Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label draft. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label draft. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 November 2014

Best Mistake

Terkadang, apa yang kita miliki hanyalah segudang harapan. Berharap pada sebuah perlindungan, bantuan, ataupun sesuatu yang sulit untuk kita dapatkan. Itulah yang terjadi padaku saat tiba di Bandara Ngurah Rai. Menekuni sekitar seusai keluar dari pintu kedatangan penumpang, sembari memeriksa ponsel di genggamanku.

Bukan tanpa alasan jika aku hadir di sini seorang diri. Rekan kerjaku memberi kabar dadakan bahwa ada project photoshoot yang harus diselesaikan dalam waktu dekat. Dan lokasi pemotretan itu berada di Danau Tambligan. Mereka telah tiba di sini lebih awal, sementara aku menggunakan penerbangan paling akhir dari Jakarta.

Dudukku semakin tak nyaman ketika para sopir taksi dan sejumlah pemandu wisata bertarif tinggi di sekitarku menawarkan jasa antar. Alih-alih menanggapi teriakan mereka, aku malah mengunci bibirku rapat-rapat. Menggerakkan jemariku pada layar ponsel dan mem-posting sesuatu di Twitter. Aneh... Dalam situasi genting seperti ini, masih saja aku sempat meng-update berita terbaru di sosial media. Harusnya aku mencari bantuan atau segera bertindak, bukannya mengabarkan peristiwa malang ini ke seluruh dunia.

Aku segera menghubungi nomor Jenny berulang-ulang. Mendengarkan nada tunggu tak berkesudahan sampai kalimat permintaan maaf yang disampaikan oleh si operator. Begitu pula dengan nomor Andhika dan Lucky yang ternyata berada di luar jangkauan. Tampaknya kesemua di antara mereka memang sedang tidak bisa dihubungi.

Aku jadi semakin tidak mengerti, untuk apa aku datang ke sini?

Tenagaku rasanya sudah terkuras habis. Aku duduk termangu dan mendongakkan kepala. Di atas sana, matahari mulai merangkak turun. Langit kota Denpasar dibanjiri warna jingga kemerahan. Suara pengumuman yang terdengar lewat pengeras suara seakan meredup ketika pikiranku melayang jauh pada seseorang yang selama ini kurindukan.

Betapa aku berharap dia ada di sebelahku saat ini; menemaniku melawan sepi, menarik koperku dan melangkah bersama ke dalam taksi, kemudian bercengkerama sepanjang perjalanan menuju hotel. Betapa aku berharap jarak antara Bali dan Sydney bisa ditempuh dalam hitungan menit untuk menebus rasa rinduku terhadap Texas.

Tapi sayang, rasanya semua itu sangat tidak mungkin.

Aku berjalan menenteng koperku ke arah taksi hitam di seberang jalan. Embusan angin yang berasal dari AC mobil semakin membuatku mengantuk. Aku bahkan tidak sanggup menjawab seluruh pertanyaan yang dilontarkan si sopir taksi saat mobil yang kami tumpangi mulai meninggalkan area bandara.

***

Gue lagi di Seminyak. Lo sama siapa di sana, Dam? --- Di mananya? The Amala atau Amalea? Suara lo nggak jelas.
Halo, Dam.
Adam...

Tidak terlalu yakin dari mana suara itu berasal. Tapi yang pasti, suara itu masih terngiang-ngiang sampai aku terbangun di siang hari. Kepalaku terasa berat saat aku beranjak dari tempat tidur. Rasanya seperti meneguk ratusan liter Cuervo tadi malam sehingga sulit membedakan mana yang maya dan mana yang nyata.

Aku memindai pandanganku sekeliling ruangan dan mencari letak jam dinding. Terkesiap kaget begitu melihat jarum jam yang telah menunjukkan pukul satu. Entah berapa lama aku tertidur, aku pun tidak ingat lagi. Dan semua itu semakin bertambah kacau saat kudengar pintu kamarku diketuk dari luar.

Barangkali Jenny, Andhika, Lucky, atau siapa pun di antara mereka telah menemukan keberadaanku.

Sewaktu handle pintu kutarik, satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah terdiam. Rasa pusing yang sejak tadi meremas kepalaku pun mendadak hilang. Seorang pria asing berbusana khas peselancar yang tidak kuketahui dari mana datangnya sedang berdiri di hadapanku.

Aku mengernyitkan dahi dan bertanya, "Cari siapa?"
"Adam, kan?" Dengan seringai senyum di wajahnya, dia kembali bersuara, "Gue yang nelepon tadi malem."

Selama sejenak, aku berusaha mengingat apa yang aku bicarakan dan dan dengan siapa aku berbicara di telepon tadi malam. Terlalu banyak pikiran yang berseliweran di kepalaku saat ini sehingga aku memutuskan untuk diam saja.

"Lo pasti udah lupa? Harun, nih. Temen kuliah lo dulu, satu angkatan kita." Menyilang kedua lengannya di depan dada sambil menatapku dalam-dalam. "Inget nggak?"

Dalam lima tahun terakhir, sudah banyak sekali peristiwa yang kualami. Termasuk bertemu orang-orang baru. Sebagian ada yang bertahan, sebagian ada juga yang pergi begitu saja. Aku bertemu dengan Harun sewaktu pendaftaran mahasiswa baru. Tidak banyak yang kami bicarakan saat itu. Aku lebih banyak diam, sementara dia bersama teman-temannya.

Pantas saja wajahnya terlihat sedikit familier.

"Harun yang anak Banjarmasin bukan, sih?" aku mencoba menebak.

"Nah bener!"

Pada waktu yang sama, tawa kami melebur jadi satu. Entah apa yang lucu, tapi rasanya sangat menyenangkan dapat tertawa bersamanya. Aku mengagumi sebaris gigi putihnya yang tersusun rapi dan gelak suaranya yang begitu lepas.

Usai menyudahi tawa, aku mempersilakan Harun untuk singgah ke dalam kamar. Kami saling menanyakan kabar dan bercerita mengenai kesibukan masing-masing. Harun sempat bekerja selama setahun di perusahaan Desain Interior sebagai graphic designer. Tak lama, Harun pun kembali ke Banjarmasin dan menekuni bisnis pabrik besi baja milik ayahnya. Dia sempat tercengang sewaktu aku mengisahkan bagaimana aku bisa tiba-tiba berada di Bali.

Aku pun tidak pernah menyangka kenapa semuanya serba kebetulan seperti ini.

