamar dengan angka 11, botol-botol air lemon yang tersusun rapi di ventilasi udara, kamar mandi, warung nasi tempat kami membunuh lapar, bahkan buah dagangan milik bapak kos. Kesemua itu akan saya jaga dengan rapi setibanya saya di rumah nanti.

“Kalau aku udah pulang nanti, kamu harus bisa jaga diri, ya…” ucap saya dengan suara bergetar. “Sebab, nggak akan ada lagi yang bikin kamu air madu setiap pagi, yang ajak kamu makan tepat waktu. Jangan nakal juga di sini.”

Mata saya memanas sewaktu mengucapkan nasihat itu. Hanya masalah waktu saja sampai bendungan di mata saya runtuh seketika. Namun, sebisa mungkin saya menahannya. Bersembunyi di balik senyum palsu yang saya buat.

“Aku juga mau menjanjikan satu hal untuk kamu,” balasnya.

“Apa itu?”

“Beri aku waktu satu bulan, ya. Beri aku waktu supaya aku bisa menuntaskan semuanya, sampai aku siap memberi jawaban buat kamu.”

Tanpa membuang-buang waktu lagi, saya langsung mendekap tubuhnya erat-erat. Membiarkan kepala itu hinggap di dada saya sehingga dia tak perlu melihat bahwa air mata saya telah merembes. Biar keheningan, biar langit-langit kamar dan tembok berwarna hijau itu yang mengetahui segalanya.

“Aku bakal menunggu,” jawab saya lirih.

Di perjalanan menuju bandara, kami masih sempat bercanda dan sekadar berbagi tawa demi mengenyahkan rasa sedih. Sebab, bagi siapa pun perpisahan itu akan selalu sama. Akan ada seseorang yang harus ditinggal, akan ada pula hati yang kesepian. Maka, kami memutuskan untuk berpura-pura bahagia. Mungkin dengan begitu kami bisa terhindar dari luka.

Saya bertanya, “Menurut kamu, apakah nanti kita bisa mengulangi kebersamaan seperti ini lagi?”

Dengung pengumuman terdengar berulang-ulang di pengeras suara. Dia memberi saya tatapan itu, sepasang danau gelap yang bersembunyi di balik kacamatanya.

Dalam suara rendahnya, dia berkata, “Bisa. Pasti bisa. Selama kita mau mencoba.”

Betapa saya ingin sepenuhnya memercayai kalimatmu, Kiddo. Betapa saya berharap Semesta dapat mengaminkannya untuk kita berdua. Namun, bukankah kita semua tahu bahwa Semesta selalu memiliki cara kerjanya sendiri? Ia sanggup membuyarkan rencana yang telah kita susun hanya dalam satu kedipan mata saja.

Setidaknya itulah yang terjadi beberapa menit kemudian, saat saya terseok-seok menyeret kopor dan bergabung ke dalam antrean. Di belakang saya terdapat sepasang suami isteri yang rusuh. Dan saya memutuskan untuk melihatnya kembali.

Dia masih berdiri di sana. Tersenyum, melambaikan tangan, seperti yang pernah dia lakukan pada Senin malam yang dingin itu.

Terbungkus hoodie Adidas hitam, memantau saya dari luar gardu Grand Setiabudi hanya untuk memastikan saya baik-baik saja. Sesekali saya menoleh ke belakang, mendapati dirinya selalu berdiri di tempat yang sama. Melambaikan tangan sampai saya menyadari jarak kami telah terlalu jauh. Sosoknya pun telah menghilang.


Jaga diri, ya.


Begitu yang ditulisnya tepat setelah saya menaruh kopor di atas conveyor belt dan melewati petugas keamanan bandara. Bedanya, kali ini dia masih senantiasa menunggu, lama — sampai saya benar-benar memasuki ruang tunggu.

Kenyataan itu membuat saya tertampar bahwa setelah ini kami harus memasrahkan diri kembali pada jarak dan waktu. Seandainya saya sadar, seandainya saya membuka mata sejak awal, bahwa mencintai seseorang memang demikian. Amy Winehouse bahkan pernah berkata, love is a losing game. It is either you lose it, or you win it. And the truth is, falling in love is always tragic and awful.

Namun untuknya, saya bersedia memperjuangkan segalanya.