Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label birthday. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label birthday. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 30 Mei 2015

Selamat Menjadi Genap, Sahabat.


Sebagian orang kerap kali mengaitkan momen ulang tahun dengan pengurangan sisa umur. Saya sering mendengar sejumlah harapan yang diucapkan untuk mereka yang sedang berulang tahun – sehat selalu, semakin dewasa, semoga panjang umur, dan bahagia. Terdengar seperti lagu, ya? Tapi entah kenapa, kalimat klise seperti itu dapat membuat siapa pun tersentuh.

Mari kita enyahkan sejenak filosofi ulang tahun ini sejenak dan mengenang momen paling berharga dalam hidup kita. Menghidupkan masa lalu. Saya sering melakukannya, dengan atau tanpa teman. Memang tidak ada yang menarik dengan hal itu. Rasanya seperti membuang-buang waktu saja. Namun, ada semacam keseruan setiap kali saya menjelajahi koridor memori dan bertabrakan dengan secuil cerita lampau.

Itu adalah pertama kalinya kami memulai pertemanan. Facebook sangat berjaya pada saat itu. Lewat perkenalan singkat, coretan di dinding profil masing-masing, komentar nyeleneh di album foto; sudah menjadi kebiasaan kami sehari-hari. Mungkin di akhir tulisan ini, saya harus memberi credit khusus untuk Mark Zuckerberg yang telah menciptakan Facebook.

Saya sempat menjulukinya sebagai The Most Talkative Person. Bagaimana tidak? Dia bisa berceloteh ratusan kalimat di saat saya hanya mampu menuturkan sepuluh. Saya sering berbicara padanya tentang masalah percintaan, karier, passion, bisnis, teknologi, edukasi, dan entertainment. Dia tahu bagaimana caranya menempatkan diri pada sejumlah aspek yang berbeda. Mungkin karena dia seorang Geminian. Biasanya, orang Gemini itu supel dan fleksibel.

Pada suatu siang yang terik di pengujung bulan Maret, kami meninggalkan kos dengan pintu pagar berwarna hijau itu. Menyusuri gang kecil yang terhubung langsung ke jalan raya Ujung Berung. Atmosfer dipenuhi asap kendaraan. Saya mengayuhkan kaki lebih cepat, mencari tempat untuk menanti bus Damri jurusan Kebon Kalapa, atau sekadar berteduh dari panasnya matahari. Sementara itu, teman saya jauh tertinggal di belakang. Mengusap peluh yang membanjiri keningnya dengan kain bercorak batik khas Sunda. Kepalanya tertutup tudung sweater. Dia selalu bermasalah dalam urusan menyeimbangkan kecepatan.

Sebuah pohon yang berdiri di depan bengkel kusam menjadi tempat persinggahan kami. Saya sempat menebak, bus Damri akan mengalami sedikit keterlambatan. Lalu lintas pada jam makan siang dapat mengacaukan segalanya. Selagi menunggu kedatangan bus Damri, saya membahas kembali tentang insiden mengerikan yang kami alami tadi malam. We were kidnapped by stranger, stepped into his car, til we found the way home. Sedikit pun kami tidak pernah menduga hal itu dapat terjadi. Meskipun, ya – kami sempat terpukau oleh Nissan March putih yang dikendarainya.

Butuh waktu lima belas menit sampai bus berwarna biru putih itu muncul di hadapan kami. Seluruh kursi penumpang tampak penuh. Tak ada lagi kesempatan untuk duduk bersebelahan dan memperbincang kejadian tadi malam. Kami tak punya pilihan selain berdiri di antara himpitan mahasiswa UIN bertampang Islami.

Sebuah pesan baru tiba-tiba muncul di layar ponsel saya.

Langsung nonton atau makan dulu, Buk?

Saya bergegas menekan tombol alfabet dan membalas.

Makan dulu aja. Di Giggle Box.

***

Ada beberapa hal di dunia ini yang tak bisa dihindari, tak peduli seberapa besar kita berusaha. Sebagai contohnya, suara sopir angkot Kalapa yang meneriakkan tujuan keberangkatannya. Malam telah naik sejak satu jam lalu. Kawasan Merdeka dihujani cahaya remang oleh sejumlah lampu jalan. Arloji di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul delapan. Sebagian besar angkot jurusan Kalapa memang beroperasi 24 jam. Tapi, bus Primajasa di terminal Leuwi Panjang sana hanya tersedia sampai pukul sembilan.

“I gotta go now.”

Ada getir yang terasa ketika kalimat itu terlontar dari mulut sahabat saya. Dia membenarkan letak ranselnya. Ransel yang hanya berisi dua helai kaus, charger, dan aneka peralatan kecantikan. Ponselnya telanjur mati sejak di dalam bioskop tadi.

Pada saat yang sama, benak saya terputar lagi pada sosok Iko Uwais, Mad Dog, dan Julie Estelle. Film The Raid berhasil membuat saya menjerit dengan kondisi perut melilit. Tapi, keseluruhan film itu tidak ada apa-apanya dibandingkan drama kehilangan tiket masuk studio XXI. Memang kesalahan saya yang kelewat teledor lantaran menyimpan tiket itu asal-asalan. Entah di mana dan bagaimana tiket itu bisa hilang, saya pun tidak ingat. Satu hal yang saya tahu, tiket itu sudah menghilang dari genggaman saat kami tiba di Giggle Box.

