Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 29 November 2014

Dear Brother

Dear Brother...

Jauh sebelum hari ini, saya pernah memiliki sosok pelindung yang bisa diandalkan. Saya memanggilnya dengan sebutan Abang. Beberapa orang sering berkata wajah kami mirip satu sama lain. Saya tidak mengerti mengapa mereka berpendapat demikian. Tapi belakangan, barulah saya menyadari sejumlah kemiripan yang ada di antara kami.

Saya masih ingat dengan jelas masa-masa di mana kami menghabiskan masa kecil bersama sebagai saudara laki-laki. Itu adalah hari Minggu, saat saya dan Abang berlarian di halaman belakang rumah orang sambil bermain layangan. Sesekali terdengar suara Mama yang meneriaki kami untuk segera pulang. Sudah tengah hari, katanya, nanti ada penculik.

Sampai sekarang pun, dongeng tentang penculik yang selalu memenggal kepala anak kecil itu masih berlaku untuk sebagian orangtua.

Seiring berjalannya waktu, saya dapat merasakan perubahan di antara saya dan Abanv. Seperti ada tembok besar yang membuat kami saling berjauhan, sering merendahkan dan bertingkah egois. Namun, jauh di dasar hati saya yang paling dalam, saya selalu berharap agar saya dan Abang bisa berbaikan seperti dulu lagi -- seperti adik dan kakak yang saling berangkulan.

Saya bahkan rindu dengan volume suaranya yang tidak pernah rendah ketika berbicara. Saya rindu dengan gelak tawanya yang selalu terselip di tengah-tengah lagu Guns and Roses yang sering dia putar setiap pulang sekolah. Saya rindu dengan lukisan burung elang yang dia sadur dari kertas kalender -- satu-satunya lukisan yang selalu saya banggakan.

Ah... Rasanya semua kenangan dan peristiwa itu baru terjadi kemarin sore. Saya kerap mengingatnya di saat saya sedang rindu, ataupun menjelang tidur.

Orang selalu bilang bahwa seorang Kakak adalah Pahlawan Kedua yang dikagumi adik setelah sosok ayah. Begitu pula saya yang selalu mengagumi Abang dengan segala kekurangannya.

Tidak ada maksud apa-apa yang terselip di balik tulisan ini. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa sampai kapan pun, Abang masih akan tetap sama di mata saya. Dia masih sosok Abang yang sering saya kagumi seperti dahulu kala. Dan saya selalu berharap, dia tidak pernah lupa bahwa kedua orangtuanya selalu cinta dan bangga -- tak peduli seperti apa pun dirinya.

Sincerely,

Your Little Brother

Minggu, 06 Juli 2014

Surat Untuk Bapak Jokowi

Sore itu, saya berdiri mematung di depan lobi utama Plaza Semanggi. Saya baru saja turun dari Sky Dining dan hendak menuju jembatan penyeberangan yang mengarah ke halte Trans Jakarta. Benar. Jembatan penyeberangan yang jaraknya nyaris 500 meter itu. Tapi saya tidak terlalu buru-buru untuk pulang. Saya masih berdiri di sana sambil mengamati satu pemandangan yang membuat hati saya tergetar.

Lengkungan bunga cengkih di jalanan Semanggi itu masih sama seperti terakhir kali saya melihatnya. Pepohonan dan rumput-rumput hijau itu tampak segar oleh semprotan air yang mencuat di tengah-tengah halaman. Saya senang sekali menyaksikannya dari atas sini. Meskipun sesekali terllihat sejumlah kendaraan yang terjebak dalam kemacetan, hal itu sama sekali tidak memengaruhi saya untuk segera beranjak.

Saya masih berada di sana untuk beberapa saat yang lama. Menikmati senja yang meleleh di langit sore kota Jakarta, sembari merenungkan sejumlah peristiwa yang pernah terjadi di tempat ini belasan tahun yang lalu. Belasan tahun yang terasa sangat kelam buat saya, buat seluruh warga Indonesia, dan tentu saja buat Bapak Jokowi juga.

Saya memang tidak berada di kota ini pada tahun 1998. Saya menempuh pendidikan saya selama sembilan tahun di Pulau Bangka dan hanya tahu peristiwa itu lewat berita. Lagi pula, saya masih terlalu kecil untuk ikut campur dalam unjuk rasa itu. Satu hal yang masih saya ingat, seluruh media cetak dan media elektronik selalu dipenuhi dengan berita mengenaskan. Kolom artikel yang memaparkan betapa kejamnya pemimpin negara dan para kaki-tangannya.

