Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label lgbt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lgbt. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 Agustus 2015

Pelbagai Kenangan Tentang Mimpi dan Perjalanan

Fakta bahwa semua orang pernah bertindak impulsif meskipun hanya satu kali dalam seumur hidup. Tak peduli apa yang jadi alasan utamanya, tetap saja hal tersebut memberi kesan mengasyikkan. Sesuatu yang addicted. Tapi setelah direnungkan berulang-ulang, terkadang menjadi seorang impulsif sangat konyol dan kekanakan.

Aku tidak berhasil mengingat tanggal dan bulan berapa persisnya peristiwa itu. Mungkin sekitar sembilan tahun yang lalu, saat aku masih duduk di kelas sebelas.

Bel sekolah berdering lebih cepat dari perkiraanku. Awalnya aku mengira, aku bisa tiba di sekolah tepat waktu. Setidaknya satu menit sebelum guru muncul di dalam kelas. Tapi, ada beberapa hal di dunia ini yang bisa terjadi begitu saja dalam satu kedipan mata, tanpa mampu kita cegah. Sekalipun kita telah menyusun rencana serapi mungkin.

Seperti yang kualami di pagi hari yang terik itu.

Pintu gerbang sekolah terkunci rapat. Satpam sekolah yang berdiri di dalam sana memelototi kami dengan tatapan mengancam, seakan-akan hendak memberi hukuman. Aku ditemani puluhan murid lain yang sama-sama terlambat. Salah satu di antara mereka adalah Texas Nejrabi, siswa kelas XI IPS 2.

Kami pernah berbincang di perpustakaan sebelumnya. Peristiwa itu sudah cukup lama. Aku juga sering dengar orang-orang memanggilnya si Arab Nyasar. Julukan itu dia dapatkan dari para senior sewaktu masih jadi murid baru.

Aku kerap memperhatikan Texas diam-diam; memata-matai setiap kali dia bersama teman-temannya;  sesekali melempar senyum setiap kali berpapasan di kantin. Dan selama berbulan-bulan, aku terus berpura-pura di hadapan Texas. Aku tidak ingin dia mengetahui orientasi seksualku yang sebenarnya. Bertingkah seakan-akan aku ini cowok sungguhan – cowok normal yang suka cewek, bukan dengan cowok.

Kerumunan orang di sekelilingku mulai menipis. Sebagian besar masih berdiri di sana lantaran tak punya banyak pilihan, sisanya justru minggat ke suatu tempat. Aku mulai sadar satu hal; saatnya aku mengambil keputusan. Maka, aku pun pergi menjauh. Lebih baik kabur daripada menunggu kedatangan Kepala Sekolah atau guru piket untuk menghadiahi sanksi.

Aku melangkah ke sebuah warung kecil yang terletak di seberang jalan, letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah kami. Gerobak makanan bertuliskan ‘mi goreng, mi rebus, bubur kacang, gorengan’ itu belum sepenuhnya terisi. Pemiliknya bernama Pak Komar. Dia sedang meracik adonan tahu isi sewaktu aku masuk dan mencomot teh botol dari dalam kulkasnya.

Cuaca pagi itu ternyata tidak bisa diajak kompromi. Peluh menbanjiri pelipisku. Aku menyekanya berkali-kali, tapi ia seakan tak mau berhenti. Tepat ketika aku hendak membanjiri tenggorokanku dengan minuman dingin, seseorang tiba-tiba muncul dan mengurungkan niatku.

Seseorang yang biasanya kukagumi dari kejauhan.

Seseorang dengan rahang yang kokoh, tulang pipi yang tegas, sepasang bola mata cokelat cerah, dan bertubuh atletis.

Dia berjalan menuju meja panjang yang menempel ke dinding warung. Di tangannya ada sebotol air mineral ukuran sedang. Beberapa tegukan saja sampai air di dalam botol itu habis tak bersisa.

“Kamu yang anak IPA itu, kan?” Telunjuknya teracung ke arahku.

Aku mengangguk spontan, kemudian memberanikan diri untuk duduk di sebelahnya. “Dan kamu Texas, anak IPS yang terkenal karena julukan itu.”

Kepalanya berguncang ke belakang. Itulah kali pertama aku melihat Texas tertawa lepas. Tawa yang begitu memabukkan, tanpa secuil kepalsuan.

“Bangun kesiangan?” Aku melempar tanya.

Dia menjawab dengan kepala terangguk. Kemudian mengeluarkan sebuah novel fenomenal yang berjudul To Kill A Mockingbird dari dalam ranselnya. Aku tidak tahu seperti apa alur cerita buku tersebut. Tapi suatu hari kelak, aku akan menyadari bahwa novel itu berkaitan dengan passion yang dia miliki.

Orangtua Texas tidak tinggal bersamanya di Jakarta. Keduanya berada di Pakistan, sesekali mampir ke Indonesia sebelum bertolak ke Sydney untuk mengurus bisnis Real Estate milik ayahnya. Seperti itulah yang dia ungkapkan sebelum percakapan kami bergulir semakin jauh.

“Biasanya kalau lagi boring, kamu pergi ke mana?”

Aku segera menjawab tanpa pertimbangan, “Nggak ke mana-mana, lebih sering di kamar aja. Mentok-mentok ya – jalan kaki keliling komplek perumahan.”

“Kelihatan, sih. Kamu tipe anak rumahan banget. Kulit putih, bersih, kalem.” Texas mulai menekuniku dari atas ke bawah, seakan-akan ada yang salah dengan penampilanku. Baru pertama kali aku mendengar seseorang mendeskripsikan diriku secara gamblang.

“Aku tahu,” jawabku. “Kalau kamu?”

“Pasar! Di Jakarta banyak pasar loak. Selain berburu barang murah, bisa berburu buku obral juga.” Texas menutur, “Aku senang membaca. Aku bisa duduk di perpustakaan satu hari penuh, tanpa makan dan minum.”

“Nggak heran aku sering lihat kamu di perpustakaan sekolah.”

“Ternyata kamu sering memperhatikan aku, ya?”

Aku semakin kehabisan perbendaharaan kata. Niat awal ingin menceletuk, justru diserang balik. Agak gugup aku membalasnya, “Itu kebetulan aja, kok.”

“That’s okay. I don’t mind at all.” Dia tersenyum, seakan-akan tidak merasa keberatan. “Oh ya, habis ini mau ke mana?”

 “Mustahil untuk masuk ke kelas. Gerbang udah ditutup. Jam pelajaran pertama pun udah dimulai.” Aku mengedikkan bahu. “Lagian aku nggak suka berurusan sama Pak Ikbal. Kamu juga pasti sependapat sama aku!”

Pak Ikbal itu satpam sekolah kami. Orangnya rese, sering ikut campur urusan orang, sok berkuasa, mata keranjang.

Texas tergelak lagi. Kali ini lebih pelan. Cukup pelan hingga menyisakan satu keheningan.

Dan di tengah-tengah keheningan yang canggung itu, kudengar dia bicara, “Ikut aku, yuk.”

Dahiku mengernyit. “Ke mana?”

Texas beranjak dari kursi. Senyumnya terkembang sempurna. Ada sesuatu yang aneh di balik senyuman itu. Tapi aku tidak sanggup menerka. Dia hanya menjawab, “Somewhere only we know. Ayo!”

Bagaimana aku sanggup membuat satu penolakan ketika aku sama sekali tidak punya pilihan? Texas menggapai tanganku. Kami keluar dari warung Pak Komar, berlarian ke jalanan sampai akhirnya melompat ke dalam bus Patas 76 jurusan Pasar Senen. Aku sepenuhnya sadar bahwa tindakanku sangat gila. Tapi aku tak dapat memungkiri; aku menyukainya.

Apa pun terasa lebih menyenangkan selama aku bersama Texas.

Alih-alih singgah ke Plaza Atrium untuk nonton atau sekadar cuci mata, kami justru melipir ke Pasar Senen. Texas kerap mengunjungi tempat itu karena keunikannya. Siapa yang menyangka, kawasan itu dipenuhi sejumlah seniman dan kumpulan mahakaryanya. Pemain musik, pengrajin kayu, pelukis, pembuat puisi. Aku bahkan baru tahu kalau Chairil Anwar termasuk salah satu di antara Seniman Senen pada zamannya.

