Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label handwritten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label handwritten. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 24 Juni 2017

The Reason

Sebelum memulai tulisan ini, saya sudah membayangkan seperti apa respons dan konsekuensi yang akan saya terima. Sebagian di antara kalian mungkin beranggapan apa yang saya beritahukan di sini bukanlah sesuatu yang penting; atau barangkali, sebagian sudah menanti-nanti apa yang terjadi pada saya selama satu bulan terakhir.

Tepat sekali. Semua yang ingin saya sampaikan sebenarnya berkaitan dengan alasan saya menonaktifkan sejumlah akun sosial media untuk sementara waktu.

Akhir-akhir ini, saya harus bilang bahwa sosial media membawa dampak begitu besar di dalam kehidupan saya sehari-hari. Begitu pula dengan seluruh konten yang – tak bisa kita pungkiri – terkadang bisa sangat bermanfaat atau justru mendistraksi segala keteraturan sehingga aktivitas kita menjadi sangat tidak produktif. Sebut saja sejumlah kasus politik yang belakangan ini menyerupai letupan kembang api yang saling bersahut-sahutan. Satu konflik baru muncul ke permukaan, kemudian tak butuh satu hari sampai semua orang berbondong-bondong membicarakan kasus tersebut. Tak jarang, satu kubu akan menyerang kubu yang lain sehingga mengakibatkan satu pertikaian karena keduanya saling beradu pendapat atau salah satu tidak cukup dewasa dalam menerima satu kekalahan.

Kendati demikian, beberapa orang justru menganggap hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat wajar di dalam ekosistem sosial media. Bahkan ada yang berpendapat, “bikin onar adalah cara terbaik untuk meraih satu popularitas.” Ironis ketika orang-orang di luar sana bersusah-payah menciptakan sejumlah prestasi, sementara masih ada yang tak keberatan mempermalukan diri sendiri.

Twitter dan Facebook adalah dua platform sosial yang cukup sering saya gunakan sejauh ini. Saya menggunakan keduanya untuk mempermudah saya dalam berinteraksi dengan orang-orang yang saya kenal, promosi buku atau project yang sedang saya kerjakan, mengunggah foto-foto dari smartphone saya, atau sekadar membagi tautan yang di-posting oleh salah satu akun resmi. Namun, entah bagaimana keduanya seolah berubah menjadi medan perang di mana semua orang berlomba-lomba mencapai puncak dunia.

Tak jarang saya terdorong untuk menyampaikan isi kepala saya dan bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan mereka? Untuk sesaat, saya berpikir bahwa yang saya lakukan adalah tindakan yang tepat. Toh tidak ada yang membatasi kebebasanmu dalam beraspirasi di sosial media. Tapi, kemudian rasa sesal menghinggapi diri saya. Serta-merta saya berpikir, apa bedanya saya dengan mereka di luar sana? Berusaha mendapat pengakuan dengan bersikap sarkastik. Bukankah akan lebih baik apabila mereka tak perlu mengetahui kemarahanmu?

Pertanyaan itulah yang menghantui saya selama berhari-hari sampai saya tergerak untuk menjauhi Twitter dan Facebook selama beberapa saat. Menonaktifkan keduanya bukanlah sebuah tantangan besar. Saya sering melakukannya setiap kali saya butuh waktu untuk berkonsentrasi terhadap satu hal, atau pada beberapa alasan yang tidak bisa saya jelaskan secara spesifik. Selain itu, saya sengaja melakukannya karena bertepatan dengan momen Ramadan. Saya tidak ingin jari-jari saya mengetik kalimat sarkasme yang justru akan merusak ibadah puasa yang saya jalani. Sebisa mungkin menjauhi mata saya dari segala sesuatu yang tidak ingin saya lihat. Pun saya tidak ingin seseorang memancing emosi saya yang kelak akan berujung pada perdebatan.

Maka, pada 26 Mei lalu, saya harus menekan tombol ‘deactivate’ dan mulai membiarkan diri saya hidup dalam dunia nyata. Sebisa mungkin berhenti mengakses sosial media, meskipun saya kerap muncul di Instagram dan sesekali mengunggah foto. Hari-hari tanpa Twitter dan Facebook lebih sering saya habiskan dengan membaca buku dan menyelesaikan naskah yang sedang saya tulis. Saya juga menyisihkan 10 menit dalam satu hari untuk bermeditasi di tengah malam. 


Kini, setelah sebulan berlalu, atau lebih tepatnya setelah 28 hari di bulan Ramadan, saya mulai mengaktifkan akun Twitter dan Facebook saya kembali. Tentu segalanya terasa berbeda seperti terakhir kali saya meninggalkannya. Sedikit demi sedikit saya harus terbiasa dengan segenap informasi yang sempat saya jauhi beberapa waktu kemarin. Satu hal yang pasti, saya merasa sedikit lebih bijaksana dalam menggunakan sosial media. Tidak perlu memeriksa smartphone untuk hal-hal yang kurang penting, tidak menjadikan Twitter dan Facebook sebagai candu karena saya memiliki sejumlah prioritas di kehidupan nyata. Lagi pula saya percaya, tak selamanya teknologi memiliki nilai yang istimewa. Pada akhirnya ia justru membuat manusia lekas merasa jenuh.  
Minggu, 04 Desember 2016

