Lihat aku di sini
Kau lukai hati dan perasaan ini
Tapi, entah mengapa
Aku bisa memberikan maaf padamu...
Kemilau lampu kota di sepanjang jalan Dago tampak begitu menyilaukan mata. Bunyi klakson kendaraan yang memekik dari arah luar seolah-olah ingin membuyarkan lamunan saya. Rama masih bersenandung di radio. Berada di dalam taksi Gemah Ripah ini semakin membuat leher saya serasa tercekik. Bukan karena pendingin udaranya, tapi karena sebuah lagu yang entah bagaimana -- seperti mengirimkan luka.
Arloji Casio di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh. Bandung belum mati. Masih ada kehidupan di saat-saat seperti ini. Tapi sekarang, saya benar-benar merasa sendiri. Keadaan di sekitar saya berubah sunyi.
Terkenang lagi akan tujuan utama saya ke kota ini. Saya sempat berjanji pada diri sendiri, termasuk pada orangtua saya untuk melakukan perubahan. Saya ingin hidup mandiri dan memulai segalanya lebih baik lagi. Teringat pula betapa besar pengorbanan mereka untuk merelakan kepergian saya. Melihat Bunda terisak dan sosok Papa yang tidak sanggup berbuat apa-apa. Mereka menaruh kepercayaan sekaligus harapan yang begitu besar kepada saya.
Pada saat yang sama, mata saya terasa begitu panas. Saya membayangkan betapa tololnya diri saya sewaktu berada di lapangan gasibu beberapa menit yang lalu. Saya duduk di sana sembari memandangi jalan raya yang dipenuhi sejumlah kendaraan yang sibuk berlalu-lalang. Tiga orang pengamen sedang mempersembahkan sebuah lagu dengan suara sumbang. Sedikit pun tidak menghibur.
Saya menengok ke layar ponsel, berharap lampu LED-nya berkelap-kelip dan memunculkan satu pesan dari seseorang. Namun, saya tidak mendapatkan apa-apa di dalam sana. Berkali-kali saya telah men-dial nomor teleponnya, tetap saja tidak ada jawaban. Saya sempat berpikir, mungkin dia sengaja menghindar supaya tidak berjumpa dengan saya.
Tapi, pada saat itu saya hanya diam dan tidak mau menyalahkan siapa pun. Satu hal yang pasti, saya harus menerima kekalahan saya dengan lapang dada. Berusaha meyakini diri sendiri bahwa akan ada hal baik yang terjadi di kemudian hari.
Taksi yang saya tumpangi baru saja melewati Hotel Bukit Dago. Sebentar lagi saya akan sampai di kamar - tempat di mana saya mengistirahatkan badan beserta pikiran. Setelah itu, mungkin saya akan memutuskan untuk pulang ke suatu tempat yang sebenarnya. Satu tempat yang saya sebut rumah..
Sementara itu, tembang Bertahan milik Rama masih terdengar di telinga ketika saya melangkah keluar taksi.
Meski kau terus sakiti aku
Cinta ini akan selalu memaafkan
Dan aku percaya nanti engkau mengerti bila cintaku takkan mati
Semuanya masih terasa sama ketika seulas kata itu terucap dari mulutku.
Bunda hanya bergeming, sedikit pun tak ingin memberi komentar mengenai kalimat yang kusampaikan barusan. Pandangannya kosong, melesat jauh ke arah pepohonan jambu air di halaman rumahku. Angin di luar sana menyapu beberapa helai rambutnya. Tapi dia tak hiraukan. Dia lebih memilih untuk mengunci bibirnya rapat-rapat sambil menahan air mata.
Sesaat kemudian, aku merasa bersalah. Aku benar-benar berdosa karena telah membuatnya terluka. Bahkan, aku selalu mengecewakannya dengan cara seperti ini. Mengungkapkan sesuatu yang tidak ingin dia dengar, hanya untuk melihatnya menjatuhkan air mata.
Peristiwa seperti ini mengingatkanku lagi pada satu tahun yang lalu. Aku baru saja resign dari pekerjaanku waktu itu. Mengundurkan diri lantaran lelah bekerja di bawah tekanan. Dan setelah itu, aku terpikir untuk pergi, berniat melanjutkan hidup dengan cara yang lebih baik lagi. Aku sudah bertekad meninggalkan kota ini.
