Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label you. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label you. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Februari 2015

Pertemuan Pertama (Perkara Senja Di Kota Bandung)

“Alungkeun ka dieu atuh, Bray!”

Lengkingan suara yang cukup nyaring itu membuatku spontan menoleh ke belakang.  Menyaksikan seorang anak kecil berambut cepak yang tengah menanti kehadiran bola dari temannya. Benda bundar berwarna putih itu melambung cukup tinggi sampai akhirnya mendarat dengan selamat. Dia berlari ke sana kemari hanya untuk mencetak gol di gawang lawan.

“Goooool!!!!” Bocah lelaki yang mengenakan kaus Madrid itu berteriak kegirangan selagi tangannya teracung di udara. Ketiga anak yang satu tim dengannya ikut merayakan kemenangan.

Aku jadi teringat seseorang yang pernah berkata bahwa bahagia itu sangat sederhana. Kau tidak perlu keliling dunia kalau ada hal kecil di sekitarmu yang bisa membuatmu tersenyum.

Angin berembus pelan meniup wajahku. Arloji yang melilit di pergelangan tanganku menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Hari sudah semakin petang, dan tempat ini masih terlihat ramai. Sebagian orang ada yang tengah duduk di tangga Monumen Perjuangan, sebagian lagi lebih memilih jogging di area taman.

Seekor anjing Golden Retriever melintas di depanku bersama pemiliknya. Mereka singgah di salah satu sudut yang ditumbuhi kembang sepatu berwarna-warni. Kilau matahari sore menyeruak di antara celah-celah pelepah pohon pinang. Aku lekas menenggelamkan buku The Street Lawyer ke dalam ransel dan beranjak bangkit dari kursi besi yang kududuki. Sepasang kakiku mulai melangkah menuju pintu keluar.

Di seberang sana Lapangan Gasibu. Namun jalanan tampak padat oleh sejumlah kendaraan yang sibuk berlalu lalang. Jam-jam seperti ini adalah jam di mana bunyi klakson saling beradu dengan caci maki para pengguna lainnya. 

Aku tidak pernah mahir dalam urusan menyeberang jalan. Keramaian dan lalu lintas yang rumit selalu membuat ketakutanku semakin parah. Dan sewaktu aku hinggap di sebuah pembatas jalan yang memisah dua ruas jalan, satu pesan baru muncul di layar ponselku.

Kamu di mana? Aku udah d Lapangan Gasibu.

Dadaku seakan bergemuruh. Aku mendadak diserang rasa takut dan bahagia secara bersamaan. Dan selama beberapa saat, aku masih berdiri di sana mengamati lalu lintas.

***

Kami pertama kali berkenalan di sebuah komunitas menulis online. Setiap anggota diberi akses untuk mengunggah tulisan mereka, memberi komentar pada post anggota yang lain, sekaligus menambah teman ke dalam friendlist.

Itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu.

Aku lupa tanggal berapa tepatnya. Tapi seingatku, itu adalah pertengahan bulan Juni. Aku baru saja mengunggah tulisanku yang berjudul City Of Tears. Cerpen itu bercerita tentang seorang perempuan yang berjuang mencari cinta sejatinya di kota Paris, namun berakhir dengan air mata. Terdengar tragis memang.

Komentar pertama datang dari seorang pemilik akun yang tak kukenal sebelumnya. Dia terpukau oleh alur ceritaku yang unpredictable. Dia juga mengaku bahwa tulisanku tidak melankolis sama sekali, meskipun kisahnya sangat menyentuh.

Orang itu bernama Awan, mahasiswa tingkat pertama di sebuah Universitas Islam di Bandung. Awalnya aku menduga dia satu tahun di atasku, atau barangkali kami seumuran. Tapi justru dia lebih muda setahun.

Aku dan Awan menjaga komunikasi lewat Yahoo Messenger dan e-mail. Sekadar bercerita mengenai sajak yang sedang ditulisnya, saling berbagi ide dan advice satu sama lain, bahkan tak jarang dia memberiku semangat untuk lekas menuntaskan naskah novelku. Semua itu terus berjalan sampai suatu ketika –  Awan menuliskan nomor ponselnya di sebuah surel tanpa subjek.

Setiap sajak yang dia tulis kukagumi dengan caraku sendiri.Tulisannya begitu sederhana, namun sanggup membuat orang jatuh cinta. Itulah yang terjadi padaku saat membaca sajaknya yang diberi judul ‘Ruang’. Pada salah salah satu bait, ada kalimat yang berbunyi; aku lebih suka waktu berjalan apa adanya. Tidak begitu cepat seperti saat aku dengannya, tidak juga terlalu lambat ketika aku tak bersamanya.
Tanpa pernah aku sadari, waktu telah mengubah kekaguman itu menjadi rasa suka yang tak biasa.

