Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 April 2015

This is How Goodbye Feels Like

Sebagian orang berpendapat, ketika hujan turun, itu artinya ada seseorang di tempat yang jauh sedang menangis. Entah menangis karena sedih, atau mungkin karena terharu. Keduanya sama-sama menitikkan air mata.

Mendongakkan kepala selagi kedua kakiku menyambangi jalanan yang terasa lengang daripada biasanya. Awan kelabu membentuk gumpalan tebal di atas sana. Tampak sebuah kilatan kecil yang menyala-nyala di kejauhan. Dalam hati aku membatin, sebentar lagi pasti akan turun hujan.

Aku menengok lagi ke arah belakang. Sebuah bangunan berlantai tiga dengan pintu pagar yang menganga di depannya. Selama beberapa saat, aku masih berdiri di sana sambil mengamati tempat itu baik-baik. Membayangkan sepuluh bulan terakhir yang kulewati dengan tawa dan air mata. Sepuluh bulan yang telah menorehkan banyak sekali peristiwa.

Itu adalah hari di mana aku sedang meringkuk di dalam selimut dengan kondisi setengah terpejam. Beberapa menit yang lalu, aku sudah terbangun dari tidur. Namun udara dingin dan sisa hujan di luar sana membuatku enggan untuk beranjak turun. Mom tiba-tiba muncul di ambang pintu kamarku. Napasnya putus-putus. Menyampaikan sesuatu yang – terus terang saja – belum ingin kuketahui.

Mataku membelalak seusai mendengar berita terlontar dari mulut Mom. Di satu sisi, aku tidak dapat membendung rasa bahagia. Sebagian yang lain justru merasakan gejolak aneh yang membuat perutku seperti dipelintir. Pukul sepuluh pagi, tanpa persiapan apa-apa, aku langsung disuruh bekerja.

Aku mungkin sedang bermimpi.

Entah dari mana datangnya kekuatan itu, aku menuruni tempat tidur dan segera menuju kamar mandi. Sekadar membasahi tubuhku tanpa sempat menyentuh sabun maupun secuil shampo ke kepalaku. Sementara mulutku terus merutuk kesal lantaran tidurku jadi terganggu. Egois memang jika aku masih memikirkan waktu tidurku. Namun suatu hari kelak, aku akhirnya menyadari bahwa itu bukanlah waktu tidur, melainkan waktu bermalas-malasan.

Aku membetulkan kardus yang kupeluk sejak tadi. Aneka kertas dan buku kosong, sejumlah alat tulis yang tersimpan dalam kotak pensil, rasanya masih seperti mimpi. Aku bahkan masih sulit memercayai bahwa ini akan jadi hari terakhirku.

Terbayang lagi saat aku melangkah ke dalam ruangan dan duduk berhadapan dengan atasanku. Jantungku berdegup sepuluh kali lebih cepat. Telapak tanganku mulai basah oleh keringat. Satu demi satu kalimat telah terucap. Napasku kian memburu. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara untuk mengendalikannya.

Lima belas menit berlalu dalam keheningan. Bunyi jarum jam sanggup mengalahkan suaraku yang terlalu lirih. Sampai semuanya telah tersampaikan pun, aku belum dapat bernapas dengan baik. Rasanya seperti habis berlari 1000 kilometer.

Hal itu juga sepertinya dirasakan oleh orang yang berhadapan denganku. Aku dapat melihat mata lelahnya berkaca-kaca. Artikulasi kalimat yang dia ucapkan terdengar kurang jelas. Mungkin aku salah. Tapi, mungkin aku juga benar. Bahwa dia pun merasakan kehilangan.

Semua orang tentu merasakan kehilangan.

Memang tidak dapat kupungkiri, banyak sekali yang kupelajari selama aku berada di sini. Seluruh hal yang tidak pernah kuketahui sebelumnya, berbagai istilah yang asing di telinga, menjadi pengalaman yang bisa kugunakan di masa depan. Pengalaman adalah guru yang paling baik, bukan?

Hujan turun perlahan. Mataku terasa perih. Bangunan yang berdiri tegak di hadapanku kini justru terlihat seperti tempat yang istimewa. Sebuah tempat yang menawarkan segalanya. Sebuah tempat yang akan membuatku rindu dan ingin kembali.

Mungkin kembali, suatu hari nanti.
Senin, 01 Desember 2014

The Test (Part 2)



Untuk kedua kalinya, aku mendatangi rumah sakit dengan alasan yang sama. Masih ingat dengan jelas, dua belas bulan yang lalu, aku berjalan menelusuri koridor rumah sakit hanya untuk mencari tahu di mana letak Poli Melati. Ruangan itu biasanya digunakan untuk konseling sekaligus tes darah. Dan selama melakukan pencarian, aku memandang ke arah taman yang ditumbuhi rumput liar dan pohon-pohon ketapang. Pohon-pohon itu kerap mengantarkan aroma mistik saat aku pertama kali berada di sana.