Terus terang perasaan saya campur aduk pada waktu itu. Ada rasa bersalah, sekaligus pasrah. Bersalah karena telah mengacaukan agenda siang ini dalam satu kedipan mata. Pasrah karena saya tahu; saya patut mengganti tiket itu dua kali lipat, meskipun pada akhirnya kami masih diizinkan masuk ke Studio berkat bantuan manajer dan kesaksian si Kasir. Terima kasih, Empire XXI.

”Dont forget to text me when you’re at home.” Menariknya ke dalam pelukan sebelum dia benar-benar melangkah ke dalam angkot hijau itu.

Dia mengiyakan permintaan saya dengan satu senyuman. Senyum yang seolah-olah menunjukkan, everything will be fine – sooner or later.

Dan semua itu tidak pernah salah.

Karena bagi kami, sebuah perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Saya sudah pernah mengalami hal itu berkali-kali. Making plans, waving goodbye, memulai hidup yang baru, tapi pada akhirnya – waktu selalu membawa kami pada satu pertemuan. Terminal Kampung Rambutan, Mangga Dua Square, Bandung Timur Plaza, dalam momentum yang berbeda, segalanya masih terasa sama. Senyum kami melayang di udara, dua tawa melebur jadi satu, di antara ingar-bingar suara.

Saya selalu berharap jarak dapat menguatkan, meskipun waktu selalu membuat perubahan. Tak peduli di mana pun kita berada nanti, pasti ada satu atau dua hal yang akan kita rindukan. Salah satunya; kebersamaan.

Selamat menjadi genap. Semoga selalu berkecukupan.


Sincerely,
Joy

Minggu, 21 Desember 2014

Mengulang Masa Lalu (Tentang Kado yang Datang Terlambat)

Hal pertama yang terlintas di benak saya ketika mendengar nama dia adalah sesuatu yang berwarna cerah. Merah seperti sebutir ceri di dalam gelas mojito, kuning seperti langit pagi yang merekah, jingga seperti senja yang tumpah.

Warna-warna itu kerap berseliweran setiap kali saya teringat seorang sahabat Hermi Yustina.

Saya pernah mengunggah satu tulisan tentang dia sebelumya. Sesuatu yang mengisahkan kilas balik persahabatan kami. Dua tahun lalu, saat tulisan saya masih belum sempurna dan apa adanya. Dua tahun lalu, pada tanggal yang sama dan momentum yang sama pula.

Setiap orang pasti memiliki angka favoritnya masing-masing. Begitu pula dengan sahabatku yang satu itu. Angka 17 mungkin angka kegemarannya. Pun angka bersejarah dalam hidupnya. Hari di mana dia pertama kali membuka mata dan menyapa dunia.

Dan pada tanggal 17 Desember, dia akan merayakan kebahagiaannya bersama orang-orang tercinta – dengan caranya sendiri.

Itu adalah hari pertama saya bertemu dengan Hermi Yustina. Dalam balutan seragam kerja berwarna hijau, kerudung hitam yang dilipat sederhana, dan celana jins biru gelap. Saya tidak pernah menyangka jika pertemuan itu akan membawa kami ke sebuah jalinan pertemanan yang lebih erat. Karena terus terang, dia tidak terlihat seperti gadis pada umumnya. Cenderung pemalu, tidak banyak bicara, tertawa pun seadanya. Beda sekali dengan salah satu rekan kerjanya yang bernama Sari – cewek selebor, pecicilan, dan selalu melawak di setiap kondisi.

But, her speaks louder than words.

Dia tahu bagaimana membuat saya terkesan dengan sejumlah kisah tentang dirinya, tentang keluarganya, tentang hal favoritnya, tentang warna kesukaannya. Ada banyak kesamaan yang bikin saya menaruh kepercayaan dan bisa menganggapnya sebagai seorang sahabat. Dan semua itu tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama sejak pertemuan kami yang pertama.

Saya bahkan masih ingat saat kami menjelajahi Blok M Square untuk sekadar cuci mata. Barangkali ada sesuatu yang lucu di sana. Tapi percuma. Kami pulang dengan tangan hampa dan lebih memilih berbelanja di atas jembatan penyeberangan. Saya juga pernah menculiknya ke restoran Klenger Burger di saat jam istirahat. Duduk di hadapan saya sambil membahas Taylor Swift, penyanyi country kesukaan kami.

Kapan itu, kami pernah tersesat di daerah Menteng saat hendak mencari restoran Ocha & Bella. Baik saya maupun dia sangat gemar berburu kuliner. Dimulai dari sekadar makanan angkringan sampai kafe-kafe populer sekalipun. Dan setibanya di Ocha & Bella, kami kembali mengulang satu kebiasaan yang rasanya sulit sekali dihilangkan. Berbicara dari hati ke hati tentang karier, tentang masalah percintaan. Well, saya selalu gagal setiap kali menjalin hubungan asmara dengan seseorang.