***

Kalau ketemu orang pake jaket jins bawa ransel hijau tua, tegur aja.

Pesan itu telah terkirim sejak aku tiba di Lapangan Gasibu. Mengedarkan pandangan ke sekitar sambil menempelkan ponsel di telingaku. Nomornya mendadak tidak aktif, sementarakakiku terus terayun di atas halaman ber­-paving. Sesekali menoleh ke sana kemari hanya untuk memastikan dia benar-benar berada di sini.

“Rayna!”

Terdengar seseorang memanggil namaku dari arah belakang. Sebuah suara yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Aku praktis membalikkan badan. Mematung sejenak saat aku berhasil menemukan si pemilik suara itu.
Dia benar-benar berada di sana. Duduk seorang diri di atas bangku semen. Kemeja cokelat membungkus tubuh tegapnya. Tersenyum ke arahku seakan-akan memanggilku untuk segera mendekat.

Aku menuju bangku itu dengan perasaan tak keruan. Mengambil posisi duduk di sebelahnya sambil mengulurkan jabat tangan. Dan sewaktu kulit kami bersentuhan, aku dapat merasakan rasa geli dan sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhku.

“Kamu kebingungan banget tadi,” gumamnya tiba-tiba.

“Aku nggak tahu kalau kamu duduk di sini. Padahal tadinya aku mau jalan sampai ke ujung,” ujarku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Dia melepaskan derai tawa di udara. Tawa yang begitu renyah sehingga aku terpikir untuk mengabadikannya dengan kamera.

Usai tawa itu, suasana di sekitar kami berubah canggung. Aku terpikir untuk membuka satu percakapan, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.

Kudengar dia bertanya, “Kemarin lancar ketemu sama editor-nya?”

Aku menganggukkan kepala dan bercerita mengenai perjalananku dari mulai duduk di dalam gerbong KRL menuju Stasiun Lenteng Agung, sampai keluar dari kantor penerbit.

“Editor-nya bahkan kasih tantangan tiga puluh hari menulis. Kami udah brainstorming kemarin,” ulasku bersemangat. “Aku ambil setting tempatnya di Bangka dan harus riset tentang suku-suku apa aja yang ada di sana.”

“Kamu asli sana, harusnya itu nggak bakal bikin kamu kesulitan.” Dia menatapku lekat-lekat. Sepasang bola mata berwarna cokelat cerah itu seakan mengajakku tenggelam ke dasar sana.

Teringat pada sesuatu yang hendak kusampaikan padanya. “Aku dapat tawaran kerja di Bali, di bagian pemasaran hotel. Katanya sih hotel itu baru beroperasi setahun. Jadi butuh tenaga kerja yang bisa dipercaya.”

“Pemasaran?” Kedua alis tebalnya mengerut. “Menyimpang banget dari passion kamu, Ray.”

“Aku tahu. Makanya aku belum berani mengiyakan tawaran itu,” ujarku terus terang. “Kamu tahu sendiri, Bali berbeda dengan Jakarta. Budayanya cenderung kebarat-baratan.” Klub malam, bisnis prostitusi yang tersembunyi, ancaman para teroris; sepertinya semua alasan itu terasa cukup bagiku untuk tidak berkarier di Bali.
  
“Apa pun yang pilihan yang kamu ambil, aku selalu dukung yang terbaik untuk kamu.”

“Terima kasih, Awan.”

Kepalaku tertunduk dalam, menyadari bahwa dia tidak perlu mengucapkan hal itu kepadaku. Karena pada akhirnya, semua itu tak berarti apa-apa. Kebaikan yang dia miliki sudah tercurah sepenuhnya untuk orang lain.

Dan orang lain itu bukan aku.

Aku sudah tahu begitu banyak tanpa harus mendengar kisah apa pun dari dia. Semua sajak yang dia tulis selalu dipersembahkan untuk orang yang mencintainya sejak lama. Seseorang yang sudi berkorban untuk dia dalam kondisi tersulit sekalipun.

Keheningan yang menggantung di antara kami seketika buyar saat kudengar ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari seseorang.

Awan memandang layar ponselnya tanpa berkedip. Isi pesan itu berhasil menyedot hampir seluruh perhatiannya. Namun, dia tak menunjukkan tanda-tanda untuk mengirim sebuah pesan balasan. 