Tapi saat itu, aku tak menerima apa-apa selain penolakan. Baik Papa maupun Bunda sama-sama tidak memberi izin. Mereka berpikir, akan lebih baik jika aku tetap tinggal di sini sampai tua nanti. Tidak perlu pergi ke mana-mana kalau memang ingin melanjutkan hidup.
Aku memberontak, menyangkal pendapat Papa dengan sejumlah alasan yang meyakinkan. Aku terus berkelakar mengenai apa yang akan kuterima di sana nanti. Sampai pada akhirnya, Bunda mengambil jalan tengah dan mengakhiri perdebatan di antara kami. Dia menangis. Dan satu-satunya orang yang membuatnya menangis adalah aku.
Bunda memang selalu seperti itu. Dari luar, dia tampak begitu tegar. Tapi dia begitu sensitif untuk urusan yang menyangkut perpisahan. Dia tidak pernah sanggup membiarkan satu pun dari kami pergi meninggalkannya. Pernah waktu itu dia menangis sepanjang malam karena tidak sampai hati melepas kepergian Kakakku ke Yogyakarta. Dia masih dapat tersenyum, meskipun matanya terlihat keruh.
Dan hari ini, semuanya terjadi lagi. Aku kembali membuatnya terluka dengan cara yang sama, dengan tujuan yang sama. Bunda tetap tak mau bicara ataupun memberi keputusan. Sama halnya dengan Papa. Mereka masih bungkam, seolah-olah tak mau memberiku kesempatam untuk bahagia.
Setahun yang lalu, segalanya masih belum serumit ini. Aku masih dapat menikmati gejolak perasaan menyenangkan setiap hari, tersenyum di depan cermin seorang diri, bahkan menulis kata-kata indah di setiap halaman buku binder-ku. Semuanya terasa indah pada saat itu.
Aku mengenalnya sudah cukup lama. Lewat cara konvensional di social media - Twitter - aku dan dirinya sering bertutur sapa. Sekadar bersinggungan mengenai twit-twit yang lucu, berperang sajak, bahkan tak jarang kami berbincang di Direct Message. Dan ya, aku amat bahagia dapat berkenalan dengannya. Aku sudah menganggap dirinya sebagai kembaranku sendiri.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tak terasa kami berjumpa dengan bulan April. Ketika itulah segalanya mulai berubah secara perlahan. Aku mulai sering mengiriminya ucapan selamat pagi, mengucapkan selamat tidur sebelum kami bermimpi, dan tentu - aku sering menuliskannya puisi. Aku bahkan tak ragu-ragu meminta nomor ponselnya pada waktu itu.
Bertukar nomor ponsel seolah menjadi jembatan bagi kami berdua. Kami sering terjebak dalam pesan singkat yang berisi lelucon konyol dan ledekan garing. Aku juga kerap mengabarkannya setiap kali aku menulis. Entah mengapa aku mau melakukannya, aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu, setiap kali berbicara dengannya, darahku berdesir hangat seolah dialiri gelombang semangat tak tanpa batas. Dan aku amat menikmatinya.
Tapi sayangnya, waktu bergulir begitu cepat bagai desingan peluru. Semakin banyak biaya yang kami habiskan untuk percakapan di dunia maya, semakin besar pula bahagia itu tercipta. Dan secara tidak langsung, aku tersadar bahwa aku telah jatuh cinta. Lebih tepatnya, aku telanjur suka. Teramat suka pada sosoknya yang menyenangkan, yang tenang, yang selalu membuatku kangen setiap waktu.
Aku menikmati setiap bulir kebahagiaan itu mengisi kepalaku sepanjang hari. Dan selagi aku terjebak dalam lembah yang dipenuhi warna-warni cinta, aku juga sering dihujani rasa cemburu yang tak beralasan. Aku sering menangis karena rindu terhadap dirinya yang sering menghilang. Bahkan, aku pernah merasakan hal-hal seperti itu selama berbulan-bulan sampai aku tak dapat lagi berpikir secara normal. Akal sehatku seolah-olah mendadak lumpuh.
