Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label keikhlasan :'). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keikhlasan :'). Tampilkan semua postingan
Jumat, 20 Juni 2014

Regret and Forgiveness

Aku udah di rumah nih. Sorry ya enggak bilang2

Mendengus kesal begitu mendapat pesan itu terpampang jelas di layar gadget. Aku bergegas membuka aplikasi LINE, mengintip window chat, dan mulai mengetik kalimat balasan yang tak kalah menyedihkan. 

Emm.. Ok.

Sesingkat itulah pesan yang kukirim kepadanya, tanpa melampirkan nasihat atau kalimat basa-basi busuk lainnya. Entah setan apa yang merasuk pikiranku pada saat itu, aku pun tidak tahu. Yang kurasakan hanyalah dongkol, kesal, jengkel, sebal, tapi juga rindu. Barangkali rindu untuk memarahinya.

Ya. Itulah hal berikut yang aku lakukan ketika segalanya bertambah rumit.

Dia mencoba memberi penjelasan, menguraikan satu demi satu peristiwa dengan kalimat yang amat sederhana. Alih-alih menyimak seluruh pernyataan yang dia berikan, aku justru menanggapinya dengan satu kalimat tanya. Mencari tahu, apa yang hendak dia lakukan dengan pernyataan itu? Ingin meyakinkanku atau sekadar memberi alasan palsu?

Namun, pada saat itu yang kuterima hanyalah ketidakacuhan. Barangkali dia sudah bisa menebak ke mana percakapan ini akan berakhir. Dengan bodohnya, aku kembali bertanya dengan kejam, what if i dont want to hear?

Terkadang, kalimat itu memang sangat ampuh jika dilontarkan kepada gerombolan Jerky Boys di luar sana. Sekadar membuat mereka malu dan tahu rasa. Aku pernah mencobanya satu kali kepada seseorang yang sempat mengintimidasiku lewat cibirannya. Dan itu berhasil.

Di lain waktu, barulah aku menyadari betapa tajamnya kalimat itu ketika kuarahkan kepada seseorang yang tidak bersalah.

Tidak butuh waktu yang lama sampai kami berdua saling beradu argumen dan menyalahkan satu sama lain. Aku belum mau menyerah. Terus mengoceh segala kekhawatiran dengan penuh kesabaran. Tapi, lawan bicaraku pun tak mau mengalah. Perang baru saja dimulai. Satu hal yang aku yakin, hal-hal seperti ini pasti berlangsung lama dan berujung petaka.

Sesekali emosiku menjadi sulit terkendali. Aku mendadak terpancing emosi. Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Inhale – Exhale. Aku sering melakukan hal seperti ini untuk menjaga keseimbangan diri. Sampai pada akhirnya, aku memutuskan untuk memasang bendera putih. Aku menjelaskan betapa lelahnya diri kami sehingga menjadi sangat kacau seperti tadi. Melontarkan kekurangan sama lain, merasa yang paling benar, mencurigai tanpa alasan. Hal-hal sepele seperti itu terkadang bisa menjadi penyebab rusaknya suatu hubungan.

Menasihati lagi agar semuanya dibicarakan di keesokan hari. Karena aku berpikir, semuanya tidak akan membaik jika diteruskan dengan penuh emosi. Mengistirahatkan pikiran adalah satu-satunya jalan. Tak lupa, aku pun menyertai permintaan maaf dan ucapan selamat tidur. Aku hanya berharap agar dia dapat memaklumi.

Tapi, semua itu masih jauh dari selesai.

Ada banyak hal yang masih hendak dia ungkapkan. Tentang bagaimana dia bisa mengeluarkan caci-maki, bagaimana dia yang selama ini sudah terlalu sabar dalam memahamiku, bagaimana dia yang selalu menunjukkan perhatiannya meskipun dengan cara yang berbeda. Dan yang terakhir, dia juga menyampaikan satu kalimat penyesalan atas apa yang telah dia lakukan. Satu kalimat permohonan maaf yang tulus.

Kalau tahu semuanya bakal kayak gini, mungkin aku enggak akan cerita yang tadi itu ke kamu. Mungkin aku bakal cerita aja ke orangtua aku, yang siap untuk ngasih dukungan ke aku sewaktu-waktu.

Pengakuan yang dia sampaikan seketika membuatku terenyuh.