Ragu-ragu aku bertanya, “Siapa, Wan?”

“Linda,” ujarnya lirih. “Aku harus pulang sekarang, Ray.”

Seharusnya aku tidak perlu bertanya sesuatu yang terdengar bodoh seperti pertanyaanku barusan.
Seharusnya aku sudah tahu dari awal, pengirim pesan itu adalah kekasihnya. Seorang pacar akan senantiasa membuat ponsel kita berdering 24 jam dalam sehari – 7 kali dalam seminggu.

Aku mendongakkan kepala sewaktu dia mulai beranjak dari duduknya. Menyampirkan ranselnya di bahu tanpa mau melirikku sedikit pun.

“Aku pulang, ya.”

“Hati-hati,” balasku dengan suara bergetar.

Awan perlahan melangkahkan kakinya. Punggungnya semakin terlihat menjauh. Menaiki sejumlah anak tangga dan menghampiri seseorang yang sedang menantinya di bibir jalan.

Seseorang yang menjadi tempatnya untuk berpulang.

Langit kota Bandung satu jam lebih gelap. Warna jingga tumpah di sepanjang cakrawala. Senja kini semakin tua. Kekagumanku terhadap dirinya pun terasa sia-sia.

***

Dear Awan...
You – you alone will have the stars as no one else has them
In one of the stars I shall be living
In one of them I shall be laughing
And so it will be as if all the stars were laughing, when you look at the sky at the night
You – only you – will have stars that can laugh.

Sincerely, Rayna
Rabu, 06 Agustus 2014

Last Night

“Menurut kamu, nanti kita bakal ketemu lagi nggak, sih?”

Pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja ketika kami saling bertatapan dalam waktu yang lama. Benar saja. Aku menganggap kalimat itu sebagai pertanyaan bodoh karena aku tidak terlalu yakin dengan apa yang kuucapkan. Tidak terlalu yakin juga apakah dia memahami maksud dari pertanyaanku.

Malam semakin larut ketika nyanyian jangkrik di luar sana terdengar mengganggu telinga. Jarum jam yang berada di angka dua belas seolah-olah mengingatkan kami bahwa tanggal telah berganti. Tapi kami tak sedikit pun hendak memejamkan mata dan lekas tersesat di alam mimpi. Masih ingin seperti ini – saling merengkuh satu sama lain di bawah selimut – untuk waktu yang cukup lama.

“Aku boleh tahu alasan kenapa kamu masih mau ketemu aku?” Dia memandangku dengan satu alis terangkat. “Kamu sama sekali nggak nyesel kenal sama orang kayak aku, gitu?”

Aku menggeleng yakin. “Karena kamu orang yang menyenangkan. Dan terus terang, aku ngerasa nyaman sama kamu.” Aku sadar, sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menjadi orang verbal. Aku selalu gagal menyampaikan jawaban kepada seseorang dengan kalimat yang cukup tepat.

Dia menarik selimut hingga menutupi dadanya dan menatapku lekat-lekat. Bibirnya terkunci rapat selagi aku merasakan jemarinya di setiap riak rambutku. Membelai lembut kepalaku sambil tersenyum saat aku mengernyit heran ke arahnya.

“Kenapa?”

“Kamu lucu,” ucapnya seakan-akan sedang berhadapan dengan pendongeng favoritnya.

“Nyebelin!” cibirku sembari mencubit hidungnya.

Satu hal yang aku tahu selanjutnya, dia mengenyahkan diri dari selimut dan mengambil posisi di atasku. Mengusap pipiku sebelum kedua bibir kami saling berpagutan dalam irama pelan. Aku dapat merasakan sensasi hangat yang menjalar di sepanjang aliran darahku, mendesakku untuk tidak berhenti melumat bibirnya, menggerilya lidahnya dengan satu gigitan kecil.

Tepat ketika tangannya berada di dadaku, memoriku mendadak terlempar pada satu masa di mana semua ini berawal.

Aku sedang mengunjungi sebuah situs pertemanan yang berinisial J ketika sebuah pesan baru masuk di inbox-ku. Sebuah pesan dari seseorang tak dikenal. Awalnya aku tidak berminat memeriksa apalagi menanggapi pesan itu. Tapi sewaktu aku mengetahui ada ketulusan yang tersirat pada sapaannya, aku jadi tergerak untuk mengetik pesan balasan. Kami sepakat untuk bertukar foto di kesempatan selanjutnya. Saling bertukar cerita sampai kami memutuskan agar percakapan kami dilanjutkan di messenger yang lebih serius.