Saya juga pernah membangunkannya tengah malam lewat telepon untuk menyampaikan kegelisahan saya. Dia tidak hanya bersedia mendengar, tapi juga memberi solusi. Dia tahu sahabatnya sedang tidak bisa tidur, dan dia sama sekali tidak merasa keberatan.

Dia adalah pendengar yang baik.

Dia selalu hadir ketika saya butuh seseorang untuk mendengarkan apa yang hendak saya sampaikan. Tak hanya itu, dia juga mengerti bagaimana caranya memberi timbal balik yang baik. Mungkin karena dia terlahir sebagai orang Sagitarius. Biasanya orang Sagitarius dianugerahi sifat solidaritas yang tinggi.

Ah... Kalau saja saya punya mesin waktu, saya ingin sekali memutar seluruh momen itu dan mengabadikannya dengan kamera. Selama ini saya terlalu sibuk menceritakan masalah saya sendiri. Jarang sekali saya teringat untuk mengajaknya foto berdua.

Semoga di lain waktu, kami masih diberi kesempatan untuk bertemu dan tersenyum bersama di hadapan kamera.

Semoga di lain waktu, saya bisa berperan lebih banyak sebagai seorang sahabat.

Hanya tulisan sederhana ini yang bisa saya persembahkan sebagai kado ulang tahun. Saya tidak bisa menjanjikan kejutan seperti cupcake, buket bunga ataupun sepatu lucu yang sering dia pakai.

Hanya tulisan yang bisa membuktikan bahwa saya tidak pernah lupa dengan hari ulang tahunnya.

Selamat ulang tahun, Hermi Yustina.
Tetaplah berpijar seperti warna merah, kuning dan jingga
Terus belajar dan selalu diberi kesehatan untuk menggapai mimpi.
Semoga selalu merasa cukup.


Sahabatmu,
Joy Agustian.
Jumat, 28 November 2014

Best Mistake

Terkadang, apa yang kita miliki hanyalah segudang harapan. Berharap pada sebuah perlindungan, bantuan, ataupun sesuatu yang sulit untuk kita dapatkan. Itulah yang terjadi padaku saat tiba di Bandara Ngurah Rai. Menekuni sekitar seusai keluar dari pintu kedatangan penumpang, sembari memeriksa ponsel di genggamanku.

Bukan tanpa alasan jika aku hadir di sini seorang diri. Rekan kerjaku memberi kabar dadakan bahwa ada project photoshoot yang harus diselesaikan dalam waktu dekat. Dan lokasi pemotretan itu berada di Danau Tambligan. Mereka telah tiba di sini lebih awal, sementara aku menggunakan penerbangan paling akhir dari Jakarta.

Dudukku semakin tak nyaman ketika para sopir taksi dan sejumlah pemandu wisata bertarif tinggi di sekitarku menawarkan jasa antar. Alih-alih menanggapi teriakan mereka, aku malah mengunci bibirku rapat-rapat. Menggerakkan jemariku pada layar ponsel dan mem-posting sesuatu di Twitter. Aneh... Dalam situasi genting seperti ini, masih saja aku sempat meng-update berita terbaru di sosial media. Harusnya aku mencari bantuan atau segera bertindak, bukannya mengabarkan peristiwa malang ini ke seluruh dunia.

Aku segera menghubungi nomor Jenny berulang-ulang. Mendengarkan nada tunggu tak berkesudahan sampai kalimat permintaan maaf yang disampaikan oleh si operator. Begitu pula dengan nomor Andhika dan Lucky yang ternyata berada di luar jangkauan. Tampaknya kesemua di antara mereka memang sedang tidak bisa dihubungi.

Aku jadi semakin tidak mengerti, untuk apa aku datang ke sini?

Tenagaku rasanya sudah terkuras habis. Aku duduk termangu dan mendongakkan kepala. Di atas sana, matahari mulai merangkak turun. Langit kota Denpasar dibanjiri warna jingga kemerahan. Suara pengumuman yang terdengar lewat pengeras suara seakan meredup ketika pikiranku melayang jauh pada seseorang yang selama ini kurindukan.

Betapa aku berharap dia ada di sebelahku saat ini; menemaniku melawan sepi, menarik koperku dan melangkah bersama ke dalam taksi, kemudian bercengkerama sepanjang perjalanan menuju hotel. Betapa aku berharap jarak antara Bali dan Sydney bisa ditempuh dalam hitungan menit untuk menebus rasa rinduku terhadap Texas.

Tapi sayang, rasanya semua itu sangat tidak mungkin.

Aku berjalan menenteng koperku ke arah taksi hitam di seberang jalan. Embusan angin yang berasal dari AC mobil semakin membuatku mengantuk. Aku bahkan tidak sanggup menjawab seluruh pertanyaan yang dilontarkan si sopir taksi saat mobil yang kami tumpangi mulai meninggalkan area bandara.

***

Gue lagi di Seminyak. Lo sama siapa di sana, Dam? --- Di mananya? The Amala atau Amalea? Suara lo nggak jelas.
Halo, Dam.
Adam...