Aku mendadak malu betapa irasionalnya tindakanku beberapa menit yang lalu. Menuduhnya macam-macam, mengatasnamakan cinta untuk segala bentuk kekhawatiran. Aku juga menyadari bahwa aku telah bersikap insecure dan berlebihan.

He was right, and I was wrong.


Tebersit lagi di benakku akan sebuah pertanyaan yang pernah aku ucapkan dahulu. Kenapa rasanya terlalu sulit untuk mendapatkan seseorang yang bersedia mencintai dan dicintai?

Kini, mungkin aku telah menemukan jawabannya. Satu-satunya jawaban mengapa aku sulit menjalin hubungan percintaan, karena aku terlalu rumit. Aku selalu mengalami kesulitan dalam menghadapi ketakutan yang aku ciptakan sendiri. Aku ini ganjil. Aku ini berbahaya.

Aku pernah begitu dekat dengan seseorang yang tepat. Meyakini di dalam hati bahwa dialah satu-satunya sejak awal pertama. Melakukan apa saja yang aku bisa untuk mempertahankan keutuhan kami. Tapi pada akhirnya, aku malah menyia-nyiakan kehadirannya dengan segala spekulasi negatif tak beralasan.

Kembali ke percakapan kami...

Dia masih mengutarakan segenap kalimat permintaan maaf. Membujukku agar mengerti bahwa dialah yang bersalah dalam kasus ini. Aku berusaha menepis pernyataannya. Lantaran aku menyadari, bukan dia yang berdosa. Dia tidak pernah salah.

Akulah yang sepatutnya meminta maaf.

Dan dia masih bersedia memberikan sebuah pengampunan.

Dia terlalu baik untuk mengampuni seseorang seperti aku.

Satu hal yang aku yakini... Meskipun pintu maaf itu akan selalu terbuka, aku tidak yakin apakah kesempatan itu masih ada. Aku baru saja menorehkan luka sekaligus membuatnya kecewa. Dan untuk saat ini, aku masih ragu apakah aku pantas untuk mencinta dan dicinta.
Jumat, 25 Oktober 2013

Why I Don't Wanna Be an Employee


Siang itu, orangtua saya kedatangan seorang tamu dari jauh. Saya tidak tahu siapa orang itu. Yang saya tahu, mereka terus berbincang-bincang di ruang tamu. Dimulai dari menanyakan kabar satu sama lain, bagaimana kondisi anak-anak, sampai yang menyangkut kehidupan pribadi anak-cucu masing-masing. Saya sendiri sempat mendengar dia menanyakan bagaimana kabar saya. Dan orangtua saya hanya bilang kalau saya jobless dan nggak punya kesibukan apa-apa.

Sontak saya terenyuh. Terkejut sekaligus tidak mengerti bagaimana kalimat itu bisa meluncur dari mulut kedua orangtua saya.

Di dalam kamar, saya masih terdiam. Saya duduk termenung di hadapan laptop yang menampilkan revisi naskah saya sambil merenungi kalimat barusan. Mata saya terasa memanas. Saya pengin menitikkan air mata. Tapi saya tidak mau menunjukkan kesedihan. Saya sudah berjanji untuk tidak menangisi hal-hal yang terdengar sepele.

Namun, saya masih nggak pernah mengerti mengapa orang-orang selalu menganggap sebuah pekerjaan adalah keharusan. Sesuatu yang dinilai komersil dan memiliki nilai jual. Mereka bilang, nggak punya pekerjaan nggak akan bisa hidup. Jujur, saya sendiri pernah berpikir demikian. Tapi itu dulu banget. Saat saya masih memiliki ambisi untuk meneruskan hidup dengan cara yang normal.

Tapi kenyataannya, saya hidup di dunia yang tidak normal. And I’m not normal actually...

Sejauh ini saya justru merasa nyaman dengan kesibukan saya sebagai seorang tenaga pengajar lepas dan seorang penulis – sekalipun itu belum mendapat pengakuan secara luas. Tapi, apakah sebuah pengakuan menjadi nilai tolak ukur yang mutlak? Dan, apakah uang menjadi satu-satunya simbol bahwa orang tersebut memiliki pekerjaan?