Kita semua tahu apa yang terjadi dalam peristiwa itu. Pekik kebencian dari para mahasiswa Universitas Atmajaya kepada aparat negara, sumpah serapah yang membabi-buta, dan milyaran cara telah mereka coba untuk mengalahkan antek-antek bersenjata. Para pasukan anti huru-hara tak mau kalah. Mereka berbalik menyerang sampai beberapa orang di antara mereka harus mengorbankan nyawa. Bahkan ada pula oknum yang sengaja menculik para aktivis dengan modus tertentu. Menodongkan pistol, memasukkan mereka secara paksa ke dalam mobil Toyota Twin Cam, lalu membawa mereka kabur.

Kejadian itu berlangsung di depan RS Cipto Mangunkusumo.

Dan saya yakin, Bapak mungkin sedang menebak-nebak siapa pelakunya.

Segalanya mungkin telah berlalu sejak lama, Pak. Kematian Elang dan kawan-kawannya mungkin hanya sekadar sejarah. Tapi bagi kami, semua itu masih jauh dari kata selesai. Saya sendiri masih sering dihantui rasa takut setiap kali membayangkan hal-hal yang demikian terulang kembali. Penculikan, maraknya kekacauan, krisis keuangan, pengkhianatan, ambruknya sistem pemerintahan, politik dinasti... Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka.

Jadi... Kepada Pak Jokowi yang baik hati...

Mungkin surat ini hanya berisi seputar kilas-balik masa lalu Indonesia. Semua orang masih bisa menyampaikan isi yang lebih baik daripada saya. Namun, jauh di dasar hati saya, ada harapan besar yang saya tanamkan kepada Bapak. Seluruh warga Indonesia – kami –  tidak ingin negara ini jatuh untuk kesekian kalinya. Kami tidak ingin melihat pertumpahan darah oleh mereka yang tidak berdosa.

Sejatinya, kami menginginkan pemimpin yang lebih baik. Pemimpin yang sabar. Kami benar-benar berharap negeri ini dipimpin oleh seseorang seperti Bapak. Sosok yang rendah hati, yang menginspirasi, yang dermawan, tegas namun tidak menakutkan, dan yang paling penting; yang mengerti bagaimana caranya membaur dengan rakyat. Dan semua itu ada di dalam diri Pak Jokowi.

Kami semua senang dan sangat kagum dengan Bapak. Sama seperti saya mengagumi bentuk bunga cengkih di jalan Semanggi.
Oleh karena itulah, kami menaruh harapan besar padamu, Pak Jokowi.
Terima kasih banyak.

#SalamDuaJari

Jumat, 13 Desember 2013

Fragile Heart


Setahun yang lalu, segalanya masih belum serumit ini. Aku masih dapat menikmati gejolak perasaan menyenangkan setiap hari, tersenyum di depan cermin seorang diri, bahkan menulis kata-kata indah di setiap halaman buku binder-ku. Semuanya terasa indah pada saat itu.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Lewat cara konvensional di social media - Twitter - aku dan dirinya sering bertutur sapa. Sekadar bersinggungan mengenai twit-twit yang lucu, berperang sajak, bahkan tak jarang kami berbincang di Direct Message. Dan ya, aku amat bahagia dapat berkenalan dengannya. Aku sudah menganggap dirinya sebagai kembaranku sendiri.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tak terasa kami berjumpa dengan bulan April. Ketika itulah segalanya mulai berubah secara perlahan. Aku mulai sering mengiriminya ucapan selamat pagi, mengucapkan selamat tidur sebelum kami bermimpi, dan tentu - aku sering menuliskannya puisi. Aku bahkan tak ragu-ragu meminta nomor ponselnya pada waktu itu.

Bertukar nomor ponsel seolah menjadi jembatan bagi kami berdua. Kami sering terjebak dalam pesan singkat yang berisi lelucon konyol dan ledekan garing. Aku juga kerap mengabarkannya setiap kali aku menulis. Entah mengapa aku mau melakukannya, aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu, setiap kali berbicara dengannya, darahku berdesir hangat seolah dialiri gelombang semangat tak tanpa batas. Dan aku amat menikmatinya.

