Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label 22. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 22. Tampilkan semua postingan
Minggu, 21 Desember 2014

Mengulang Masa Lalu (Tentang Kado yang Datang Terlambat)

Hal pertama yang terlintas di benak saya ketika mendengar nama dia adalah sesuatu yang berwarna cerah. Merah seperti sebutir ceri di dalam gelas mojito, kuning seperti langit pagi yang merekah, jingga seperti senja yang tumpah.

Warna-warna itu kerap berseliweran setiap kali saya teringat seorang sahabat Hermi Yustina.

Saya pernah mengunggah satu tulisan tentang dia sebelumya. Sesuatu yang mengisahkan kilas balik persahabatan kami. Dua tahun lalu, saat tulisan saya masih belum sempurna dan apa adanya. Dua tahun lalu, pada tanggal yang sama dan momentum yang sama pula.

Setiap orang pasti memiliki angka favoritnya masing-masing. Begitu pula dengan sahabatku yang satu itu. Angka 17 mungkin angka kegemarannya. Pun angka bersejarah dalam hidupnya. Hari di mana dia pertama kali membuka mata dan menyapa dunia.

Dan pada tanggal 17 Desember, dia akan merayakan kebahagiaannya bersama orang-orang tercinta – dengan caranya sendiri.

Itu adalah hari pertama saya bertemu dengan Hermi Yustina. Dalam balutan seragam kerja berwarna hijau, kerudung hitam yang dilipat sederhana, dan celana jins biru gelap. Saya tidak pernah menyangka jika pertemuan itu akan membawa kami ke sebuah jalinan pertemanan yang lebih erat. Karena terus terang, dia tidak terlihat seperti gadis pada umumnya. Cenderung pemalu, tidak banyak bicara, tertawa pun seadanya. Beda sekali dengan salah satu rekan kerjanya yang bernama Sari – cewek selebor, pecicilan, dan selalu melawak di setiap kondisi.

But, her speaks louder than words.

Dia tahu bagaimana membuat saya terkesan dengan sejumlah kisah tentang dirinya, tentang keluarganya, tentang hal favoritnya, tentang warna kesukaannya. Ada banyak kesamaan yang bikin saya menaruh kepercayaan dan bisa menganggapnya sebagai seorang sahabat. Dan semua itu tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama sejak pertemuan kami yang pertama.

Saya bahkan masih ingat saat kami menjelajahi Blok M Square untuk sekadar cuci mata. Barangkali ada sesuatu yang lucu di sana. Tapi percuma. Kami pulang dengan tangan hampa dan lebih memilih berbelanja di atas jembatan penyeberangan. Saya juga pernah menculiknya ke restoran Klenger Burger di saat jam istirahat. Duduk di hadapan saya sambil membahas Taylor Swift, penyanyi country kesukaan kami.

Kapan itu, kami pernah tersesat di daerah Menteng saat hendak mencari restoran Ocha & Bella. Baik saya maupun dia sangat gemar berburu kuliner. Dimulai dari sekadar makanan angkringan sampai kafe-kafe populer sekalipun. Dan setibanya di Ocha & Bella, kami kembali mengulang satu kebiasaan yang rasanya sulit sekali dihilangkan. Berbicara dari hati ke hati tentang karier, tentang masalah percintaan. Well, saya selalu gagal setiap kali menjalin hubungan asmara dengan seseorang.

Saya juga pernah membangunkannya tengah malam lewat telepon untuk menyampaikan kegelisahan saya. Dia tidak hanya bersedia mendengar, tapi juga memberi solusi. Dia tahu sahabatnya sedang tidak bisa tidur, dan dia sama sekali tidak merasa keberatan.

Dia adalah pendengar yang baik.

Dia selalu hadir ketika saya butuh seseorang untuk mendengarkan apa yang hendak saya sampaikan. Tak hanya itu, dia juga mengerti bagaimana caranya memberi timbal balik yang baik. Mungkin karena dia terlahir sebagai orang Sagitarius. Biasanya orang Sagitarius dianugerahi sifat solidaritas yang tinggi.