Saya tekankan sekali lagi bahwa itu tidak benar. Saya sendiri tidak beranggapan demikian. Bagi saya, pekerjaan adalah sesuatu yang harus dikerjakan berdasarkan sebuah tuntutan. Sementara, profesi adalah sesuatu yang telah dipilih oleh seseorang dengan alasan kecintaan dan keikhlasan. Begitu pula anggapan saya terhadap kesibukan yang saya tekuni sampai pada saat ini. Terus terang, uang adalah urusan yang kesekian. Yang terpenting adalah selama saya cinta terhadap apa yang lakukan, itulah profesi saya yang sesungguhnya.

Saya sudah pernah merasa hidup di bawah tekanan sebuah institusi yang mengharuskan saya bangun pukul tujuh pagi, bersiap-siap kerja dari jam sembilan sampai pukul sepuluh. Dua belas jam dalam sehari, tujuh puluh dua jam dalam seminggu. Terkadang lembur saat akhir pekan. Bayangkan  ketika saya melakukan aktivitas yang hanya itu-itu saja di dalam lingkaran yang teramat membosankan. Sedikit membuat kekeliruan, surat peringatan pun melayang. Begitu menjenuhkan hingga akhirnya saya mengambil keputusan untuk resign dan kembali untuk menulis.

Di pekerjaan saya yang sekarang, memang masih ada sistem yang seperti saya bilang barusan. Bangun pagi, mandi, mengajar dari jam sekian sampai jam sekian, menulis dari jam sekian sampai jam sekian. Tapi terus terang, siklus tersebut diciptakan oleh saya sendiri. Andaipun saya melanggarnya, saya harus menerima konsekuensi dari saya pribadi. Bukan dari orang lain.

Dan saya merasa nyaman dengan aktivitas tersebut.

Yang saya tidak habis pikir, entah kenapa kalimat seperti itu tercetus dari mulut orangtua saya? Saya pernah berangan-angan, suatu hari nanti mereka bersedua menuturkan sesuatu di hadapan teman-temannya bahwa saya seorang penulis, dengan bangganya pula menyatakan bahwa saya tidak bekerja pada suatu perusahaan ternama yang memberi saya upah per bulan. 

Saya pun sangat berharap orang-orang dapat memahami maksud dan tujuan kehidupan saya. Saya sengaja berkarya karena ingin berbagi, bukan untuk mencari uang. Dan saya senang dengan apa yang saya lakukan sekarang.
Rabu, 16 Oktober 2013

Buyung yang Malang

Siang itu, hujan datang tanpa diundang. Langit berubah gelap diselimuti kubangan awan mendung. Padahal, sejak tadi pagi matahari bersinar cerah. Hal itu seolah meyakinkan bahwa sepanjang hari tidak akan turun hujan.

Buyung sedang berada di ruang tengah. Berkutat di hadapan buku dan alat tulis sambil mengerjakan PR. Matematika menjadi satu-satunya pelajaran yang ia takutkan. Ia tak pernah menyukai rumus atau teka-teki yang terdapat pada soal cerita. Ia lebih baik membaca, menghafal, atau bahkan menulis karangan sebanyak dua halaman.

Dan sejak naik ke kelas empat, Buyung sudah terbiasa mengerjakan segalanya sendirian. Ayahnya bekerja sebagai petani. Ibunya hanya seorang buruh cuci. Ia juga tak pernah meminta bantuan pada kedua kakaknya karena ia tak ingin merepotkan mereka. Mengerjakan PR saat sepulang sekolah, istirahat di kala siang, mengulangi pelajarannya di kala malam. Begitulah aktivitas Buyung sehari-hari.

Mendengar deru hujan yang menimpa atap rumah mereka, ibu Buyung yang sedang berada di kamar mandi bergegas berlari untuk mengangkat jemuran. Cuciannya ditinggalkan sementara. Buyung yang sejak tadi sibuk menghitung pun ikut berlari. Ia menyusul ibunya keluar dan hendak memberikan bantuan. Saat itu, Buyung masih berusia sembilan tahun. Badannya ceking, tangannya pun agak ringkih. Jadi, wajar saja kalau ia tidak bisa segesit ibunya dalam bergerak.

"Duh!! Kalau kayak gini kan jadi memperlambat kerjaan Ibu!" Ibunya menggertak saat melihat pakaian-pakaian setengah basah itu terlepas dari pelukan si Buyung.
Buyung mencoba berkata, "Tapi, Bu - "
"Sudah, kamu masuk ke dalam! Bukannya membantu malah bikin repot!" Ibunya marah-marah.