Tapi sayangnya, waktu bergulir begitu cepat bagai desingan peluru. Semakin banyak biaya yang kami habiskan untuk percakapan di dunia maya, semakin besar pula bahagia itu tercipta. Dan secara tidak langsung, aku tersadar bahwa aku telah jatuh cinta. Lebih tepatnya, aku telanjur suka. Teramat suka pada sosoknya yang menyenangkan, yang tenang, yang selalu membuatku kangen setiap waktu.

Aku menikmati setiap bulir kebahagiaan itu mengisi kepalaku sepanjang hari. Dan selagi aku terjebak dalam lembah yang dipenuhi warna-warni cinta, aku juga sering dihujani rasa cemburu yang tak beralasan. Aku sering menangis karena rindu terhadap dirinya yang sering menghilang. Bahkan, aku pernah merasakan hal-hal seperti itu selama berbulan-bulan sampai aku tak dapat lagi berpikir secara normal. Akal sehatku seolah-olah mendadak lumpuh.

Hingga pada hari ini, sesuatu yang tak pernah kuharapkan benar-benar terjadi.

Aku tidak tahu apa penyebab sebenarnya. Karena sejak dua hari kemarin, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Aku masih menjalin komunikasi dengannya via pesan singkat. Mengiriminya puisi dan bercakap-cakap barang sejenak. Tapi entah kenapa, sewaktu aku hendak membuka akun Twitter-ku, aku melihat satu keganjilan yang membuatku berpikir; ada yang tidak beres dengan jumlah followers-ku.

Aku tahu, ini masalah yang sepele dan sangat wajar. Namun yang tak kumengerti adalah, seseorang yang tidak berada di sana adalah namanya. Selama sejenak, perutku terasa mulas selagi jantungku berdegup kencang. Kepalaku mulai dihujani sejumlah tanda tanya dan spekulasi burukmyang tak kuketahui dari mana datangnya.

Meraih ponselku, dan mencoba menghubunginya. Sekadar bertanya mengenai alasan atau penjelasan singkat sehingga dia melakukan hal seperti itu. Setelah cukup lama menunggu, dia pun menanggapinya dengan satu kalimat yang berisi kata 'maaf'. Aku tidak mengerti kenapa dia harus minta maaf. Karena bagiku, followers are just a number. Aku bahkan tidak peduli seberapa banyak jumlah followers di akun Twitter-ku.

Sampai pada akhirnya, dia menjelaskan alasannya serinci mungkin. Ada sesuatu yang membuatnya harus menjauh, haris menjaga jarak dariku. Dan langkah kecil itu tentu saja dimulai dari social media. Aku berpikir, kenapa sih harus ada drama follow-unfollow-block-unblock di social media? Kenapa??? Itu semua terlalu kekanak-kanakkan!

Dia juga berkata padaku tentang sesuatu yang sulit sekali untuk kuterima. Maksudku, aku sudah berjanji untuk memaklumi apa pun alasannya. Tapi apa yang dia ucapkan begitu -- begitu ganjil dan tidak masuk akal. Aku tidak mengerti. Yang pasti, pada saat itu aku mengungkapkan apa yang telah kusimpan selama ini terhadapnya. Biar saja! Biar dia menyadari semuanya.

Tapi kemudian, tampaknya aku harus menelan kecewa. Semua upayaku tak membawa perubahan. Dia lebih memilih untuk pergi, sementara aku tidak berhak untuk menahannya. Karena akan lebih sakit jika kubiarkan dia bertahan lebih lama. Jadi, mau tidak mau aku mengikhlaskan pilihannya.

Aku sadar, semua orang memang berhak memilih siapa yang hendak dia jadikan sebagai sahabat ataupun teman hidup. Seperti apa pun keputusannya, tidak seorang pun yang pantas untuk melarang.

Saat menulis kisah ini, aku memang merasakan sakit hati yang teramat dalam. Kecewa sekaligus bercampur putus asa. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menanam benci, sekalipun dia berkata bahwa aku pantas untuk membencinya. Aku tidak mau. Kebencian tidak akan membuahkan apa pun selain kebencian itu sendiri.

Dan jika suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih tetap sama. Sedikit pun tak akan pernah lupa pada seluruh masa lalu kita - meskipun kini ia telah berakhir.