Perjalanan belum berhenti sampai di situ. Aku dan Texas melipir ke salah satu lapak PKL yang menjual tas dan koper bermerek dengan harga murah. Belakangan aku baru tahu, ternyata tidak sedikit selebriti tanah air yang doyan belanja di sana. Pedagang itu bilang, mereka lebih suka belanja barang bekas berkualitas ketimbang barang mahal. Agak mengejutkan memang.

Selama berjam-jam kami menjelajahi Pasar Senen tanpa rasa lelah. Tepat pukul 12, aku dan Texas memutuskan keluar dari pasar lantaran merasa lapar. Matahari membakar kepalaku. Kami sepakat menuju pedagang mie ayam yang berjualan di depan Stasiun Senen.

Ada sekelompok siswa SMA yang mendekati kami pada waktu itu. Mereka sepertinya berasal dari SMA swasta. Seragamnya bermotif batik kebiruan. Salah satu di antara mereka meminta rokok kepada kami secara paksa. Aku enggan menggubris, begitu pula dengan Texas. Kami berdua tahu, tidak ada pilihan selain berdamai atau balas menggertak. Tapi, membuat keributan di tempat umum sangat tidak dianjurkan.

Apalagi saat masih mengenakan seragam sekolah.

Jadi, aku merogoh selembar uang pecahan sepuluh ribu dari dalam saku seragam dan menaruhnya di bawah mangkuk mie ayamku. Diam-diam menyenggol Texas supaya bergegas kabur dari hadapan mereka. Kami melesat cepat seperti anak panah. Sebisa mungkin melarikan diri dari bahaya. Orang-orang itu terus-menerus meneriakkan sumpah-serapah, menyamakan kami dengan para penghuni kebun binatang. Terlalu nyaring sehingga aku dapat mendengarnya begitu jelas.

Aku terlalu sibuk untuk menoleh ke belakang. Fokusku terpecah antara jalanan dan jemari Texas yang senantiasa kugenggam. Napasku memburu. Perutku berguncang hebat. Seporsi mie ayam yang kusantap bisa saja melompat keluar dari mulutku sewaktu-waktu.

“Naik ke angkot!” perintah Texas dari belakang.

Ada sebuah kendaraan umum berjenis angkot yang berada beberapa meter di hadapan kami. Angkot itu baru mau mempercepat lajunya ketika aku dan Texas melompat masuk, dan menimbulkan bunyi gradak-gruduk yang berisik. Hanya ada empat orang penumpang yang berada di dalam. Seorang ibu dengan bayi di gendongannya menatap aneh ke arah kami.

Tapi kami sama sekali tak peduli.

Selama beberapa saat, aku dan Texas masih cekikikan sambil membahas apa yang baru saja terjadi. Mobil mulai memasuki kawasan Senen Raya yang ramai, kemudian berbelok ke Jalan Pejambon. Macet di mana-mana. Pada jam makan siang, lalu lintas akan berubah dua kali lebih sibuk. Aku baru sadar ke mana arah dan tujuan kendaraan ini ketika Texas bertanya pada salah seorang penumpang yang duduk di sebelahnya.

“Permisi, Pak, angkot ini berhentinya di mana, ya?”

Pria berkumis tebal itu menjawab dengan logat betawi yang sangat kental, “Di depan sono noh, Stasiun Gambir.”

Tak ada kalimat apa pun yang keluar dari mulut Texas. Dia hanya melirikku sekilas, menantiku bereaksi.
Pada saat itu, aku tak sanggup berkata apa-apa. Lututku mendadak lemas. Pikiran-pikiran buruk merasuki seisi kepala. Aku mulai menebak-nebak apa yang kami lakukan setelah ini? Kami bahkan sama sekali tidak punya rencana.

Satu hal yang kutahu, kejadian selanjutnya berlangsung begitu cepat.

***

Aku tidak pernah menyangka hari itu akan menjadi satu perjalanan yang sangat panjang.
Cukup lama kami berdiri di depan pintu masuk Stasiun Gambir tanpa berbuat apa-apa. Texas menatapku lama, kepala dimiringkan ke sisi, sepasang alis tebalnya terangkat; satu pertanda bahwa dia telah membuat keputusan. Aku bergeming, keheningan mulai melebur di antara kami. Namun sebelum aku menemukan alasan yang didasari keraguan, aku melihat Texas membongkar ranselnya dan mengeluarkan sesuatu ke hadapanku.

Sehelai kaus abu-abu dengan logo Crocodile berukuran kecil di bagian belakang. Warna kaus itu agak kusam, seperti telah dicuci ribuan kali. Dan aku langsung menarik kesimpulan, baju itu dia dapatkan di Pasar Senen tadi. Setali tiga uang dengan kaus hitam bergambar Rolling Stone yang kemudian berada di genggamannya.

Kita butuh ini.

Dan entah bagaimana, aku tersihir begitu saja oleh ucapannya;

Melangkah ke dalam Stasiun Gambir tanpa rasa keberatan, menuju toilet untuk mengganti seragam sekolah kami dengan kaus di tangan masing-masing.

Texas sama sekali tidak menunjukkan rasa malu ketika harus membuka seragamnya di hadapanku. Aku dapat melihat rambut-rambut halus yang tumbuh di sekitar pusarnya. Beberapa tahun kemudian, aku semakin sering menyaksikan pemandangan itu. Dengan beberapa perubahan yang membuktikan bahwa hormon selalu berpengaruh dalam masa pertumbuhan.

Sebagian dari diriku tak berhenti berpikir, bagaimana aku bisa secepat itu merasa nyaman dengan seseorang? Seseorang yang selama ini hanya sanggup kukagumi diam-diam. Anehnya lagi, aku terus berharap rasa nyaman itu tak segera pergi.

“Dam, cita-cita kamu apa?”

Texas bertanya dengan suara lirih. Dia berbaring terlentang di atas rumput-rumput yang tumbuh seadanya. Langit malam di atas kami tampak seperti selendang hitam yang dihiasi manik-manik.

Jadi, di sinilah kami berada. Setelah dirundung perasaan cemas bercampur bahagia, menempuh perjalanan berjam-jam dari Stasiun Gambir menggunakan kereta Argo Parahyangan, kemudian mengayuhkan sepasang kaki sampai tumit melepuh, aku dan Texas akhirnya tiba di Bukit Bintang.

Walau dinamakan demikian, sebenarnya tempat ini tidak memiliki unsur perbukitan sama sekali. Hanya ada hamparan tanah dan bebatuan yang tidak rata, ditumbuhi ilalang kecil di mana-mana, serta-merta terdapat beberapa warung kecil yang menyediakan jajanan ala kadarnya. Di malam hari, semua orang dapat menyaksikan kerlap-kerlip lampu yang menyala di sepanjang kota Bandung.

“Belum tahu.” Aku berada di belakangnya, duduk dengan kaki terlipat dan kedua tangan mencengkeram rumput. “Tapi kalau yang kamu maksud ini cita-cita yang sering ditanyakan orangtua sama anak mereka sewaktu kecil, aku punya jawabannya.”

“Jadi dokter? Atau pilot?” Texas terkekeh.

“Selalu bahagia dalam kesederhanaan. Simple as that.” Mataku menerawang jauh, menembus kilau lampu di bawah sana.

Texas beranjak, kemudian mengambil posisi duduk di sebelahku. “Sebenarnya, itu lebih mengacu ke impian, sih.” Mengalirlah filosofi sederhana tentang mimpi dan cita-cita versi Texas. Sebagian orang beranggapan bahwa cita-cita adalah goal terbesar dalam hidup mereka, sesuatu yang patut dipertahankan dengan harga mati. Namun, semua itu tak akan terwujud tanpa kehadiran mimpi. The dream is an energy that propels us to move forward. Mimpi membuat seseorang percaya bahwa segalanya terasa mungkin.

Anything could happen.

“Lulus nanti, aku mau kuliah jurusan Hukum. Terus lanjut magang di kantor pengacara ternama, terus menangani banyak kasus dan berurusan dengan klien.” Texas tidak peduli orang-orang beranggapan profesi itu sangat berkelas sekaligus kejam. Dia tidak peduli berapa banyak pendapatan yang akan diperoleh dalam satu bulan, satu tahun, lima tahun. Bukan uang yang dia cari.