Alih-alih bersikeras untuk membantu, Buyung yang merasa patah hati pun segera berganjak pergi dan masuk ke dalam rumah. Kakinya yang penuh debu tak menghalangi niatnya untuk segera naik ke atas dipan rongsok.

Buyung membenamkan wajahnya pada bantal yang bersarung kain batik lusuh itu. Menjatuhkan air mata sambil menahan sesenggukan yang bercampur dengan aroma tengik dari bantalnya. Ia tak peduli. Ia sudah telanjur sakit hati. Sebagai seorang anak, ia merasa begitu kerdil dan tak berguna di hadapan orangtuanya.

Pernah suatu hari, saat sepulang sekolah, Buyung menyaksikan sesuatu yang begitu mengiris-iris pembuluh nadinya. Dia melihat teman sekelasnya, sedang duduk di atas motor bebek bersama ayahnya. Menyantap es lilin dengan lahap karena terik matahari yang amat menyengat. Sementara, Bayu yang berjalan sendirian hanya dapat menikmati pemandangan itu dengan tatapan nanar. Debu yang beterbangan membuat pikirannya terlempar pada ayah dan ibu di rumah. Dia bergeming di dalam hati, jangankan untuk makan es lilin, pulang bersama orangtua pun aku tak pernah.

Buyung tahu, kedua orangtuanya sibuk bekerja. Sepanjang hari selalu dihabiskan untuk mencari uang. Pontang-panting tak kenal waktu, baik siang maupun malam. Buyung sadar kondisi keuangan yang dialami keluarganya. Oleh karena itulah, Buyung tak pernah merengek untuk membeli makanan. Paling banter, Buyung hanya meminta sebuah sepatu lantaran sepatu yang lama sudah jebol akibat tak pernah diganti sejak duduk di kelas satu. Itu pun karena Buyung memakai sepatu bekas milik kakaknya yang masih layak.

Buyung selalu menyayangi kedua orangtuanya sekalipun ia berada dalam keluarga yang serbasederhana. Terutama pada ibunya yang semakin hari semakin tua. Kadang, Buyung selalu mendapati ibunya jatuh sakit. Ia tahu, ibunya menderita TBC. Dan gejala yang demikian selalu muncul kalau kondisi tubuh seseorang terlalu lelah. Oleh sebab itulah, Bayu merasa wajib melindungi ibunya dalam situasi macam apa pun.

Sewaktu tangis itu mulai berangsur reda, Bayu berbisik pelan pada dirinya sendiri, "Kalau bisa, aku rela memberikan nyawaku untuk ibu. Agar ia dapat melanjutkan hidup tanpa perlu terbebani oleh penyakitnya."

Senin, 26 Agustus 2013

Hates Me Not

Sore itu, ponsel saya berdenting tepat setelah saya keluar dari kamar mandi. Saya sangat hapal dengan notifikasi itu. Dengan bergairah, saya segera merampas benda mungil yang tergeletak di atas ranjang saya, lantas membuka aplikasi Whatsapp dalam hitungan detik.

Satu pesan baru.

Awalnya saya berharap pesan itu dikirim dari seseorang yang saya tunggu-tunggu. Ternyata bukan. Saya harus menelan kecewa ketika saya mengetahui  identitas si pengirim pesan adalah teman saya sendiri. Well, sebut saja namanya Mike. Kami mengenal satu sama lain sudah cukup lama. Sekitar tiga tahun yang lalu, waktu itu saya baru lulus SMA. Dan memang, bagi saya tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Sudah banyak hal yang saya dapatkan dalam kurun waktu tersebut.

Salah satunya, Mike yang akan saya ceritakan sesaat lagi.

Semangat saya sudah lama surut. Jadi, mau tidak mau akhirnya saya membuka sejumlah pesan yang dikirimi oleh Mike.

Hei, Joy.
Apa kabar? Where have you been?
Sombong banget ya sekarang! >.<

Ya... Kurang lebih begitulah isi pesan yang tertampil di layar ekstra-lebar ponsel saya. Sesaat setelah sederet kalimat itu saya tuntaskan, saya melenguh. Membuang napas panjang-panjang dan terdiam sampai saya sendiri tidak tahu berapa lama saya melamun.