Ah... Kalau saja saya punya mesin waktu, saya ingin sekali memutar seluruh momen itu dan mengabadikannya dengan kamera. Selama ini saya terlalu sibuk menceritakan masalah saya sendiri. Jarang sekali saya teringat untuk mengajaknya foto berdua.

Semoga di lain waktu, kami masih diberi kesempatan untuk bertemu dan tersenyum bersama di hadapan kamera.

Semoga di lain waktu, saya bisa berperan lebih banyak sebagai seorang sahabat.

Hanya tulisan sederhana ini yang bisa saya persembahkan sebagai kado ulang tahun. Saya tidak bisa menjanjikan kejutan seperti cupcake, buket bunga ataupun sepatu lucu yang sering dia pakai.

Hanya tulisan yang bisa membuktikan bahwa saya tidak pernah lupa dengan hari ulang tahunnya.

Selamat ulang tahun, Hermi Yustina.
Tetaplah berpijar seperti warna merah, kuning dan jingga
Terus belajar dan selalu diberi kesehatan untuk menggapai mimpi.
Semoga selalu merasa cukup.


Sahabatmu,
Joy Agustian.
Kamis, 28 Agustus 2014

Faith Of Love


Sebagian orang mungkin berpikir jika musim gugur akan lebih baik jika dihabiskan dengan mengurung diri di dalam rumah. Mengenakan kaus kaki dan bergelung di dalam selimut tebal, menyaksikan daun mapel yang berguguran, atau sekadar menikmati sereal cokelat sambil menonton DVD seharian penuh.

Tapi aku bukan salah satu dari orang seperti itu.

Aku lebih memilih keluar dan berjalan menyusuri Alderney Street bersama seorang gadis kecil yang biasa kupanggil Kitty. Well, nama aslinya Emma Huntington. Dia baru berusia lima tahun, masih duduk di taman kanak-kanak. Memiliki rambut panjang berwarna pirang yang sering dikuncir ekor kuda. Emma terbiasa menata rambutnya sendiri sejak kecil.

Kami meninggalkan apartemen pukul satu siang. Singgah sebentar ke sebuah kafe kecil untuk membeli secangkir kopi dan cokelat panas. Matahari tertutup oleh awan tebal. Dedaunan kering yang teronggok di sepanjang jalan Pimlico sesekali tertiup oleh angin. Ranting-ranting pohon di sekitar kami berderik pelan, pertanda hujan akan turun. Tapi kami tak peduli. Terus melanjutkan perjalanan hingga kami tiba di Legoland Windsor Resort.

Atmosfer berbeda mulai terasa ketika kulihat slogan ‘Play Your Part’ yang terpampang di pintu masuk. Huruf kapital hitam yang bertuliskan LEGOLAND itu seakan-akan menyambut kedatangan kami. Aku sama sekali tidak punya rencana untuk pergi ke sini. Namun entah kenapa, setiap kali melewati tempat ini, Emma selalu menggamit tanganku untuk segera masuk ke pusat permainan lego itu.

Aku tak sampai hati jika harus menolak keinginannya.

Menuju Duplo Valley – sebuah wahana permainan yang memperbolehkan kami menjelajahi lembah dengan sebuah perahu sampai terkena cipratan air. Menikmati es krim Cornetto sambil menaiki kereta Brickville Express. Kemudian berteriak sekencang-kencangnya saat melaju di atas Dragon Roller Coaster. Sewaktu berada di Atlantis Experience, kami sempat mengabadikan momen itu dengan memotret beberapa ikan hiu dan bermacam-macam tumbuhan laut.

Aku dan Emma berhenti di satu wahana bernama Miniland. Menyaksikan miniatur kota dari berbagai negara di dunia yang tersusun menggunakan empat puluh juta blok lego. Setiap detail kota itu diciptakan semirip mungkin dengan versi aslinya. Bahkan, jika diperhatikan dari dekat, lego-lego itu seakan-akan tampak sangat nyata.