Satu-satunya alasan mengapa Texas begitu berambisi menjadi seorang pengacara; karena dia tahu betapa banyak orang-orang lemah di luar sana yang membutuhkan perlindungan hukum.

Dan untuk kali pertama, aku terkagum-kagum mendengar pengakuannya.

“Tapi aku punya impian seperti itu juga.”

Aku mengernyit dan bertanya, “Seperti apa?”

Jeda sejenak. Kedua bola mata kami saling beradu. Dan selama jeda yang singkat itu, ada desir hangat yang membanjiri aliran darahku. Sesuatu yang membuatku ingin merasakannya lagi, lagi, dan lagi. Sekalipun perasaan itu sungguh tidak tepat.

“Like you said before.” Texas mengujar, kemudian merebahkan tubuhnya lagi di atas rumput.

Dari kejauhan, terdengar sekelompok mahasiswa sedang mendendangkan sebuah lagu. Bunyi dawai gitar yang dipetik; rangkaian chords sederhana. Disusul siul-siulan panjang yang bertransformasi menjadi sebuah melodi.

Shed a tear ‘cause I am missing you
I’m still alright to smile
Girl, I think about you everyday now
Was a time when I wasn’t sure
But you set my mind at ease
There is no doubt; you’re in my heart now

Patience yang dibawakan orang-orang itu masih mengalun di udara. Angin malam berembus pelan. Bukan dingin yang kurasakan, namun kehangatan yang begitu  kentara. Pikiranku melayang jauh bersama lagu.

Begitu jauh hingga aku tersadar bahwa Texas tak lagi berada di dekatku saat ini.

Di masa kini.
Kamis, 30 Juli 2015

Chapter 8 - Making Plans

“Masih belum kelar kerjaan lo?”  Fino menduduki kursi kosong di hadapanku. Secangkir Green Tea Frappuccino pesananku berada di genggamannya. Itu adalah cangkir kelima setelah aku menghabiskan dua jam di Starbucks tanpa melakukan apa-apa.

 “Dari tadi gue bolak-balik majalah, tapi belum ada satu pun ide yang nyangkut.”

“Jangan terlalu dipaksain. Istirahat dulu, deh.”

Aku menanggalkan kacamata minus-ku, mengempas lembar demi lembar kertas HVS yang berisi coretan kacau ke atas meja. Bolpoin-ku terguling ke sudut meja. Fino menahannya sebelum ia sempat jatuh di lantai.

Dia meraih majalah Vogue Spanyol yang tertutup lembaran sketsa berengsek itu dan mulai menjelajahi halamannya satu per satu. Mulutnya terkunci rapat. Sosok Constance Jablonski yang menghiasi sampul depannya seolah-olah tampak sedang mengejekku.

“Ini mesti diserahkan 5 hari lagi, Fin. Astaga!” Aku memijit pelipisku dan memejamkan mata erat-erat. Kepalaku mendadak terasa sangat nyeri, seperti dipukul lusinan palu. “Gue mesti gimana abis iniiiiiii?”

“Lo maunya bikin konsep kayak gimana, sih?”

“Yang jelas nggak pasaran dan sesuai sama permintaan mereka!” ucapku setengah menyerah. “Lo lihat aja, nih – “ Menarik satu rangkap kertas yang sejak tadi teronggok di salah satu kursi dan menyodorkannya ke hadapan Fino. “Gara-gara konsep sialan itu, orang-orang pasti berpikir gue nggak becus kerja, nggak profesional. Karier gue bakal ikut terancam kalau kayak gini terus!”

“Tega banget mereka nolak konsep kayak gini.”

Agak gengsi memang ketika aku harus memaparkan pengakuan Uki waktu itu. Tapi, Fino pantas mengetahuinya; konsep foto di pinggir pantai sudah ketinggalan zaman dan terlalu melenceng dari trademark kami selama ini.

Fino hanya diam. Memelototi gambar yang tertoreh pada kertas itu dengan saksama sampai kudengar dia berseru pelan, “Ambil notebook lo, gue punya jalan keluarnya!”

Bagaikan dihipnotis, aku langsung menyambar buku bersampul kulit dari dalam messenger bag-ku. Menuju kertas paling belakang di mana halaman itu dipenuhi oleh guratan pensil warna dan catatan yang tidak terlalu penting. Bolpoin berada dalam posisi siaga. Telingaku mulai menyimak apa yang disampaikan Fino. Tapi, gagasan itu belum sepenuhnya terangkum kala aku memilih untuk berhenti menulis.

Ada sesuatu yang salah.

 “Tunggu...” Aku melepaskan bolpoin dari genggaman. “Lo bermaksud iseng ke gue atau gimana?”

“Kenapa emang?” Dahi Fino mengernyit.

“Kebun Raya Bogor, latar pepohonan, gadis bergaun putih. Lo bercanda?” ulasku dengan napas terengah-engah. “Tema photoshoot­-nya urban vintageFin. Bukan yang spooky mirip majalah misteri gitu.”

 “Kalau lo berpikir konsep yang gue bilang barusan agak horor, berarti lo salah.” Fino membela diri. “Foto gothic-spooky lagi tren, tahu.”

“Oke, gue hargai pendapat lo. Cuma, yang harus ditonjolkan pada sebuah foto adalah konsepnya. Harmonisasi antara kostum, dandanan, dan pemilihan tempat.” Secara harfiah, ada pesan yang bisa tersampaikan lewat foto tersebut.

 “Coba lo googling, deh. Atau lo bisa cari di Pinterest. Di sana banyak banget fotografer lokal yang udah bikin portfolio mereka sendiri.”

 Perdebatan ini tidak akan kunjung usai. Jadi, lebih baik aku membungkam mulutku rapat-rapat. Sisa hujan masih beririsan di luar sana. Sejumlah kendaraan memadati jalan Melawai, menanti pergantian traffic light. Gumpalan asap knalpot Metromini membuat segalanya tampak lebih pekat.

Dan... Kotor.

Fino benar. Terkadang referensi itu memang sangat diperlukan. Bukan bermaksud menjiplak, tapi sekadar membandingkan gagasan kita dengan milik orang lain. Selain itu, referensi juga dapat membantu dalam evaluasi diri. Supaya kita tahu, apa saja yang perlu dikembangkan atau diperbaiki.
Namun, brainstorming dengan Fino sama sekali tidak ada gunanya. Dia mungkin mengerti masalah fashion. Fino tahu bagaimana menata penampilannya agar terlihat maskulin dan classy. Tapi, tidak semua individu dapat menciptakan ide. Gagasan out-of-the-box adalah sesuatu yang kubutuhkan saat ini.

Seorang pelayan berkaus hitam dan celemek hijau melintas di sebelah meja kami. Pada saat yang sama, iPhone-ku tiba-tiba berdering. Menatap sejenak empat huruf yang muncul di layar itu sebelum benar-benar menggapainya. Empat huruf yang membuatku yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untuk diajak bicara.

“Halo...” Telapak tanganku sedingin es. Fino mulai heran terhadap tingkahku yang mendadak tak keruan.

“Lagi di mana, Dam?” balas Heru di seberang sana. Samar terdengar bunyi klakson kendaraan. Dugaanku, Heru sedang berada dalam perjalanan menuju suatu tempat.

“Lagi di Starbucks Melawai, Her. Bareng temen gue, cewek.” Entah kenapa, statement yang terakhir itu terdengar kurang penting.

“Eh, kebetulan banget. Gue lagi on the way Taman Langsat nih, tapi masih di Sudirman, sih. Lo nyusul dong!”

Aku mengernyitkan dahi dan bertanya, “Gerimis gini ke Taman Langsat mau ngapain?”

“Ada kerjaan,” ucapnya santai. “Udah, ke sini aja. Apa mau gue jemput?”

Fino bertanya tanpa suara, ingin tahu dengan siapa aku bicara. Namun aku hanya memberinya isyarat untuk hening sesaat. Menengok arlojiku sebelum membuat keputusan, “Bentar lagi gue ke sana, deh.”

“Sip! Gue tunggu, ya.”


