Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label Glorious. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Glorious. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 Juli 2014

Surat Untuk Bapak Jokowi

Sore itu, saya berdiri mematung di depan lobi utama Plaza Semanggi. Saya baru saja turun dari Sky Dining dan hendak menuju jembatan penyeberangan yang mengarah ke halte Trans Jakarta. Benar. Jembatan penyeberangan yang jaraknya nyaris 500 meter itu. Tapi saya tidak terlalu buru-buru untuk pulang. Saya masih berdiri di sana sambil mengamati satu pemandangan yang membuat hati saya tergetar.

Lengkungan bunga cengkih di jalanan Semanggi itu masih sama seperti terakhir kali saya melihatnya. Pepohonan dan rumput-rumput hijau itu tampak segar oleh semprotan air yang mencuat di tengah-tengah halaman. Saya senang sekali menyaksikannya dari atas sini. Meskipun sesekali terllihat sejumlah kendaraan yang terjebak dalam kemacetan, hal itu sama sekali tidak memengaruhi saya untuk segera beranjak.

Saya masih berada di sana untuk beberapa saat yang lama. Menikmati senja yang meleleh di langit sore kota Jakarta, sembari merenungkan sejumlah peristiwa yang pernah terjadi di tempat ini belasan tahun yang lalu. Belasan tahun yang terasa sangat kelam buat saya, buat seluruh warga Indonesia, dan tentu saja buat Bapak Jokowi juga.

Saya memang tidak berada di kota ini pada tahun 1998. Saya menempuh pendidikan saya selama sembilan tahun di Pulau Bangka dan hanya tahu peristiwa itu lewat berita. Lagi pula, saya masih terlalu kecil untuk ikut campur dalam unjuk rasa itu. Satu hal yang masih saya ingat, seluruh media cetak dan media elektronik selalu dipenuhi dengan berita mengenaskan. Kolom artikel yang memaparkan betapa kejamnya pemimpin negara dan para kaki-tangannya.

Kita semua tahu apa yang terjadi dalam peristiwa itu. Pekik kebencian dari para mahasiswa Universitas Atmajaya kepada aparat negara, sumpah serapah yang membabi-buta, dan milyaran cara telah mereka coba untuk mengalahkan antek-antek bersenjata. Para pasukan anti huru-hara tak mau kalah. Mereka berbalik menyerang sampai beberapa orang di antara mereka harus mengorbankan nyawa. Bahkan ada pula oknum yang sengaja menculik para aktivis dengan modus tertentu. Menodongkan pistol, memasukkan mereka secara paksa ke dalam mobil Toyota Twin Cam, lalu membawa mereka kabur.

Kejadian itu berlangsung di depan RS Cipto Mangunkusumo.

Dan saya yakin, Bapak mungkin sedang menebak-nebak siapa pelakunya.

Segalanya mungkin telah berlalu sejak lama, Pak. Kematian Elang dan kawan-kawannya mungkin hanya sekadar sejarah. Tapi bagi kami, semua itu masih jauh dari kata selesai. Saya sendiri masih sering dihantui rasa takut setiap kali membayangkan hal-hal yang demikian terulang kembali. Penculikan, maraknya kekacauan, krisis keuangan, pengkhianatan, ambruknya sistem pemerintahan, politik dinasti... Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka.

Jadi... Kepada Pak Jokowi yang baik hati...

Mungkin surat ini hanya berisi seputar kilas-balik masa lalu Indonesia. Semua orang masih bisa menyampaikan isi yang lebih baik daripada saya. Namun, jauh di dasar hati saya, ada harapan besar yang saya tanamkan kepada Bapak. Seluruh warga Indonesia – kami –  tidak ingin negara ini jatuh untuk kesekian kalinya. Kami tidak ingin melihat pertumpahan darah oleh mereka yang tidak berdosa.

Sejatinya, kami menginginkan pemimpin yang lebih baik. Pemimpin yang sabar. Kami benar-benar berharap negeri ini dipimpin oleh seseorang seperti Bapak. Sosok yang rendah hati, yang menginspirasi, yang dermawan, tegas namun tidak menakutkan, dan yang paling penting; yang mengerti bagaimana caranya membaur dengan rakyat. Dan semua itu ada di dalam diri Pak Jokowi.