Kalau boleh berkata, saya sudah sering menerima pesan yang berbunyi demikian. Dibilang sombong, cuek, belagu, bahkan lupa sama temen. Jadi yang seperti itu bukan hal baru lagi buat saya pribadi. Tapi, saya nggak menanggapinya dengan hal yang jahat. Saya berusaha seramah mungkin agar mereka sadar bahwa saya tidak sombong, belagu, whatever-you-called-it. Karena pada dasarnya, saya bukan tipe orang yang suka memulai sebuah permusuhan.

Agak lama saya membatu, akhirnya saya mengetik beberapa patah kalimat sebagai pesan balasan. Nggak mau banget kalau dia berpikir saya sombong gara-gara hanya membaca pesannya saja. Begini balasan saya;

Alhamdulillah gue baik, kok. Everything’s fine here.
Duh... Jangan bilang gue sombong, dong. :p

Tak beberapa lama kemudian, dia merespons.

Emang elu sombong kali! Di twitter jarang mensyen, di path juga jarang nyapa.
Di whatsapp apalagi!!!

Saya terkesiap ketika saya mendapati tiga butir tanda seru yang berada di akhir kalimatnya. Secara tiba-tiba saja rasanya kepala saya seperti dihujani jutaan tanda tanya. Tapi dalam waktu yang bersamaan, saya pengin ketawa. Terus bertanya dalam hati, emangnya saya sombong, ya? Letak kesombongan saya di mana, sih? Saya kan cuma ciptaan Tuhan yang nggak ada bedanya sama manusia yang lain...

Merasa gerah dengan tudingan yang tidak sesuai kenyataan, akhirnya saya menginjakkan jemari saya secepat mungkin di atas touchscreen dan membalas seperti ini;

Sori, bukannya sombong.
Waktu itu gue udah nyapa di twitter,guma gue nggak dapet tanggapan apa-apa.
Gue liat di timeline, lo juga kayaknya lagi sibuk sama temen-temen lo yang baru J

Selang beberapa lama, dia menanggapi pesan saya.

Itu mah geng rumpi gue, Joy. Anaknya asik-asik, kok.. Hahaha

Menurut saya, kalimat itu sudah sangat jelas menunjukkan bahwa Mike merasa lebih nyaman dengan teman-temannya yang sekarang. Dengan kata lain, saya bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan mereka.

Saya menghela napas dalam-dalam, menetralkan amarah saya yang meluap-luap di kepala. Dan beruntungnya, saya bukan tipe orang yang temperamental dan lumayan sanggup mengendalikan emosi saya (untuk hal-hal tertentu) sehingga saya tidak perlu membanting ponsel saya detik itu juga. Jadi, saya hanya diam dan tersenyum. Mengambil tindakan dengan menghapus chat history saya dengan Mike dan mematikan ponsel saya agar tidak ada lagi gangguan-gangguan berikutnya.

Sepanjang malam – sebelum saya terpejam – saya merenung kembali saat-saat di mana saya dan Mike biasanya bercakap-cakap di Whatsapp, atau bahkan bergosip via telepon hingga dini hari.  Kami sering membicarakan topik yang jenisnya beraneka ragam. Dimulai dari menasihati kelakuan saya yang suka berharap terlalu tinggi kepada seseorang yang belum tentu menyukai saya, kemudian giliran saya yang memberinya wejangan-wejangan sederhana supaya tidak kelewat naif terhadap orang yang dia taksir. Selalu ada timbal balik yang wajar setiap kali kami menumpahkan isi kepala.

Saya rindu momen-momen manis seperti itu.

Namun percakapan bersama Mike tadi sore membuat saya bernala-nala, bagaimana dia bisa berkata demikian? Bagaimana dia bisa menilai saya sebagai orang yang sombong sementara kami sudah bersahabat sejak lama? Dan padahal, selama ini saya selalu menjaga komunikasi dan hubungan pertemanan kami sebaik mungkin. Bahkan saya tidak pernah sekali pun mencoba memulai satu permusuhan.

Apakah hanya saya satu-satunya objek yang patut dijuluki sebagai sahabat yang sombong?

Kenapa dia sendiri tidak bisa menyadari kalau sebagian masalah ini juga berasal dari kesalahannya?