Aku mengakhiri panggilan. Berusaha menyembunyikan letupan rasa bahagia di dalam hati. Sementara, Fino masih menatapku dengan senyuman aneh; tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan semua ini.
Kamis, 23 Juli 2015

Chapter 7 - Bimbang

One day, I will have a child of my own
How will I tell him?
Oh...
This world – this world it is a good place?


Nerina Pallot berhasil menyulap rangkaian kalimat itu menjadi sebuah lagu yang menakjubkan. Denting piano dan vokal yang mengalun mesra, merupakan perpaduan sempurna yang sanggup memanjakan telinga. Pada saat tertentu, lagu itu seolah mendiktator ingatanku sehingga aku terseret ke dalam lembah masa lalu.

Potongan kejadian tentang Texas mulai berkelabat di kepala. Terkenang bagaimana kami kerap berangan-angan untuk memiliki seorang anak adopsi. Pada sore hari yang gerimis, di tengah suasana temaram apartemennya, History Boys bersenandung di telingaku untuk pertama kali. Praktis saja menjadikannya sebagai lagu favorit kami.

Sebagaimana peran sebuah lagu, ia akan membuat kita terkoneksi dengan masa lalu. Memonopoli pikiran kita sendiri dengan potongan lirik atau sepatah melodi.

Selagi lagu itu melantun lewat earphone-ku, seseorang tiba-tiba menepuk bahuku dari belakang. Aku membalikkan badan dan segera mengetahui bahwa orang itu adalah Bunda. Merasa beruntung karena selang air yang kugenggam sejak tadi tidak tersembur ke arahnya.

“Ada teman kamu, tuh,” ujar Bunda seusai melihat aku mencopoti salah satu earbud dari telingaku.

Aku mengernyitkan kening dan bertanya, “Siapa, Bun?”

Bunda mengedikkan bahu. “Cowok. Orangnya lagi nungguin di depan. Padahal udah Bunda tawari masuk.”

Bergegas meraih ember yang berisi busa sabun pencuci mobil, lalu menjatuhkan kepala selang di dalam sana. Terrgerak untuk mencari tahu siapa tamu yang dimaksud Bunda. Aku segera menuju pintu pagar sambil mengelap sisa-sisa peluh di leherku.

Sebuah Yaris merah terparkir di undakan jalan di depan rumahku. Sementara, si pemilik mobil sedang berdiri di depan moncong mobil dan tampak asyik memelototi  layar ponselnya.

“Tumben pagi-pagi udah muncul di sini,” aku menyeru dan menghampiri dirinya yang berpenampilan amat necis. Berlawanan sekali dengan orang di hadapannya saat ini. Kaus lengan buntung, urak-urakan, ditambah lagi celana pendek basah yang sudah sepatutnya diganti.

Heru mendongakkan kepala dan segera menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. “Sengaja, kagak ada kerjaan di rumah.” Matanya sesekali memperhatikan sesuatu yang tercetak jelas di balik celana pendek merahku. “Jalan, yuk!”

“Duh!” Spontan saja, aku menepuk dahi. “Sori banget, Her. Kalau hari ini gue beneran nggak bisa. 
Gue udah janji mau jalan bareng David soalnya.”

Terus terang saja, semua ini di luar perkiraanku. Tadinya aku pikir dapat menghabiskan hari Minggu di rumah. Sekadar beristirahat sambil mencari ide untuk project kemarin, atau pergi ke supermarket untuk belanja bulanan. Sayangnya, semua rencana itu tak berjalan sempurna saat David memberitahuku tentang agenda bermain bersama teman-teman sekelasnya.

Aku sempat terpikir untuk menolak permintaannya. David bisa saja pergi bersama Bunda. Toh kalau aku yang menemani David, aku tidak akan mungkin bergabung dengan orangtua yang lain. Tapi, David sama sekali tak peduli. Dia tetap bersikeras bahwa akulah yang harus ikut ke acara itu.

“David?” Heru menatapku heran dengan kedua alis yang bertautan.

Aku mendadak sadar, Heru belum pernah bertemu David sebelumnya. Dia pasti berasumsi aku hendak pergi kencan dengan pria lain. Dan sewaktu aku hendak memberi penjelasan atas pertanyaannya barusan, sosok David hadir di sebelahku.

“Kak Adam mau pergi jam berapa? Udah jam sepuluh, nih. Nanti kita telat!” gerutu David seraya mengamati jam tangan kesayangannya.

“Ini David...” Aku mengajak David berdiri lebih dekat sehingga kami tampak saling menempel.

“Adik lo?” Kepalaku terangguk mengiyakan pertanyaan Heru, meskipun sebetulnya tak perlu karena Heru langsung berjongkok di hadapan David dan mengajaknya berkenalan, “Hei, Ganteng. Sekolah kelas berapa sekarang?”

Alih-alih menjawab, David justru memandangku heran dan bersuara, “Ini siapa, Kak?”

“Kenalin, Kakak temannya Kak Adam,” Heru menyela sebelum aku sempat berbicara. “Nama Kakak – Heru.”

Tenggorokanku panas dan praktis tercekat seusai mendengar ucapan Heru. Terbayang lagi di benakku pada pertemuan Texas dan David untuk yang pertama. Telingaku dipenuhi gelak tawa mereka. Aku masih ingat, waktu itu David sama sekali tidak segan saat berbincang dengan Texas. Begitu pula sebaliknya. Dan entah bagaimana, tidak butuh waktu yang lama bagi Texas untuk membuat David akrab dengan dirinya.

“Kenapa bukan Kak Texas aja sih yang ke sini?”

Lamunan tentang Texas yang berceceran di koridor memoriku sekonyong-konyong musnah tak bersisa. Satu pertanyaan baru telah dilontarkan. Buruknya lagi, pertanyaan itu didengar langsung oleh Heru.

“Texas?” tanya Heru dengan mata memicing. “Texas siapa, Dam?”

“Dia – “

“Kak Texas itu temennya Kak Adam!” David tiba-tiba angkat bicara. “Orangnya pintar, jago main harmonika, pokoknya hebat deh! Dia juga pernah ajak aku jalan-jalan.”

Aku merapatkan bibirku dari segala jenis argumentasi. Sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Heru yang kini sedang mengamatiku lekat-lekat. Sadar bahwa dirinya hendak menagih penjelasan tanpa melewatkan satu bagian terkecil sekalipun.

Sebersit penjelasan mulai terbentuk di kepalaku. Baru mau menyuarakannya sewaktu Bunda menyeru dari teras rumah, “Temannya diajak masuk, Dam. Di luar panas.” 

“David udah cek apa aja yang mau dibawa nanti?” Aku bertanya pada David. Sengaja mengulur-ulur waktu untuk mengalihkan topik pembicaraan. Hanya butuh beberapa detik sampai David undur diri dari hadapan kami dan berlari ke dalam rumah.

Tapi, semua itu belum benar-benar selesai.

“Lo belum jawab pertanyaan gue barusan.” Air muka Heru berubah serius. Ekspresi seperti itu belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.

“Yang mana?” Suaraku parau, jantungku kembang-kempis tak beraturan sampai rasanya mau meletup – pertanda jelas bahwa aku tak sanggup mengendalikan diri.

“Siapa Texas?”

Pandanganku kosong. Aku bahkan tak tahu harus memulai penjelasan dari mana. Lidahku terasa kelu. Dan dari sekian banyak frasa yang membombardir seisi kepala, aku lebih memilih bertanya, “Lo mau tunggu di sini atau di ruang tamu aja. Gue mau ganti baju soalnya.”

Basa-basi yang busuk, memang!

“Jawab gue, Dam!” Dia menyambar lenganku dan mencengkeramnya erat-erat. Begitu keras sehingga aku yakin ia pasti meninggalkan bekas pada kulitku. “Lo berusaha menutupi sesuatu dari gue, kan??!!”

Sebagian dari diriku mendesak, “Katakan saja yang sejujurnya! Biar dia berhenti mencari tahu. Biar dia kapok.”

Sementara itu, bagian lain justru bersikeras, “Ada waktunya bagi kamu untuk terbuka, Dam. Bayangkan bagaimana perasaan seseorang setelah mengetahui semua itu.”