Aku tersadar bahwa aku sudah berada di kota yang berbeda.

Menapakkan kaki di Rumah Sakit SB (*disamarkan) ini seperti melempar saya ke zaman dahulu. Sebagian bangunannya adalah karya arsitektur Belanda yang masih dipertahankan sampai saat ini. Pilar-pilar megah di pintu utama, daun jendela kuno yang terbuat dari kayu jati, seperti ada kisah lama yang tak boleh dilupakan di rumah sakit ini.

Awan kelabu yang bergelayut mulai menumpahkan rintik hujan. Udara dingin berembus pulan, tapi terasa menusuk hingga ke tulang. Di sekitarku ada seorang suster berbaju putih yang tengah mendorong kereta makan siang. Lelah menghiasi wajahnya. Mengalihkan pandangan ke arah halaman yang ditumbuhi pohon-pohon cemara menjulang tinggi. Sebuah pohon pinang sedang bertahan menantang angin. Salah satu pelepahnya tampak layu dan putus asa. Bahkan, sebatang pohon pun bisa menunjukkan rasa jenuh pada kehidupan.

Hujan turun semakin deras. Aku tiba di depan ruangan yang kelihatan sepi dari arah luar. Daun pintunya menganga lebar. Melangkah ke dalam seusai mengetuk pintu dan disambut oleh seorang dokter yang telah membuat janji denganku sebelumnya. Dokter Hendrik namanya. Aku sempat berpikir dokter ini sudah berumur dan punya uban di kepalanya. Tapi aku salah. Dokter Hendrik masih kelihatan muda, meskipun aku tidak tahu persis berapa umurnya.

Kami saling bersalaman sebelum menjatuhkan diri di atas sofa. Menanyakan kabar masing-masing seolah-olah hal itu tidak boleh dilewatkan. Aku sudah sering mendengar basa-basi seperti itu dari beberapa dokter sebelumnya. Tidak butuh waktu lama sampai Dokter Hendrik menyerahkan satu lembar kuesioner dipenuhi kolom yang harus aku isi. Menekuninya dengan saksama sambil menyimak satu demi satu pertanyaan yang  mulai dilontarkan cepat.

Barangkali dokter ini termasuk orang multitasking yang sering melakukan dua hal dalam waktu bersamaan.

Aku sudah pernah melakukan VCT setahun sebeleumnya di Bangka. Dan pada waktu itu, hasil tes yang kuterima adalah negatif. Dokter Hendrik kembali meluncurkan aneka pertanyaan seperti; mengapa aku tergerak menjalani tes, apakah belakangan ini sempat terjadi sesuatu yang membahayakan kesehatanku, dan kapan peristiwa itu terjadi. Perutku menegang hebat ketika merangkai sebuah kalimat yang tepat. Tapi beruntung, jawabanku tidak serta-merta membuat dokter pusing kepala.

Begitu sesi wawancara selesai, dokter meminta kuesioner yang telah kuisi dan berpesan sesuatu kepadaku. Dia berkata, sebaiknya aku bergegas menuju laboratorium untuk pengambilan darah. Ada seorang perawatnya yang telah menungguku di sana. Dalam hati aku mengujar, inilah yang kutunggu-tunggu!

Jadi, aku keluar ruangan dan berlari menuju laboratorium. Otakku berputar mengingat petunjuk yang diberikan Dokter Hendrik tadi. Sejumlah anak tangga kulewati. Sekelompok pembesuk menatapku aneh ketuka aku melintas cepat di hadapan mereka.

Setibanya di lantai 2, aku dengan mudah menemukan ruang laboratorium. Dokter Hendrik benar. Ada seorang perawat yang sedang duduk di dalam sana. Aku lupa namanya siapa. Tapi yang pasti, perawat itu mengenakan kerudung hijau muda dan masker yang menutupi separuh wajahnya. Aku mengambil posisi duduk di hadapannya. Dan seakan tahu maksud kedatanganku, perawat itu mengambil sesuatu dari dalam laci meja.

Sebuah suntik yang masih disegel!

Semuanya berlangsung begitu cepat sewaktu aku menyerahkan lengan kiriku. Jemarinya sibuk mencari titik pembuluh darah. Kemudian, dia membuka bungkusan suntik. Tali pengikat sudah dikenakan. Aku menunduk dalam-dalam lantaran ngeri menyaksikan jarum itu menusuk ke dalam kulitku. Perih sejenak, tapi tidak berlangsung lama. Aku hanya terenyuh sewaktu dia membubuhi kapas beralkohol untuk menutupi bekas suntikan.