The Unforgotten

Hampir semua orang memiliki doanya masing-masing sebelum memulai aktivitas mereka. Sebagian mungkin ada yang berdoa supaya cuaca selalu bersahabat; lekas bertemu jodoh; pulang ke rumah tepat waktu; atau barangkali berharap adanya hujan uang dari langit. Tapi, aku nyaris tidak pernah memanjatkan doa-doa seperti itu. Bagiku, itu terlalu ketinggian. Orang harus bersikap realistis sesekali.
Alih-alih berkeinginan yang kurang masuk akal, setiap harinya aku justru berdoa supaya bisa bertemu Oby dan teman-temannya di tempat biasa. Aku selalu berdoa supaya ia tidak kabur ke mana-mana, supaya tidak dilempari batu oleh anak-anak usil, supaya tidak ada yang menyuapinya dengan racun tikus, dan supaya dia masih sudi menungguku di tempat itu.
Kau akan tertawa jika aku berterus-terang mengenai identitas Oby yang sesungguhnya.
Jadi, Oby adalah seekor kucing kampung yang kutemui ketika pindah ke rusun Bidaracina. Dialah satu-satunya makhluk hidup yang hadir di mulut gang itu, memelototi kemunculan seorang pria berkemeja flanel yang tergopoh-gopoh membawa kardus di pundaknya. Aku jadi teringat bagaimana dia bersuara sewaktu aku melintas di hadapannya dan serta-merta membuntutiku sampai ke bangunan rusun.
Tidak ada filosofi khusus atas nama yang kuberikan padanya. Nama itu muncul begitu saja ketika aku mengusap dagunya dan menasihati untuk tidak mengikutiku sampai ke lantai atas. Dan, sejak saat itulah pertemanan kami berawal.
Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi Oby di mulut gang. Tempat di mana ia, Lastri, Bisma, dan Arga asyik nongkrong di sebelah gerobak bubur ayam yang kian hari kian sepi pelanggan. Tanpa perlu kuberi penjelasan pun, kurasa kalian sudah bisa menebak bahwa nama-nama yang kusebut barusan adalah makhluk hidup yang sama seperti Oby.
Belum genap langkahku berada di sekitar tempat itu, dari kejauhan tampak seseorang tengah mengusik aktivitas mereka. Aku tak tahu persis apa yang dia lakukan di sana, jadi kurasa tak ada salahnya untuk bertanya.
“Saya perlu memberi kucing-kucing ini sarapan, kalau Anda tidak keberatan.”
Orang itu menengadah, mengangkat wajahnya yang sejak tadi tersembunyi di balik tudung sweater abu-abu. Ada beberapa bulir peluh yang mengalir di pelipisnya.
“Kamu pemilik kucing-kucing ini, ya?” Kontan, ia beranjak dan membuka tudung sweater itu. Membiarkan rambut hitamnya yang dikuncir menyambut matahari pagi. “Maaf, aku pikir mereka semua kucing liar.”
Lidahku terasa kelu, sendi mendadak kaku. Bukan karena ia yang baru saja mengungkapkan identitasnya sebagai perempuan—bukan. Ia memang seorang perempuan. Tapi, ia memiliki kulit cokelat yang menarik, senyuman mematikan dengan satu gigi gingsul di sebelah kiri. Fakta bahwa celana training abu-abu yang ia kenakan pun tak sanggup menutup pesona yang ia miliki. Sepertinya, ia baru saja selesai berolahraga.
Di bawah sana, suara Oby dan ketiga kerabatnya terus mengusik fantasiku. Mataku mengerjap beberapa saat sebelum akhirnya berjongkok dan membagi-bagikan potongan roti isi cokelat kepada mereka.
“Masing-masing kucing ini tentu punya nama, kan?”
Aku mengangguk. “Yang bulunya belang tiga itu Arga. Cara mengenalinya gampang, dia yang paling ramping. Bisma yang hidungnya hitam. Satu-satunya yang betina, namanya Lastri. Sepertinya dia lagi hamil. Dan yang ini—“ aku menggapai kucing berperut buncit dengan bulu berwarna kuning dan putih. “—ini favorit saya, namanya Oby, the one who always asking for his extra-meals.”
“What a cute name!” Kedua sudut bibirnya tertarik hingga matanya tampak hanya segaris. Sambil menggosok leher Oby, dia menyapa, “Hai, Oby.”
“Anda sendiri?”
Ia memandangku sekilas, lalu berkata, “Luna.”
“Setahu saya, Luna itu dalam bahasa Italia artinya bulan.” Tapi, sebagian pikiranku justru terbayang sosok kucing hitam bernama Luna di kartun animasi Sailor Moon.
“Ibuku pernah cerita, selama dia hamil, dia selalu suka memandang bulan. Ditemani secangkir teh kayu manis dan irisan buah pir. My father was there, too. Dan waktu melahirkan aku, bertepatan banget dengan 15 hari bulan.”
Aku merogoh sepotong roti dari dalam jaketku yang khusus kusiapkan untuk Oby. Mengangsurkannya diam-diam tanpa sepengetahuan Lastri dan kawan-kawan.
“Dulu waktu masih SD, aku dijuluki anak aneh sama temen-temen.” Detik berikutnya, kudengar Luna mulai bertutur tanpa kuminta. “Mereka tahu ibu aku suka pelihara kucing. Kalau nggak salah, dulu jumlahnya sekitar 18 ekor gitu. Sebagian berasal dari keturunan yang sama, sebagian lagi aku pungut dari jalan, pasar.”
“Sepertinya nggak ada yang aneh dengan semua itu.”
“Mungkin mereka berpikir, memungut kucing liar sama dengan menculik, atau salah satu bentuk tindak kejahatan,” sahutnya. “But I never really care what they said about that.”
“Sudah seharusnya begitu.”
“Kamu penyuka kucing juga?”
“Terobsesi untuk punya satu atau dua, tapi nggak pernah tercapai sampai sekarang.”
Oby baru saja menandaskan roti terakhirnya. Kemudian, kudengar Luna bertanya ‘kenapa’.
“Saya tinggal di rusun yang tidak memperbolehkan para penghuninya membawa hewan peliharaan,” jawabku. “Jadi, satu-satunya yang saya lakukan buat membayar rasa ingin tersebut ya—dengan ketemu mereka di sini setiap pagi. Sengaja bawa isi roti, ngobrol kayak orang gila.”
Luna membalas kisahku dengan tawa yang renyah, dan seperti biasa—kedua mata yang menyerupai garis itu ketika ia tergelak. Dan aku tahu, semua ini hanya masalah waktu saja sampai aku telanjur mengaguminya lebih jauh.
Aku lekas berdiri dari hadapannya. “Saya harus pamit sekarang, mau kejar setoran.”
Luna mengernyit, mungkin kesulitan memahami ucapanku. Namun, aku mengacungkan jempolku pada gitar tua yang bertengger di punggungku. Dia pun mengangguk paham.
Di ujung sana, sebuah metromini berjalan agak lamban dengan teriakan kondektur yang bergelayutan pada pintu belakang. Aku baru mau menyusulnya ketika terdengar sebuah suara dari mulut gang itu. Kepalaku tertoleh ke belakang.
“Nama kamu siapa?”
“Panggil aja Bayu.”
Usai jawaban itu, aku pun melompat ke dalam metromini yang kini berjarak hanya 1 meter dari hadapanku.
*