*teruntuk inisial H.A

Senin, 26 Agustus 2013

Hates Me Not

Sore itu, ponsel saya berdenting tepat setelah saya keluar dari kamar mandi. Saya sangat hapal dengan notifikasi itu. Dengan bergairah, saya segera merampas benda mungil yang tergeletak di atas ranjang saya, lantas membuka aplikasi Whatsapp dalam hitungan detik.

Satu pesan baru.

Awalnya saya berharap pesan itu dikirim dari seseorang yang saya tunggu-tunggu. Ternyata bukan. Saya harus menelan kecewa ketika saya mengetahui  identitas si pengirim pesan adalah teman saya sendiri. Well, sebut saja namanya Mike. Kami mengenal satu sama lain sudah cukup lama. Sekitar tiga tahun yang lalu, waktu itu saya baru lulus SMA. Dan memang, bagi saya tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Sudah banyak hal yang saya dapatkan dalam kurun waktu tersebut.

Salah satunya, Mike yang akan saya ceritakan sesaat lagi.

Semangat saya sudah lama surut. Jadi, mau tidak mau akhirnya saya membuka sejumlah pesan yang dikirimi oleh Mike.

Hei, Joy.
Apa kabar? Where have you been?
Sombong banget ya sekarang! >.<

Ya... Kurang lebih begitulah isi pesan yang tertampil di layar ekstra-lebar ponsel saya. Sesaat setelah sederet kalimat itu saya tuntaskan, saya melenguh. Membuang napas panjang-panjang dan terdiam sampai saya sendiri tidak tahu berapa lama saya melamun.

Kalau boleh berkata, saya sudah sering menerima pesan yang berbunyi demikian. Dibilang sombong, cuek, belagu, bahkan lupa sama temen. Jadi yang seperti itu bukan hal baru lagi buat saya pribadi. Tapi, saya nggak menanggapinya dengan hal yang jahat. Saya berusaha seramah mungkin agar mereka sadar bahwa saya tidak sombong, belagu, whatever-you-called-it. Karena pada dasarnya, saya bukan tipe orang yang suka memulai sebuah permusuhan.

Agak lama saya membatu, akhirnya saya mengetik beberapa patah kalimat sebagai pesan balasan. Nggak mau banget kalau dia berpikir saya sombong gara-gara hanya membaca pesannya saja. Begini balasan saya;

Alhamdulillah gue baik, kok. Everything’s fine here.
Duh... Jangan bilang gue sombong, dong. :p

Tak beberapa lama kemudian, dia merespons.

Emang elu sombong kali! Di twitter jarang mensyen, di path juga jarang nyapa.
Di whatsapp apalagi!!!

Saya terkesiap ketika saya mendapati tiga butir tanda seru yang berada di akhir kalimatnya. Secara tiba-tiba saja rasanya kepala saya seperti dihujani jutaan tanda tanya. Tapi dalam waktu yang bersamaan, saya pengin ketawa. Terus bertanya dalam hati, emangnya saya sombong, ya? Letak kesombongan saya di mana, sih? Saya kan cuma ciptaan Tuhan yang nggak ada bedanya sama manusia yang lain...

Merasa gerah dengan tudingan yang tidak sesuai kenyataan, akhirnya saya menginjakkan jemari saya secepat mungkin di atas touchscreen dan membalas seperti ini;

Sori, bukannya sombong.
Waktu itu gue udah nyapa di twitter,guma gue nggak dapet tanggapan apa-apa.
Gue liat di timeline, lo juga kayaknya lagi sibuk sama temen-temen lo yang baru J

Selang beberapa lama, dia menanggapi pesan saya.

Itu mah geng rumpi gue, Joy. Anaknya asik-asik, kok.. Hahaha

Menurut saya, kalimat itu sudah sangat jelas menunjukkan bahwa Mike merasa lebih nyaman dengan teman-temannya yang sekarang. Dengan kata lain, saya bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan mereka.

Saya menghela napas dalam-dalam, menetralkan amarah saya yang meluap-luap di kepala. Dan beruntungnya, saya bukan tipe orang yang temperamental dan lumayan sanggup mengendalikan emosi saya (untuk hal-hal tertentu) sehingga saya tidak perlu membanting ponsel saya detik itu juga. Jadi, saya hanya diam dan tersenyum. Mengambil tindakan dengan menghapus chat history saya dengan Mike dan mematikan ponsel saya agar tidak ada lagi gangguan-gangguan berikutnya.