Seperti ada sesuatu yang ketegangan itu jadi semakin berlipat-lipat.

Kini, suntik yang tergeletak di atas meja itu sudah terisi darahku dan siap dibawa ke laboratorium untuk segera diperiksa.

Aku diminta menunggu di luar.

Harap-harap cemas menanti hasil lab yang akan keluar dalam waktu 30 menit.

***

Tiga puluh menit berlalu dalam keheningan. Berkali-kali aku menengok ke dalam ruang pemeriksaan hanya untuk memastika tes laboratorium sudah ada atau belum. Tapi, ruang kecil yang bersebelahan dengan laboratorium itu masih tampak kosong. Tak ada siapa-siapa yang duduk di belakang meja itu.

Beginilah yang kurasakan setahun lalu. Duduk menanti kabar dari laboratorium sambil mencari cara untuk mengusir kegelisahan. Pada waktu itu, aku mengutak-atik sejumlah games di Tablet-ku demi menghibur diri. Dan kali ini, aku berkutat di hadapan Blackberry Messenger yang menampilkan window percakapan antara aku dan sahabatku, Janna.

Derai hujan di luar sana masih belum berhenti. Mendung terlihat semakin tebal. Aku langsung berpikir bagaimana caranya pulang ke kantor seusai menerima hasil dari pihak laboratorium. Aku bisa singgah di rumah sakit pun karena memanfaatkan jam makan siang.

Tepat ketika aku mendengar denting notifikasi Blackberry Messenger, seorang perawat memanggil namaku dari dalam ruangan itu. Dia hendak menyampaikan sesuatu. Jantungku seperti bunyi gendang yang ditabuh. Kedua telapak tanganku mendadak dibanjiri keringat.

Perawat itu memintaku untuk tetap tenang. Karena setelah mendengar kabar yang dia sampaikan, aku pasti bisa merasa sedikit lega – sekalipun kabar buruk. Dan ternyata, benar saja. Jawabannya serta-merta membuatku terperangah dan tak sanggup meneteskan air mata.

Aku masih dinyatakan NEGATIF!
Itu berarti, aku masih baik-baik saja.

Rasanya seperti diguyur air hujan. Aku bahkan tidak tahu bagaimana mengekspresikan kegembiraanku saat ini. Hanya melonjak kegirangan, tersenyum sumringah, lantas bersalaman dengan si perawat dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa bersyukur kepada doa yang kupanjatkan kepada Tuhan.

Aku berlari menuruni sejumlah anak tangga, menuju ke lantai bawah. Bahagia sekaligus segenap emosi yang meletup-letup membuat langkahku semakin bersemangat. Tak peduli pada petugas kebersihan dan resepsionis yang menatapku heran, aku masih tersenyum gembira. Meninggalkan gedung rumah sakit dan segera melompat ke dalam angkutan umum.

Langit memang sedang bersedih pada hari ini.
Tapi aku percaya, hujan tidak selamanya menyimpan kesedihan.
Hujan akan berhenti, dan berubah menjadi pelangi.
Senin, 27 Januari 2014

Survive - Tentang Penantian Yang Tak Pernah Usai


Lihat aku di sini
Kau lukai hati dan perasaan ini
Tapi, entah mengapa
Aku bisa memberikan maaf padamu...

Kemilau lampu kota di sepanjang jalan Dago tampak begitu menyilaukan mata. Bunyi klakson kendaraan yang memekik dari arah luar seolah-olah ingin membuyarkan lamunan saya. Rama masih bersenandung di radio. Berada di dalam taksi Gemah Ripah ini semakin membuat leher saya serasa tercekik. Bukan karena pendingin udaranya, tapi karena sebuah lagu yang entah bagaimana -- seperti mengirimkan luka.

Arloji Casio di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh. Bandung belum mati. Masih ada kehidupan di saat-saat seperti ini. Tapi sekarang, saya benar-benar merasa sendiri. Keadaan di sekitar saya berubah sunyi.

Terkenang lagi akan tujuan utama saya ke kota ini. Saya sempat berjanji pada diri sendiri, termasuk pada orangtua saya untuk melakukan perubahan. Saya ingin hidup mandiri dan memulai segalanya lebih baik lagi. Teringat pula betapa besar pengorbanan mereka untuk merelakan kepergian saya. Melihat Bunda terisak dan sosok Papa yang tidak sanggup berbuat apa-apa. Mereka menaruh kepercayaan sekaligus harapan yang begitu besar kepada saya.

Pada saat yang sama, mata saya terasa begitu panas. Saya membayangkan betapa tololnya diri saya sewaktu berada di lapangan gasibu beberapa menit yang lalu. Saya duduk di sana sembari memandangi jalan raya yang dipenuhi sejumlah kendaraan yang sibuk berlalu-lalang. Tiga orang pengamen sedang mempersembahkan sebuah lagu dengan suara sumbang. Sedikit pun tidak menghibur.