Telantar sebatang kara, kemudian dipertemukan dengan seseorang yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Namun, suatu hari nanti aku akan menyadari bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Alam telah mengatur segalanya dalam sebuah ketetapan, dan segala sesuatu yang ada di dunia ini saling memiliki keterikatan.

Cukup lama kami membahas cerita masa lalu sampai kami benar-benar lupa waktu. Siang telah berganti sore, dan tanpa aku sadari  aku telah melewati setengah hari tanpa menyantap satu porsi sama sekali. Menjelang sore, Harun mengajakku keluar dan berjalan-jalan di sekitar pantai Seminyak.

Sejumlah payung dan kursi bantal beraneka warna yang menghiasi bibir pantai seolah-olah menjadi daya tarik tersendiri. Pada pagi hari, tempat ini akan ramai oleh para peselancar yang singgah untuk sarapan sekaligus mencari ombak untuk surfing. Sore harinya, orang-orang akan mengerumuni restoran La Plancha atau duduk di bawah payung warna-warni itu untuk bersantai sambil menunggu matahari terbenam. Begitulah yang dituturkan Harun kepadaku.

Tak ada bosan-bosannya kami berjalan di sepanjang bibir Pantai Seminyak. Kami berkejaran dan menjahili satu sama lain, memeloroti celana seperti yang sering dilakukan pria semasa kanak-kanak. Menertawakan seorang turis yang sedang bercekcok dengan kekasihnya. Ditemani suara debur ombak dan teriakan burung camar di atas sana, sore terasa lebih istimewa. Senja telah turun, air laut pun berubah menjadi jingga. Dan sesekali, Harun berhenti untuk membekukan momen itu lewat kamera ponselnya. Aku sendiri lupa di mana ponselku berada. Benda itu sudah tak penting lagi, menurutku.

Malamnya, kami berdua memutuskan untuk menikmati makan malam di restoran La Plancha. Lagi-lagi, Harun-lah yang merekomendasikan tempat ini. La Plancha tampak gemerlap pada malam hari. Bola lampu warna-warni bergelayut di sepanjang dinding. Lilin-lilin kecil pun menghiasi setiap meja. Hanya saja, bagian dalam restoran ini masih kalah ramai jika dibandingkan dengan area luar. Sebagian pengunjung lebih memilih untuk bersantap ria di bawah payung.

Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya kami memutuskan untuk beranjak dari La Plancha. Sudah pukul delapan, dan hari semakin malam.  Meskipun masih terlalu cepat untuk segera terpejam. Aku bahkan terlalu sedih ketka Harun hendak berpamitan ke hotelnya.

"Kayaknya gue perlu mandi deh. Badan gue udah bau matahari abis jalan-jalan di pantai seharian." Dia menimpal dengan nada santai. "Lo nggak apa-apa kan kalo gue tinggal sendirian?"

Terus terang saja, sulit sekali bagiku untuk menganggukkan kepala ataupun mengiyakan jawabannya. Dapat menghabiskan waktu bersama Harun seperti menyelematkanku dari kesendirian yang tak berkesudahan. Lagi pula, sudah lama sekali aku tidak menemukan seorang teman semenjak kepergian Texas ke Sydney.

Seseorang yang bisa membuatku merasa nyaman dalam keadaan terburuk sekalipun.

Aku mengatupkan bibir rapat-rapat. Berharap dia dapat membaca pikiranku atau sekadar membujukku untuk menyuarakan sesuatu.

"Atau gini aja, Dam - " Harun mendaratkan telapak tangannya di pundakku, meremasnya pelan dan mengujar, Kalo elo ngerasa sepi, telepon aja gue. "Punya nomornya kan?"

Sesuatu membuat perutku melintir. Aku tak mengerti. Barangkali karena kontak fisik yang terjadi di antara kami atau karena kalimat yang baru saja dia ucapkan.

Dengan berat hati aku menjawab, "Okay..."

Harun membalikkan badannya, kemudian bersiap melangkah pergi.

Aku sendiri masih berdiri memandangi punggungnya yang kian menjauh dan mulai menghilang di antara kerumunan para turis. Semilir angin malam yang berembus dari arah pantai membuat tenggorokanku tercekat. Napasku terasa sesak. Ada sesuatu yang harus kusampaikan kepada Harun saat ini juga, tapi aku terlalu takut untuk melakukannya.

Pada waktu yang sama, aku teringat oleh kalimat Bunda yang berbunyi, lebih baik melakukan sesuatu yang gila daripada diam dan tidak melakukan apa-apa.

Mungkin kalimat Bunda ada benarnya juga.

"Harun!" Teriakanku serta-merta menghentikan langkahnya dan membuat kepalanya tertoleh ke belakang.

Aku melanjutkan, "Gimana kalau singgah sebentar aja ke hotel gue?"

Aku dapat menyaksikan sejumlah kepala memandangku dengan tatapan heran. Tapi aku sama sekali tak peduli. Begitu pula dengan Harun yang mulai melangkah mendekatiku tanpa ragu-ragu.

Suaranya nyaris berupa bisikan saat berkata, "Gue pikir itu lebih baik."

***

Lewat pintu kamar mandi yang tertutup, aku bisa mendengar bunyi air shower memancar deras. Seseorang yang berada di dalam sana telah membuatku menunggu selama 10 menit. Aku memandangi televisi dengan saksama yang sedang menayangkan serial TV 24. Mencoba memahami alur ceritanya meskipun sama sekali tidak kelihatan menarik.

"Dam..." Harun tiba-tiba menyeru namaku. Gema suaranya memenuhi setiap sudut kamar mandi. "Ambilin handuk baru dong. Handuknya jatoh ke lantai nih."

Aku beringsut turun dari tempat tidur, menyambar selembar handuk putih yang terlipat rapi di rak penyimpanan. Dan sewaktu aku tiba di depan kamar mandi, aku sempat terperanjat melihat tangan Harun yang menyembul keluar seolah menanti kedatanganku. Busa putih tampak memenuhi lengannya.

Tepat ketika jemarinya menyambar handuk pemberianku, dia mengintip keluar lewat celah pintu kamar mandi sambil bertanya, "Yakin nggak mau mandi bareng?"

Aku mengernyitkan alis. "Apaan sih, Har? Kayak anak kecil aja!"

Kali aja. Dia melepaskan tawa. Gue bilas dulu, yak.

Aku berjalan menuju ranjang dan meraih remote control yang tergeletak di atas meja nakas. Mengganti-ganti saluran televisi hanya untuk mengusir kantuk yang tiba-tiba menyerang. Tapi percuma saja. Semua itu sama sekali tidak membantu. Hampir semua saluran televisi menayangkan siaran yang tidak menghibur sedikit pun.