Kami semua senang dan sangat kagum dengan Bapak. Sama seperti saya mengagumi bentuk bunga cengkih di jalan Semanggi.
Oleh karena itulah, kami menaruh harapan besar padamu, Pak Jokowi.
Terima kasih banyak.

#SalamDuaJari

Selasa, 17 Juni 2014

Pulang

“Kepada seluruh penumpang yang terhormat, sesaat lagi pesawat ini akan mengudara dengan ketinggian tiga ribu kaki di atas permukaan laut. Harap kencangkan sabuk pengaman dan bla bla bla....”

Pramugari itu masih mengumandangkan pemberitahuan lewat pengeras suara, kemudian mengganti isi pesan itu dengan bahasa asing yang terdengar sangat membosankan. Aku menempelkan kening ke arah jendela, memandangi landasan pacu dan sepetak rumput hijau di sekitarnya. Matahari berpijar terik di luar sana. Sementara, sejumlah mobil pengangkut bagasi mulai bertolak ke tempat semula.

Pada saat yang sama, pikiranku tiba-tiba terlempar pada sederet kejadian yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Aku teringat bagaimana aku berpamitan dengan temanku, Ebbi, yang masih tertidur pulas. Meninggalkan kamarnya dengan perasaan tak keruan, kemudian memanjat pintu pagarnya yang terkunci rapat. Berjalan melewati jalan Karnolong sampai akhirnya aku menemukan sebuah taksi berwarna biru.

Jalan raya di Jakarta tampak begitu sepi pada pukul enam pagi. Masih sedikit sekali kendaraan pribadi yang berkeliaran di saat-saat seperti ini. Lampu jalan pun masih banyak yang menyala. Dan setibanya di stasiun Gambir, aku langsung bergegas mencari Bus Damri tujuan Bandara.
Meletakkan koperku pada bagasi yang telah disediakan, lantas melangkah masuk ke dalam bus berwarna abu-abu itu. Lebih memilih duduk di pinggir jendela agar aku dapat memandangi situasi jalanan di pagi hari. Aku senang melakukannya setiap kali hendak bepergian. Dan beruntungnya, tidak ada satu orang pun yang duduk di sebelahku.

Bus mulai berjalan, melewati sederet gedung yang menjulang tinggi di sana-sini. Aku bersiap menyumbat telingaku dengan earphone, menikmati playlist yang berisi lagu-lagu Air Supply, Maroon 5, ABBA, The Fray, dan sebagainya. Berpikir mereka dapat menenangkan perasaanku yang tengah kacau-balau. Tapi aku salah. Lagu-lagu itu justru menyeretku ke lembah masa lalu.

Aku kembali terpikir bagaimana pertama kali aku tiba di kota ini dengan wajah sumringah dan semangat membara. Satu-satunya hal yang kuinginkan saat itu adalah; kebahagiaan. Begitu yakin 1000% bahwa aku telah mengambil keputusan yang tepat. Jakarta atau Bandung, aku siap mengejar mimpi. Aku pun sempat berjanji pada semua orang – termasuk diri sendiri – untuk memulai hidup yang lebih baik lagi. Namun pada akhirnya, semuanya berubah tanpa sanggup kuprediksi.

Seseorang pernah bertanya padaku, “sampai kapan kamu mau menetap di sini?”
Aku terdiam selama beberapa saat.
Saat itu, kami baru saja menuntaskan wisata kecil kami di Braga. Berjalan di bawah jembatan penyeberangan dan hendak menuju halte bus Mesjid Alun-Alun Kota Bandung. Hari sudah pukul lima sore. Tapi, langit yang berwarna gelap keabu-abuan membuat kami ingin segera pulang.
Pulang, satu frasa yang memiliki banyak makna.
Dia bertanya lagi dengan suaranya yang lirih, “Kamu enggak mungkin stay di Bandung dengan pekerjaan yang itu-itu aja, kan?”
“Maksudnya?” tanggapku, menatapnya dengan mata memicing.
“Aku tahu passion kamu, Joy. Kamu yakin mau berkarier di sana selama-lamanya?”
Alih-alih memberi jawaban diplomatis, aku malah mengedikkan bahu; tanda bahwa aku sama sekali tidak mengerti bagaimana menanggapi pertanyaannya. Aku sempat berpikir bahwa aku memang tidak akan bisa bertahan lama pada pekerjaanku. Bukan karena aku tidak bersyukur atas apa yang telah aku terima, tapi karena aku tidak punya passion sedikit pun di bidang itu.
“Kalau seandainya aku bilang, aku bakal stay di Bandung untuk waktu yang lama, apa kamu bakalan percaya?” balasku.
“Percaya,” dia mengangguk. “Tapi aku yakin, suatu hari nanti pasti kamu bakalan pergi, entah ke mana tujuannya.”