Saya menengok ke layar ponsel, berharap lampu LED-nya berkelap-kelip dan memunculkan satu pesan dari seseorang. Namun, saya tidak mendapatkan apa-apa di dalam sana. Berkali-kali saya telah men-dial nomor teleponnya, tetap saja tidak ada jawaban. Saya sempat berpikir, mungkin dia sengaja menghindar supaya tidak berjumpa dengan saya.

Tapi, pada saat itu saya hanya diam dan tidak mau menyalahkan siapa pun. Satu hal yang pasti, saya harus menerima kekalahan saya dengan lapang dada. Berusaha meyakini diri sendiri bahwa akan ada hal baik yang terjadi di kemudian hari.

Taksi yang saya tumpangi baru saja melewati Hotel Bukit Dago. Sebentar lagi saya akan sampai di kamar - tempat di mana saya mengistirahatkan badan beserta pikiran. Setelah itu, mungkin saya akan memutuskan untuk pulang ke suatu tempat yang sebenarnya. Satu tempat yang saya sebut rumah..

Sementara itu, tembang Bertahan milik Rama masih terdengar di telinga ketika saya melangkah keluar taksi.

Meski kau terus sakiti aku
Cinta ini akan selalu memaafkan
Dan aku percaya nanti engkau mengerti bila cintaku takkan mati

Kamis, 26 Desember 2013

Sebelum Pergi


Semuanya masih terasa sama ketika seulas kata itu terucap dari mulutku.

Bunda hanya bergeming, sedikit pun tak ingin memberi komentar mengenai kalimat yang kusampaikan barusan. Pandangannya kosong, melesat jauh ke arah pepohonan jambu air di halaman rumahku. Angin di luar sana menyapu beberapa helai rambutnya. Tapi dia tak hiraukan. Dia lebih memilih untuk mengunci bibirnya rapat-rapat sambil menahan air mata.

Sesaat kemudian, aku merasa bersalah. Aku benar-benar berdosa karena telah membuatnya terluka. Bahkan, aku selalu mengecewakannya dengan cara seperti ini. Mengungkapkan sesuatu yang tidak ingin dia dengar, hanya untuk melihatnya menjatuhkan air mata.

Peristiwa seperti ini mengingatkanku lagi pada satu tahun yang lalu. Aku baru saja resign dari pekerjaanku waktu itu. Mengundurkan diri lantaran lelah bekerja di bawah tekanan. Dan setelah itu, aku terpikir untuk pergi, berniat melanjutkan hidup dengan cara yang lebih baik lagi. Aku sudah bertekad meninggalkan kota ini.

Tapi saat itu, aku tak menerima apa-apa selain penolakan. Baik Papa maupun Bunda sama-sama tidak memberi izin. Mereka berpikir, akan lebih baik jika aku tetap tinggal di sini sampai tua nanti. Tidak perlu pergi ke mana-mana kalau memang ingin melanjutkan hidup.

Aku memberontak, menyangkal pendapat Papa dengan sejumlah alasan yang meyakinkan. Aku terus berkelakar mengenai apa yang akan kuterima di sana nanti. Sampai pada akhirnya, Bunda mengambil jalan tengah dan mengakhiri perdebatan di antara kami. Dia menangis. Dan satu-satunya orang yang membuatnya menangis adalah aku.

Bunda memang selalu seperti itu. Dari luar, dia tampak begitu tegar. Tapi dia begitu sensitif untuk urusan yang menyangkut perpisahan. Dia tidak pernah sanggup membiarkan satu pun dari kami pergi meninggalkannya. Pernah waktu itu dia menangis sepanjang malam karena tidak sampai hati melepas kepergian Kakakku ke Yogyakarta. Dia masih dapat tersenyum, meskipun matanya terlihat keruh.

Dan hari ini, semuanya terjadi lagi. Aku kembali membuatnya terluka dengan cara yang sama, dengan tujuan yang sama. Bunda tetap tak mau bicara ataupun memberi keputusan. Sama halnya dengan Papa. Mereka masih bungkam, seolah-olah tak mau memberiku kesempatam untuk bahagia.