Merogoh Macbook dari dalam tas backpack-ku. Warna putih keabu-abuan memenuhi layarnya selama beberapa detik. Sesaat setelah proses startup itu berakhir, aku lekas membuka program Word dan mengayunkan jemariku di atas papan ketik.

Kita adalah dua kutub yang saling berlawanan.
Kau berada di utara, dan aku bermukim di selatan.
Senja kita memang berwarna jingga
Tapi kau dan aku tidak akan pernah bisa mereguk kisah yang sama
Sesalah membuang garam ke lautan
Sepercuma menanti mentari di musim hujan 

"Nulis apa, Dam?"

Aku menoleh ke belakang dan terkesiap bukan main saat melihat sosok Harun yang hanya dibalut sehelai handuk. Rambutnya masih terlihat basah. Aroma sitrus yang berasal dari tubuhnya memenuhi penciumanku.
 Kehadirannya yang serbatiba-tiba membuat jantungku berdegup sejuta kali lebih cepat.

Aku merutuk kesal sembari menutup layar Macbook-ku, "Lo ngagetin aja kayak hantu!" Sebagian dari diriku berharap agar dia tidak mengetahui apa yang sedang kutulis barusan. Sebagian yang lain justru mendesakku untuk memperhatikan sesuatu yang berada di balik handuknya.

"Lihat dong... Pelit amat!" Dan seolah tak menghiraukan ucapanku, Harun pun bergerak ke atas tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sebelahku. Menggeser telapak tanganku dengan mudah seakan-akan dia tahu bahwa aku tak sanggup mencegah tindakannya.

Aku memenuhi paru-paruku dengan oksigen dan mencoba bersikap tenang. Tapi ternyata, upayaku sia-sia. Berada di sebelah Harun dalam jarak sedekat ini membuat napasku terasa lebih berat. Detak jantungku pun semakin tak berirama.

Sambil memandangi layar Macbook yang masih menyala, dia berkata, "Gue emang belom pernah baca karya lo sebelumnya. Tapi terus terang aja nih, pas baca tulisan lo yang satu ini, rasanya ada sesuatu yang istimewa aja."

Aku mengernyit, mata memicing hingga segaris. "Deskripsi istimewa menurut lo itu seperti apa?"

Dia hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sementara, mata kami bertemu dalam satu garis maya. Bertanya-tanya di dalam hati, apakah yang akan dia lakukan setelah ini?

Lalu, kudengar dia bergumam lirih, "Seistimewa kamu..."

Wajah kami begitu dekat, embusan napasnya membuat kulit wajahku terasa hangat. Aku memejamkan mata perlahan dan bersiap menyambut bibir Harun yang hendak memagut bibirku. Semakin lama, ciuman kami semakin jauh. Saling mengisap, saling melumat, saling menggerayangi tanpa rela melewatkan satu inchi. Seperti ada sesuatu yang membuat kami enggan untuk mengakhirinya.

Harun merengkuhku erat-erat dalam dekapannya dan segera melepas tanktop putih yang kukenakan. Membasahi leherku dengan lidahnya sampai aku menggelinjang bagai cacing kepanasan. Di luar sana, malam mulai beranjak naik. Tapi Harun masih jaih dari selesai. Dia menjilati kedua putingku secara bergantian, kemudian beralih pada otot perutku yang sudah lama basah oleh keringat. Tahap demi tahap terus berlanjut sampai Harun memperlihatkanku sesuatu yang rasanya sulit untuk kulupakan.

Handuk putihnya telah tergeletak di atas lantai. Kini, tak ada satu benang pun yang membungkus tubuh kami berdua. Remang-remang cahaya lampu kamar memperjelas setiap keistimewaan yang terpahat pada tubuh pria ini. Dan kurasa, sudah saatnya kami menerbangkan sejuta kenangan menjadi kenyataan.

Aku menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan segera berkutat di bawah pusarnya. Sempat kudengar dia melenguh dan menyebut namaku dengan rintihan manja. Sementara, telapak tangannya tak berhenti membelai rambutku -- seakan-akan memohon agar aku tidak berhenti menghadiahinya perlakuan istimewa.

Ranjang berderik pelan, dua anak manusia sedang asyik mengekspresikan kebersamaan dalam permainan yang penuh desahan. Keringat kami melebur jadi satu. Lukisan di dinding pun menjadi saksi bisu. Keindahan yang nyaris sempurna, meskipun aku sadar apa yang kami lakukan adalah satu kesalahan besar.

Tapi aku tak peduli. Semuanya telah telanjur terjadi.

Selama beberapa saat, aku dan Harun saling berpandangan. Begitu sulit menyadari bahwa kami telah melakukan sesuatu yang gila. Namun, Harun hanya tersenyum -- seolah-olah dia sama sekali tak ambil pusing atas apa yang telah terjadi.

"Kayaknya habis ini gue mesti mandi lagi deh," ujarnya sembari menggosok dada bidangnya yang bersimbah keringat.

Aku mengamatinya dengan saksama, menduga ada sesuatu yang aneh di balik ucapannya. "Gue duluan atau lo duluan nih?"

Dia mencubit hidungku dan berkata, "Bareng aja, biar hemat air."

Belum sempat aku membuat satu penolakan, Harun lebih dulu menggapai tanganku dan mengajakku berjalan menuju kamar mandi.

***

Desir angin pagi yang mengantarkan suara ombak menghinggapi pendengaranku. Semburat sinar matahari menyeruak masuk dan tumpah di setiap sudut kamar. Dari balik jendela, aku dapat melihat kubangan awan putih yang saling berpagutan di sepanjang pita langit.

Begitu harmonis.

Begitu erat.

Seerat lengan Harun yang senantiasa melilit di pinggangku.

Sebelumnya, aku sempat berpikir kejadian tadi malam akan terulang lagi. Tapi ternyata, semua jauh berbeda dari perkiraanku. Tak ada lagi adegan penuh desahan ataupun kecup yang saling berpadu-padan. Semua itu tergantikan oleh sebuah senyuman dan sepasang bola mata hitam yang berkilau seperti matahari pagi.

Dia mencium keningku, mengucapkan selamat pagi sebelum kami sepakat untuk turun dari ranjang dan saling mengenakan pakaian. Berjalan keluar dari hotel, kemudian menuju jalan setapak yang menuntun kami ke bibir pantai Seminyak.