Tidak terlalu yakin dari mana suara itu berasal. Tapi yang pasti, suara itu masih terngiang-ngiang sampai aku terbangun di siang hari. Kepalaku terasa berat saat aku beranjak dari tempat tidur. Rasanya seperti meneguk ratusan liter Cuervo tadi malam sehingga sulit membedakan mana yang maya dan mana yang nyata.

Aku memindai pandanganku sekeliling ruangan dan mencari letak jam dinding. Terkesiap kaget begitu melihat jarum jam yang telah menunjukkan pukul satu. Entah berapa lama aku tertidur, aku pun tidak ingat lagi. Dan semua itu semakin bertambah kacau saat kudengar pintu kamarku diketuk dari luar.

Barangkali Jenny, Andhika, Lucky, atau siapa pun di antara mereka telah menemukan keberadaanku.

Sewaktu handle pintu kutarik, satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah terdiam. Rasa pusing yang sejak tadi meremas kepalaku pun mendadak hilang. Seorang pria asing berbusana khas peselancar yang tidak kuketahui dari mana datangnya sedang berdiri di hadapanku.

Aku mengernyitkan dahi dan bertanya, "Cari siapa?"
"Adam, kan?" Dengan seringai senyum di wajahnya, dia kembali bersuara, "Gue yang nelepon tadi malem."

Selama sejenak, aku berusaha mengingat apa yang aku bicarakan dan dan dengan siapa aku berbicara di telepon tadi malam. Terlalu banyak pikiran yang berseliweran di kepalaku saat ini sehingga aku memutuskan untuk diam saja.

"Lo pasti udah lupa? Harun, nih. Temen kuliah lo dulu, satu angkatan kita." Menyilang kedua lengannya di depan dada sambil menatapku dalam-dalam. "Inget nggak?"

Dalam lima tahun terakhir, sudah banyak sekali peristiwa yang kualami. Termasuk bertemu orang-orang baru. Sebagian ada yang bertahan, sebagian ada juga yang pergi begitu saja. Aku bertemu dengan Harun sewaktu pendaftaran mahasiswa baru. Tidak banyak yang kami bicarakan saat itu. Aku lebih banyak diam, sementara dia bersama teman-temannya.

Pantas saja wajahnya terlihat sedikit familier.

"Harun yang anak Banjarmasin bukan, sih?" aku mencoba menebak.

"Nah bener!"

Pada waktu yang sama, tawa kami melebur jadi satu. Entah apa yang lucu, tapi rasanya sangat menyenangkan dapat tertawa bersamanya. Aku mengagumi sebaris gigi putihnya yang tersusun rapi dan gelak suaranya yang begitu lepas.

Usai menyudahi tawa, aku mempersilakan Harun untuk singgah ke dalam kamar. Kami saling menanyakan kabar dan bercerita mengenai kesibukan masing-masing. Harun sempat bekerja selama setahun di perusahaan Desain Interior sebagai graphic designer. Tak lama, Harun pun kembali ke Banjarmasin dan menekuni bisnis pabrik besi baja milik ayahnya. Dia sempat tercengang sewaktu aku mengisahkan bagaimana aku bisa tiba-tiba berada di Bali.

Aku pun tidak pernah menyangka kenapa semuanya serba kebetulan seperti ini.

Telantar sebatang kara, kemudian dipertemukan dengan seseorang yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Namun, suatu hari nanti aku akan menyadari bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Alam telah mengatur segalanya dalam sebuah ketetapan, dan segala sesuatu yang ada di dunia ini saling memiliki keterikatan.

Cukup lama kami membahas cerita masa lalu sampai kami benar-benar lupa waktu. Siang telah berganti sore, dan tanpa aku sadari  aku telah melewati setengah hari tanpa menyantap satu porsi sama sekali. Menjelang sore, Harun mengajakku keluar dan berjalan-jalan di sekitar pantai Seminyak.

Sejumlah payung dan kursi bantal beraneka warna yang menghiasi bibir pantai seolah-olah menjadi daya tarik tersendiri. Pada pagi hari, tempat ini akan ramai oleh para peselancar yang singgah untuk sarapan sekaligus mencari ombak untuk surfing. Sore harinya, orang-orang akan mengerumuni restoran La Plancha atau duduk di bawah payung warna-warni itu untuk bersantai sambil menunggu matahari terbenam. Begitulah yang dituturkan Harun kepadaku.

Tak ada bosan-bosannya kami berjalan di sepanjang bibir Pantai Seminyak. Kami berkejaran dan menjahili satu sama lain, memeloroti celana seperti yang sering dilakukan pria semasa kanak-kanak. Menertawakan seorang turis yang sedang bercekcok dengan kekasihnya. Ditemani suara debur ombak dan teriakan burung camar di atas sana, sore terasa lebih istimewa. Senja telah turun, air laut pun berubah menjadi jingga. Dan sesekali, Harun berhenti untuk membekukan momen itu lewat kamera ponselnya. Aku sendiri lupa di mana ponselku berada. Benda itu sudah tak penting lagi, menurutku.

