Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label snippet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label snippet. Tampilkan semua postingan
Minggu, 04 Desember 2016

The Unforgotten

Hampir semua orang memiliki doanya masing-masing sebelum memulai aktivitas mereka. Sebagian mungkin ada yang berdoa supaya cuaca selalu bersahabat; lekas bertemu jodoh; pulang ke rumah tepat waktu; atau barangkali berharap adanya hujan uang dari langit. Tapi, aku nyaris tidak pernah memanjatkan doa-doa seperti itu. Bagiku, itu terlalu ketinggian. Orang harus bersikap realistis sesekali.
Alih-alih berkeinginan yang kurang masuk akal, setiap harinya aku justru berdoa supaya bisa bertemu Oby dan teman-temannya di tempat biasa. Aku selalu berdoa supaya ia tidak kabur ke mana-mana, supaya tidak dilempari batu oleh anak-anak usil, supaya tidak ada yang menyuapinya dengan racun tikus, dan supaya dia masih sudi menungguku di tempat itu.
Kau akan tertawa jika aku berterus-terang mengenai identitas Oby yang sesungguhnya.
Jadi, Oby adalah seekor kucing kampung yang kutemui ketika pindah ke rusun Bidaracina. Dialah satu-satunya makhluk hidup yang hadir di mulut gang itu, memelototi kemunculan seorang pria berkemeja flanel yang tergopoh-gopoh membawa kardus di pundaknya. Aku jadi teringat bagaimana dia bersuara sewaktu aku melintas di hadapannya dan serta-merta membuntutiku sampai ke bangunan rusun.
Tidak ada filosofi khusus atas nama yang kuberikan padanya. Nama itu muncul begitu saja ketika aku mengusap dagunya dan menasihati untuk tidak mengikutiku sampai ke lantai atas. Dan, sejak saat itulah pertemanan kami berawal.
Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi Oby di mulut gang. Tempat di mana ia, Lastri, Bisma, dan Arga asyik nongkrong di sebelah gerobak bubur ayam yang kian hari kian sepi pelanggan. Tanpa perlu kuberi penjelasan pun, kurasa kalian sudah bisa menebak bahwa nama-nama yang kusebut barusan adalah makhluk hidup yang sama seperti Oby.
Belum genap langkahku berada di sekitar tempat itu, dari kejauhan tampak seseorang tengah mengusik aktivitas mereka. Aku tak tahu persis apa yang dia lakukan di sana, jadi kurasa tak ada salahnya untuk bertanya.
“Saya perlu memberi kucing-kucing ini sarapan, kalau Anda tidak keberatan.”
Orang itu menengadah, mengangkat wajahnya yang sejak tadi tersembunyi di balik tudung sweater abu-abu. Ada beberapa bulir peluh yang mengalir di pelipisnya.
“Kamu pemilik kucing-kucing ini, ya?” Kontan, ia beranjak dan membuka tudung sweater itu. Membiarkan rambut hitamnya yang dikuncir menyambut matahari pagi. “Maaf, aku pikir mereka semua kucing liar.”
Lidahku terasa kelu, sendi mendadak kaku. Bukan karena ia yang baru saja mengungkapkan identitasnya sebagai perempuan—bukan. Ia memang seorang perempuan. Tapi, ia memiliki kulit cokelat yang menarik, senyuman mematikan dengan satu gigi gingsul di sebelah kiri. Fakta bahwa celana training abu-abu yang ia kenakan pun tak sanggup menutup pesona yang ia miliki. Sepertinya, ia baru saja selesai berolahraga.
Di bawah sana, suara Oby dan ketiga kerabatnya terus mengusik fantasiku. Mataku mengerjap beberapa saat sebelum akhirnya berjongkok dan membagi-bagikan potongan roti isi cokelat kepada mereka.
“Masing-masing kucing ini tentu punya nama, kan?”
Aku mengangguk. “Yang bulunya belang tiga itu Arga. Cara mengenalinya gampang, dia yang paling ramping. Bisma yang hidungnya hitam. Satu-satunya yang betina, namanya Lastri. Sepertinya dia lagi hamil. Dan yang ini—“ aku menggapai kucing berperut buncit dengan bulu berwarna kuning dan putih. “—ini favorit saya, namanya Oby, the one who always asking for his extra-meals.”
“What a cute name!” Kedua sudut bibirnya tertarik hingga matanya tampak hanya segaris. Sambil menggosok leher Oby, dia menyapa, “Hai, Oby.”
“Anda sendiri?”
Ia memandangku sekilas, lalu berkata, “Luna.”
“Setahu saya, Luna itu dalam bahasa Italia artinya bulan.” Tapi, sebagian pikiranku justru terbayang sosok kucing hitam bernama Luna di kartun animasi Sailor Moon.
“Ibuku pernah cerita, selama dia hamil, dia selalu suka memandang bulan. Ditemani secangkir teh kayu manis dan irisan buah pir. My father was there, too. Dan waktu melahirkan aku, bertepatan banget dengan 15 hari bulan.”
Aku merogoh sepotong roti dari dalam jaketku yang khusus kusiapkan untuk Oby. Mengangsurkannya diam-diam tanpa sepengetahuan Lastri dan kawan-kawan.
“Dulu waktu masih SD, aku dijuluki anak aneh sama temen-temen.” Detik berikutnya, kudengar Luna mulai bertutur tanpa kuminta. “Mereka tahu ibu aku suka pelihara kucing. Kalau nggak salah, dulu jumlahnya sekitar 18 ekor gitu. Sebagian berasal dari keturunan yang sama, sebagian lagi aku pungut dari jalan, pasar.”
“Sepertinya nggak ada yang aneh dengan semua itu.”
“Mungkin mereka berpikir, memungut kucing liar sama dengan menculik, atau salah satu bentuk tindak kejahatan,” sahutnya. “But I never really care what they said about that.”
“Sudah seharusnya begitu.”
“Kamu penyuka kucing juga?”
“Terobsesi untuk punya satu atau dua, tapi nggak pernah tercapai sampai sekarang.”
Oby baru saja menandaskan roti terakhirnya. Kemudian, kudengar Luna bertanya ‘kenapa’.
“Saya tinggal di rusun yang tidak memperbolehkan para penghuninya membawa hewan peliharaan,” jawabku. “Jadi, satu-satunya yang saya lakukan buat membayar rasa ingin tersebut ya—dengan ketemu mereka di sini setiap pagi. Sengaja bawa isi roti, ngobrol kayak orang gila.”
Luna membalas kisahku dengan tawa yang renyah, dan seperti biasa—kedua mata yang menyerupai garis itu ketika ia tergelak. Dan aku tahu, semua ini hanya masalah waktu saja sampai aku telanjur mengaguminya lebih jauh.
Aku lekas berdiri dari hadapannya. “Saya harus pamit sekarang, mau kejar setoran.”
Luna mengernyit, mungkin kesulitan memahami ucapanku. Namun, aku mengacungkan jempolku pada gitar tua yang bertengger di punggungku. Dia pun mengangguk paham.
Di ujung sana, sebuah metromini berjalan agak lamban dengan teriakan kondektur yang bergelayutan pada pintu belakang. Aku baru mau menyusulnya ketika terdengar sebuah suara dari mulut gang itu. Kepalaku tertoleh ke belakang.
“Nama kamu siapa?”
“Panggil aja Bayu.”
Usai jawaban itu, aku pun melompat ke dalam metromini yang kini berjarak hanya 1 meter dari hadapanku.
*