Aku menarik napas dalam-dalam, memercayai dalam hati bahwa pilihanku tidak salah. Menatap sepasang bola mata hitam milik Heru dan mengujar, “Lebih baik kita bicara di dalam aja. Nyokap gue udah manggil.”

Heru perlahan melonggarkan cengkeramannya.
Minggu, 17 Mei 2015

Chapter 6 - Kenangan dalam Aksara


Langit sudah gelap ketika aku dan Heru tiba di Cilandak Town Square. Pada awalnya, aku memang enggan mematuhi ajakannya. Apalagi bepergian ke sebuah Mall, tempat yang sarat akan kerumunan umat dan segala jenis aktivitas. Aku tidak pernah merasa nyaman berada di tengah keramaian. Selalu berpikir, semua orang akan menyerangku dengan tatapan aneh.

Tapi mau bagaimana lagi, Heru bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menolak ataupun bernegosiasi.

Setiap hari Sabtu, Cilandak Town Square selalu terlihat ramai dibandingkan hari-hari biasa. Seorang DJ akan hadir di tengah-tengah hall utama dan memainkan musik hingga larut malam. Tak heran jika sebagian besar para selebritis sering muncul di tempat ini. Hal itulah yang terjadi sewaktu kami meninggalkan lot parkir.

Seorang pria berperawakan sedang dengan topi jenis flat cap dan kacamata minus melintas di hadapan kami. Wajahnya tampak familier sekali. Dia pernah muncul di sebuah liputan salah satu stasiun televisi swasta, tapi aku lupa namanya siapa. Heru lekas menyadarkanku bahwa pria itu adalah Mas Joko Anwar.

Kami melewati restoran Burger King sebelum tiba di Aksara Bookstore. Heru sengaja membawaku ke sini karena dia yakin, toko buku ini juga menjual buku Memory Of Solferino.

Heru bergegas menuju undakan buku-buku yang disusun pada satu meja khusus. Semua novel best seller, majalah terbaru, dan aneka literatur terpajang rapi di sana. Sementara itu, aku berhenti di rak magazine, lantas meraih majalah entertainment dengan sosok Miranda Kerr yang menghiasi sampul depan. Tulisan-tulisan mencolok seperti; Tren Super Seru, Seks Gaya Asia, Kesan apa yang ia tangkap dalam 5 detik membuatku tertarik untuk mengintip isi majalah tersebut.

Satu demi satu halaman terlewati. Sederet artikel dan gosip membosankan berada di sana-sini. Meletakkan majalah itu ke tempat semula, sembari melayangkan pandangan ke sekitar. Tampak beberapa pengunjung sedang membaca buku secara gratis lantaran plastik pelindungnya telah terbuka. Sebagian lagi, ada yang tengah bercengkerama dengan seorang pramuniaga.

Situasi seperti ini membuatku teringat pada masa di mana aku dan Texas berbincang untuk pertama kalinya.

Aku berdiri di depan rak buku sambil menekuni Modul Praktikum Fisika Dasar milik perpustakaan sekolah. Materi yang terkandung dalam modul itu adalah hukum Newton dan prinsip dasar dinamika untuk gerak lurus. Texas juga berada di lorong yang sama denganku. Mengulurkan jabat tangan perkenalan sekaligus menyinggung tentang buku bacaanku.

Kami masih terlalu muda untuk jatuh cinta semasa itu. Tapi entah kenapa, aku dapat merasakan getaran aneh setiap kali berhadapan dengannya. Mustahil untuk memungkiri segenap keindahan yang dimiliki Texas. Pada sepasang alis tebal dan bulu matanya yang lebat, bola mata berwarna cokelat pekat, dan bibir merah yang kerap membentuk simpul senyum paling memikat.

“Adam...” Sebuah suara yang diselubungi kehangatan tiba-tiba hinggap telingaku.

Selama sekejap, aku sempat berhalusinasi jika pemilik suara itu adalah Texas. Tersenyum ketika mata kami berdua saling bertemu dalam satu garis maya. Menghambur ke dalam pelukannya tanpa peduli komentar orang-orang di sekeliling kami. Namun, semua angan-angan itu terpaksa kumuntahkan selagi aku menyadari sosok yang kini berdiri di hadapanku adalah Heru.

“Elo ternyata,” aku melengos kecewa.

Heru melipat kedua lengannya di depan dada. “Nggak di tempat rame, nggak di tempat sepi, kerjaan lo melamun aja,” gumamnya. “Nggak takut kesambet apa?”

Aku mengabaikan ucapannya dan lebih memilih bertanya, “Jadi gimana? Ketemu novel Solferino-nya?”

Dia menggeleng lesu. “Abis muter-muter ke semua rak buku, tapi gue sama sekali nggak ketemu buku yang dimaksud.”

“Udah coba tanya ke pegawainya?” Aku memberi solusi alternatif. “Biasanya kan mereka punya database semua judul buku di sini.”

“Udah,” tukas Heru. “Emang bukunya nggak ada.”

Sudah kuduga! Buku itu memang agak sulit didapatkan di Jakarta. Selain langka, novel yang ditulis langsung oleh Henry Dunant itu sudah terabaikan bagi mereka yang tidak tahu apa-apa tentang sejarah Palang Merah. Lagi pula, kalau memang benar-benar tersedia di Indonesia, buat apa aku bersusah payah membelinya di situs Amazon?

“Terus? Itu buku apaan?” Aku memperhatikan sebuah buku agak tebal bersampul hitam di genggamannya.

“Stephen King. Different Seasons. Kata Mbaknya, sih, bagus.” Dari judulnya, aku bisa menebak buku itu ber-genre fantasi atau horor thriller. Terbukti sewaktu Heru mengulas secara singkat salah satu chapter berjudul Rita Hayworth and Shawshank Redemption. Kisah seorang banker bernama Andy Dufresne yang dituduh bersalah lantaran membunuh istrinya yang selingkuh. Dufresne menjalani masa-masa tersulitnya selama menjadi tahanan di Shawshank, sebuah penjara di USA.

“Mau pinjam?” Dia menyodorkan buku itu kepadaku.

“Boleh, kalau lo nggak keberatan,” jawabku.

“Tapi ada syaratnya!”

Kebahagiaanku pupus seketika. “Apa?”

“Barteran sama buku Henry Dunant.”

Aku menggeleng mantap, sama sekali tidak terpengaruh pada seringai senyum dan tatapan Heru yang meskipun harus kuakui, sangat memesona. Tapi tetap saja, hal itu tidak akan membuatku berubah pikiran.

“Oke,” Heru mengedikkan bahu. “Mungkin belum diizinkan untuk memiliki kali, ya.”

Di ruang waktu berikutnya, kami berdua membatu dan saling berpandangan selagi irama musik melantun merdu lewat pengeras suara. Itu adalah Unbeliavable, lagunya Craig David.

But, you came and you change my whole world now
I’m somewhere I’ve never been before
Now, I see what love means...

Aku mendadak terenyuh dalam diam. Lagu itu seperti membungkus kami berdua dalam satu terowongan panjang di mana segalanya terasa hening, tanpa gravitasi, sekaligus damai. Tapi entah kenapa, lama kelamaan lagu itu terdengar memuakkan. Apalagi di tengah situasi awkward seperti ini.

Heru yang lebih dulu mengakhiri kecanggungan itu. “Kalau boleh tahu, isi twit lo kemarin sore itu tentang apa, Dam?”

Aku bergeming. Sedikit pun tidak siap untuk menjawab tentang apa, siapa, dan bagaimana penyebabnya sehingga aku terpikir untuk mempublikasikan kutipan itu ke sosial media.

“Prediksi gue, sih – pasti tentang mantan lo?”

“Bukan!” tanggapku, kelewat defensif.

Faktanya, Texas memang bukan mantan kekasihku. Hanya karena ada jarak di antara kami dan minimnya komunikasi, tidak berarti kami berdua telah resmi berpisah. Aku sendiri tidak berhak memproklamirkan siapa dan seperti apa status hubungan kami saat ini. Karena aku tahu, Texas sendiri telah memiliki hubungan asmara yang lebih jelas dengan Sarah, wanita pilihan hatinya.