Sejauh mata memandang, tampak sejumlah peselancar dan para turis yang sedang berjemur di bawah terik matahari pagi. Debur ombak pantai menghantam batu karang, menyeret pasir pantai ke dalam gulungannya, lantas mencipratkan buih-buih putih di udara.

Aku melirik diam-diam ke arah Harun yang berjalan di sebelahku. Kedua matanya terbungkus oleh kacamata hitam pelindung silau matahari. Bertekad untuk memecah keheningan yang membungkus kami berdua sejak meninggalkan hotel tadi. Tapi, sesuatu justru mematahkan keberanianku. Terlebih saat kulihat dirinya yang sedang menekuni layar ponsel tanpa memalingkan pandangan.

Aku menenggelamkan kedua telapak tanganku ke dalam saku celana, memandangi fajar yang merekah di langit timur Seminyak. Jerit suara burung laut membaur dengan nyanyian ombak. Sedikitpun tidak berhasil mengusik sunyi yang menggelayut di antara aku dan Harun.

Tepat ketika aku menoleh ke arahnya, dia menyampaikan sesuatu, "Besok gue pulang ke Banjarmasin, Dam."

Kalimat yang dia tuturkan seketika membuat tenggorokanku tercekat. Kedua kakiku pun mendadak terasa sulit diayunkan. Jantungku seperti diremas berulang-ulang sehingga meninggalkan rasa sakit yang tak bisa diobati.

"Jaga diri ya, Dam..." tuturnya, tanpa mau menungguku memberi tanggapan.

Mataku terasa perih. Aku memaksakan diriku bersuara, "Lo juga, Har." Hanya itu satu-satunya kalimat yang meluncur dari bibirku. Tanpa pesan tambahan secuil pun.

Harun meraih telapak tanganku, mengusapnya lembut sebelum mendaratkan sebuah kecupan kecil sebagai tanda perpisahan.

Pikiranku berputar pada sederet peristiwa yang kulewati bersama Harun sejak pertama. Teringat bagaimana dia akhirnya menemukanku di hotel Amala; menyaksikan sosok pria linglung yang tampak tersesat. Teringat bagaimana kami berkisah dan membagi masa lalu, makan malam bersama di La Plancha. Dan untuk pertama kalinya, kami berdua tidur dalam ranjang yang sama.

Barangkali kami telah melakukan kesalahan besar.

Tapi tak mengapa. Karena bagiku, dialah satu kesalahan terindah yang pernah kulakukan.

Setetes air mataku meluncur jatuh. []



*END*
Sabtu, 27 September 2014

Faith of Love (part 2 - ending)

December 11th, Westminster

Rasanya baru kemarin aku melihat sejumlah pepohonan yang mengering di kota ini. Daun-daun kuning yang biasanya mengotori jalanan dan pekarangan rumah, kini berganti dengan lapisan salju tipis. Musim dingin telah dimulai sejak pekan terakhir bulan November.

Malam baru saja naik saat aku meninggalkan apartemen dan memilih untuk berjalan keluar. Suhu mencapai -5◦C. Angin menusuk tajam, udara dingin berusaha menembus masuk mantelku. Melewati rumah-rumah kopel dan sederet restoran yang nyaman. Tempat keluarga sejati dan beberapa pasangan muda-mudi sedang makan bersama. Bercengkerama dan tertawa sambil menikmati kehangatan di dalam sana.

Menenggelamkan telapak tangan kiriku ke saku mantel sementara aku bergerak menuju Patissarie Valerie. Menutup payungku dan segera melangkah ke dalam kafe yang bernuansa remang-remang itu.

Suasana di Patisserie Valerie tidak pernah membosankan; etalase yang dihiasi kue-kue dan aneka roti, bunyi sendok yang beradu dengan dinding cangkir, serta ingar-bingar suara pengunjung yang tengah bercakap-cakap. Bahkan tempat ini terlalu sempit untuk menampung orang-orang yang bosan mengurung diri pada Jumat malam yang beku.

Aku berdiri di depan etalase yang menyajikan roti bagel dan jenis kue-kue cantik beraneka warna. Mencomot beberapa muffin cokelat dan cupcake ke atas nampan sambil menikmati alunan musik blues yang diputar lewat pengeras suara. Dan untuk saat ini, aku harus bilang bahwa bepergian ke suatu tempat dan berbelanja adalah cara termudah untuk membahagiakan diri sendiri.

Di luar sana, salju turun lagi. Aku baru mau menuju meja kasir saat terdengar seseorang yang memanggilku dari arah konter Cheese Cake.

“Kamu lagi?” Seorang pria tak dikenal tersenyum sumringah kepadaku.

Agak ragu aku bersuara, “Permisi?”

“Kau pasti Sophie, kan?” Dia menggaruk-garuk kepala, tampak bingung sendiri dengan ucapannya. “Ah, rasanya sudah lama sekali.”

Aku menatapnya dari atas ke bawah. Mengamati sosok asing bertubuh jangkung yang dibungkus jaket dan mantel tebal, dan rambut cokelat gelapnya yang dipotong rapi.

Dia berkata lagi, “Aku Hugo. Kita pernah bertemu beberapa bulan lalu.”

Aku mengulang namanya berkali-kali sambil berpikir keras. Berusaha mencari nama itu di sepanjang koridor memoriku – barangkali ada satu atau dua momen yang pernah kami lewati, tapi tak sengaja terlupakan. Dan aku baru teringat bahwa dia adalah orang yang pernah kutemui di Legoland pada Oktober lalu.

“Ya. Senang bisa bertemu denganmu lagi,” ucapku, tersenyum malu. “Omong-omong, apa yang kaulakukan di sini?”

Telunjuknya teracung pada seiris tar Almond dan Strawberry Shortcake yang terbungkus rapi dalam mika plastik.

Dan pada saat yang sama, aku benar-benar merasa malu lantaran telah melontarkan pertanyaan bodoh.

Dia balik bertanya, “Kau tidak bersama putrimu?”

Aku tercenung selama beberapa saat. Dalam hati, aku amat menyesali kebohonganku kala itu. Mengakui Emma sebagai putri kandungku justru membuatku terjebak dalam posisi yang sulit. Bingung harus memilih 1) tetap berbohong, atau 2) mengatakan yang sesungguhnya kepada Hugo.

“Sebenarnya, dia anak temanku. Waktu itu dia menitipkannya kepadaku karena ada suatu urusan yang harus dia selesaikan bersama suaminya.” Kuungkapkan saja yang sebenarnya. Biar dia tahu bahwa aku tak pandai bersandiwara.