There is no such thing as coincidence in this world.
Setidaknya, begitulah yang diutarakan Luna seusai berpapasan denganku di depan kafe Rolling Stones malam itu. Aku baru saja selesai perform ketika sosok familier itu muncul di tengah keramaian. Celana jins biru dan sneaker putih membungkus kedua tungkainya yang jenjang. Rambut hitam yang senantiasa dikuncir kuda itu tampak sedikit basah oleh air hujan.
Cukup lama aku mengamatinya dari kejauhan; berkutat dengan DSLR seri terbaru, memotret lalu lintas dan hiruk-pikuk para pejalan kaki, sampai ia menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan.
“God doesn’t play dice with the universe.”
“Einstein’s!” balasku.
Kami menepi ke sebuah halte dan menanyakan kabar satu sama lain. Kujelaskan padanya bahwa Oby belum terbiasa dengan menu martabak wijen, Lastri yang sedang hamil besar—dan siapa ayah dari calon bayi-bayi itu. Selanjutnya, Luna bertanya lagu apa saja yang kumainkan selama sesi akustik tadi.
“Yellow, Hotel California, Layla.”
“Eric Clapton?” Ia membelalak seolah tak percaya. “Coba, mainin satu lagu selain Layla dan Wonderful Tonight.”
Aku ragu suara gitarku bisa dinikmati olehnya. Di sekitar kami terlalu banyak distraksi. Beberapa di antaranya berasal dari percakapan pedestrian yang lalu-lalang di hadapan kami, ditambah lagi dengung knalpot yang bising. Kusetem gitarku terlebih dahulu, sebelum akhirnya memetik satu per satu senar gitar.

Would you hold my hand, if I saw you in heaven?
Would you help me stand,if I saw you in heaven?