Hingga pada hari ini, sesuatu yang tak pernah kuharapkan benar-benar terjadi.
Aku tidak tahu apa penyebab sebenarnya. Karena sejak dua hari kemarin, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Aku masih menjalin komunikasi dengannya via pesan singkat. Mengiriminya puisi dan bercakap-cakap barang sejenak. Tapi entah kenapa, sewaktu aku hendak membuka akun Twitter-ku, aku melihat satu keganjilan yang membuatku berpikir; ada yang tidak beres dengan jumlah followers-ku.
Aku tahu, ini masalah yang sepele dan sangat wajar. Namun yang tak kumengerti adalah, seseorang yang tidak berada di sana adalah namanya. Selama sejenak, perutku terasa mulas selagi jantungku berdegup kencang. Kepalaku mulai dihujani sejumlah tanda tanya dan spekulasi burukmyang tak kuketahui dari mana datangnya.
Meraih ponselku, dan mencoba menghubunginya. Sekadar bertanya mengenai alasan atau penjelasan singkat sehingga dia melakukan hal seperti itu. Setelah cukup lama menunggu, dia pun menanggapinya dengan satu kalimat yang berisi kata 'maaf'. Aku tidak mengerti kenapa dia harus minta maaf. Karena bagiku, followers are just a number. Aku bahkan tidak peduli seberapa banyak jumlah followers di akun Twitter-ku.
Sampai pada akhirnya, dia menjelaskan alasannya serinci mungkin. Ada sesuatu yang membuatnya harus menjauh, haris menjaga jarak dariku. Dan langkah kecil itu tentu saja dimulai dari social media. Aku berpikir, kenapa sih harus ada drama follow-unfollow-block-unblock di social media? Kenapa??? Itu semua terlalu kekanak-kanakkan!
Dia juga berkata padaku tentang sesuatu yang sulit sekali untuk kuterima. Maksudku, aku sudah berjanji untuk memaklumi apa pun alasannya. Tapi apa yang dia ucapkan begitu -- begitu ganjil dan tidak masuk akal. Aku tidak mengerti. Yang pasti, pada saat itu aku mengungkapkan apa yang telah kusimpan selama ini terhadapnya. Biar saja! Biar dia menyadari semuanya.
Tapi kemudian, tampaknya aku harus menelan kecewa. Semua upayaku tak membawa perubahan. Dia lebih memilih untuk pergi, sementara aku tidak berhak untuk menahannya. Karena akan lebih sakit jika kubiarkan dia bertahan lebih lama. Jadi, mau tidak mau aku mengikhlaskan pilihannya.
Aku sadar, semua orang memang berhak memilih siapa yang hendak dia jadikan sebagai sahabat ataupun teman hidup. Seperti apa pun keputusannya, tidak seorang pun yang pantas untuk melarang.
Saat menulis kisah ini, aku memang merasakan sakit hati yang teramat dalam. Kecewa sekaligus bercampur putus asa. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menanam benci, sekalipun dia berkata bahwa aku pantas untuk membencinya. Aku tidak mau. Kebencian tidak akan membuahkan apa pun selain kebencian itu sendiri.
Dan jika suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih tetap sama. Sedikit pun tak akan pernah lupa pada seluruh masa lalu kita - meskipun kini ia telah berakhir.
*teruntuk inisial H.A
Pada suatu hari, aku sangat berharap keajaiban itu dapat terjadi. Di mana kamu menyapaku dengan penuh semangat, lalu meyakinkanku bahwa kamu rindu. Aku pun selalu berharap kamu mengungkapkan satu hal yang lucu. Kamu akan bilang, komunikasi kita terganggu karena sesuatu yang sangat sepele. Beberapa di antaranya karena kesibukanmu yang menumpuk, tidak tersedianya waktu untuk menengok ponsel, atau barangkali kartu prabayarmu belum di-top up. Setidaknya alasan-alasan seperti itu masih dapat kumaklumi.
Tapi, apa pun alasan yang akan kudengar pada suatu hari nanti, aku akan tetap memercayainya. Percayalah...