“Gue tahu elo menyembunyikan sesuatu.” Heru berdiri tepat di hadapanku. “Kalau emang ada yang mau lo utarakan, ngomong aja. Gue bersedia mendengarkan, kok.”

Tenggorokanku tercekat. Sesuatu memaksa nuraniku untuk bercerita, “There was a time – when i need to forget all about my past and live my life like everyone else. Lo pasti bisa membayangkan gimana rasanya ketika semua kenangan dan suka-duka di masa lalu itu menghantui pikiran lo?” Aku menggelengkan kepala, berkedip beberapa kali sebelum melanjutkan, “Dan lo terbawa arus, nggak ada yang bisa lo lakuin selain menanti sesuatu yang nggak pasti.”

Memutuskan untuk berhenti sejenak lantaran tahu bahwa ceritaku sudah terlalu jauh. Bukan hal bijak jika aku memaparkan semua itu di hadapan Heru. Satu-satunya orang yang dapat menyelesaikan masalahmu hanya dirimu sendiri.

“Kenapa berhenti?” tanya Heru.

Aku menggeleng. “Can we skip this conversation?”

“That’s okay, Dam. Just let ‘em out.” Heru meremas telapak tanganku erat-erat. Matanya menyiratkan bahwa dia ingin mendengar satu cerita komplet tanpa melewatkan satu detail pun.

Tapi aku menepis tangannya dan berkata, “Gue tunggu di luar, ya. Gotta find some fresh air.”
Sabtu, 02 Mei 2015

Chapter 5 - Pantai, Sosial Media, dan Kamu

“...Please leave a message after the beep.”

Seribu kali aku menghubungi Texas, seribu kali pula suara itu mengiang di telingaku. Suara operator sialan yang membuatku sadar bahwa jarak adalah sesuatu yang sulit untuk dikalahkan. Tak peduli seberapa besar aku berusaha, rindu yang kutanam tak akan pernah terbalas.

Aku sudah memeriksa seluruh jejaring sosial yang dimilikinya. Dimulai dari Twitter; Facebook, Instagram, hanya untuk memastikan Texas sempat mengunggah sesuatu dalam beberapa waktu belakangan. Namun tetap saja, dia tidak pernah berada di sana. Texas bukan seorang internet-addict seperti orang-orang pada umumnya.

Terkenang lagi saat aku dan Texas berlibur di salah satu pantai di Pulau Bangka. Pantai Parai namanya. Di bawah terik matahari bulan Juni, ditemani suara ombak yang berderu dan nyanyian burung laut, rasanya tak ada yang lebih indah selain dapat berdua bersama Texas di pagi yang cerah itu.

Kami berdua berbaring di atas pasir putih yang sehalus gula. Keheningan membuat kami hanyut dalam kesibukan masing-masing; Texas dengan buku bacaannya, sementara aku berkutat di depan layar Blackberry-ku. Angin yang berdesir dari belakang membuat leherku dihujani rasa sejuk. Pelepah pohon kelapa ikut bergoyang ke sana kemari mengikuti arah angin bertiup.

Di antara kebisuan yang menyatu dengan simfoni alam itu, aku memamerkan satu artikel yang kutemui di salah satu  portal berita ternama di Indonesia. Artikel itu berisi tentang seorang pelajar SMA asal Bogor yang divonis penjara lantaran menulis sesuatu yang kurang pantas di Facebook. Tulisan itu ternyata memancing emosi sehingga terjadi aksi saling memaki antara kedua belah pihak. Tidak ada yang menyangka kasus tersebut akhirnya ditangani polisi dan berujung di pengadilan.

“All those fucking social networks can make anything more difficult.” Begitu katanya dulu.

Aku melepas Blackberry-ku dari genggaman dan meletakkannya asal-asalan di sebelahku. “Bukannya kamu selalu peduli sama hal-hal yang berbau hukum?” Menyinggungnya pada salah satu pihak terkait yang terlibat kasus pencemaran nama baik lewat Facebook.

“Tergantung kasusnya.” Texas menutup buku Pride and Prejudice yang dibacanya sejak tadi. Memandangku dari balik kacamata hitam itu sambil berkata, “Kontroversi yang terjadi pada media sosial biasanya bersumber dari hal sepele. Semata-mata cari sensasi. Mereka harusnya tahu, internet seperti pisau bermata dua. Punya kelebihan, tapi bisa juga sangat merugikan.”

Dia bilang, segalanya dapat menjadi mungkin lewat dunia maya. Orang biasa bisa terkenal lewat Youtube, selebritis semakin populer dengan bantuan fanpage di Facebook. Begitu dahsyatnya pengaruh sosial media di kehidupan nyata, sampai kita sering melupakan; hal-hal demikian bisa menjadi bumerang untuk diri kita sendiri.

“Contoh kecilnya kayak gini nih – “ Texas menepuk-nepuk kedua telapak tangannya yang ditempeli pasir pantai sambil berkata, “Kamu posting foto bareng seseorang ke Facebook. Padahal kamu nggak tahu kalau teman kamu itu pernah melakukan tindak kriminal, sebut saja kleptomania atau tukang bawa kabur uang orang.”

“Enak aja! Aku nggak setolol itu juga, kali.” Memutar kedua bola mata dan siap mencibir. “Aku tahu mana yang bersifat umum dan mana yang privat. Lagi pula, aku nggak pernah temenan sama tipe orang kayak gitu.”

“Sekadar perumpamaan. Don’t get me wrong, Babe.” Dia menyeringai lebar, tahu bahwa kisahnya terinterupsi oleh cibiranku. Tapi, Texas sama sekali tidak merasa keberatan. Dia malah mendekatkan wajahnya pada wajahku, sehingga aku dapat merasakan dengan jelas napasnya berembus.

Dan, hal pertama yang ingin kulakukan pada saat itu adalah melumat bibirnya. Terbayang setiap kali anak rambut di dagunya bersentuhan dengan kulitku sehingga kerap menimbulkan sensasi geli.

“Dalam kasus yang aku sebutkan tadi, secara tidak sengaja kamu udah membantu orang lain yang punya urusan sama buronan itu. Mereka cukup interogasi kamu, berbagi infomasi, selanjutnya tinggal cari keberadaan Si Buronan.”

“Social media makes nobody to be somebody.”

“Itu kelebihannya. Kekurangannya?” Pandangannya lurus ke arah lautan. Dia meneruskan, “Orang bakal beranggapan kamu salah pergaulan. Orang juga bisa berpikir kamu sekongkol sama buronan itu.”

Semua perandaian itu membuatku sadar kenapa Texas tidak peduli terhadap Facebook dan semacamnya. Ada banyak cara yang lebih baik untuk berbagi dan menerima infomasi tanpa perlu mengandalkan jejaring sosial. Dia bilang, pesan elektronik lebih efektif meskipun terbilang konservatif.

“Terus gimana sama mereka yang berhubungan jarak jauh?” Aku masih sempat menyanggah, “E-mail kan nggak cukup. Mereka pasti butuh video-chat kayak Skype...”

“Then built trust with each other.” Texas tersenyum dan kembali menekuni bukunya.

Itulah alasan mengapa aku mengagumi sosok Texas sampai saat ini.

Texas selalu menilai segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Pola pikirnya sulit untuk diprediksi. Bahkan, apa pun yang dia lakukan tak pernah salah di mataku. Dia selalu mempertimbangkan setiap konsekuensi yang akan dia terima sebelum bertindak.


Dan aku sepenuhnya percaya, dia tidak akan pernah mengingkari ucapannya.[]
Minggu, 05 April 2015

Chapter 4 - Pulang Bersama


Ada banyak hal di dunia ini yang bisa saja terjadi dengan mudah tanpa pernah kita prediksi sebelumnya.

Itulah yang kualami saat aku dan Heru sedang dalam perjalanan menuju rumahku.

Dia mengajakku berbincang-bincang agar saling mengenal satu sama lain. Bertanya siapa nama lengkapku, apa saja hobi yang kugemari, pekerjaan apa yang kugeluti saat ini, lulusan universitas mana. Dan aku menjawab semua pertanyaan itu tanpa ada yang harus ditutup-tutupi.