Aku berinisiatif menyapanya di Whatsapp lebih dulu. Mengajaknya bercakap-cakap tentang hal-hal kecil seperti; apa kesibukannya, tinggal di mana, dan berbagai topik wajar lainnya. Kemudian, aku merasakan ada satu dorongan yang berasal nuraniku untuk merencanakan sebuah pertemuan. Dan aku sempat tak percaya saat dia menyetujui ajakanku, meskipun aku sadar akan satu hal; entah kapan dan di mana pertemuan itu akan berlangsung.

Dia hanya berpesan, just let me know if you’re ready enough to meet me.

Dan selanjutnya, peristiwa itu benar-benar terjadi.

Selasa siang, pukul dua lebih tiga puluh lima menit, aku berlari keluar dari gedung Nav Karaoke dan segera menuju tempat yang dia maksud. Ragu-ragu aku berjalan mendekati seseorang dengan sweter putih yang tengah menilik gadget di atas motor besarnya. Dia yang pertama kali menyapa dan mengulurkan jabat tangan perkenalan itu. Untuk sejenak aku sempat merasakan ada sesuatu aneh yang muncul saat telapak tangan kami saling bersentuhan.
Sesuatu yang membuatku terenyuh dan ingin menikmatinya lagi dan lagi.

Dan aku tidak sedikit pun menghiraukannya.

Kami tetap berbincang beberapa patah kata sebelum akhirnya dia memilih untuk pergi sejenak lantaran ada urusan yang harus dia selesaikan. Itu saja yang terjadi pada pertemuan singkat kami.

Satu hal yang masih dan akan terus kuingat adalah ketika kami bertemu di kesempatan selanjutnya. Pertemuan itu berlangsung di hari yang sama, namun di jam yang berbeda. Aku baru saja bertolak dari rumah temanku yang jaraknya tidak terlalu jauh jika dijangkau dengan berjalan kaki.  Sekitar pukul setengah sepuluh, dia hadir dengan sebuah kendaraan yang terlihat berbeda dengan tadi sore. Di atas skuter matic yang dikendarainya, dia membuat pengakuan bahwa kondisi kesehatannya tidak terlalu baik. Terbatuk-batuk di tengah pembicaraan kami yang membaur dengan angin malam.

Aku mungkin tidak mengerti bagaimana caranya agar dia merasa lebih baik. Tapi aku tidak ingin tinggal diam. Segera melingkarkan lenganku di pinggangnya, dan sesekali mengusap dadanya jika batuk itu kumat kembali. Hanya itu yang bisa kulakukan.

“Babe...” panggilnya lirih. Terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan, “Kamu udah ngantuk?”

No. My mind was filled with your memory. And I dont know why i cant stop thinking about it, even just for a while. I guess, I have fell in love with someone – someone with his bright eyes, his dark skin, his tall body, and for every single thing he got. And the only one I think about is you, Baby.

That’s you...

“Kamu mau tidur?” aku balik bertanya sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

“Aku bakal tidur kalau kamu juga tidur.” Begitu katanya.

My heartbeat suddenly quickened. I dont know. It was soft and seductive. I remembered seeing him in blue sweater on his motorcycle and he smiled at me. Then my world was stop spinning. I could feel the warmth coming off from him and could smell his perfume and sweet like a wine.

And i wondered if he could hear my heart beating so fast.

Aku menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan. Setuju bahwa inilah saat yang tepat untuk segera beristirahat dan pergi ke alam mimpi. Barangkali kami diberi kesempatan untuk berada bersama di sana juga?

Dia mengambil posisi tidur yang benar, lalu memberi tempat bagiku untuk berbaring di sebelahnya. Menarik kembali selimut yang melesak jauh dari kasur sembari berkata, “Kamu tahu, aku yakin kita pasti bakal ketemu lagi.”

Aku dapat merasakan sebuah ketulusan di dalam kalimatnya. Dan aku sepenuhnya percaya.

Sebelum kami benar-benar memejamkan mata, dia sempat menghujaniku dengan kecupan di kening, kemudian membimbingku ke dalam pelukannya.

Selasa, 20 Mei 2014

Pertemuan Kedua (Selamat Ulang Tahun)

"
"Nah, orang-orang seperti mereka tuh disebut Jamaah Tabligh. Mereka merantau dari rumah, singgah dari mesjid ke mesjid untuk menyebar agama Islam." Tatapannya terarah pada segerombol manusia yang mengenakan baju koko dan peci di kepalanya. Orang-orang itu tampak sedang bercengkerama satu sama lain di teras mesjid Alun-Alun. Saling bersalaman ketika satu atau dua di antara mereka hendak beranjak pergi.