Hari itu, matahari seakan-akan berada di atas kepala. Hawa panas yang bercampur dengan pengap asap kendaraan semakin membuatku merasa gerah. Jalan Jenderal Sudirman selalu seperti ini di siang hari. Aneka kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi setiap ruas jalan.
Aku berangkat dari rumah pukul sembilan pagi. Sengaja minta diantar oleh Dad dengan alasan ingin menjenguk temanku yang sedang dirawat di rumah sakit. Padahal, kalau saja Dad tahu, aku punya tujuan yang lebih penting daripada itu.
Semuanya berawal ketika aku membaca beberapa artikel di internet mengenai gejala pengidap HIV-AIDS. Aku sama sekali tidak berniat untuk mencari tahu tentang hal itu sebelumnya. Tapi berhubung aku ingin menulis cerita terbaru yang ada kaitannya dengan penyakit itu, aku pun mulai mengumpulkan informasi lewat mesin pencaharian; google.
Singkat cerita, ketika aku tersadar betapa pentingnya pemeriksaan HIV-AIDS, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengunjungi rumah sakit terdekat. Sedikit pun tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika aku mengetahui hasilnya tidak sesuai seperti yang kuharapkan. Tapi, we never know until we try. Selalu begitu, kan?
Menjejakkan kaki di sepanjang koridor rumah sakit, aroma obat-obatan dan cairan kimia mulai memenuhi penciumanku. Setiap sudut ruangan yang dikerumuni para pembesuk terlihat begitu mencekam. Hanya dingin, selalu diselimuti kesedihan. Kehadiran pohon ketapang yang tumbuh di tengah-tengah taman pun tidak menghantar suasana nyaman. Seolah-olah ada pesan kematian yang akan muncul di setiap waktu.
Sesampainya aku di Poli Melati, sepi itu menyambutku kembali. Aku tidak melihat kehadiran satu orang pun selain suster yang sibuk berlalu-lalang dan para pengunjung dengan muka masam. Tidak tampak senyum bahagia di wajah mereka. Kalaupun ada, mungkin senyum itu hanya terpancar dari anak kecil yang sedang bersama mereka. Betapa pun bocah itu tidak mengerti tentang apa-apa.
Cukup lama aku duduk seorang diri di Poli Melati. Dokter yang memiliki janji denganku tak kunjung muncul. Dan untuk mengisi kejenuhan yang meruap di dalam ruangan itu, aku tidak punya pilihan selain mengutak-atik gadget kesayanganku. Subway Surfer, Temple Run 2, Angry Birds Season selalu dimain secara bergantian. Sesekali, kala aku merasa bosan dengan permainan-permainan itu, aku beranjak dari duduk dan melihat-lihat isi lemari. Sejumlah obat - pil dan kapsul - terpajang rapi beserta catatannya, satu set suntik yang masih disegel, alat kontrasepsi untuk wanita dan pria, brosur-brosur penyuluhan, dan masih banyak lagi benda-benda yang tidak kuketahui apa fungsinya.
Aku sedang mengintip keluar jendela saat mendengar pintu berderit dan menyaksikan seorang wanita berkerudung biru tersenyum kepadaku. Bu Vivi namanya. Tadinya aku berpikir, dia adalah seorang perawat yang biasa keluar-masuk di Poli itu. Ternyata perkiraanku salah. Bu Vivilah yang akan mewawancaraiku sesaat lagi. Bukan dokter Fauzan Muhammad, seperti yang kubayangkan.
Bersamaan dengan hal itu, Bu Vivi lekas mempersilakan duduk di sofa. Aku sempat merasa takut selama beberapa saat. Terlebih ketika aku harus memaparkan sejumlah pengakuan kepada orang yang belum pernah kukenal sebelumnya. Tapi, Bu Vibi berpesan agar aku terbuka saja. Segala yang kututurkan akan tetap menjadi rahasia di antara kami berdua. Dan aku percaya.
Sesi tanya jawab itu terlewati dengan sempurna. Aku selalu menjawab dengan baik setiap pertanyaan yang dia ajukan. Tidak ada rasa takut sedikit pun untuk membeberkan segala fakta yang berkaitan dengan masa laluku. Bahkan, Bu Vivi mendengarkannya dengan saksama, lalu memberikan pengarahan dan nasihat yang tidak terkesan menggurui.