There is no such thing as coincidence in this world.
Setidaknya, begitulah yang diutarakan Luna seusai berpapasan denganku di depan kafe Rolling Stones malam itu. Aku baru saja selesai perform ketika sosok familier itu muncul di tengah keramaian. Celana jins biru dan sneaker putih membungkus kedua tungkainya yang jenjang. Rambut hitam yang senantiasa dikuncir kuda itu tampak sedikit basah oleh air hujan.
Cukup lama aku mengamatinya dari kejauhan; berkutat dengan DSLR seri terbaru, memotret lalu lintas dan hiruk-pikuk para pejalan kaki, sampai ia menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan.
“God doesn’t play dice with the universe.”
“Einstein’s!” balasku.
Kami menepi ke sebuah halte dan menanyakan kabar satu sama lain. Kujelaskan padanya bahwa Oby belum terbiasa dengan menu martabak wijen, Lastri yang sedang hamil besar—dan siapa ayah dari calon bayi-bayi itu. Selanjutnya, Luna bertanya lagu apa saja yang kumainkan selama sesi akustik tadi.
“Yellow, Hotel California, Layla.”
“Eric Clapton?” Ia membelalak seolah tak percaya. “Coba, mainin satu lagu selain Layla dan Wonderful Tonight.”
Aku ragu suara gitarku bisa dinikmati olehnya. Di sekitar kami terlalu banyak distraksi. Beberapa di antaranya berasal dari percakapan pedestrian yang lalu-lalang di hadapan kami, ditambah lagi dengung knalpot yang bising. Kusetem gitarku terlebih dahulu, sebelum akhirnya memetik satu per satu senar gitar.

Would you hold my hand, if I saw you in heaven?
Would you help me stand,if I saw you in heaven?

Di tengah riuh suasana malam, aku terus bernyanyi. Beberapa orang sempat berhenti untuk menyaksikan permainan gitarku. Sementara itu, dari sudut mataku, Luna tampak serius membidikku lewat kameranya. Tanpa lampu kilat, yang terdengar hanyalah bunyi shutter beberapa kali. Hal itu tidak membuatku serta-merta bertindak defensif. Aku percaya ia tidak memiliki maksud jahat terhadap foto itu.
Usai menyanyikan Tears In Heaven, ia bertanya, “Kamu punya Facebook? Kalau punya, nanti ku-tag foto-foto ini ke kamu.”
“Saya nggak punya akun sosial media. Nggak pernah main begituan.” Aku terkekeh, lantas mengeluarkan ponselku dari dalam saku. Itu adalah Sony Ericsson T100. “Ini hape saya, jadul.”
“Setidaknya masih bisa dipake buat teleponan.”
“Nggak bisa juga, speaker-nya rusak. Cuma bisa SMS­-an.”
“Well, can I have your number?”
Aku mengangsurkan ponsel itu ke tangannya. Jemari Luna memencet tombol numerik dengan sangat teliti, lalu mengembalikan benda berwarna hitam itu kepadaku.
“I’ll text you later, Bayu.” Dia berangkat dari duduk. Melambaikan tangannya, lalu berjalan menerobos sisa hujan.
*