Jumat, 13 Desember 2013

Fragile Heart


Setahun yang lalu, segalanya masih belum serumit ini. Aku masih dapat menikmati gejolak perasaan menyenangkan setiap hari, tersenyum di depan cermin seorang diri, bahkan menulis kata-kata indah di setiap halaman buku binder-ku. Semuanya terasa indah pada saat itu.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Lewat cara konvensional di social media - Twitter - aku dan dirinya sering bertutur sapa. Sekadar bersinggungan mengenai twit-twit yang lucu, berperang sajak, bahkan tak jarang kami berbincang di Direct Message. Dan ya, aku amat bahagia dapat berkenalan dengannya. Aku sudah menganggap dirinya sebagai kembaranku sendiri.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tak terasa kami berjumpa dengan bulan April. Ketika itulah segalanya mulai berubah secara perlahan. Aku mulai sering mengiriminya ucapan selamat pagi, mengucapkan selamat tidur sebelum kami bermimpi, dan tentu - aku sering menuliskannya puisi. Aku bahkan tak ragu-ragu meminta nomor ponselnya pada waktu itu.

Bertukar nomor ponsel seolah menjadi jembatan bagi kami berdua. Kami sering terjebak dalam pesan singkat yang berisi lelucon konyol dan ledekan garing. Aku juga kerap mengabarkannya setiap kali aku menulis. Entah mengapa aku mau melakukannya, aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu, setiap kali berbicara dengannya, darahku berdesir hangat seolah dialiri gelombang semangat tak tanpa batas. Dan aku amat menikmatinya.

Tapi sayangnya, waktu bergulir begitu cepat bagai desingan peluru. Semakin banyak biaya yang kami habiskan untuk percakapan di dunia maya, semakin besar pula bahagia itu tercipta. Dan secara tidak langsung, aku tersadar bahwa aku telah jatuh cinta. Lebih tepatnya, aku telanjur suka. Teramat suka pada sosoknya yang menyenangkan, yang tenang, yang selalu membuatku kangen setiap waktu.

Aku menikmati setiap bulir kebahagiaan itu mengisi kepalaku sepanjang hari. Dan selagi aku terjebak dalam lembah yang dipenuhi warna-warni cinta, aku juga sering dihujani rasa cemburu yang tak beralasan. Aku sering menangis karena rindu terhadap dirinya yang sering menghilang. Bahkan, aku pernah merasakan hal-hal seperti itu selama berbulan-bulan sampai aku tak dapat lagi berpikir secara normal. Akal sehatku seolah-olah mendadak lumpuh.

Hingga pada hari ini, sesuatu yang tak pernah kuharapkan benar-benar terjadi.

Aku tidak tahu apa penyebab sebenarnya. Karena sejak dua hari kemarin, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Aku masih menjalin komunikasi dengannya via pesan singkat. Mengiriminya puisi dan bercakap-cakap barang sejenak. Tapi entah kenapa, sewaktu aku hendak membuka akun Twitter-ku, aku melihat satu keganjilan yang membuatku berpikir; ada yang tidak beres dengan jumlah followers-ku.

Aku tahu, ini masalah yang sepele dan sangat wajar. Namun yang tak kumengerti adalah, seseorang yang tidak berada di sana adalah namanya. Selama sejenak, perutku terasa mulas selagi jantungku berdegup kencang. Kepalaku mulai dihujani sejumlah tanda tanya dan spekulasi burukmyang tak kuketahui dari mana datangnya.

Meraih ponselku, dan mencoba menghubunginya. Sekadar bertanya mengenai alasan atau penjelasan singkat sehingga dia melakukan hal seperti itu. Setelah cukup lama menunggu, dia pun menanggapinya dengan satu kalimat yang berisi kata 'maaf'. Aku tidak mengerti kenapa dia harus minta maaf. Karena bagiku, followers are just a number. Aku bahkan tidak peduli seberapa banyak jumlah followers di akun Twitter-ku.

Sampai pada akhirnya, dia menjelaskan alasannya serinci mungkin. Ada sesuatu yang membuatnya harus menjauh, haris menjaga jarak dariku. Dan langkah kecil itu tentu saja dimulai dari social media. Aku berpikir, kenapa sih harus ada drama follow-unfollow-block-unblock di social media? Kenapa??? Itu semua terlalu kekanak-kanakkan!

Dia juga berkata padaku tentang sesuatu yang sulit sekali untuk kuterima. Maksudku, aku sudah berjanji untuk memaklumi apa pun alasannya. Tapi apa yang dia ucapkan begitu -- begitu ganjil dan tidak masuk akal. Aku tidak mengerti. Yang pasti, pada saat itu aku mengungkapkan apa yang telah kusimpan selama ini terhadapnya. Biar saja! Biar dia menyadari semuanya.

Tapi kemudian, tampaknya aku harus menelan kecewa. Semua upayaku tak membawa perubahan. Dia lebih memilih untuk pergi, sementara aku tidak berhak untuk menahannya. Karena akan lebih sakit jika kubiarkan dia bertahan lebih lama. Jadi, mau tidak mau aku mengikhlaskan pilihannya.

Aku sadar, semua orang memang berhak memilih siapa yang hendak dia jadikan sebagai sahabat ataupun teman hidup. Seperti apa pun keputusannya, tidak seorang pun yang pantas untuk melarang.