Sepanjang malam – sebelum saya terpejam – saya merenung kembali saat-saat di mana saya dan Mike biasanya bercakap-cakap di Whatsapp, atau bahkan bergosip via telepon hingga dini hari.  Kami sering membicarakan topik yang jenisnya beraneka ragam. Dimulai dari menasihati kelakuan saya yang suka berharap terlalu tinggi kepada seseorang yang belum tentu menyukai saya, kemudian giliran saya yang memberinya wejangan-wejangan sederhana supaya tidak kelewat naif terhadap orang yang dia taksir. Selalu ada timbal balik yang wajar setiap kali kami menumpahkan isi kepala.

Saya rindu momen-momen manis seperti itu.

Namun percakapan bersama Mike tadi sore membuat saya bernala-nala, bagaimana dia bisa berkata demikian? Bagaimana dia bisa menilai saya sebagai orang yang sombong sementara kami sudah bersahabat sejak lama? Dan padahal, selama ini saya selalu menjaga komunikasi dan hubungan pertemanan kami sebaik mungkin. Bahkan saya tidak pernah sekali pun mencoba memulai satu permusuhan.

Apakah hanya saya satu-satunya objek yang patut dijuluki sebagai sahabat yang sombong?

Kenapa dia sendiri tidak bisa menyadari kalau sebagian masalah ini juga berasal dari kesalahannya?

Hingga pada satu waktu, saya menyadari bahwa waktu selalu membuat sebuah perubahan. Mike telah memiliki satu lingkaran pertemanan yang baru di saat intensitas percakapan kami tidak sesering dulu. Belakangan ini saya memang kerap menyibukkan diri dengan menulis. Mike sendiri tahu mengenai kesibukan saya, dan barangkali dia berupaya menjaga jarak agar tidak terlalu mengganggu saya. Mungkin itulah salah satu faktor yang membuat dua di antara kami seperti saling bersisian.

Dalam kasus ini, saya tidak tahu siapa yang benar-benar egois. Selama ini saya telah mencoba bersikap seadil mungkin. Saya juga memiliki teman-teman yang lain. Tapi saya tidak pernah melupakan Mike. Sekalipun saya tidak ingin belajar membenci seseorang hanya karena sebuah kesalahpahaman. Namun, jika sahabat saya itu lebih memilih untuk bergabung bersama teman-temannya yang baru, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Semua keputusan itu sepenuhnya berada di tangan sahabat saya.
Selasa, 20 Agustus 2013

Life Goes On

Pagi itu, aku bangun lebih awal. Aku beringsut turun dari ranjang dan keluar dari kamar sesaat setelah aku dihadiahi spektrum ilusi yang membuatku teramat merindu. Beberapa di antaranya adalah sejumlah suara semu yang tidak kuketahui dari mana mereka berasal.


Aku melangkah gontai ke ambang pintu rumahku, duduk bergeming di sana sembari menengadahkan kepala. Menyaksikan selendang biru yang membentang luas di sepanjang cakrawala beserta riak-riak awan putih yang sedang berdansa di sekitarnya. Angin bertiup kencang tanpa perhitungan sekalipun bola api di atas sana berpijar terik tak terkira. Satu demi satu dedaunan pohon jambu di halaman rumahku mengelupas dari rantingnya yang tampak telah menua.


Dalam diam aku membatin, ini tidak terasa seperti biasanya.


Aku tidak tahu apa yang sedang kualami. Bahkan, aku tidak mengerti mengapa aku memilih untuk duduk di sini. Biasanya, aku akan hanyut dalam damai setiap kali aku berada dalam ketenangan yang demikian. Hanya saja semuanya telah berbeda. Ada semacam perasaan gelisah yang membuatku takut dan tiba-tiba ingin meneteskan air mata.


Aku menoleh ke belakangku untuk sejenak. Menyaksikan sebuah ruangan yang senyap tanpa penghuni selain barang-barang pajangan dan aneka benda mati. Tidak ada siapa pun di sekitar sana. Tidak ada suara, maupun sosok yang tenangkan jiwa. Yang ada hanya sepi.