Hugo hanya menganggukkan kepala.

“Kau sendiri? Ke mana perginya anak perempuan yang bersamamu waktu itu?”

“Nicki berada di rumah. Musim dingin bukan waktu yang tepat untuk bepergian.”

Percakapan kami ternyata memakan waktu yang cukup lama saat seorang kasir di hadapanku berdeham seakan-akan aku telah membuat satu kesalahan. Terperanjat kaget melihat sekelompok orang di belakangku yang membentuk satu antrean panjang. Beberapa orang memandangku dengan mata melotot sambil mendengus kesal.

Aku bergegas menyelesaikan proses pembayaran dan masih sempat menyampaikan permintaan maaf sebelum keluar dari barisan.

Hugo mengekoriku dari belakang.

Dia bertanya, “Masih pertanyaan yang sama seperti waktu itu, ke mana tujuanmu setelah ini?”

“Tidak ada tempat yang bisa menyelamatkan dari badai salju selain apartemen,” jawabku. “Kau?”

Alih-alih menjawab, dia malah balik bertanya, “Kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku ikut denganmu? Sekadar bertamu sambil menghabiskan kue bersamamu, barangkali.”

Tenggorokanku tercekat sewaktu menatap bola mata hijau zamrudnya berpendar cerah terkena cahaya lampu di kafe ini. Perutku terasa nyeri oleh sesuatu yang tidak beralasan. Aku mengembangkan payungku dan menjawab, “Dengan senang hati.”
***


“Kau sendirian yang menghuni tempat ini?” tanya Hugo seraya mengambil posisi duduk di atas sofa. Matanya memindai ke seluruh penjuru ruangan. Dimulai dari pemanas ruangan, bingkai foto, kertas dinding, aneka figura dan miniatur, sampai tumpukan majalah yang tersusun rapi di bawah rak televisi.

“Terkadang aku mengajak Emma dan kedua orangtuanya ke sini,” aku menjawab dari pantry dapur, sedang menyiapkan sesuatu untuk menemani perbincangan kami. “Sementara, rekan-rekan kerjaku kebanyakan sudah berkeluarga dan punya anak. Agak sulit jika harus mengajak mereka datang setiap hari.”

“Omong-omong, kau bekerja di mana?”

“Penulis artikel di Daily World.”

“Kedengarannya menarik.”

“Ya, begitulah. Hanya saja, aku bukan bekerja sebagai karyawan tetap. Kontrakku bisa saja habis sewaktu-waktu,” tanggapku sambil menuju ruang tengah, meletakkan dua cangkir yang berisi teh ginseng dan kudapan kecil yang kudapat dari Patisserie Valerie barusan. “Bagaimana dengan kau?”

Kemudian, Hugo pun bercerita tentang pekerjaannya sebagai manajer kreatif di sebuah perusahaan iklan. Butuh kerja keras dan penantian yang cukup panjang untuk mencapai kariernya yang gemilang. Dia juga mengisahkan apa saja yang dia alami di tahun pertama ketika menggeluti profesinya; seluruh perjuangan dan berbagai peristiwa emosional yang rasanya sulit untuk dilupakan.

Sesuatu yang istimewa dalam hidupnya baru dimulai di tahun keempat. Aku baru tahu bahwa Hugo adalah seorang ayah dari pernikahan yang kini berada di ambang kehancuran. Nicki adalah putri pertamanya. Aku sendiri tidak mengerti apa penyebab utamanya sehingga peristiwa itu bisa terjadi – dan aku pun tidak memaksa Hugo untuk bercerita. Dan selama setahun terakhir, Hugo lebih sering menghabiskan hari-harinya bersama Nicki, atau bahkan seorang diri.

“Rasanya pasti sulit sekali,” gumamku lirih.

“Tentu saja. Tapi aku sudah enggan memikirkannya lagi. Bagiku, semua itu sudah selesai.” Dia mengedikkan bahu. “Well, Sophie, apakah kau tertarik pergi denganku setelah nanti?”

Mataku memicing menatapnya. “Ke mana?”

“London’s Eye selalu terlihat memesona di malam hari. Semua orang akan berkumpul di sana untuk melihat festival kembang api.”

Apa yang dibicarakan Hugo barusan adalah tentang malam pergantian tahun. Pikiranku langsung dipenuhi oleh semburat warna-warni lampu dan jutaan kembang api yang meletup di langit kota London.

Aku hendak menanggapi ajakannya sewaktu ponsel Hugo berbunyi nyaring sehingga menginterupsi niatku.

Dia menatap layar ponselnya lekat-lekat, tercenung selama beberapa saat sebelum akhirnya mengambil jarak untuk menjawab panggilan itu.

Dua menit kuhabiskan dalam diam. Aku berharap Hugo segera muncul dan menyampaikan kabar gembira, atau setidaknya sesuatu yang menarik. Tapi rasanya sangat tak mungkin. Hugo berdiri di hadapanku dengan tatapan lesu. Air mukanya tampak berantakan, seolah-olah ada sesuatu yang telah terjadi dengannya.

“Barusan itu Celine. Dia ingin bertemu denganku untuk membicarakan proses perceraian kami.” Segera saja aku tahu bahwa itu bukan pertanda baik. “Dia baru saja tiba di Heathrow.”

Betapa pun aku sangat berharap tidak mendengar berita itu dari mulutnya.

Betapa pun aku sangat mengerti dia masih mencintai wanita itu dengan segenap jiwa; meskipun separuh hatinya telah hampa.

Tapi aku tak pernah mengerti kenapa aku bisa merasakan cemburu yang amat hebat atas apa yang dia sampaikan. Tak pernah mengerti kenapa hal ini bisa terjadi kepadaku.

“Pergilah,” ujarku singkat.

Hal berikut yang kuketahui adalah Hugo beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Memandangku sejenak sebelum dia melangkah pergi.

“Sampai nanti, Sophie...” gumamnya pelan, tapi aku terlalu letih untuk bersuara.

Pintu tertutup.

Air mataku tumpah.
***

Kontrak kerjaku berakhir di pertengahan bulan Februari. Musim salju masih belum sepenuhnya berhenti kala itu. Tapi, sebagian maskapai penerbangan tujuan domestik dan internasional telah beroperasi secara optimal. Aku akhirnya meninggalkan London pada malam hari dan terbang ke kampung halamanku di Belanda. Sudah lama sekali aku tak merasakan kehangatan yang berasal dari rumah.