Saat menulis kisah ini, aku memang merasakan sakit hati yang teramat dalam. Kecewa sekaligus bercampur putus asa. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menanam benci, sekalipun dia berkata bahwa aku pantas untuk membencinya. Aku tidak mau. Kebencian tidak akan membuahkan apa pun selain kebencian itu sendiri.

Dan jika suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih tetap sama. Sedikit pun tak akan pernah lupa pada seluruh masa lalu kita - meskipun kini ia telah berakhir.

*teruntuk inisial H.A

Kamis, 05 Desember 2013

Reason


Pada suatu hari, aku sangat berharap keajaiban itu dapat terjadi. Di mana kamu menyapaku dengan penuh semangat, lalu meyakinkanku bahwa kamu rindu. Aku pun selalu berharap kamu mengungkapkan satu hal yang lucu. Kamu akan bilang, komunikasi kita terganggu karena sesuatu yang sangat sepele. Beberapa di antaranya karena kesibukanmu yang menumpuk, tidak tersedianya waktu untuk menengok ponsel, atau barangkali kartu prabayarmu belum di-top up. Setidaknya alasan-alasan seperti itu masih dapat kumaklumi.

Tapi, apa pun alasan yang akan kudengar pada suatu hari nanti, aku akan tetap memercayainya. Percayalah...

Jumat, 22 November 2013

The Test


Hari itu, matahari seakan-akan berada di atas kepala. Hawa panas yang bercampur dengan pengap asap kendaraan semakin membuatku merasa gerah. Jalan Jenderal Sudirman selalu seperti ini di siang hari. Aneka kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi setiap ruas jalan.

Aku berangkat dari rumah pukul sembilan pagi. Sengaja minta diantar oleh Dad dengan alasan ingin menjenguk temanku yang sedang dirawat di rumah sakit. Padahal, kalau saja Dad tahu, aku punya tujuan yang lebih penting daripada itu.

Semuanya berawal ketika aku membaca beberapa artikel di internet mengenai gejala pengidap HIV-AIDS. Aku sama sekali tidak berniat untuk mencari tahu tentang hal itu sebelumnya. Tapi berhubung aku ingin menulis cerita terbaru yang ada kaitannya dengan penyakit itu, aku pun mulai mengumpulkan informasi lewat mesin pencaharian; google.

Singkat cerita, ketika aku tersadar betapa pentingnya pemeriksaan HIV-AIDS, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengunjungi rumah sakit terdekat. Sedikit pun tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika aku mengetahui hasilnya tidak sesuai seperti yang kuharapkan. Tapi, we never know until we try. Selalu begitu, kan?

Menjejakkan kaki di sepanjang koridor rumah sakit, aroma obat-obatan dan cairan kimia mulai memenuhi penciumanku. Setiap sudut ruangan yang dikerumuni para pembesuk terlihat begitu mencekam. Hanya dingin, selalu diselimuti kesedihan. Kehadiran pohon ketapang yang tumbuh di tengah-tengah taman pun tidak menghantar suasana nyaman. Seolah-olah ada pesan kematian yang akan muncul di setiap waktu.

Sesampainya aku di Poli Melati, sepi itu menyambutku kembali. Aku tidak melihat kehadiran satu orang pun selain suster yang sibuk berlalu-lalang dan para pengunjung dengan muka masam. Tidak tampak senyum bahagia di wajah mereka. Kalaupun ada, mungkin senyum itu hanya terpancar dari anak kecil yang sedang bersama mereka. Betapa pun bocah itu tidak mengerti tentang apa-apa.

Cukup lama aku duduk seorang diri di Poli Melati. Dokter yang memiliki janji denganku tak kunjung muncul. Dan untuk mengisi kejenuhan yang meruap di dalam ruangan itu, aku tidak punya pilihan selain mengutak-atik gadget kesayanganku. Subway Surfer, Temple Run 2, Angry Birds Season selalu dimain secara bergantian. Sesekali, kala aku merasa bosan dengan permainan-permainan itu, aku beranjak dari duduk dan melihat-lihat isi lemari. Sejumlah obat - pil dan kapsul - terpajang rapi beserta catatannya, satu set suntik yang masih disegel, alat kontrasepsi untuk wanita dan pria, brosur-brosur penyuluhan, dan masih banyak lagi benda-benda yang tidak kuketahui apa fungsinya.

Aku sedang mengintip keluar jendela saat mendengar pintu berderit dan menyaksikan seorang wanita berkerudung biru tersenyum kepadaku. Bu Vivi namanya. Tadinya aku berpikir, dia adalah seorang perawat yang biasa keluar-masuk di Poli itu. Ternyata perkiraanku salah. Bu Vivilah yang akan mewawancaraiku sesaat lagi. Bukan dokter Fauzan Muhammad, seperti yang kubayangkan.