Malamnya, kami berdua memutuskan untuk menikmati makan malam di restoran La Plancha. Lagi-lagi, Harun-lah yang merekomendasikan tempat ini. La Plancha tampak gemerlap pada malam hari. Bola lampu warna-warni bergelayut di sepanjang dinding. Lilin-lilin kecil pun menghiasi setiap meja. Hanya saja, bagian dalam restoran ini masih kalah ramai jika dibandingkan dengan area luar. Sebagian pengunjung lebih memilih untuk bersantap ria di bawah payung.

Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya kami memutuskan untuk beranjak dari La Plancha. Sudah pukul delapan, dan hari semakin malam.  Meskipun masih terlalu cepat untuk segera terpejam. Aku bahkan terlalu sedih ketka Harun hendak berpamitan ke hotelnya.

"Kayaknya gue perlu mandi deh. Badan gue udah bau matahari abis jalan-jalan di pantai seharian." Dia menimpal dengan nada santai. "Lo nggak apa-apa kan kalo gue tinggal sendirian?"

Terus terang saja, sulit sekali bagiku untuk menganggukkan kepala ataupun mengiyakan jawabannya. Dapat menghabiskan waktu bersama Harun seperti menyelematkanku dari kesendirian yang tak berkesudahan. Lagi pula, sudah lama sekali aku tidak menemukan seorang teman semenjak kepergian Texas ke Sydney.

Seseorang yang bisa membuatku merasa nyaman dalam keadaan terburuk sekalipun.

Aku mengatupkan bibir rapat-rapat. Berharap dia dapat membaca pikiranku atau sekadar membujukku untuk menyuarakan sesuatu.

"Atau gini aja, Dam - " Harun mendaratkan telapak tangannya di pundakku, meremasnya pelan dan mengujar, Kalo elo ngerasa sepi, telepon aja gue. "Punya nomornya kan?"

Sesuatu membuat perutku melintir. Aku tak mengerti. Barangkali karena kontak fisik yang terjadi di antara kami atau karena kalimat yang baru saja dia ucapkan.

Dengan berat hati aku menjawab, "Okay..."

Harun membalikkan badannya, kemudian bersiap melangkah pergi.

Aku sendiri masih berdiri memandangi punggungnya yang kian menjauh dan mulai menghilang di antara kerumunan para turis. Semilir angin malam yang berembus dari arah pantai membuat tenggorokanku tercekat. Napasku terasa sesak. Ada sesuatu yang harus kusampaikan kepada Harun saat ini juga, tapi aku terlalu takut untuk melakukannya.

Pada waktu yang sama, aku teringat oleh kalimat Bunda yang berbunyi, lebih baik melakukan sesuatu yang gila daripada diam dan tidak melakukan apa-apa.

Mungkin kalimat Bunda ada benarnya juga.

"Harun!" Teriakanku serta-merta menghentikan langkahnya dan membuat kepalanya tertoleh ke belakang.

Aku melanjutkan, "Gimana kalau singgah sebentar aja ke hotel gue?"

Aku dapat menyaksikan sejumlah kepala memandangku dengan tatapan heran. Tapi aku sama sekali tak peduli. Begitu pula dengan Harun yang mulai melangkah mendekatiku tanpa ragu-ragu.

Suaranya nyaris berupa bisikan saat berkata, "Gue pikir itu lebih baik."

***

Lewat pintu kamar mandi yang tertutup, aku bisa mendengar bunyi air shower memancar deras. Seseorang yang berada di dalam sana telah membuatku menunggu selama 10 menit. Aku memandangi televisi dengan saksama yang sedang menayangkan serial TV 24. Mencoba memahami alur ceritanya meskipun sama sekali tidak kelihatan menarik.

"Dam..." Harun tiba-tiba menyeru namaku. Gema suaranya memenuhi setiap sudut kamar mandi. "Ambilin handuk baru dong. Handuknya jatoh ke lantai nih."

Aku beringsut turun dari tempat tidur, menyambar selembar handuk putih yang terlipat rapi di rak penyimpanan. Dan sewaktu aku tiba di depan kamar mandi, aku sempat terperanjat melihat tangan Harun yang menyembul keluar seolah menanti kedatanganku. Busa putih tampak memenuhi lengannya.

Tepat ketika jemarinya menyambar handuk pemberianku, dia mengintip keluar lewat celah pintu kamar mandi sambil bertanya, "Yakin nggak mau mandi bareng?"

Aku mengernyitkan alis. "Apaan sih, Har? Kayak anak kecil aja!"

Kali aja. Dia melepaskan tawa. Gue bilas dulu, yak.

Aku berjalan menuju ranjang dan meraih remote control yang tergeletak di atas meja nakas. Mengganti-ganti saluran televisi hanya untuk mengusir kantuk yang tiba-tiba menyerang. Tapi percuma saja. Semua itu sama sekali tidak membantu. Hampir semua saluran televisi menayangkan siaran yang tidak menghibur sedikit pun.