Pikiranku kembali terlempar pada sederet kenangan yang kulalui beberapa hari kemarin. Masa di mana segalanya terasa begitu hangat. Ada gelak tawa, ada sukacita, dan ada cerita yang senantiasa menjadi bukti kebersamaanku dengan seluruh penghuni di rumah ini. Dan biasanya, semua bentuk keceriaan itu akan kutemui di saat-saat seperti sekarang.


Aku juga masih mengingat dengan jelas saat bocah-bocah kecil itu berteriak dengan suaranya yang sumbang pada suatu pagi, kemudian diselingi dengan nyanyian yang terus berlanjut tanpa tahu kapan mereka akan mengakhiri. Atau momen di mana mereka berteriak menangisi sesuatu yang seharusnya mereka miliki. Dan tak ayal, tangis itu pun akan segera berhenti saat salah satu dari penghuni rumah ini mencoba menenangkan keadaan dengan caranya sendiri.


Selama beberapa saat, aku hanya terdiam sembari menyeka bulir tangis yang tertahan di ekor mataku. Aku membayangkan bila seandainya sukacita seperti itu tidak lagi tercipta dengan esensi tawa yang seutuhnya. In bottom line, tanpa suatu kebersamaan dalam keluarga, atau setelah terjadi sebuah perpisahan.


Aku beranjak dari dudukku, tahu bahwa semua kenyataan ini harus kuhadapi. Karena pada suatu waktu, aku menyadari bahwa fase inilah yang disebut fase pendewasaan. Siap atau tidak, hidup akan terus berjalan – dengan atau tanpa perencanaan.



Bangka, 20 Agustus 2013

Teras rumah...
Minggu, 31 Maret 2013

Dear You

Aku sudah pernah mengecap pahit sebelum hidupku diisi berliter-liter bahagia.
Setiap luka pun seolah menjelma menjadi rangkaian cerita.
Sendiri, tak berteman, tanpa canda atau tawa gembira.

Mereka pernah berkata bahwa hidup itu sederhana.
Dan mereka juga bilang jika berdua akan selalu lebih indah.
Tapi, bagaimana jika sebuah kebersamaan tanpa disertai kehadiran cinta?
Bukankah semua akan terasa percuma?
Tapi, aku selalu percaya bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia.
Aku memercayai semua itu sebagaimana langit yang mencintai senjanya.
Aku kerap meyakini diriku semua itu seperti matahari yang tak pernah lelah menganugrahi cahayanya pada bintang.

Begitu.

Dan kepada kamu yang membaca himpunan sajak sederhana ini, percayalah bahwa aku ada...
Untuk kamu selamanya, tak peduli meski aku menua.
Rabu, 13 Februari 2013

Simfoni Suara Hati

Sebelum hari ini, aku tidak pernah mengetahui bagaimana makna cinta sebenarnya. Aku selalu berkhayal-khayal bahwa cinta itu indah. Pikiranku pun tak pernah luput akan warna-warni cinta. Tapi, semua itu bukanlah penjabaran dari cinta yang sesungguhnya. Cinta hanyalah sebuah rahasia yang hanya dapat ditafsirkan oleh hati dan logika.

Setelah berkenalan denganmu, perlahan aku pun tahu seperti apa rasa bahagia dari sebuah cinta. Cinta itu bukan tentang mereka yang tadinya dua - lalu berpadu menjadi satu. Cinta adalah zat murni yang hanya bisa dikecap pahit-manisnya dalam sebuah jalinan kasih sayang. Yaitu: perjalanan cinta.

Mereka selalu bilang sebelumnya, dunia itu tercipta untuk memersatukan Adam dan Hawa. Karena menurut mereka, cinta dapat terlahir dari satu gender yang berbeda. Tapi, tidakkah mereka terpikir bahwa cinta dapat muncul dan lahir dari mana saja, termasuk siapa saja bukan? Cinta itu kan tentang kita, bukan tentang mereka. Jadi kurasa, cinta itu tidak perlu dipermasalahkan bagaimana dan seperti apa rupanya. Nikmati saja. Maka, kita akan tahu seperti apa wujud cinta kita.

Dan kurasa, hanya kepadamulah pikiran-pikiran ini kupersembahkan. Kutulisa dalam sejumlah rangkaian kata.

Selamat hari kasih sayang, kamu.... (H.A)

Untuk @lamuntau :D