Aku bertanya sembari mengunyah baso tahu di dalam mulutku. "Kira-kira, berapa lama mereka pergi dari rumah?"

"Tergantung. Ada yang cuma beberapa hari, ada yang satu minggu, ada juga yang sampai satu bulan."

"Oh gitu?" tanggapku polos, sama sekali tidak pernah mendengar tentang hal itu sebelumnya. Menyadari tidak punya alasan untuk memungkiri segala pengetahuan dan kecerdasan yang dia miliki.

Dia menyeruput habis es kelapa muda di hadapannya, kemudian berkata, "Kayaknya sebentar lagi bakal turun hujan deh."
Aku menatap ke arah luar, gerimis mulai turun perlahan. Beberapa pedagang keliling yang sejak tadi hilir mudik di lapangan alun-alun pun sudah melipir ke bawah tenda abu-abu.
"Abis ini kita mau ke mana lagi?" Dia bertanya penuh semangat.
"Gimana kalau ke Braga?" ucapku spontan.
"Mau ngapain?"
"Nggak tau. Kita jalan aja, cari sesuatu yang menarik. Apa pun bentuknya..."
Suasana berubah hening. Yang terdengar hanyalah deru bising kendaraan di jalan raya dan suara para pedagang yang sibuk bergosip ria.
Sementara itu, aku masih menunggu sebuah jawaban.

***

Dia masih berada di sebelahku. Mengayunkan kedua kaki rampingnya dengan langkah yang amat tegas, namun tetap terkesan santai. Pandangannya masih lurus tertuju ke depan. Tak sedetik pun bersedia menengok atau melirik ke sekelilingnya.

Aku berusaha menyamakan kecepatan langkahku dengan langkahnya. Dalam hati berbisik, aku harus menciptakan satu keadaan yang lebih baik daripada sekarang ini. Entah bagaimanapun caranya. Maka, aku memberanikan diri untuk memulai percakapan baru.

"Lihat lukisan ini, deh!" ucapku, sekonyong-konyong berhenti tepat di hadapan salah satu lukisan yang berjejer di trotoar di sepanjanh jalan Braga.
Dia membalikkan badannya, memusatkan perhatian pada sebuah pemandangan sungai jingga yang dihuni sejumlah perahu beraneka warna. Kuduga, gambar itu mengacu pada situasi senja di Venice.
"Kapan ya aku bisa beli lukisan kayak gini?" timpalnya, menganugrahiku segurat senyum yang jail.
Aku terkekeh pelan. "Masalahnya, lukisan sebagus dan segede ini mau ditaruh di mana? Di dinding kamar?"
Dia melepaskan tawa yang begitu renyah, tawa yang kerap menimbulkan candu tersendiri untukku.
Tak lama, dia kembali melanjutkan langkahnya dengan kecepatan yang sama. Sementara aku, masih sibuk mengisi keheningan dengan menekuni jalanan ber-paving hitam yang dilintasi pengendara sepeda motor. Sesekali melirik seisi kafe Braga Huis, lalu memandang kue-kue cantik dan rainbow cake yang terpajang di etalase Sugar Rush.
Kudengar dia bersuara, "Aku baru sadar kalau hari ini hari Sabtu."
Ucapannya barusan membuatku teringat pada sebuah event mingguan yang kerap diselenggarakan di sini. Braga Culinary Night namanya. Dan pada saat yang sama, aku pun tersadar akan satu hal, tonight is Saturday Night -- malam yang amat dinantikan bagi mereka yang sudah punya pasangan (ya, kecuali aku).
"Jadi, mau malem Mingguan di sini aja atau gimana?" Aku berusaha menanggapi sewajar mungkin, tapi entah kenapa pertanyaanku barusan terdengar sangat mengecewakan.
"Nggak terlalu yakin juga, sih." Dia mengedikkan bahu sambil terus berjalan.

Kerongkonganku terasa kering. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Karena saat ini, pikiranku pun seolah berhenti berputar. Dan aku tak punya pilihan selain terus berjalan mengikutinya dari belakang.

***

Masih membekas di ingatanku sewaktu aku berada di dalam toko Bread Life beberapa menit yang lalu. Berdiri mengamati seisi etalase yang dihuni segala rupa kue cantik berwarna-warni. Kesemuanya terlihat amat menggoda sehingga aku sempat kesulitan dalam menentukan pilihan.