Bulan April seperti menghantarkan atmosfer baru di kehidupanku. Semburat matahari musim semi yang menyeruak masuk lewat jendela membuat segalanya terasa sempurna pada pagi ini. Aku melangkah menuju dapur dan bergegas menyiapkan adonan pancake untuk menu sarapan.

Tidak ada siapa-siapa yang tinggal di rumah ini selain aku dan Mom. Dad meninggal ketika aku berusia 12 tahun. Satu hal yang kupelajari sejak hari itu, kepergian seseorang bukanlah satu alasan yang perlu ditakutkan sehingga kita sulit untuk melanjutkan kehidupan. Karena setiap hal yang pergi, pasti akan ada satu hal baru yang datang ke dalam hidup kita.

Usai menuangkan pasta cokelat dan madu ke atas pancake, aku mendengar seseorang mengetuk pintu rumahku dari luar. Aku hendak menuju asal suara itu ketika Mom lebih dulu menggerakkan kursi rodanya dan memutar kenop pintu.

Tamu dalam wujud anak perempuan berambut pirang itu bersuara, “Nona Sophie?”

Mom mendongak menatapku, seakan-akan meminta penjelasan siapa gadis kecil yang tengah berdiri di hadapan kami.

“Ya. Aku Sophie.” Aku mengernyitkan dahi sambil melepas celemek yang kukenakan. “Kau siapa?”

“Aku... Kau mungkin sudah melupakanku, tapi aku masih mengingat dengan jelas kau siapa,” ucapnya dengan seulas senyum polos.

“Oke. Tapi, bisakah kita bicara sejenak?” sergahku setengah ketakutan. Sementara, Mom masih memandangku dengan tatapan bingung.

Dia meraih telapak tanganku dan menggenggamnya erat. “Kau harus ikut aku sekarang. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”

Untuk sejenak, aku sempat berniat mengenyahkan genggamannya dari tanganku. Tapi, ada sesuatu yang membuatku percaya bahwa dia tak akan berbuat macam-macam. Gadis kecil ini menuntunku berjalan dan melewati pekarangan rumah yang ditumbuhi rumput dan beraneka ragam tanaman hias. Seekor sapi betina pun tampak heran menyaksikan derap langkah kami yang berubah semakin cepat.

Aku bertanya dengan napas tak keruan, “Tunggu! Ke mana kau akan membawaku?”

“Ke sana – “ Anak perempuan ini mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah kebun yang bunga tulip yang jaraknya memang cukup jauh dari rumahku.

Ternyata, inilah yang dibilang orang-orang tentang bunga cinta itu. Warna-warni bunga tulip mampu membuat siapa pun terpana akan pesonanya. Tapi, aku sedang tidak membicarakan tentang sihir yang dimiliki bunga tulip. Ada sesuatu yang membuatku benar-benar tercengang dan membuat lidahku terasa kelu.

“Seperti yang kita ketahui, Belanda adalah kota kecil yang serbakekurangan sejak perang dunia kedua berakhir. Sampai pada suatu hari di musim dingin, seorang gadis kecil dari Amerika yang bernama Rosy mengirimkan kado berisi cokelat kepada temannya tinggal di kota ini. Surat menyurat antara mereka terus berlanjut meskipun keduanya tidak pernah bertemu.”

Aku pernah mendengar dongeng itu sebelumnya. Dongeng yang mengisahkan kedua anak perempuan bernama Rosy dan Fiona yang menjalin komunikasi dengan cara surat-menyurat. Setiap kali Fiona mengisahkan apa yang terjadi di tempatnya, Rosy pasti menghadiahkan Fiona sesuatu yang mungkin diperlukannya. Pada surat mereka yang terakhir, di musim semi, Rosy menerima surat dan paket dari Fiona yang berisi umbi bunga tulip untuk ditanam.

Dan betapa pun hadiah itu teramat sederhana, Rosy sama sekali tidak mempermasalahkannya. Rosy teramat gembira. Umbi tulip itu dibagi-bagi untuk ditanam di sebagian tempat di Amerika.

Begitulah ceritanya.

“Lama tak berjumpa, Sophie.”

Sesuatu membuat mataku terasa panas. Aku masih mengingat dengan jelas saat Hugo meninggalkan apartemenku pada malam itu. Dia berdiri di ambang pintu dan berkata ‘sampai nanti’ – tanpa kupahami maksud dari kalimatnya. Dan kini, dia benar-benar membuktikan apa yang pernah dia ucapkan.

Dia menggumam, “Aku benar-benar menyesali atas apa yang telah terjadi waktu itu.”

“Aku mengerti, Hugo. Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa tersulit di dalam hidupnya,” balasku.

“Jadi, segalanya benar-benar telah berakhir.” Dia mulai berkisah tanpa kuminta, “Juri akhirnya memberikanku kuasa penuh atas hak asuh Nicki. Tapi dengan syarat, Celine tetap diperbolehkan menengok ataupun merawatnya dalam situasi tertentu.”

Aku membalas seadanya, “Senang mendengar kabar baik itu darimu.”

Sosok pria dalam balutan kemeja biru ini mengambil posisi berdiri di hadapanku. Pandangan kami saling bertumbukan sehingga rasanya tidak ada kesempatan bagiku untuk berkedip. Dia meraih telapak tanganku dan meremasnya lembut. Sementara, tangan kanannya mengulurkan sesuatu kepadaku.

Sebuah bunga tulip berwarna merah.

Aku menerima pemberiannya. Mencium kelopaknya yang masih terasa lengket dan basah oleh embun.

“Kau tentu mengetahui makna dari bunga tulip merah itu, Sophie...” Kalimatnya dibiarkan menggantung.

“Sebuah cinta dengan ketulusan tanpa batas,” jawabku dengan wajah merah padam. “Kuharap kau bersungguh-sungguh dengan kalimatmu, Hugo.”

“Tak ada batas dalam mencintaimu.”

“Tak ada batas untuk percaya pada kekuatan cinta,” sambung Nicki yang tiba-tiba muncul di dekat kami.
Hugo memberikan satu kecupan kecil dan membimbingku ke dalam pelukannya.

***END***
Rabu, 15 Januari 2014

Sebuah Pengantar

Dahulu, pernah ada satu masa saat cinta memperkenalkanku pada seorang pria. Bermula dari sekadar perasaan biasa, lalu berlanjut ke sebuah cerita cinta yang dewasa. Saat itu, aku sepenuhnya menyadari bahwa cinta memiliki keajaibannya tersendiri sehingga mampu menghantarkanku ke suatu kisah yang tak pernah kuduga.