Merogoh Macbook dari dalam tas backpack-ku. Warna putih keabu-abuan memenuhi layarnya selama beberapa detik. Sesaat setelah proses startup itu berakhir, aku lekas membuka program Word dan mengayunkan jemariku di atas papan ketik.

Kita adalah dua kutub yang saling berlawanan.
Kau berada di utara, dan aku bermukim di selatan.
Senja kita memang berwarna jingga
Tapi kau dan aku tidak akan pernah bisa mereguk kisah yang sama
Sesalah membuang garam ke lautan
Sepercuma menanti mentari di musim hujan 

"Nulis apa, Dam?"

Aku menoleh ke belakang dan terkesiap bukan main saat melihat sosok Harun yang hanya dibalut sehelai handuk. Rambutnya masih terlihat basah. Aroma sitrus yang berasal dari tubuhnya memenuhi penciumanku.
 Kehadirannya yang serbatiba-tiba membuat jantungku berdegup sejuta kali lebih cepat.

Aku merutuk kesal sembari menutup layar Macbook-ku, "Lo ngagetin aja kayak hantu!" Sebagian dari diriku berharap agar dia tidak mengetahui apa yang sedang kutulis barusan. Sebagian yang lain justru mendesakku untuk memperhatikan sesuatu yang berada di balik handuknya.

"Lihat dong... Pelit amat!" Dan seolah tak menghiraukan ucapanku, Harun pun bergerak ke atas tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sebelahku. Menggeser telapak tanganku dengan mudah seakan-akan dia tahu bahwa aku tak sanggup mencegah tindakannya.

Aku memenuhi paru-paruku dengan oksigen dan mencoba bersikap tenang. Tapi ternyata, upayaku sia-sia. Berada di sebelah Harun dalam jarak sedekat ini membuat napasku terasa lebih berat. Detak jantungku pun semakin tak berirama.

Sambil memandangi layar Macbook yang masih menyala, dia berkata, "Gue emang belom pernah baca karya lo sebelumnya. Tapi terus terang aja nih, pas baca tulisan lo yang satu ini, rasanya ada sesuatu yang istimewa aja."

Aku mengernyit, mata memicing hingga segaris. "Deskripsi istimewa menurut lo itu seperti apa?"

Dia hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sementara, mata kami bertemu dalam satu garis maya. Bertanya-tanya di dalam hati, apakah yang akan dia lakukan setelah ini?

Lalu, kudengar dia bergumam lirih, "Seistimewa kamu..."

Wajah kami begitu dekat, embusan napasnya membuat kulit wajahku terasa hangat. Aku memejamkan mata perlahan dan bersiap menyambut bibir Harun yang hendak memagut bibirku. Semakin lama, ciuman kami semakin jauh. Saling mengisap, saling melumat, saling menggerayangi tanpa rela melewatkan satu inchi. Seperti ada sesuatu yang membuat kami enggan untuk mengakhirinya.

Harun merengkuhku erat-erat dalam dekapannya dan segera melepas tanktop putih yang kukenakan. Membasahi leherku dengan lidahnya sampai aku menggelinjang bagai cacing kepanasan. Di luar sana, malam mulai beranjak naik. Tapi Harun masih jaih dari selesai. Dia menjilati kedua putingku secara bergantian, kemudian beralih pada otot perutku yang sudah lama basah oleh keringat. Tahap demi tahap terus berlanjut sampai Harun memperlihatkanku sesuatu yang rasanya sulit untuk kulupakan.

Handuk putihnya telah tergeletak di atas lantai. Kini, tak ada satu benang pun yang membungkus tubuh kami berdua. Remang-remang cahaya lampu kamar memperjelas setiap keistimewaan yang terpahat pada tubuh pria ini. Dan kurasa, sudah saatnya kami menerbangkan sejuta kenangan menjadi kenyataan.

Aku menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan segera berkutat di bawah pusarnya. Sempat kudengar dia melenguh dan menyebut namaku dengan rintihan manja. Sementara, telapak tangannya tak berhenti membelai rambutku -- seakan-akan memohon agar aku tidak berhenti menghadiahinya perlakuan istimewa.

Ranjang berderik pelan, dua anak manusia sedang asyik mengekspresikan kebersamaan dalam permainan yang penuh desahan. Keringat kami melebur jadi satu. Lukisan di dinding pun menjadi saksi bisu. Keindahan yang nyaris sempurna, meskipun aku sadar apa yang kami lakukan adalah satu kesalahan besar.

Tapi aku tak peduli. Semuanya telah telanjur terjadi.

Selama beberapa saat, aku dan Harun saling berpandangan. Begitu sulit menyadari bahwa kami telah melakukan sesuatu yang gila. Namun, Harun hanya tersenyum -- seolah-olah dia sama sekali tak ambil pusing atas apa yang telah terjadi.

"Kayaknya habis ini gue mesti mandi lagi deh," ujarnya sembari menggosok dada bidangnya yang bersimbah keringat.

Aku mengamatinya dengan saksama, menduga ada sesuatu yang aneh di balik ucapannya. "Gue duluan atau lo duluan nih?"

Dia mencubit hidungku dan berkata, "Bareng aja, biar hemat air."