Selanjutnya, percakapan itu menggantung tanpa menemukan titik terang. Baik aku ataupun dia, kami berdua lebih memilih bungkam dan tak banyak bicara. Percuma saja berkelakar. Toh aku tidak memiliki alasan yang tepat untuk merangkai sebuah penyangkalan

Sampai pada suatu hari, aku menemukan kebenaran pada kalimatnya.

Aku memilih untuk pulang; untuk mengistirahatkan diri dari segala beban dan tekanan, untuk mencari ketenangan, untuk menemukan lagi arti dari kebebasan. Dan aku rasa, aku telah menentukan pilihan yang tepat.

Seketika, terdengar sebuah denging yang memekakkan telinga. Lamunanku mendadak terpecah-belah. Aku baru menyadari kalau sejak tadi aku menitikkan air mata. Pantas saja pipiku terasa basah. Tapi aku tak peduli. Karena tangis yang baru saja tumpah bukanlah tangis penyesalan. Ini tangis bahagia dari sebuah kemenangan.
Tak lama, pesawatku pun mulai mengudara.
Sabtu, 29 Desember 2012

Natal Ini, Aku Kembali...

Kutelusuri lagi jalanan ini. Menjejakkan kedua kakiku di setiap ruas jalan lokasi yang tidak dapat kulupakan. tempat yang menjadi saksi jujur akan kenangan - kenanganku di sini.



Ini bukan cerita mengenai siapa yang kutemukan atau siapa yang mendapatkanku. Tapi, ini tentang kisah  bagaimana aku berada dalam situasi tersulit demi mempertahankan segenap ambisiku.

Aku pergi ke suatu tempat yang belum pernah kujangkau sebelumnya. Melakukan hal menyenangkan. Menuntaskan pekerjaan. Serta berjelajah dan terus menemukan apa yang hendak kucari. Sesuatu yang dinamakan dengan kebahagiaan.

Aku bahagia dapat berada di tempat itu. Semua itu bagaikan kesenangan tanpa batas yang mungkin tidak dapat kuraih di tempat lain. Bahagia, sedih, jatuh, terpuruk dalam satu masa. Seperti satu kitab pembelajaran yang mengajarkanku kedewasaan sekaligus.

Bagaimana aku berada di sana mungkin tidak dapat kuperinci dengan jelas. Rasanya terlalu panjang untuk kujabarkan satu per satu. Yang kutahu hanyalah : aku menikmati setiap seluk beluk kota Yogyakarta yang kerap mengantarkan kehangatan. Arteri bangunan unik yang tersusun apik di kawasan Malioboro. Pemandangan senja di simpang Tugu. Juga setiap keping cerita sederhana di Babarsari yang mengenalkanku akan kebersamaan.

Aku selalu mengenangnya dengan jelas.

Tapi selanjutnya, aku sadar. Aku menyadari bahwa aku tidak akan mungkin dapat menghabiskan waktuku berlama - lama di sini. Bukan di sini kampung halamanku.

Jadi kurasa, sudah saatnya aku untuk pulang ke tempat kelahiranku.

Sebelumnya aku tidak pernah berpikir jika perjalananku akan berakhir begini. Aku terlalu menikmati setiap bulir detik yang kuhabiskan di sana sehingga aku lupa jika suatu hari nanti aku harus kembali. Aku sudah terlalu lama jauh dari rumah, pikirku.

Namun, meskipun aku didera akan rasa kehilangan, aku tidak ingin berlarut - larut di dalam kesedihan. Memang perjalanan ini harus kuakhiri. Sebab aku ingat (juga pernah dengar) ... There's always a  goodbye between a hello.

Kurasa, itu memang benar.
Jadi, aku benar - benar telah memutuskan untuk kembali. Ke suatu tempat yang terlebih dahulu mengenalkanku pada kehangatan.






Yogyakarta, on my trip to Jakarta.
24 December 2012