Bersamaan dengan hal itu, Bu Vivi lekas mempersilakan duduk di sofa. Aku sempat merasa takut selama beberapa saat. Terlebih ketika aku harus memaparkan sejumlah pengakuan kepada orang yang belum pernah kukenal sebelumnya. Tapi, Bu Vibi berpesan agar aku terbuka saja. Segala yang kututurkan akan tetap menjadi rahasia di antara kami berdua. Dan aku percaya.

Sesi tanya jawab itu terlewati dengan sempurna. Aku selalu menjawab dengan baik setiap pertanyaan yang dia ajukan. Tidak ada rasa takut sedikit pun untuk membeberkan segala fakta yang berkaitan dengan masa laluku. Bahkan, Bu Vivi mendengarkannya dengan saksama, lalu memberikan pengarahan dan nasihat yang tidak terkesan menggurui.

Begitu sesi tanya jawab itu berakhir, Bu Vivi beranjak berdiri dan langsung menuju lemari yang terletak di sudut ruangan itu. Sebuah suntik kini berada di genggamannya. Aku sudah tahu, pasti dia akan segera mengambil darahku untuk dilakukan pemeriksaan. Oleh karena itulah, aku memohon padanya untuk menggunakan cara alternatif seperti tes melalui air liur atau cara apa pun asalkan tidak disuntik. Terus terang, aku bukan penyuka jarum suntik!
Sembari menggelengkan kepalanya, dia berkata padaku bahwa cuma itu satu-satunya cara yang paling akurat. Karena darah yang diambil, akan diperiksa melalui tiga tahap di laboratorium rumah sakit. Mau tidak mau, aku pun mengiyakan penuturannya.

Aku lebih banyak diam selama proses pengambilan darah berlangsung. Sedikit pun tidak berkehendak menatap jarum suntik sialan itu menghunus ke dalam kulitku sampai ia benar-benar mengisap sepersekian mili darahku ke dalam tabungnya. Benar-benar cara yang kejam! Dan sesaat sebelum Bu Vivi benar-benar pergi ke laboratorium, dia menutupi lipatan lengan kiriku dengan sebuah kapas yang telah dibasahi dengan cairan alkohol. Kemudian berpesan bahwa dia akan kembali menemuiku sesaat lagi.

Lima belas menit telah berlalu. Kebosanan tak henti-hentinya menghinggapi isi kepalaku. Tak hanya itu, suasana di dalam ruangan pun seketika berubah mencekam. Aku takut saat Bu Vivi muncul di hadapanku, dia memberitahukan sebuah kabar yang tidak ingin kudengar. Semua ketakutan itu semakin bertambah parah ketika aku teringat nama-nama orang yang tercantum di daftar Follow Up Pasien, di mana beberapa di antara mereka ada yang telah meninggal dunia dalam waktu dua minggu terakhir. Tapi, aku berusaha mengenyahkan pikiran buruk itu sejauh mungkin. Aku terus menenangkan pikiranku dengan membaca ayat Al-Ikhlas sebanyak 10 kali dan berdoa agar aku diberikan kekuatan yang cukup.

Selang beberapa menit, pintu kaca itu kembali berderik. Bu Vivi benar-benar menepati janjinya untuk kembali. Dia duduk di hadapanku dengan wajah yang sulit sekali untuk ditebak. Bertanya dengan lirih apakah bekas suntiknya sudah hilang? Dan pertanyaan itu hanya mampu kujawab dengan sebuah anggukan. Rasanya aku hilang kemampuan untuk bicara sebelum mendengar keputusan akhir dari Bu Vivi.

Seakan mengerti dengan keadaanku yang sedang harap-harap cemas, saat itu juga Bu Vivi menyampaikan sesuatu yang mengejutkan. Tidak ditemukan virus berbahaya jenis apa pun di dalam darahku. Kondisi CD4-ku pun tidak mengalami penurunan. Itu berarti, aku dinyatakan HIV Negatif!

Entah apa yang terjadi pada diriku pada saat itu, aku tidak tahu persis. Yang pasti, aku tidak mampu berbicara banyak. Ingin sekali rasanya aku berteriak, menangis, tertawa, bahkan sujud di hadapan Bu Vivi pada detik itu juga. Tapi aku tahu, itu hal yang berlebihan. Dan satu-satunya hal yang  dapat kulakukan saat itu adalah berterima kasih sebesar-besarnya. Kepada Tuhan, kepada Bu Vivi, kepada jarum suntik, kepada lemari, kepada rerumputan di tamah rumah sakit, kepada pohon ketapang yang mengirim aroma mistik, aku berterima kasih. Segala yang kuterima pada hari itu tidak dapat terbayarkan dengan materi jenis apa pun. Dan saat itu pula, aku berjanji untuk menjaga diriku dari perbuatan-perbuatan hina seperti yang pernah kulakukan di waktu dulu.