Cinta sanggup mengubah dusta menjadi indah, lemah menjadi kuat, ataupun sebaliknya.

Gilang.

Pria inilah yang sempat membangun kerajaan di hatiku. Dialah yang menyatakan bahwa aku satu-satunya wanita yang dia pilih. Aku bangga, bukan main amat bahagia. Sejak saat itu aku pun berjanji untuk bersungguh-sungguh mencintainya.

Tapi kini, segalanya telah berubah.

"Aku pengin kamu bahagia meski tanpa aku," ucap Gilang datar, sedatar ekspresi wajahnya.

Aku tidak bersuara, belum ingin bicara.

Seperti yang kuketahui sebelumnya, kalimat seperti itu bukan kali pertama yang diucapkan Gilang. Rasanya sudah jutaan kali dia melontarkan frasa serupa meski dalam situasi yang berbedia. Dan inti dari seluruh rangkaian kata itu hanya satu; perpisahan.

Terus terang saja, aku benar-benar tidak mengerti seperti apa definisi bahagia menurut dirinya. Setelah cukup sekian lama bersama dan membina rumah tangga, kini dia meminta aku bahagia dan mengikhlasan keputusannya. Bahagiakah aku tanpa kehadiran dia? Bagaimana bisa?

"Monica..." panggil Gilang sepelan mungkin.
"Memangnya kenapa?" Aku balik bertanya. memberanikan diri untuk bertanya.
Dengan terbata-bata, dia menjawab, "Aku – aku udah nggak bisa lanjutin semuanya lagi, Mon."
"Iya, tapi kenapa? Aku butuh alasannya!" Aku bersikukuh mencari tahu asal muasal penyebab keputusan itu.
"I – I just can't."
"Apa kamu suka perempuan lain?" Dari sekian banyak tanda tanya dan jenis pertanyaan yang bercokol di kepalaku, hanya itulah itng sanggup kusuarakan.
"No. That's such an impossible!" Spontan Gilang menjawab seraya mengeraskan suaranya.
"Then, why?" desakku.
"Monica, listen to me... Kamu sendiri tahu kalau aku udah nggak punya pekerjaan tetap. Aku luntang-lantung nggak jelas, kerja serabutan." Gilang membuat pengakuan.  "Aku nggak mampu lagi menafkahi anak sekaligus istri aku. Bahkan, aku nggak bisa jadi sosok ayah yang baik untuk Nadine."

Lagi-lagi, aku tidak mampu berkomentar. Aku lebih memilih diam sembari mencerna kembali segala koleksi alasan yang baru saja dia sampaikan.

Ternyata benar. Kondisi keuangan itulah yang jadi penyebab utamanya.

Dua tahun terakhir ini, Gilang memang tidak memiliki pekerjaan. Setelah kontrak kerjanya habis, Gilang resmi diberhentikan dari perusahan kontraktor perumahan di Pedurungan itu. Namun sesekali, dia kerap mencoba bangkit dan memperbaiki situasi dengan mencari pekerjaan lain. Entah sebagai sopir taksi, petugas keamanan di Minimarket, sales mobil... Hingga kini, mentok di bengkel sebagai seorang montir.

Sejujurnya, tidak jadi masalah besar bagiku. Tidak peduli seperti apa dirinya, apa pun pekerjaannya, bagaimanapun kondisi kami, aku tidak pernah meributkannya sama sekali. Walau kenyataannya, di dunia ini tidak ada istri yang tidak materialistis. Semua istri pasti haus akan nilai materi dan suapan dari seorang suami. Tapi untukku pribadi, selagi aku mampu mengupayakan bersama-sama, kenapa hal macam ini harus dipermasalahkan? Toh aku juga masih punya pekerjaan, meskipun gajiku sebagai guru tidaklah seberapa.

"Lebih baik kita cerai aja," desis Gilang.
"Lang, aku paham sama situasi yang sulit ini. Tapi, apa kita nggak bisa berusaha sekali lagi?" tandasku seraya menahan volume suara. “Demi Nadine, Lang...”
Alih-alih membalas kalimatku, Gilang justru bungkam seribu bahasa. Bibirnya terkatup rapat, - mengunci aneka penjelasan yang sedang melepuh di kepalanya. Air mukanya muram, matanya yang sendu menunjukkan keletihan.
Kesal akan sikap Gilang yang sedemikian kaku, aku pun menyeru, “Gilang!!!” Sudah tidak dapat lagi kukendalikan emosi di dalam diriku ini.
“Nggak bisa,” tukas Gilang singkat.

Praktis, aku tersentak. Terkejut saat mendengar betapa pedih jawaban yang dia berikan. Bagai tinjuan ke ulu hati, semuja itu hampir membuatku tak bernyawa. Sepuluh tahun bersama, menjalin kasih sayang, berbagi dalam bahagia maupun duka, saling bermimpi tentang keajaiban cinta, kini segalanya kandas tak bersisa. Musnah.

Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghadapi kenyataan yang kuterima. Semua itu seakan-akan melumpuhkan kemampuan akal sehatku. Satu-satunya tindakan yang mampu kulakukan mungkin hanya menangis. Terisak sedih sambil terus menyeka bulir-bulir kristal di setiap lekuk wajahku.

Tapi, tangisku yang semakin tak terkendali sama sekali tidak membawa perubahan sedikit pun. Maksudku, aku yakin – sangat yakin – Gilang mengetahui kesedihanku. Sangat tidak mungkin jika dia tidak mendengar sesenggukan yang kutahan. Jadi, apakah hatinya tidak tergerak untuk menenangkanku?

Alih-alih memberi dekapan hangat seperti yang kuharapkan, Gilang justru meloyor pergi begitu saja. Langkahnya tertuju ke ambang pintu utama.

Sebelum kudengar pintu berderit, Gilang berkata, “Besok aku datang lagi ke sini, untuk minta kamu tandatangani surat cerainya.”
Tadinya, aku sangat ingin membuat perlawanan saat kalimat itu lolos dari bibir tipisnya. Namun, apa daya diriku saat ini? Menguatkan diri pun aku sudah tak mampu.

“Aku pulang, Mon...” katanya untuk yang terakhir kali.

Pintu berwarna cokelat itu sempat menganga selama beberapa saat. Tapi, aku tidak berniat menatap sosok tubuh tinggi yang terbungkus busana biru dongker – penuh aroma bengkel itu. Aku tidak mau. Bukan karena sudah tak cinta atau mengikhlaskan kepergiannya, hanya saja aku tidak kuasa.