Begitu sesi tanya jawab itu berakhir, Bu Vivi beranjak berdiri dan langsung menuju lemari yang terletak di sudut ruangan itu. Sebuah suntik kini berada di genggamannya. Aku sudah tahu, pasti dia akan segera mengambil darahku untuk dilakukan pemeriksaan. Oleh karena itulah, aku memohon padanya untuk menggunakan cara alternatif seperti tes melalui air liur atau cara apa pun asalkan tidak disuntik. Terus terang, aku bukan penyuka jarum suntik!
Sembari menggelengkan kepalanya, dia berkata padaku bahwa cuma itu satu-satunya cara yang paling akurat. Karena darah yang diambil, akan diperiksa melalui tiga tahap di laboratorium rumah sakit. Mau tidak mau, aku pun mengiyakan penuturannya.
Aku lebih banyak diam selama proses pengambilan darah berlangsung. Sedikit pun tidak berkehendak menatap jarum suntik sialan itu menghunus ke dalam kulitku sampai ia benar-benar mengisap sepersekian mili darahku ke dalam tabungnya. Benar-benar cara yang kejam! Dan sesaat sebelum Bu Vivi benar-benar pergi ke laboratorium, dia menutupi lipatan lengan kiriku dengan sebuah kapas yang telah dibasahi dengan cairan alkohol. Kemudian berpesan bahwa dia akan kembali menemuiku sesaat lagi.
Lima belas menit telah berlalu. Kebosanan tak henti-hentinya menghinggapi isi kepalaku. Tak hanya itu, suasana di dalam ruangan pun seketika berubah mencekam. Aku takut saat Bu Vivi muncul di hadapanku, dia memberitahukan sebuah kabar yang tidak ingin kudengar. Semua ketakutan itu semakin bertambah parah ketika aku teringat nama-nama orang yang tercantum di daftar Follow Up Pasien, di mana beberapa di antara mereka ada yang telah meninggal dunia dalam waktu dua minggu terakhir. Tapi, aku berusaha mengenyahkan pikiran buruk itu sejauh mungkin. Aku terus menenangkan pikiranku dengan membaca ayat Al-Ikhlas sebanyak 10 kali dan berdoa agar aku diberikan kekuatan yang cukup.
Selang beberapa menit, pintu kaca itu kembali berderik. Bu Vivi benar-benar menepati janjinya untuk kembali. Dia duduk di hadapanku dengan wajah yang sulit sekali untuk ditebak. Bertanya dengan lirih apakah bekas suntiknya sudah hilang? Dan pertanyaan itu hanya mampu kujawab dengan sebuah anggukan. Rasanya aku hilang kemampuan untuk bicara sebelum mendengar keputusan akhir dari Bu Vivi.
Seakan mengerti dengan keadaanku yang sedang harap-harap cemas, saat itu juga Bu Vivi menyampaikan sesuatu yang mengejutkan. Tidak ditemukan virus berbahaya jenis apa pun di dalam darahku. Kondisi CD4-ku pun tidak mengalami penurunan. Itu berarti, aku dinyatakan HIV Negatif!
Entah apa yang terjadi pada diriku pada saat itu, aku tidak tahu persis. Yang pasti, aku tidak mampu berbicara banyak. Ingin sekali rasanya aku berteriak, menangis, tertawa, bahkan sujud di hadapan Bu Vivi pada detik itu juga. Tapi aku tahu, itu hal yang berlebihan. Dan satu-satunya hal yang dapat kulakukan saat itu adalah berterima kasih sebesar-besarnya. Kepada Tuhan, kepada Bu Vivi, kepada jarum suntik, kepada lemari, kepada rerumputan di tamah rumah sakit, kepada pohon ketapang yang mengirim aroma mistik, aku berterima kasih. Segala yang kuterima pada hari itu tidak dapat terbayarkan dengan materi jenis apa pun. Dan saat itu pula, aku berjanji untuk menjaga diriku dari perbuatan-perbuatan hina seperti yang pernah kulakukan di waktu dulu.
Wednesday, 20 November 2013