Wednesday, 20 November 2013

Jumat, 25 Oktober 2013

Why I Don't Wanna Be an Employee


Siang itu, orangtua saya kedatangan seorang tamu dari jauh. Saya tidak tahu siapa orang itu. Yang saya tahu, mereka terus berbincang-bincang di ruang tamu. Dimulai dari menanyakan kabar satu sama lain, bagaimana kondisi anak-anak, sampai yang menyangkut kehidupan pribadi anak-cucu masing-masing. Saya sendiri sempat mendengar dia menanyakan bagaimana kabar saya. Dan orangtua saya hanya bilang kalau saya jobless dan nggak punya kesibukan apa-apa.

Sontak saya terenyuh. Terkejut sekaligus tidak mengerti bagaimana kalimat itu bisa meluncur dari mulut kedua orangtua saya.

Di dalam kamar, saya masih terdiam. Saya duduk termenung di hadapan laptop yang menampilkan revisi naskah saya sambil merenungi kalimat barusan. Mata saya terasa memanas. Saya pengin menitikkan air mata. Tapi saya tidak mau menunjukkan kesedihan. Saya sudah berjanji untuk tidak menangisi hal-hal yang terdengar sepele.

Namun, saya masih nggak pernah mengerti mengapa orang-orang selalu menganggap sebuah pekerjaan adalah keharusan. Sesuatu yang dinilai komersil dan memiliki nilai jual. Mereka bilang, nggak punya pekerjaan nggak akan bisa hidup. Jujur, saya sendiri pernah berpikir demikian. Tapi itu dulu banget. Saat saya masih memiliki ambisi untuk meneruskan hidup dengan cara yang normal.

Tapi kenyataannya, saya hidup di dunia yang tidak normal. And I’m not normal actually...

Sejauh ini saya justru merasa nyaman dengan kesibukan saya sebagai seorang tenaga pengajar lepas dan seorang penulis – sekalipun itu belum mendapat pengakuan secara luas. Tapi, apakah sebuah pengakuan menjadi nilai tolak ukur yang mutlak? Dan, apakah uang menjadi satu-satunya simbol bahwa orang tersebut memiliki pekerjaan?

Saya tekankan sekali lagi bahwa itu tidak benar. Saya sendiri tidak beranggapan demikian. Bagi saya, pekerjaan adalah sesuatu yang harus dikerjakan berdasarkan sebuah tuntutan. Sementara, profesi adalah sesuatu yang telah dipilih oleh seseorang dengan alasan kecintaan dan keikhlasan. Begitu pula anggapan saya terhadap kesibukan yang saya tekuni sampai pada saat ini. Terus terang, uang adalah urusan yang kesekian. Yang terpenting adalah selama saya cinta terhadap apa yang lakukan, itulah profesi saya yang sesungguhnya.

Saya sudah pernah merasa hidup di bawah tekanan sebuah institusi yang mengharuskan saya bangun pukul tujuh pagi, bersiap-siap kerja dari jam sembilan sampai pukul sepuluh. Dua belas jam dalam sehari, tujuh puluh dua jam dalam seminggu. Terkadang lembur saat akhir pekan. Bayangkan  ketika saya melakukan aktivitas yang hanya itu-itu saja di dalam lingkaran yang teramat membosankan. Sedikit membuat kekeliruan, surat peringatan pun melayang. Begitu menjenuhkan hingga akhirnya saya mengambil keputusan untuk resign dan kembali untuk menulis.

Di pekerjaan saya yang sekarang, memang masih ada sistem yang seperti saya bilang barusan. Bangun pagi, mandi, mengajar dari jam sekian sampai jam sekian, menulis dari jam sekian sampai jam sekian. Tapi terus terang, siklus tersebut diciptakan oleh saya sendiri. Andaipun saya melanggarnya, saya harus menerima konsekuensi dari saya pribadi. Bukan dari orang lain.

Dan saya merasa nyaman dengan aktivitas tersebut.

Yang saya tidak habis pikir, entah kenapa kalimat seperti itu tercetus dari mulut orangtua saya? Saya pernah berangan-angan, suatu hari nanti mereka bersedua menuturkan sesuatu di hadapan teman-temannya bahwa saya seorang penulis, dengan bangganya pula menyatakan bahwa saya tidak bekerja pada suatu perusahaan ternama yang memberi saya upah per bulan. 

Saya pun sangat berharap orang-orang dapat memahami maksud dan tujuan kehidupan saya. Saya sengaja berkarya karena ingin berbagi, bukan untuk mencari uang. Dan saya senang dengan apa yang saya lakukan sekarang.