Heru setahun lebih muda daripada aku. Dia sibuk menyelesaikan tesisnya untuk mengambil gelar Master di NTU, Singapore sana. Selain gym, aktivitasnya lebih banyak diisi sebagai master of ceremony di beberapa perhelatan besar seperti; launching kafe, bedah buku, bisnis properti dan acara-acara berkelas lainnya.

Rintik gerimis yang hinggap di kaca mobil menyisakan titik-titik embun. Hujan memang kerap muncul beberapa waktu belakangan ini. Apalagi di pengujung bulan Februari. Angin malam yang berembus dari luar berhasil masuk dan menggigit rusukku, meskipun AC mobil telah dimatikan.

“Yang sebelah kiri itu rumah gue.” Aku menunjuk sebuah rumah bercat putih dengan pagar besi. Lampu terasnya menyala terang. Sama halnya dengan cahaya yang menyeruak lewat jendela di lantai atas.

Dan tentu saja, itu kamarku!

Heru memperlambat laju mobilnya untuk mengurangi kebisingan. Hitung-hitung menghindari gerutu atau amukan dari para tetangga yang mungkin sedangn beristirahat.

Dia menatap layar jam digital yang mnempel di atas dashboard mobil. Empat digit angka berwarna biru itu menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh. Kurang beberapa menit lagi menuju tengah malam.

“Orangtua lo bakal marah kalau lo pulang larut malam?”

Aku menyengir. “Mungkin marah, kalau gue masih SMP.”

Heru ikut-ikutan tertawa. Suaranya bergema memenuhi atmosfer di dalam mobil ini.

Dia bertanya lagi, “Besok masuk kerja jam berapa, Dam?”

Aku tercenung. Bukan karena aku enggan memberi jawaban. Hanya saja, pertanyaan itu terdengar seperti keingintahuan yang bermakna khusus.

Mataku tertambat pada sebuah lambang Nazi yang bergelantungan di kaca spion. Benda itu sepertinya terbuat dari stainless stell. Didesain dan dimodifikasi sekreatif mungkin sehingga menjadi hiasan mobil. Aku jadi bertanya-tanya, apakah orang ini adalah pendukung Nazi dan Mussolini di zamannya?

“Dam...” Tangannya tiba-tiba mendarat di bahuku.

Aku terperanjat kaget mengetahui tindakannya. Sadar bahwa aku tidak menginginkan sentuhan itu sama sekali. Namun, Heru segera mengenyahkan tangannya saat aku menoleh dan mengujar, “Nggak tentu, namanya juga freelancer.”

Seperti itu saja responsnya. Jadi kurasa, sudah saatnya aku menarik kenop pintu mobil, mengangkat kaki dan berjalan ke dalam halaman rumahku detik ini juga. Untuk apa berdiam diri di sini tanpa ada satu topik yang dapat kami perbincangkan?


Tepat saat aku hendak meneruskan niatku, Heru segera menyelinap keluar hingga aku tak yakin dapat mengalahkan gerakannya. Maksudku, dia hanya berlari kecil. Tidak seperti gerakan seorang vampir di filem-filem yang pernah kutonton.

Heru yang sudah berada di luar langsung membukakan pintu mobil untukku, mempersilakanku turun dengan cara yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Bagi sebagian orang, perlakuannya mungkin terbilang manis dan cukup romantis. Tapi entah kenapa, bagiku hal seperti itu terlalu norak dan – menggelikan! Karena lucu sekali jika ada seseorang yang baru kukenal beberapa jam lalu, tiba-tiba menunjukkan perilaku aneh seperti itu.

Satu-satunya tindakan yang hendak kulakukan hanya melangkah keluar dari dalam mobilnya. Berjalan seakan tidak terjadi apa-apa. Walaupun pada akhirnya aku harus berkata, “ Terima kasih untuk tumpangan gratisnya.”

“Jangan sungkan. Gue sama sekali nggak merasa direpotkan.” Sebuah senyum tergurat sempurna di wajahnya.

“Gue – masuk duluan, ya,” ucapku sambil melingkarkan kedua lengan di pinggang, demi mengusir rasa dingin.

Heru mengangguk, mengizinkan aku untuk kembali ke rumah. Tidak beberapa lama sesuai membukakan pintu pagar, dia justru menggamit lenganku dan berseru, “Tunggu sebentar.”

Aku mengernyit heran. “Apa lagi?”

“Nanti gue bakal mention ke Twitter lo kalau gue udah sampe rumah.”

Lagi-lagi masalah Twitter! Kami memang membicarakan hal itu sejak  perjalanan tadi. Namun aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia perlu memberiku kabar seperti itu sedangkan kami baru bertemu.

“Mention-nya nggak akan gue balas. Ya – barangkali gue bakal nge-block akun lo, terus ambil tindakan report as spam.”

“Gue bakal bikin akun baru,” balasnya bersikeras.

“Coba aja kalau berani!”

Heru kembali melepaskan tawa, sama sekali tidak tersinggung akan penuturanku. Tawanya begitu hangat, seksi, dan memikat sehingga aku merasa ditelanjangi – tidak mampu berbuat apa-apa melainkan kejujuran kalimatku sendiri.

“Bercanda. Lagian gue bukan anak ABG yang doyan minta follow-back atau berusaha di-follow seseorang.”

Aku tersenyum, bersyukur karena dia tidak menanggapi ucapanku terlalu serius.

“Cepat tidur. Kayaknya lo udah ngantuk.”

“Well, then. Good night.” Aku berpamitan, sepenuhnya sadar sewaktu melontarkan kalimat selamat malam itu. Karena meskipun Heru bukan siapa-siapa, tetapa saja kata-kata itu mengundang secuil perhatian yang mampu membuat wajahku merona. Setidaknya itu yang tengah kurasakan.

Aku masih mematung di depan pintu pagar, menyaksikan Heru melangkah ke dalam kecebong merahnya, kemudian mulai menyalakan mesin mobil. Tersenyum ketika dia menurunkan kaca jendela dan berusaha memutarbalikkan mobilnya ke arah yang berlawanan.

Hanya butuh lima belas detik sampai Toyota Yaris yang dia kendarai menembus kabut tebal di kompleks perumahanku.
Kamis, 19 Februari 2015

Chapter 3 - Apollo Bar

Setelah sekian lama dan untuk ketiga kalinya, aku mengunjungi Apollo.

Karena entah bagaimana, rumah seolah berubah menjadi tempat yang amat membosankan. Tak ada lagi kenyamanan dan kehangatan. Aku sendiri tidak menyangka jika peristiwa waktu itu bisa membawa dampak buruk terhadap sesuatu yang belum pernah kuprediksi sebelumnya. Papa mulai jarang pulang dan lebih memilih bermukim di rumah dinasnya. Bunda semakin sibuk dengan pekerjaannya di klinik. Sementara itu, aku dapat merasakan hubunganku dengan David semakin menjauh.

Seperti ada tembok besar yang membuat kami lupa satu sama lain.

Aku sepenuhnya sadar, semua itu disebabkan olehku – murni kesalahanku. Fakta sederhana bahwa akulah satu-satunya orang yang menyeret adikku ke dalam masalah. Satu-satunya orang yang terlalu percaya diri untuk tampil di tengah gerombolan anak-anak. Tanpa pernah menebak, mereka pasti memvisualisasikanku sebagai pria lemah lembut dan gemulai.

Dan tujuan utamaku mendatangi tempat ini bukan karena aku hendak menatap warna-warni lampu disko sambil menikmati sebotol bir sampai tak sadarkan diri. Aku hanya ingin menemui Bagas. Sekadar bertatap muka dan menceritakan betapa rumitnya masalah yang muncul akhir-akhir ini. Atau barangkali, Bagas mempunya satu cerita mengenai Texas yang belum pernah kuketahui sebelumnya.

“Bir atau cocktail?” Seorang bartender menghampiriku yang tengah melamun di meja bar. Dia berdiri di sana sambil ber-juggling ria dengan botol shaker-nya.

Aku memandang cowok itu dengan alis mengernyit. Berpikir apakah semua bartender di tempat ini harus mahir beratraksi penuh gaya – memutar, melempar botol di udara, lalu menangkapnya – di depan pelanggannya.

“Nanti aja.”