Belum sempat aku membuat satu penolakan, Harun lebih dulu menggapai tanganku dan mengajakku berjalan menuju kamar mandi.

***

Desir angin pagi yang mengantarkan suara ombak menghinggapi pendengaranku. Semburat sinar matahari menyeruak masuk dan tumpah di setiap sudut kamar. Dari balik jendela, aku dapat melihat kubangan awan putih yang saling berpagutan di sepanjang pita langit.

Begitu harmonis.

Begitu erat.

Seerat lengan Harun yang senantiasa melilit di pinggangku.

Sebelumnya, aku sempat berpikir kejadian tadi malam akan terulang lagi. Tapi ternyata, semua jauh berbeda dari perkiraanku. Tak ada lagi adegan penuh desahan ataupun kecup yang saling berpadu-padan. Semua itu tergantikan oleh sebuah senyuman dan sepasang bola mata hitam yang berkilau seperti matahari pagi.

Dia mencium keningku, mengucapkan selamat pagi sebelum kami sepakat untuk turun dari ranjang dan saling mengenakan pakaian. Berjalan keluar dari hotel, kemudian menuju jalan setapak yang menuntun kami ke bibir pantai Seminyak.

Sejauh mata memandang, tampak sejumlah peselancar dan para turis yang sedang berjemur di bawah terik matahari pagi. Debur ombak pantai menghantam batu karang, menyeret pasir pantai ke dalam gulungannya, lantas mencipratkan buih-buih putih di udara.

Aku melirik diam-diam ke arah Harun yang berjalan di sebelahku. Kedua matanya terbungkus oleh kacamata hitam pelindung silau matahari. Bertekad untuk memecah keheningan yang membungkus kami berdua sejak meninggalkan hotel tadi. Tapi, sesuatu justru mematahkan keberanianku. Terlebih saat kulihat dirinya yang sedang menekuni layar ponsel tanpa memalingkan pandangan.

Aku menenggelamkan kedua telapak tanganku ke dalam saku celana, memandangi fajar yang merekah di langit timur Seminyak. Jerit suara burung laut membaur dengan nyanyian ombak. Sedikitpun tidak berhasil mengusik sunyi yang menggelayut di antara aku dan Harun.

Tepat ketika aku menoleh ke arahnya, dia menyampaikan sesuatu, "Besok gue pulang ke Banjarmasin, Dam."

Kalimat yang dia tuturkan seketika membuat tenggorokanku tercekat. Kedua kakiku pun mendadak terasa sulit diayunkan. Jantungku seperti diremas berulang-ulang sehingga meninggalkan rasa sakit yang tak bisa diobati.

"Jaga diri ya, Dam..." tuturnya, tanpa mau menungguku memberi tanggapan.

Mataku terasa perih. Aku memaksakan diriku bersuara, "Lo juga, Har." Hanya itu satu-satunya kalimat yang meluncur dari bibirku. Tanpa pesan tambahan secuil pun.

Harun meraih telapak tanganku, mengusapnya lembut sebelum mendaratkan sebuah kecupan kecil sebagai tanda perpisahan.

Pikiranku berputar pada sederet peristiwa yang kulewati bersama Harun sejak pertama. Teringat bagaimana dia akhirnya menemukanku di hotel Amala; menyaksikan sosok pria linglung yang tampak tersesat. Teringat bagaimana kami berkisah dan membagi masa lalu, makan malam bersama di La Plancha. Dan untuk pertama kalinya, kami berdua tidur dalam ranjang yang sama.

Barangkali kami telah melakukan kesalahan besar.

Tapi tak mengapa. Karena bagiku, dialah satu kesalahan terindah yang pernah kulakukan.

Setetes air mataku meluncur jatuh. []



*END*
Kamis, 28 Agustus 2014

Faith Of Love


Sebagian orang mungkin berpikir jika musim gugur akan lebih baik jika dihabiskan dengan mengurung diri di dalam rumah. Mengenakan kaus kaki dan bergelung di dalam selimut tebal, menyaksikan daun mapel yang berguguran, atau sekadar menikmati sereal cokelat sambil menonton DVD seharian penuh.

Tapi aku bukan salah satu dari orang seperti itu.

Aku lebih memilih keluar dan berjalan menyusuri Alderney Street bersama seorang gadis kecil yang biasa kupanggil Kitty. Well, nama aslinya Emma Huntington. Dia baru berusia lima tahun, masih duduk di taman kanak-kanak. Memiliki rambut panjang berwarna pirang yang sering dikuncir ekor kuda. Emma terbiasa menata rambutnya sendiri sejak kecil.

Kami meninggalkan apartemen pukul satu siang. Singgah sebentar ke sebuah kafe kecil untuk membeli secangkir kopi dan cokelat panas. Matahari tertutup oleh awan tebal. Dedaunan kering yang teronggok di sepanjang jalan Pimlico sesekali tertiup oleh angin. Ranting-ranting pohon di sekitar kami berderik pelan, pertanda hujan akan turun. Tapi kami tak peduli. Terus melanjutkan perjalanan hingga kami tiba di Legoland Windsor Resort.

