Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label kakak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kakak. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 29 November 2014

Dear Brother

Dear Brother...

Jauh sebelum hari ini, saya pernah memiliki sosok pelindung yang bisa diandalkan. Saya memanggilnya dengan sebutan Abang. Beberapa orang sering berkata wajah kami mirip satu sama lain. Saya tidak mengerti mengapa mereka berpendapat demikian. Tapi belakangan, barulah saya menyadari sejumlah kemiripan yang ada di antara kami.

Saya masih ingat dengan jelas masa-masa di mana kami menghabiskan masa kecil bersama sebagai saudara laki-laki. Itu adalah hari Minggu, saat saya dan Abang berlarian di halaman belakang rumah orang sambil bermain layangan. Sesekali terdengar suara Mama yang meneriaki kami untuk segera pulang. Sudah tengah hari, katanya, nanti ada penculik.

Sampai sekarang pun, dongeng tentang penculik yang selalu memenggal kepala anak kecil itu masih berlaku untuk sebagian orangtua.

Seiring berjalannya waktu, saya dapat merasakan perubahan di antara saya dan Abanv. Seperti ada tembok besar yang membuat kami saling berjauhan, sering merendahkan dan bertingkah egois. Namun, jauh di dasar hati saya yang paling dalam, saya selalu berharap agar saya dan Abang bisa berbaikan seperti dulu lagi -- seperti adik dan kakak yang saling berangkulan.

Saya bahkan rindu dengan volume suaranya yang tidak pernah rendah ketika berbicara. Saya rindu dengan gelak tawanya yang selalu terselip di tengah-tengah lagu Guns and Roses yang sering dia putar setiap pulang sekolah. Saya rindu dengan lukisan burung elang yang dia sadur dari kertas kalender -- satu-satunya lukisan yang selalu saya banggakan.

Ah... Rasanya semua kenangan dan peristiwa itu baru terjadi kemarin sore. Saya kerap mengingatnya di saat saya sedang rindu, ataupun menjelang tidur.

Orang selalu bilang bahwa seorang Kakak adalah Pahlawan Kedua yang dikagumi adik setelah sosok ayah. Begitu pula saya yang selalu mengagumi Abang dengan segala kekurangannya.

Tidak ada maksud apa-apa yang terselip di balik tulisan ini. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa sampai kapan pun, Abang masih akan tetap sama di mata saya. Dia masih sosok Abang yang sering saya kagumi seperti dahulu kala. Dan saya selalu berharap, dia tidak pernah lupa bahwa kedua orangtuanya selalu cinta dan bangga -- tak peduli seperti apa pun dirinya.

Sincerely,

Your Little Brother

Selasa, 20 Agustus 2013

Life Goes On

Pagi itu, aku bangun lebih awal. Aku beringsut turun dari ranjang dan keluar dari kamar sesaat setelah aku dihadiahi spektrum ilusi yang membuatku teramat merindu. Beberapa di antaranya adalah sejumlah suara semu yang tidak kuketahui dari mana mereka berasal.


Aku melangkah gontai ke ambang pintu rumahku, duduk bergeming di sana sembari menengadahkan kepala. Menyaksikan selendang biru yang membentang luas di sepanjang cakrawala beserta riak-riak awan putih yang sedang berdansa di sekitarnya. Angin bertiup kencang tanpa perhitungan sekalipun bola api di atas sana berpijar terik tak terkira. Satu demi satu dedaunan pohon jambu di halaman rumahku mengelupas dari rantingnya yang tampak telah menua.


Dalam diam aku membatin, ini tidak terasa seperti biasanya.


Aku tidak tahu apa yang sedang kualami. Bahkan, aku tidak mengerti mengapa aku memilih untuk duduk di sini. Biasanya, aku akan hanyut dalam damai setiap kali aku berada dalam ketenangan yang demikian. Hanya saja semuanya telah berbeda. Ada semacam perasaan gelisah yang membuatku takut dan tiba-tiba ingin meneteskan air mata.


Aku menoleh ke belakangku untuk sejenak. Menyaksikan sebuah ruangan yang senyap tanpa penghuni selain barang-barang pajangan dan aneka benda mati. Tidak ada siapa pun di sekitar sana. Tidak ada suara, maupun sosok yang tenangkan jiwa. Yang ada hanya sepi.


Pikiranku kembali terlempar pada sederet kenangan yang kulalui beberapa hari kemarin. Masa di mana segalanya terasa begitu hangat. Ada gelak tawa, ada sukacita, dan ada cerita yang senantiasa menjadi bukti kebersamaanku dengan seluruh penghuni di rumah ini. Dan biasanya, semua bentuk keceriaan itu akan kutemui di saat-saat seperti sekarang.


Aku juga masih mengingat dengan jelas saat bocah-bocah kecil itu berteriak dengan suaranya yang sumbang pada suatu pagi, kemudian diselingi dengan nyanyian yang terus berlanjut tanpa tahu kapan mereka akan mengakhiri. Atau momen di mana mereka berteriak menangisi sesuatu yang seharusnya mereka miliki. Dan tak ayal, tangis itu pun akan segera berhenti saat salah satu dari penghuni rumah ini mencoba menenangkan keadaan dengan caranya sendiri.


Selama beberapa saat, aku hanya terdiam sembari menyeka bulir tangis yang tertahan di ekor mataku. Aku membayangkan bila seandainya sukacita seperti itu tidak lagi tercipta dengan esensi tawa yang seutuhnya. In bottom line, tanpa suatu kebersamaan dalam keluarga, atau setelah terjadi sebuah perpisahan.


Aku beranjak dari dudukku, tahu bahwa semua kenyataan ini harus kuhadapi. Karena pada suatu waktu, aku menyadari bahwa fase inilah yang disebut fase pendewasaan. Siap atau tidak, hidup akan terus berjalan – dengan atau tanpa perencanaan.



Bangka, 20 Agustus 2013

Teras rumah...
Selasa, 05 Februari 2013

Kakak

Darimu, aku belajar arti pendewasaan
Bersamamu, aku mengenal pelajaran berharga tentang sebuah keberanian
Denganmu, aku mengeja makna dari keikhlasan...

Kamulah sosok pemberani yang selalu kuagungkan - kumuliakan jiwa dan raga.
Kamu pun sosok pemberontak yang  selalu mendambakan kebebasan.
Kamu, figur seorang kakak yang kubanggakan.

Kamu mengetahui cara membopongku dengan baik - ketika duniaku mulai merapuh.
Kamu mengenal bagaimana cara menghapus dukaku yang memilukan.
Dan kamu pun mampu menghadirkan senyum bahagia di wajahku,
rona indah kebahagiaan yang kau janjikan untuk membahagiakanku dulu...

Kakak, tetaplah seperti ini.
Jangan pernah letih menyinari hari - hariku yang kelabu.