Tidak butuh waktu lama sampai bartender itu menghampiri pelanggan yang lain di ujung bar. Tiga pria metropolitan dengan setelan trendi yang sibuk jelalatan ke sana kemari. Barangkali sedang mencari mangsa di antara lautan manusia yang tengah asyik berjoget itu.

Mengedarkan pandangan ke sepanjang meja bar selagi aku memulai pencarian. Orang-orang dengan kemeja hitam, slayer hitam terikat di kepala, piercing di telinga – terlihat seperti satu keharusan bagi para bartender itu.

Dalam hati aku bertanya, mengapa Bagas sama sekali tidak terlihat?

“Eh, Bro!” panggilku kepada seorang bartender lain yang tengah mengelap meja kerjanya.

Dia menyampirkan lapnya ke bahu. Menghampiriku dan melempar pertanyaan yang sama, “Bir atau cocktail?”

“Bukan...” Aku menggeleng takjub. “Gue mau cari Bagas. Ada lihat dia nggak?”

“Bagas – “ Dia memutar kedua bola matanya. “Bagas yang mana, ya?”

“Bagas yang kerja di sini, yang jadi bartender,” ujarku sambil mengetuk ujung jari tengah di atas meja bar.

“Waduh, gue kurang tahu, Bro. Gue baru dua bulan kerja di sini masalahnya.”

Musik berdentum semakin keras. Lampu laser bergerak lincah seperti sorotan mercusuar. Aku memperhatikan panggung yang kini mengeluarkan efek asap berwarna-warni. Samar-samar terlihat beberapa pria yang muncul di antara gumpalan asap itu.

Pria-pria berbadan tegap yang hanya mengenakan briefs sebagai pelengkap.

Sorak-sorai penonton melambung di udara menyambut kedatangan mereka. Tentu saja, inilah satu pertunjukan yang ditunggu-tunggu. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menonton aksi seronok para pria nyaris bugil di atas panggung. Tak ada larangan bagi siapa pun yang mau menggoda atau meraba-raba tubuh mereka. Bahkan, ada yang rela merogoh kocek lebih dalam hanya untuk menikmati fasilitas short-time dengan para penari erotis itu.

Aku tiba-tiba teringat seseorang.

“Kalau sama Tommy yang anak go-go boy, lo kenal?” tanyaku setengah berteriak, mencoba menyaingi lagu I Don’t Like You-nya Eva Simons yang di-remix sedemikian oleh DJ.

Tommy kerja di Apollo juga. Semua orang mengenalnya sebagai go-go dancer. Meskipun harus kukatakan – dia juga berprofesi sebagai escort yang biasa dipanggil untuk acara-acara tertentu. Bagas yang mengenalkannya padaku dulu. Selain itu, Tommy pernah memiliki keterkaitan dnegan Texas, di mana keduanya sempat berpacaran untuk waktu yang singkat di masa lalu.

Dan seandainya  aku bertemu Tommy, barangkali dia juga tahu keberadaan Bagas.

“Kurang tahu juga, Bro,” jawabnya polos. “Setahu gue emang banyak dancer lama yang udah pada cabut.”

Aku tertunduk lesu. Meratapi semua agenda yang telah tersusun rapi, namun hancur berantakan dalam waktu kurang dari 1 jam. Tidak ada satu pun dari rencana itu yang berjalan sesuai keinginan. Aku bahkan tidak tahu harus melarikan diri ke mana. Tak ada lagi tempat yang bisa dijadikan persinggahan.

Sebagian besar pengunjung Apollo kini mengerumuni area panggung. Lantai dansa terasa lengang. Mengamati kemeriahan yang berlangsung di atas sana dari kejauhan. Ada empat orang pria muscle bertopi pelaut sedang meliuk-liuk seperti ulat. Tubuh mereka yang dibanjiri keringat tampak berkilauan di bawah sorot lampu. Dua di antara empat orang itu saling berhadapan dan menggerayangi satu sama lain.

Dua tahun lalu, aku pernah menyaksikan pertunjukan serupa di sini. Texas duduk di sebelahku waktu itu, lebih tertarik berbincang dengan Bagas yang baru kukenal dalam hitungan menit. Sesekali Texas menegurku hanya untuk menawarkan minum dan mengajakku bergabung dalam percakapan mereka.

Tapi aku mengabaikan imbauannya. Tak pernah merasa nyaman saat berbincang dengan orang-orang baru.

“Punya lighter?”

Aku tersentak kaget dan praktis menyudahi semua lamunan. Menolehkan kepala pada seorang cowok bertubuh jangkung yang tiba-tiba saja berada di sebelahku. Sebatang rokok putih teracung di antara telunjuk dan jari tengahnya. Dia terus menatapku dalam-dalam sampai aku terdiam dalam kebingungan.

“Cricket? Umm – “ Aku mulai bertingkah tidak keruan, melirik ke sekitar kemudia meraba saku jinsku. “Sori, gue nggak merokok.” Karena memang benar, aku sudah berhenti merokok sejak dua tahun terakhir.

Dia mengangguk sambil menyeringai. “That’s okay.” Cowok asing berkemeja denim ini pun membalikkan badan dan memanggil seorang bartender. Berbicara sedemikian dekat untuk meredam bunyi bising yang berasal dari sound system. Tak beberapa lama, bartender itu kembali dengan membawa sebuah korek gas Zippo dan meletakkannya di atas meja.

Api Zippo perlahan menyambar ujung rokok sampai mengeluarkan asap kecil. Refleks membungkam mulut dan hidung dengan kedua telapak tangan supaya terhindar dari zat beracun itu.

“Lo terganggu?” Cowok itu memandangku dengan tatapan bersalah. “Maaf. Gue nggak tahu lo alergi asap rokok.”

Dan sebelum aku sempat menanggapi ucapannya, dia lebih dulu mematikan rokok itu ke alam asbak di hadapannya.

“Dulunya gue emang bukan perokok. Anti banget malah sama asapnya.” Dia mengulas tanpa kuminta. Meneguk cairan merah di gelasnya sebelum bercerita, “Sekarang boro-boro mau berhenti, sehari aja biasa habis dua bungkus.”

Aku hanya tersenyum tipis, tidak tahu menunjukkan reaksi yang tepat terhadap kisahnya. Dalam hati menduga-duga, cowok ini pasti sedang kesepian. Dia datang ke sini untuk menghibur diri; minum-minum sambil mencari teman untuk berbagi cerita.

Musik di sekeliling kami memelan sejenak. Lampu laser masih berkelap-kelip, hanya saja dalam kecepatan yang sedikit lambat. Leherku terjulur untuk mencari tahu keanehan yang sedang terjadi.

Cowok dengan potongan rambut a la Morrisey itu bersuara, “Bagian dari pertunjukan. DJ sengaja bikin situasi kayak gitu supaya audience ikutan cooling down.”

Tingkahku barusan mungkin agak konyol dan kelewat parno. Karena terus terang saja, pengalamanku di dunia malam masih sangat kurang. Bisa dibilang, aku perlu membiasakan diri dengan hal-hal seperti ini.

“Sama siapa ke sini?”

“Sendiri,” jawabku datar. “Lo?”

Dia mengedikkan jempolnya ke balik bahu, satu isyarat bahwa dia tidak datang sendirian.Dugaanku sebelumnya ternyata salah besar.

“Gabung yuk! Temen-temen gue lagi di table tuh.”

Perasaanku semakin tidak enak. Mencium sesuatu yang ganjil dari ucapannya. Perutku seperti dipelintir sewaktu kami berpandangan.

Sekilas kulirik arloji digital di pergelangan tanganku. “Gue mesti pulang.” Ucapanku terdengar seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kaca.

“Cepat amat! Acaranya kan masih belum selesai.”

“Mendadak ngantuk nih.” Ralat, maksudku mendadak jenuh.

“Lo yakin?” Sepertinya dia sedang berusaha mengulur-ulur kepergianku.

Aku mengangguk mantap, tidak perlu membantah maupun mengalah. Meyakinkan diri untuk turun dari kursi tanpa perlu berpikir dua kali. Berusaha membuang muka saat melewati meja yang dihinggapi sekelompok pria bertampang mesum. Dan pada saat itu, aku sepenuhnya menyadari bahwa tidak ada gunanya berlama-lama di tempat ini.