Atmosfer berbeda mulai terasa ketika kulihat slogan ‘Play Your Part’ yang terpampang di pintu masuk. Huruf kapital hitam yang bertuliskan LEGOLAND itu seakan-akan menyambut kedatangan kami. Aku sama sekali tidak punya rencana untuk pergi ke sini. Namun entah kenapa, setiap kali melewati tempat ini, Emma selalu menggamit tanganku untuk segera masuk ke pusat permainan lego itu.

Aku tak sampai hati jika harus menolak keinginannya.

Menuju Duplo Valley – sebuah wahana permainan yang memperbolehkan kami menjelajahi lembah dengan sebuah perahu sampai terkena cipratan air. Menikmati es krim Cornetto sambil menaiki kereta Brickville Express. Kemudian berteriak sekencang-kencangnya saat melaju di atas Dragon Roller Coaster. Sewaktu berada di Atlantis Experience, kami sempat mengabadikan momen itu dengan memotret beberapa ikan hiu dan bermacam-macam tumbuhan laut.

Aku dan Emma berhenti di satu wahana bernama Miniland. Menyaksikan miniatur kota dari berbagai negara di dunia yang tersusun menggunakan empat puluh juta blok lego. Setiap detail kota itu diciptakan semirip mungkin dengan versi aslinya. Bahkan, jika diperhatikan dari dekat, lego-lego itu seakan-akan tampak sangat nyata.

“Sebagian warga Inggris masih belum tahu apa itu The Elizabeth Tower. Mereka beranggapan bahwa menara itu bernama Big Ben. Padahal sebenarnya, Big Ben adalah nama lonceng yang berada di dalam jam itu. Menaranya sendiri disebut St. Stephen Tower.”

Seorang pria berambut cokelat gelap yang mengenakan sweter kasmir abu-abu bersuara di belakangku. Memandangnya dari atas ke bawah, menebak-nebak apa yang membuat dirinya muncul di sana dan menceritakan asal-usul tentang jam raksasa yang dikenal dengan nama Big Ben. Pria itu tidak berdiri sendirian. Dia hadir bersama seorang anak perempuan yang sepertinya seusia dengan Emma.

“Itu saudara perempuanmu?” Dia bertanya sambil melirik Emma yang sedang mengamati struktur kota London yang terbuat dari lego.

“No, ze is mijn dochter[1],” jawabku terpaksa berdusta. Karena faktanya, Emma adalah keponakanku. Kedua orangtuanya sedang berada di luar kota lantaran ada urusan pekerjaan.

“Aku rasa – kau berasal dari sana, ya?” Telunjuknya terarah pada miniatur lego berbentuk rumah kincir angin yang dikelilingi kebun bunga tulip dan peternakan sapi.

Penuturannya kuiyakan dengan anggukan kepala.

“Belanda sangat menakjubkan. Aku pernah mengunjungi tempat itu sekali saat aku masih kuliah,” ucapnya membuat pengakuan. “Jadi, ke mana tujuanmu setelah ini?”

“Aku tidak tahu. Barangkali pulang ke apartemen,”

“Kau tidak berminat mengunjungi taman hiburan di Hyde Park? Ada sejumlah wahana permainan di sana.” Pria dengan bola mata hijau zamrud itu membenamkan kedua telapak tangannya ke dalam sweter dan melanjutkan, “Kau tahu. Ferris Wheel, Caroussel, Rumah Hantu, permen kapas... Rasanya sayang sekali untuk dilewatkan.”

Ucapannya terdengar seperti pemandu wisata yang menawarkan paket perjalanan dengan tarif murah. Dan untuk sesaat, aku sempat menoleh pada Emma yang sedang mendongakkan kepala dengan tatapan penuh harap; satu pertanda bahwa dia sangat ingin mengunjungi tempat itu. Membayangkan keseruan kami saat menembak balon-balon yang berhadiah boneka, naik ke atas replika bus Double Decker, dan membawa sepasang balon terbang ke apartemen.

Tapi aku menjawab, “Kedengarannya menarik. Tapi, lain kali saja. Aku harus segera pulang.”

“Baiklah, geniet van je dag[2],” ucapnya seraya menganggukkan kepala.

Tanpa perlu berpamitan, aku segera meraih tangan Emma dan mengajaknya menjauh dari pria asing di hadapan kami. Sebisa mungkin berjalan cepat-cepat agar tak perlu lagi terlibat dalam percakapan yang tidak kuinginkan.

Dan tepat ketika aku hendak menggendong tubuh Emma ke dalam pelukanku, aku mendengar satu teriakan lagi dari pria itu.

“Hey!” panggilnya dari kejauhan. Bocah perempuan di sebelahnya melambaikan tangan. “Siapa namamu?”

Aku menoleh ke belakang dan berseru, “Sophie!”

“Aku Hugo. Senang bisa berkenalan denganmu!”

Aku melempar seulas senyum, kemudian bersiap untuk melangkah pergi.

Dalam hati aku membatin, senang berkenalan denganmu, Hugo.

(to be continued)



[1]. Dia adalah anak perempuanku
[2]. Selamat menikmati harimu