Tapi, tak butuh waktu yang cukup lama sampai aku berhasil mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Sebuah kue kecil -- sejenis cupcake -- bertabur gula halus dengan tambahan ceri merah di atasnya. Begitu sederhana, namun tergolong istimewa.

Aku berjalan mendekati dia yang masih berdiri di depan restoran Wendy's. Berusaha menyembunyikan kantung belanjaanku saat berkata, "Buat kamu nih," menyerahkan es krim cone dengan topping Green Tea kepadanya.
Dia menolehkan kepala, lalu terkekeh pelan.
"Udah, ambil aja," aku menegaskan. "Topping-nya rada mencair gara-gara kelamaan ngantre di kasir."
"Kamu kayak anak SMA aja," dia masih sempat menimpal sebelum akhirnya menerima pemberianku.
Sadar ada sesuatu yang harus kuberikan lagi, aku pun lekas menambahkan, "And -- this one's for you too."
"Apa ini?" Sepasang alis tebalnya bertautan.
"Cek aja," tukasku seadanya, tidak sanggup menerjemahkannya ke dalam kalimat yang lebih efektif.
Menarik lengan kemeja denimnya, lalu mengintip sesuatu yang berada di dalam kantung oranye itu. Tersenyum ketika mengetahui isinya. "Joy..." Dia menatapku dalam-dalam, seolah ingin mengutarakan sesuatu yang sulit untuk diutarakan. "You don't need to do this."
"No! You really deserve it." Aku mengangguk mantap. "Ya -- meskipun aku tahu, terlalu cepet untuk ngucapin ulang tahun."
"That's okay. Lebih baik dikasih sekarang daripada ditunda-ditunda. Karena, belum tentu kamu bisa ketemu aku hari Senin nanti." Dia menganggukkan kepala, memaklumi alasan yang kusampaikan. "Anyway, thank you so much."
Senyumku terkembang sempurna ketika tahu pemberianku tidak berakhir sia-sia. Setidaknya, tanpa sebuah kalimat penolakan.
"Jadi, ke mana rute kita selanjutnya?"
Aku berpikir sejenak, berharap ada satu tempat tujuan yang bisa kami kunjungi setelah ini. Tapi, tak ada satu pun yang muncul di kepalaku. Langit sudah mulai gelap. Sebentar lagi sore akan turun. Kami tidak boleh sampai ketinggalan Bus Damri.
"Atau -- masih mau muter-muter keliling Braga lagi?" Dia memberi pilihan, sembari menungguku melontarkan jawaban.
"Sebaiknya kita pulang aja," putusku lirih.
Dia menghela napas dalamm sadar bahwa kami sudah berada di pengujung pertemuan.
Hal selanjutnya yang kuketahui, kami berdua kembali menapakkan kaki, menuju arah jalan pulang.

***

Selama perjalanan pulang, di dalam Bus Damri jurusan Kalapa-Cibiru, tak henti-hentinya saya memanjatkan rasa syukur. Sejumlah momen berharga ketika kami melintasi Jalan Dewi Sartika, singgah di mesjid Alun-Alun Bandung sambil berbagi cerita, kemudian berakhir di jalan Braga.

Segalanya terasa menyenangkan, meskipun hanya sementara. Dan saya sangat berterima kasih pada semesta yang masih mengizinkan saya bertualang dengan seorang pejalan kaki hari ini.

Selamat ulang tahun yang ke-21, kamu..

Bandung, 25 April 2014

Sabtu, 27 April 2013

Pelangi untuk Kamu

Kamulah spektrum cahaya yang membentuk satu wujud perspektif nyata.

Kamu sosok nila terindah
Warna yang sarat akan hati penuh cinta, kelembutan dan bahagia.
Matamu yang teduh berwarna jingga
Selalu sejukkan jiwa yang lelah akan kejamnya dunia.
Selalu lindungi setiap hati dari bongkah kecewa.

Namun cinta, aku tak ingin kau dihujani pilu.
Aku tak tega biarkan cinta putih sucimu jadi abu-abu.
Karena aku telah tergila-gila dengan merahnya api cintamu.
Merah bara yang selalu menyala tanpa sekerat sandiwara.
Merah bara yang selalu berkobar tanpa mengenal lelah.

Wahai cinta, kuingin kau berseri seperti langit biru.
Karena aku tahu, hanya kaulah yang pantas untuk kurindu.