“Waktu itu kamu bilang handphone kamu nggak bisa dipake buat teleponan?”
“Udah saya perbaiki, di konter di pinggir jalan. Murah, cuma 20 ribuan.”
Aku memandangi langit-langit kamarku, tampak jelas sarang laba-laba yang bergelayut di sana. Rasanya sudah lama sekali aku tidak membersihkan kamar ini. Di waktu yang sama, aku membayangkan Luna sedang berbaring dengan rambut hitamnya tergerai, aroma sabun mandi yang segar, tubuh sintalnya yang terbungkus piyama putih kebesaran.
“Kamu nggak ketemu Oby pagi tadi?”
“Aku lebih tertarik buat ketemu kamu,” jawabnya di seberang sana.
“Just come, then.”
Ia tergelak sebelum akhirnya menjawab, “Oke. Tunggu di depan gang, ya.”
Terkadang, kau tak bisa melawan apa yang diinginkan nalurimu. Tak peduli seberapa keras kau berusaha mencoba, kau akan menyadari betapa kau sangat menginginkan hal itu. Dan aku sulit memercayai fakta bahwa Luna benar-benar menepati janjinya.
Ia tiba di mulut gang tepat 30 menit setelah telepon kami berakhir. Penampilannya masih seperti biasa, celana jins panjang, sepatu kets, dan kemeja tartan cokelat. Namun, ada sesuatu yang tidak biasa pada kemeja itu. Tiga kancing teratas sepertinya dibiarkan terbuka, sehingga aku bisa melihat jelas tanktop hitam di baliknya. Seolah bisa membaca pikiranku, Luna pun menggeraikan rambut panjangnya malam itu.
Untuk pertama kalinya, aku menyaksikan rambutnya bebas dari ikatan.
Aku masih berdiri sana, mematut dirinya cukup lama. Luna tersenyum semringah menyaksikan tingkahku yang tak keruan. Fenomena seperti ini seringkali dialami oleh mereka yang sedang jatuh cinta. Semua ini hanya masalah waktu saja sampai ia menyadari apa yang sebenarnya kurasakan.
Gelap tak lagi menjadi musuh. Di atas sana, bulan tampak penuh. Cahayanya jatuh ke muka bumi, tempat kami berada saat ini. Tak ada lagi jarak. Kugenggam telapak tangannya agar ia tak kedinginan, lalu bibir kami menyatu, bertautan seolah tak ingin lepas. Oby, Lastri, dan konco-konconya menyaksikan adegan itu. Pada akhirnya, Luna memberi gagasan bahwa malam itu akan berakhir sempurna apabila ia bermalam di tempat tinggalku.
Aku mengangguk setuju.
*

            Hari-hari setelah pertemuan kami di malam itu, semua masih baik-baik saja. Luna masih sering menghubungiku via telepon dan mengirim kata-kata mesra di SMS. Sesekali, ia juga menyempatkan diri untuk datang setiap kali ada sesi akustik di kafe Rolling Stones. Namun, seminggu setelahnya, Luna tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
            Berkali-kali aku mencoba meneleponnya, namun yang kuterima hanya suara operator yang berkata bahwa nomor tersebut sedang berada di luar jangkauan. Sempat aku menerka, barangkali ponselnya hilang, atau mendadak rusak.
            Satu hal yang sulit kupahami, kenapa aku sangat mengkhawatirkannya?
            Aku bahkan bukan siapa-siapa di kehidupannya.
            Aku ini cuma orang asing.
            Aku seharusnya merasa bersalah terhadap Oby, Lastri, Arga, dan Bisma yang akhir-akhir ini seringkali kuabaikan. Hari-hari bersama Luna membuatku lupa untuk mengunjungi mereka di mulut gang itu. Bagaimana kabar mereka? Apakah perut Oby masih segemuk dulu? Apakah Lastri sudah punya momongan dan hendak kawin lagi? Apakah Bisma masih suka jaim setiap kali aku menyuapinya roti?
            Yang kutahu, saat ini aku ingin menemui mereka. Segera saja kusambar celana jinsku dan sekantung plastik berisi roti cokelat murahan. Satu porsi ekstra telah kuselipkan ke dalam saku. Itu khusus Oby. Mudah-mudahan saja ia tidak marah atas ketidakacuhanku belakangan ini.
            Langkahku tergesa-gesa. Aku bergegas keluar, dan seketika terhenti oleh kehadiran sesuatu di depan pintu. Seonggok kardus yang bertengger persis di atas keset kaki. Tanpa alamat, tanpa nama tercantum. Kotak itu tidak terlalu besar, hanya seukuran dua telapak tangan.
            Kudekatkan kotak itu ke telinga dan mengguncangnya beberapa kali. Tidak ada yang aneh. Mungkin isinya hanya permen, atau sampo kemasan sachet. Tapi, aku cukup tercengang sewaktu mendapati setumpuk foto berukuran 4R di dalam kotak tersebut. Sebagian gambar itu tampak tidak asing; dengan latar belakang yang sangat kukenal. Itu adalah foto ketika aku memainkan gitar di bawah halte usai perform di Rolling Stones. Foto sepatu Converse-ku yang kumal, foto jari-jariku yang menekan chord C major. Ada pula potret Oby, Lastri, Arga, Bisma—dan keempatnya yang saling berdekatan.
            Hanya memandangnya pun, aku sudah bisa menebak siapa pengirimnya.
            Seolah kurang lengkap, ia juga melampirkan sehelai kertas scrapbook di antara foto-foto itu. Sepucuk surat. Mataku mulai menjelajah tulisan pada kertas tersebut dengan saksama.

            Gagasan ini sebenarnya muncul tiga hari yang lalu. Waktu itu, aku dengar orangtuaku membahas tentang bisnis batik dan kerajinan kayu mereka mengalami kemerosotan. Permintaan pelanggan berkurang, sementara stok barang di gudang masih menumpuk. Ibuku berpikir, daripada jatuh bangkrut, mungkin akan lebih baik jika bisnis di Jakarta ditutup saja. Ide itu disetujui ayahku. Dan mau tidak mau, aku mendukung keinginan mereka.
            Aku tahu, kamu nggak bakalan memaafkan aku setelah membaca ini, Bayu. Mungkin kamu bakal bertanya, kenapa nggak jujur dari awal?
            Aku terpikir untuk menyampaikannya, tapi aku tahu semua itu pasti sulit untuk diterima. Nggak peduli semenarik apa pun alasannya, kalau sudah menyangkut urusan perpisahan, tetap saja menyakitkan.
            Percaya atau nggak, aku bahagia bisa berkenalan dengan kamu. Aku mengagumi setiap lagu yang kamu mainkan lewat gitar itu. Dan, aku harus berterima kasih karena kamu telah menjadi teman yang baik selama beberapa minggu kemarin. Terima kasih pula karena telah menjadi sosok yang sangat menyenangkan. Lain waktu, jika ada kesempatan, berkunjunglah ke Bali. Akan aku tunjukkan kucing-kucing yang kami bawa pindah dari Jakarta. Jumlahnya semakin banyak!