Dan dalam hitungan detik, daun pintu itu kembali mengatup hingga mengeluarkan bunyi yang sedikit keras.

Kepergiannya membuatku meratapi kembali satu per satu adegan di masa silam. Sekelabat kenangan manis yang berlalu-lalang di kepalaku seolah menciptakan getir pahit yang mengiris-iris pembuluh nadi. Untuk sesaat, aku sempat merasa amat menyesal.

Andai saja dulu aku lebih sanggup menahan ketertarikanku pada milyaran bual manisnya, andai saja aku tidak melakukan kesalahan ketika kami masih berpacaran, mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Mungkin aku tidak perlu menikah di usia dini demi menghindari segala aib yang bermunculan di sekitarku.

Tapi, beginilah yang terjadi pada diriku. Seperti kata sebuah petuah, penyesalan akan selalu hadir di belakang.

Baru setelah kuusap sisa-sisa air mata di pipi, alangkah tercengangnya aku saat menyaksikan putriku yang sedang berdiri di mulut pintu. Tatapannya terarah kepadaku, penuh akan cinta dan kesetiaan. Entah sejak kapan dia berada di sana, aku tidak tahu. Yang jelas, perhatiannya membuatku sangsi.

Dengan segera, aku mendekatinya dan bertanya, “Nadine kenapa belum tidur?”
Nadine kecil pun menggeleng. Dia bersuara, “Papa mana, Mom?”
Pertanyaannya membuatku terenyuh. Aku tahu, cepat atau lambat Nadine pasti akan menanyakan hal itu kepadaku. Di usianya yang baru empat tahun, Nadine sudah memiliki sedikit banyak cerita yang melekat di ingatannya.
Aku mengerjapkan mata, berusaha mengumpul keberanian sebelum menjawab. Kataku, “Papa nggak bisa pulang malam ini, Sayang... Papa lagi banyak pekerjaan.”

Dia menunduk lemas. Ada kekecewaan yang tersirat jelas di kedua bola matanya.
Tapi sebelum kudengar dia memintaku bercerita lebih jauh, aku lekas membimbing tubuhnya ke dalam pelukanku. Berharap dekapan itu dapat menembus ketidakhadiran ayahnya. “Malam ini, Nadine tidur di kamar Mommy aja, ya...” bujukku lirih.
Nadine hanya mengangguk kecil. Selebihnya, dia tetap memelukku dengan erat. Sama halnya dengan diriku.

Pernikahanku dengan Gilang mungkin sudah tidak dapat terselamatkan lagi. Harapan untuk terus bersama hanya tinggal mimpi. Tapi, keadaan ini menyadarkanku pada satu pelajaran besar bahwa aku tidak sepenuhnya sendiri.

Aku masih memiliki Nadine.

Dan sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan putriku menderita krisis kasih sayang. Aku berjanji; sekarang, esok, dan selamanya – aku harus menjaga Nadine dengan sepenuh hati.

Selasa, 26 Maret 2013

Ketiga

"Kamu kapan pulang?" tanyaku dengan suara berat.
Belum terdengar sebuah jawaban.

Sesekali kuatur deru napasku yang memburu, berusaha menetralkan ritme-nya agar menyatu dengan setiap hentakan keras yang membuncah di dalam dada. Setelah sekian lama menahan diri untuk bertanya, akhirnya seutas kalimat itu terdepak dari mulutku juga.

Dan, satu-satunya orang yang kunantikan untuk berbicara saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah cinta lamaku. Maksudku, seseorang yang pernah menbuatku terpikat, kemudian bersama-sama menceburkan diri ke dalam lembah cinta yang dipenuhi buai kasih sayang. Namun sayangnya, semua cerita itu hanya eksistensi yang terjadi di masa laluku.

Kemudian, dia menjawab, "Mungkin nggak dalam waktu dekat,"
Tidak dalam waktu dekat? Jadi, setelah ini aku harus memperpanjang masa penantianku lebih lama lagi...? Sampai kapan?
"I mean, as soon as possible," tambahnya.
Aku bergeming, menahan pertanyaan-pertanyaan bodoh yang tampaknya tidak akan berpengaruh jika kusuarakan.

Texas, aku amat menyadari bahwa semua keadaan ini benar-benar berbeda. Semuanya telah berubah. Namun, kenapa merindukanmu kini seolah-olah harus bersyarat? Lalu, mengapa kepahitan ini harus tercipta di antara kita dan begitu sukar untuk dihindari?

Kurasakan mataku memanas seketika. Percaya atau tidak, sesaat lagi genangan kristal bening yang kubendung ini akan segera membanjiri wajahku. Malang sekali, semua kemelut percintaan ini justru membuatku semakin tersiksa.

"Adam..." panggilnya di seberang sana.
"I'm listening," kataku sembari menahan perih yang menyayat tenggorokanku.
Kami terdiam lagi, tahu bahwa pembicaraan ini akan memburuk jika diteruskan lebih jauh. Karena baik aku atau Texas, kami berdua selalu memilih untuk diam demi menghindari datangnya masalah. Ironisnya, semakin kami berupaya semakin kami didekatkan dengan rentetan cobaan dan ujian.

"Adam, listen..." Texas membujukku, mencoba memberi penjelasan agar aku merasa lebih baik. "I promise you, I'll be there soon. Keep believe in me, Babe."
Texas, aku sepenuhnya ingin memercayai kalimatmu itu. Sangat ingin. Tapi, bisakah kamu meyakiniku bahwa semua itu bukan sekadar janji-janji palsu?
"Om Texas pulang, dong. Jangan lama-lama di sana..."

Suara kecil itu bergema di belakangku, mengundang kepalaku tertoleh dan ingin menyaksikan apa yang sedang dilakukan David setelah cukup lama dia mematung sendirian di bibir pintu kamarku.
David - dengan setelan piama bergambar kartun Pokemon itu - mengayunkan langkah kecilnya, mendekat ke arahku, bertingkah seakan-akan ingin terlibat dalam pembicaraan kami.

"Itu David, ya? tanya Texas. Intonasi suaranya berubah, terdengar lebih bernyawa. "Kabar dia gimana? Is he still doing good?"

Tenggorokanku tercekat saat kudengar pernyataannya. Mengingatkanku pada sejumlah momen manis dan berkesan yang pernah kami lewati saat dulu kala. Bertiga, bersama, semuanya terasa begitu indah. Dan kini, semua fragmen itu terputar kembali di kepalaku.