Hingga pada satu waktu, saya menyadari bahwa waktu selalu membuat sebuah perubahan. Mike telah memiliki satu lingkaran pertemanan yang baru di saat intensitas percakapan kami tidak sesering dulu. Belakangan ini saya memang kerap menyibukkan diri dengan menulis. Mike sendiri tahu mengenai kesibukan saya, dan barangkali dia berupaya menjaga jarak agar tidak terlalu mengganggu saya. Mungkin itulah salah satu faktor yang membuat dua di antara kami seperti saling bersisian.

Dalam kasus ini, saya tidak tahu siapa yang benar-benar egois. Selama ini saya telah mencoba bersikap seadil mungkin. Saya juga memiliki teman-teman yang lain. Tapi saya tidak pernah melupakan Mike. Sekalipun saya tidak ingin belajar membenci seseorang hanya karena sebuah kesalahpahaman. Namun, jika sahabat saya itu lebih memilih untuk bergabung bersama teman-temannya yang baru, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Semua keputusan itu sepenuhnya berada di tangan sahabat saya.
Selasa, 20 Agustus 2013

Life Goes On

Pagi itu, aku bangun lebih awal. Aku beringsut turun dari ranjang dan keluar dari kamar sesaat setelah aku dihadiahi spektrum ilusi yang membuatku teramat merindu. Beberapa di antaranya adalah sejumlah suara semu yang tidak kuketahui dari mana mereka berasal.


Aku melangkah gontai ke ambang pintu rumahku, duduk bergeming di sana sembari menengadahkan kepala. Menyaksikan selendang biru yang membentang luas di sepanjang cakrawala beserta riak-riak awan putih yang sedang berdansa di sekitarnya. Angin bertiup kencang tanpa perhitungan sekalipun bola api di atas sana berpijar terik tak terkira. Satu demi satu dedaunan pohon jambu di halaman rumahku mengelupas dari rantingnya yang tampak telah menua.


Dalam diam aku membatin, ini tidak terasa seperti biasanya.


Aku tidak tahu apa yang sedang kualami. Bahkan, aku tidak mengerti mengapa aku memilih untuk duduk di sini. Biasanya, aku akan hanyut dalam damai setiap kali aku berada dalam ketenangan yang demikian. Hanya saja semuanya telah berbeda. Ada semacam perasaan gelisah yang membuatku takut dan tiba-tiba ingin meneteskan air mata.


Aku menoleh ke belakangku untuk sejenak. Menyaksikan sebuah ruangan yang senyap tanpa penghuni selain barang-barang pajangan dan aneka benda mati. Tidak ada siapa pun di sekitar sana. Tidak ada suara, maupun sosok yang tenangkan jiwa. Yang ada hanya sepi.


Pikiranku kembali terlempar pada sederet kenangan yang kulalui beberapa hari kemarin. Masa di mana segalanya terasa begitu hangat. Ada gelak tawa, ada sukacita, dan ada cerita yang senantiasa menjadi bukti kebersamaanku dengan seluruh penghuni di rumah ini. Dan biasanya, semua bentuk keceriaan itu akan kutemui di saat-saat seperti sekarang.


Aku juga masih mengingat dengan jelas saat bocah-bocah kecil itu berteriak dengan suaranya yang sumbang pada suatu pagi, kemudian diselingi dengan nyanyian yang terus berlanjut tanpa tahu kapan mereka akan mengakhiri. Atau momen di mana mereka berteriak menangisi sesuatu yang seharusnya mereka miliki. Dan tak ayal, tangis itu pun akan segera berhenti saat salah satu dari penghuni rumah ini mencoba menenangkan keadaan dengan caranya sendiri.


Selama beberapa saat, aku hanya terdiam sembari menyeka bulir tangis yang tertahan di ekor mataku. Aku membayangkan bila seandainya sukacita seperti itu tidak lagi tercipta dengan esensi tawa yang seutuhnya. In bottom line, tanpa suatu kebersamaan dalam keluarga, atau setelah terjadi sebuah perpisahan.


Aku beranjak dari dudukku, tahu bahwa semua kenyataan ini harus kuhadapi. Karena pada suatu waktu, aku menyadari bahwa fase inilah yang disebut fase pendewasaan. Siap atau tidak, hidup akan terus berjalan – dengan atau tanpa perencanaan.



Bangka, 20 Agustus 2013

Teras rumah...