                                                                                                With love,
                                                                                                Luna.
           
PS: Aku jatuh cinta pada Oby sejak pertama. Jadi, aku juga membawanya ke Bali. Kamu nggak perlu khawatir, I’ll be the one who always giving him an extra-meal. Sebisa mungkin aku bawal merawat Oby supaya dia nggak jatuh sakit atau kelaparan. Tadinya aku kepikiran buat ngajak Arga, Lastri, dan Bisma. Tapi aku nggak mau dicap sebagai orang serakah, Bay. Jadi, kuharap kamu nggak menyimpan dendam.

            Surat itu kutuntaskan dengan satu senyuman kecut. Tak ada tangis, tak ada luapan amarah. Semuanya masih baik-baik saja—setidaknya untuk saat ini. Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri, selama membaca kalimat yang terurai di sana, hampir sepanjang waktu kurasakan napasku tercekat. Pikirku pun ikut melayang ke sejumlah adegan di mana segalanya berawal, setiap detik yang pernah terlewati bersama Luna, lagu yang kumainkan untuknya, percakapan sebelum tidur—di telepon maupun di dalam kamarku.
            Dan Oby.
            Sikapnya pernah membuatku terganggu pada saat pertama. Suara-suara bising yang kerap ia timbulkan setiap kali aku lupa membawakan porsi ekstra; tanda bahwa dia marah. Terlepas dari semua hal yang menyebalkan itu, ialah satu-satunya sahabat yang kumiliki sejak tiba di sini. Satu-satunya yang sudi menyisihkan waktunya untuk menunggu, mendengkur di pelukanku, meskipun hanya sekejap.
            Kulipat kembali kertas di genggamanku, dan memasukkannya ke tempat semula. Mungkin tak ada lagi yang perlu ditangisi. Karena sampai kapan pun, manusia akan terus dihadapi dengan aneka kejutan, salah satunya perpisahan. Dan tak banyak orang yang sanggup mengatasi rasa kehilangan itu.
            Namun, suatu hari kau akan mengerti, merelakan kepergian bukanlah proses melupakan. Ia akan selalu ada di sana, menjadi satu cerita lama yang tak mungkin bisa untuk dihidupkan kembali.

-fin-
           

Sabtu, 29 November 2014

Dear Brother

Dear Brother...

Jauh sebelum hari ini, saya pernah memiliki sosok pelindung yang bisa diandalkan. Saya memanggilnya dengan sebutan Abang. Beberapa orang sering berkata wajah kami mirip satu sama lain. Saya tidak mengerti mengapa mereka berpendapat demikian. Tapi belakangan, barulah saya menyadari sejumlah kemiripan yang ada di antara kami.

Saya masih ingat dengan jelas masa-masa di mana kami menghabiskan masa kecil bersama sebagai saudara laki-laki. Itu adalah hari Minggu, saat saya dan Abang berlarian di halaman belakang rumah orang sambil bermain layangan. Sesekali terdengar suara Mama yang meneriaki kami untuk segera pulang. Sudah tengah hari, katanya, nanti ada penculik.

Sampai sekarang pun, dongeng tentang penculik yang selalu memenggal kepala anak kecil itu masih berlaku untuk sebagian orangtua.

Seiring berjalannya waktu, saya dapat merasakan perubahan di antara saya dan Abanv. Seperti ada tembok besar yang membuat kami saling berjauhan, sering merendahkan dan bertingkah egois. Namun, jauh di dasar hati saya yang paling dalam, saya selalu berharap agar saya dan Abang bisa berbaikan seperti dulu lagi -- seperti adik dan kakak yang saling berangkulan.

Saya bahkan rindu dengan volume suaranya yang tidak pernah rendah ketika berbicara. Saya rindu dengan gelak tawanya yang selalu terselip di tengah-tengah lagu Guns and Roses yang sering dia putar setiap pulang sekolah. Saya rindu dengan lukisan burung elang yang dia sadur dari kertas kalender -- satu-satunya lukisan yang selalu saya banggakan.

Ah... Rasanya semua kenangan dan peristiwa itu baru terjadi kemarin sore. Saya kerap mengingatnya di saat saya sedang rindu, ataupun menjelang tidur.

Orang selalu bilang bahwa seorang Kakak adalah Pahlawan Kedua yang dikagumi adik setelah sosok ayah. Begitu pula saya yang selalu mengagumi Abang dengan segala kekurangannya.

Tidak ada maksud apa-apa yang terselip di balik tulisan ini. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa sampai kapan pun, Abang masih akan tetap sama di mata saya. Dia masih sosok Abang yang sering saya kagumi seperti dahulu kala. Dan saya selalu berharap, dia tidak pernah lupa bahwa kedua orangtuanya selalu cinta dan bangga -- tak peduli seperti apa pun dirinya.