“Sebagian warga Inggris masih belum tahu apa itu The Elizabeth Tower. Mereka beranggapan bahwa menara itu bernama Big Ben. Padahal sebenarnya, Big Ben adalah nama lonceng yang berada di dalam jam itu. Menaranya sendiri disebut St. Stephen Tower.”

Seorang pria berambut cokelat gelap yang mengenakan sweter kasmir abu-abu bersuara di belakangku. Memandangnya dari atas ke bawah, menebak-nebak apa yang membuat dirinya muncul di sana dan menceritakan asal-usul tentang jam raksasa yang dikenal dengan nama Big Ben. Pria itu tidak berdiri sendirian. Dia hadir bersama seorang anak perempuan yang sepertinya seusia dengan Emma.

“Itu saudara perempuanmu?” Dia bertanya sambil melirik Emma yang sedang mengamati struktur kota London yang terbuat dari lego.

“No, ze is mijn dochter[1],” jawabku terpaksa berdusta. Karena faktanya, Emma adalah keponakanku. Kedua orangtuanya sedang berada di luar kota lantaran ada urusan pekerjaan.

“Aku rasa – kau berasal dari sana, ya?” Telunjuknya terarah pada miniatur lego berbentuk rumah kincir angin yang dikelilingi kebun bunga tulip dan peternakan sapi.

Penuturannya kuiyakan dengan anggukan kepala.

“Belanda sangat menakjubkan. Aku pernah mengunjungi tempat itu sekali saat aku masih kuliah,” ucapnya membuat pengakuan. “Jadi, ke mana tujuanmu setelah ini?”

“Aku tidak tahu. Barangkali pulang ke apartemen,”

“Kau tidak berminat mengunjungi taman hiburan di Hyde Park? Ada sejumlah wahana permainan di sana.” Pria dengan bola mata hijau zamrud itu membenamkan kedua telapak tangannya ke dalam sweter dan melanjutkan, “Kau tahu. Ferris Wheel, Caroussel, Rumah Hantu, permen kapas... Rasanya sayang sekali untuk dilewatkan.”

Ucapannya terdengar seperti pemandu wisata yang menawarkan paket perjalanan dengan tarif murah. Dan untuk sesaat, aku sempat menoleh pada Emma yang sedang mendongakkan kepala dengan tatapan penuh harap; satu pertanda bahwa dia sangat ingin mengunjungi tempat itu. Membayangkan keseruan kami saat menembak balon-balon yang berhadiah boneka, naik ke atas replika bus Double Decker, dan membawa sepasang balon terbang ke apartemen.

Tapi aku menjawab, “Kedengarannya menarik. Tapi, lain kali saja. Aku harus segera pulang.”

“Baiklah, geniet van je dag[2],” ucapnya seraya menganggukkan kepala.

Tanpa perlu berpamitan, aku segera meraih tangan Emma dan mengajaknya menjauh dari pria asing di hadapan kami. Sebisa mungkin berjalan cepat-cepat agar tak perlu lagi terlibat dalam percakapan yang tidak kuinginkan.

Dan tepat ketika aku hendak menggendong tubuh Emma ke dalam pelukanku, aku mendengar satu teriakan lagi dari pria itu.

“Hey!” panggilnya dari kejauhan. Bocah perempuan di sebelahnya melambaikan tangan. “Siapa namamu?”

Aku menoleh ke belakang dan berseru, “Sophie!”

“Aku Hugo. Senang bisa berkenalan denganmu!”

Aku melempar seulas senyum, kemudian bersiap untuk melangkah pergi.

Dalam hati aku membatin, senang berkenalan denganmu, Hugo.

(to be continued)



[1]. Dia adalah anak perempuanku
[2]. Selamat menikmati harimu