Sincerely,

Your Little Brother

Sabtu, 27 September 2014

Faith of Love (part 2 - ending)

December 11th, Westminster

Rasanya baru kemarin aku melihat sejumlah pepohonan yang mengering di kota ini. Daun-daun kuning yang biasanya mengotori jalanan dan pekarangan rumah, kini berganti dengan lapisan salju tipis. Musim dingin telah dimulai sejak pekan terakhir bulan November.

Malam baru saja naik saat aku meninggalkan apartemen dan memilih untuk berjalan keluar. Suhu mencapai -5◦C. Angin menusuk tajam, udara dingin berusaha menembus masuk mantelku. Melewati rumah-rumah kopel dan sederet restoran yang nyaman. Tempat keluarga sejati dan beberapa pasangan muda-mudi sedang makan bersama. Bercengkerama dan tertawa sambil menikmati kehangatan di dalam sana.

Menenggelamkan telapak tangan kiriku ke saku mantel sementara aku bergerak menuju Patissarie Valerie. Menutup payungku dan segera melangkah ke dalam kafe yang bernuansa remang-remang itu.

Suasana di Patisserie Valerie tidak pernah membosankan; etalase yang dihiasi kue-kue dan aneka roti, bunyi sendok yang beradu dengan dinding cangkir, serta ingar-bingar suara pengunjung yang tengah bercakap-cakap. Bahkan tempat ini terlalu sempit untuk menampung orang-orang yang bosan mengurung diri pada Jumat malam yang beku.

Aku berdiri di depan etalase yang menyajikan roti bagel dan jenis kue-kue cantik beraneka warna. Mencomot beberapa muffin cokelat dan cupcake ke atas nampan sambil menikmati alunan musik blues yang diputar lewat pengeras suara. Dan untuk saat ini, aku harus bilang bahwa bepergian ke suatu tempat dan berbelanja adalah cara termudah untuk membahagiakan diri sendiri.

Di luar sana, salju turun lagi. Aku baru mau menuju meja kasir saat terdengar seseorang yang memanggilku dari arah konter Cheese Cake.

“Kamu lagi?” Seorang pria tak dikenal tersenyum sumringah kepadaku.

Agak ragu aku bersuara, “Permisi?”

“Kau pasti Sophie, kan?” Dia menggaruk-garuk kepala, tampak bingung sendiri dengan ucapannya. “Ah, rasanya sudah lama sekali.”

Aku menatapnya dari atas ke bawah. Mengamati sosok asing bertubuh jangkung yang dibungkus jaket dan mantel tebal, dan rambut cokelat gelapnya yang dipotong rapi.

Dia berkata lagi, “Aku Hugo. Kita pernah bertemu beberapa bulan lalu.”

Aku mengulang namanya berkali-kali sambil berpikir keras. Berusaha mencari nama itu di sepanjang koridor memoriku – barangkali ada satu atau dua momen yang pernah kami lewati, tapi tak sengaja terlupakan. Dan aku baru teringat bahwa dia adalah orang yang pernah kutemui di Legoland pada Oktober lalu.

“Ya. Senang bisa bertemu denganmu lagi,” ucapku, tersenyum malu. “Omong-omong, apa yang kaulakukan di sini?”

Telunjuknya teracung pada seiris tar Almond dan Strawberry Shortcake yang terbungkus rapi dalam mika plastik.

Dan pada saat yang sama, aku benar-benar merasa malu lantaran telah melontarkan pertanyaan bodoh.

Dia balik bertanya, “Kau tidak bersama putrimu?”

Aku tercenung selama beberapa saat. Dalam hati, aku amat menyesali kebohonganku kala itu. Mengakui Emma sebagai putri kandungku justru membuatku terjebak dalam posisi yang sulit. Bingung harus memilih 1) tetap berbohong, atau 2) mengatakan yang sesungguhnya kepada Hugo.

“Sebenarnya, dia anak temanku. Waktu itu dia menitipkannya kepadaku karena ada suatu urusan yang harus dia selesaikan bersama suaminya.” Kuungkapkan saja yang sebenarnya. Biar dia tahu bahwa aku tak pandai bersandiwara.

Hugo hanya menganggukkan kepala.

“Kau sendiri? Ke mana perginya anak perempuan yang bersamamu waktu itu?”

“Nicki berada di rumah. Musim dingin bukan waktu yang tepat untuk bepergian.”

Percakapan kami ternyata memakan waktu yang cukup lama saat seorang kasir di hadapanku berdeham seakan-akan aku telah membuat satu kesalahan. Terperanjat kaget melihat sekelompok orang di belakangku yang membentuk satu antrean panjang. Beberapa orang memandangku dengan mata melotot sambil mendengus kesal.

Aku bergegas menyelesaikan proses pembayaran dan masih sempat menyampaikan permintaan maaf sebelum keluar dari barisan.

Hugo mengekoriku dari belakang.

Dia bertanya, “Masih pertanyaan yang sama seperti waktu itu, ke mana tujuanmu setelah ini?”

“Tidak ada tempat yang bisa menyelamatkan dari badai salju selain apartemen,” jawabku. “Kau?”

Alih-alih menjawab, dia malah balik bertanya, “Kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku ikut denganmu? Sekadar bertamu sambil menghabiskan kue bersamamu, barangkali.”

Tenggorokanku tercekat sewaktu menatap bola mata hijau zamrudnya berpendar cerah terkena cahaya lampu di kafe ini. Perutku terasa nyeri oleh sesuatu yang tidak beralasan. Aku mengembangkan payungku dan menjawab, “Dengan senang hati.”
***


“Kau sendirian yang menghuni tempat ini?” tanya Hugo seraya mengambil posisi duduk di atas sofa. Matanya memindai ke seluruh penjuru ruangan. Dimulai dari pemanas ruangan, bingkai foto, kertas dinding, aneka figura dan miniatur, sampai tumpukan majalah yang tersusun rapi di bawah rak televisi.

“Terkadang aku mengajak Emma dan kedua orangtuanya ke sini,” aku menjawab dari pantry dapur, sedang menyiapkan sesuatu untuk menemani perbincangan kami. “Sementara, rekan-rekan kerjaku kebanyakan sudah berkeluarga dan punya anak. Agak sulit jika harus mengajak mereka datang setiap hari.”

“Omong-omong, kau bekerja di mana?”

“Penulis artikel di Daily World.”

“Kedengarannya menarik.”

“Ya, begitulah. Hanya saja, aku bukan bekerja sebagai karyawan tetap. Kontrakku bisa saja habis sewaktu-waktu,” tanggapku sambil menuju ruang tengah, meletakkan dua cangkir yang berisi teh ginseng dan kudapan kecil yang kudapat dari Patisserie Valerie barusan. “Bagaimana dengan kau?”

Kemudian, Hugo pun bercerita tentang pekerjaannya sebagai manajer kreatif di sebuah perusahaan iklan. Butuh kerja keras dan penantian yang cukup panjang untuk mencapai kariernya yang gemilang. Dia juga mengisahkan apa saja yang dia alami di tahun pertama ketika menggeluti profesinya; seluruh perjuangan dan berbagai peristiwa emosional yang rasanya sulit untuk dilupakan.

Sesuatu yang istimewa dalam hidupnya baru dimulai di tahun keempat. Aku baru tahu bahwa Hugo adalah seorang ayah dari pernikahan yang kini berada di ambang kehancuran. Nicki adalah putri pertamanya. Aku sendiri tidak mengerti apa penyebab utamanya sehingga peristiwa itu bisa terjadi – dan aku pun tidak memaksa Hugo untuk bercerita. Dan selama setahun terakhir, Hugo lebih sering menghabiskan hari-harinya bersama Nicki, atau bahkan seorang diri.

“Rasanya pasti sulit sekali,” gumamku lirih.

“Tentu saja. Tapi aku sudah enggan memikirkannya lagi. Bagiku, semua itu sudah selesai.” Dia mengedikkan bahu. “Well, Sophie, apakah kau tertarik pergi denganku setelah nanti?”

Mataku memicing menatapnya. “Ke mana?”

“London’s Eye selalu terlihat memesona di malam hari. Semua orang akan berkumpul di sana untuk melihat festival kembang api.”

Apa yang dibicarakan Hugo barusan adalah tentang malam pergantian tahun. Pikiranku langsung dipenuhi oleh semburat warna-warni lampu dan jutaan kembang api yang meletup di langit kota London.

Aku hendak menanggapi ajakannya sewaktu ponsel Hugo berbunyi nyaring sehingga menginterupsi niatku.

Dia menatap layar ponselnya lekat-lekat, tercenung selama beberapa saat sebelum akhirnya mengambil jarak untuk menjawab panggilan itu.

Dua menit kuhabiskan dalam diam. Aku berharap Hugo segera muncul dan menyampaikan kabar gembira, atau setidaknya sesuatu yang menarik. Tapi rasanya sangat tak mungkin. Hugo berdiri di hadapanku dengan tatapan lesu. Air mukanya tampak berantakan, seolah-olah ada sesuatu yang telah terjadi dengannya.

“Barusan itu Celine. Dia ingin bertemu denganku untuk membicarakan proses perceraian kami.” Segera saja aku tahu bahwa itu bukan pertanda baik. “Dia baru saja tiba di Heathrow.”

Betapa pun aku sangat berharap tidak mendengar berita itu dari mulutnya.

Betapa pun aku sangat mengerti dia masih mencintai wanita itu dengan segenap jiwa; meskipun separuh hatinya telah hampa.

Tapi aku tak pernah mengerti kenapa aku bisa merasakan cemburu yang amat hebat atas apa yang dia sampaikan. Tak pernah mengerti kenapa hal ini bisa terjadi kepadaku.

“Pergilah,” ujarku singkat.

Hal berikut yang kuketahui adalah Hugo beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Memandangku sejenak sebelum dia melangkah pergi.

“Sampai nanti, Sophie...” gumamnya pelan, tapi aku terlalu letih untuk bersuara.

Pintu tertutup.

Air mataku tumpah.
***

Kontrak kerjaku berakhir di pertengahan bulan Februari. Musim salju masih belum sepenuhnya berhenti kala itu. Tapi, sebagian maskapai penerbangan tujuan domestik dan internasional telah beroperasi secara optimal. Aku akhirnya meninggalkan London pada malam hari dan terbang ke kampung halamanku di Belanda. Sudah lama sekali aku tak merasakan kehangatan yang berasal dari rumah.

Bulan April seperti menghantarkan atmosfer baru di kehidupanku. Semburat matahari musim semi yang menyeruak masuk lewat jendela membuat segalanya terasa sempurna pada pagi ini. Aku melangkah menuju dapur dan bergegas menyiapkan adonan pancake untuk menu sarapan.

Tidak ada siapa-siapa yang tinggal di rumah ini selain aku dan Mom. Dad meninggal ketika aku berusia 12 tahun. Satu hal yang kupelajari sejak hari itu, kepergian seseorang bukanlah satu alasan yang perlu ditakutkan sehingga kita sulit untuk melanjutkan kehidupan. Karena setiap hal yang pergi, pasti akan ada satu hal baru yang datang ke dalam hidup kita.

Usai menuangkan pasta cokelat dan madu ke atas pancake, aku mendengar seseorang mengetuk pintu rumahku dari luar. Aku hendak menuju asal suara itu ketika Mom lebih dulu menggerakkan kursi rodanya dan memutar kenop pintu.

Tamu dalam wujud anak perempuan berambut pirang itu bersuara, “Nona Sophie?”

Mom mendongak menatapku, seakan-akan meminta penjelasan siapa gadis kecil yang tengah berdiri di hadapan kami.

“Ya. Aku Sophie.” Aku mengernyitkan dahi sambil melepas celemek yang kukenakan. “Kau siapa?”

“Aku... Kau mungkin sudah melupakanku, tapi aku masih mengingat dengan jelas kau siapa,” ucapnya dengan seulas senyum polos.

“Oke. Tapi, bisakah kita bicara sejenak?” sergahku setengah ketakutan. Sementara, Mom masih memandangku dengan tatapan bingung.

Dia meraih telapak tanganku dan menggenggamnya erat. “Kau harus ikut aku sekarang. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”

Untuk sejenak, aku sempat berniat mengenyahkan genggamannya dari tanganku. Tapi, ada sesuatu yang membuatku percaya bahwa dia tak akan berbuat macam-macam. Gadis kecil ini menuntunku berjalan dan melewati pekarangan rumah yang ditumbuhi rumput dan beraneka ragam tanaman hias. Seekor sapi betina pun tampak heran menyaksikan derap langkah kami yang berubah semakin cepat.

Aku bertanya dengan napas tak keruan, “Tunggu! Ke mana kau akan membawaku?”

“Ke sana – “ Anak perempuan ini mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah kebun yang bunga tulip yang jaraknya memang cukup jauh dari rumahku.

Ternyata, inilah yang dibilang orang-orang tentang bunga cinta itu. Warna-warni bunga tulip mampu membuat siapa pun terpana akan pesonanya. Tapi, aku sedang tidak membicarakan tentang sihir yang dimiliki bunga tulip. Ada sesuatu yang membuatku benar-benar tercengang dan membuat lidahku terasa kelu.

“Seperti yang kita ketahui, Belanda adalah kota kecil yang serbakekurangan sejak perang dunia kedua berakhir. Sampai pada suatu hari di musim dingin, seorang gadis kecil dari Amerika yang bernama Rosy mengirimkan kado berisi cokelat kepada temannya tinggal di kota ini. Surat menyurat antara mereka terus berlanjut meskipun keduanya tidak pernah bertemu.”

Aku pernah mendengar dongeng itu sebelumnya. Dongeng yang mengisahkan kedua anak perempuan bernama Rosy dan Fiona yang menjalin komunikasi dengan cara surat-menyurat. Setiap kali Fiona mengisahkan apa yang terjadi di tempatnya, Rosy pasti menghadiahkan Fiona sesuatu yang mungkin diperlukannya. Pada surat mereka yang terakhir, di musim semi, Rosy menerima surat dan paket dari Fiona yang berisi umbi bunga tulip untuk ditanam.

Dan betapa pun hadiah itu teramat sederhana, Rosy sama sekali tidak mempermasalahkannya. Rosy teramat gembira. Umbi tulip itu dibagi-bagi untuk ditanam di sebagian tempat di Amerika.

Begitulah ceritanya.

“Lama tak berjumpa, Sophie.”

Sesuatu membuat mataku terasa panas. Aku masih mengingat dengan jelas saat Hugo meninggalkan apartemenku pada malam itu. Dia berdiri di ambang pintu dan berkata ‘sampai nanti’ – tanpa kupahami maksud dari kalimatnya. Dan kini, dia benar-benar membuktikan apa yang pernah dia ucapkan.

Dia menggumam, “Aku benar-benar menyesali atas apa yang telah terjadi waktu itu.”

“Aku mengerti, Hugo. Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa tersulit di dalam hidupnya,” balasku.

“Jadi, segalanya benar-benar telah berakhir.” Dia mulai berkisah tanpa kuminta, “Juri akhirnya memberikanku kuasa penuh atas hak asuh Nicki. Tapi dengan syarat, Celine tetap diperbolehkan menengok ataupun merawatnya dalam situasi tertentu.”

Aku membalas seadanya, “Senang mendengar kabar baik itu darimu.”

Sosok pria dalam balutan kemeja biru ini mengambil posisi berdiri di hadapanku. Pandangan kami saling bertumbukan sehingga rasanya tidak ada kesempatan bagiku untuk berkedip. Dia meraih telapak tanganku dan meremasnya lembut. Sementara, tangan kanannya mengulurkan sesuatu kepadaku.

Sebuah bunga tulip berwarna merah.

Aku menerima pemberiannya. Mencium kelopaknya yang masih terasa lengket dan basah oleh embun.

“Kau tentu mengetahui makna dari bunga tulip merah itu, Sophie...” Kalimatnya dibiarkan menggantung.

“Sebuah cinta dengan ketulusan tanpa batas,” jawabku dengan wajah merah padam. “Kuharap kau bersungguh-sungguh dengan kalimatmu, Hugo.”

“Tak ada batas dalam mencintaimu.”

“Tak ada batas untuk percaya pada kekuatan cinta,” sambung Nicki yang tiba-tiba muncul di dekat kami.
Hugo memberikan satu kecupan kecil dan membimbingku ke dalam pelukannya.

***END***