Di tengah riuh suasana malam, aku terus bernyanyi. Beberapa orang sempat berhenti untuk menyaksikan permainan gitarku. Sementara itu, dari sudut mataku, Luna tampak serius membidikku lewat kameranya. Tanpa lampu kilat, yang terdengar hanyalah bunyi shutter beberapa kali. Hal itu tidak membuatku serta-merta bertindak defensif. Aku percaya ia tidak memiliki maksud jahat terhadap foto itu.
Usai menyanyikan Tears In Heaven, ia bertanya, “Kamu punya Facebook? Kalau punya, nanti ku-tag foto-foto ini ke kamu.”
“Saya nggak punya akun sosial media. Nggak pernah main begituan.” Aku terkekeh, lantas mengeluarkan ponselku dari dalam saku. Itu adalah Sony Ericsson T100. “Ini hape saya, jadul.”
“Setidaknya masih bisa dipake buat teleponan.”
“Nggak bisa juga, speaker-nya rusak. Cuma bisa SMS­-an.”
“Well, can I have your number?”
Aku mengangsurkan ponsel itu ke tangannya. Jemari Luna memencet tombol numerik dengan sangat teliti, lalu mengembalikan benda berwarna hitam itu kepadaku.
“I’ll text you later, Bayu.” Dia berangkat dari duduk. Melambaikan tangannya, lalu berjalan menerobos sisa hujan.
*

“Waktu itu kamu bilang handphone kamu nggak bisa dipake buat teleponan?”
“Udah saya perbaiki, di konter di pinggir jalan. Murah, cuma 20 ribuan.”
Aku memandangi langit-langit kamarku, tampak jelas sarang laba-laba yang bergelayut di sana. Rasanya sudah lama sekali aku tidak membersihkan kamar ini. Di waktu yang sama, aku membayangkan Luna sedang berbaring dengan rambut hitamnya tergerai, aroma sabun mandi yang segar, tubuh sintalnya yang terbungkus piyama putih kebesaran.
“Kamu nggak ketemu Oby pagi tadi?”
“Aku lebih tertarik buat ketemu kamu,” jawabnya di seberang sana.
“Just come, then.”
Ia tergelak sebelum akhirnya menjawab, “Oke. Tunggu di depan gang, ya.”
Terkadang, kau tak bisa melawan apa yang diinginkan nalurimu. Tak peduli seberapa keras kau berusaha mencoba, kau akan menyadari betapa kau sangat menginginkan hal itu. Dan aku sulit memercayai fakta bahwa Luna benar-benar menepati janjinya.
Ia tiba di mulut gang tepat 30 menit setelah telepon kami berakhir. Penampilannya masih seperti biasa, celana jins panjang, sepatu kets, dan kemeja tartan cokelat. Namun, ada sesuatu yang tidak biasa pada kemeja itu. Tiga kancing teratas sepertinya dibiarkan terbuka, sehingga aku bisa melihat jelas tanktop hitam di baliknya. Seolah bisa membaca pikiranku, Luna pun menggeraikan rambut panjangnya malam itu.
Untuk pertama kalinya, aku menyaksikan rambutnya bebas dari ikatan.
Aku masih berdiri sana, mematut dirinya cukup lama. Luna tersenyum semringah menyaksikan tingkahku yang tak keruan. Fenomena seperti ini seringkali dialami oleh mereka yang sedang jatuh cinta. Semua ini hanya masalah waktu saja sampai ia menyadari apa yang sebenarnya kurasakan.
Gelap tak lagi menjadi musuh. Di atas sana, bulan tampak penuh. Cahayanya jatuh ke muka bumi, tempat kami berada saat ini. Tak ada lagi jarak. Kugenggam telapak tangannya agar ia tak kedinginan, lalu bibir kami menyatu, bertautan seolah tak ingin lepas. Oby, Lastri, dan konco-konconya menyaksikan adegan itu. Pada akhirnya, Luna memberi gagasan bahwa malam itu akan berakhir sempurna apabila ia bermalam di tempat tinggalku.
Aku mengangguk setuju.
*

            Hari-hari setelah pertemuan kami di malam itu, semua masih baik-baik saja. Luna masih sering menghubungiku via telepon dan mengirim kata-kata mesra di SMS. Sesekali, ia juga menyempatkan diri untuk datang setiap kali ada sesi akustik di kafe Rolling Stones. Namun, seminggu setelahnya, Luna tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
            Berkali-kali aku mencoba meneleponnya, namun yang kuterima hanya suara operator yang berkata bahwa nomor tersebut sedang berada di luar jangkauan. Sempat aku menerka, barangkali ponselnya hilang, atau mendadak rusak.
            Satu hal yang sulit kupahami, kenapa aku sangat mengkhawatirkannya?
            Aku bahkan bukan siapa-siapa di kehidupannya.
            Aku ini cuma orang asing.
            Aku seharusnya merasa bersalah terhadap Oby, Lastri, Arga, dan Bisma yang akhir-akhir ini seringkali kuabaikan. Hari-hari bersama Luna membuatku lupa untuk mengunjungi mereka di mulut gang itu. Bagaimana kabar mereka? Apakah perut Oby masih segemuk dulu? Apakah Lastri sudah punya momongan dan hendak kawin lagi? Apakah Bisma masih suka jaim setiap kali aku menyuapinya roti?
            Yang kutahu, saat ini aku ingin menemui mereka. Segera saja kusambar celana jinsku dan sekantung plastik berisi roti cokelat murahan. Satu porsi ekstra telah kuselipkan ke dalam saku. Itu khusus Oby. Mudah-mudahan saja ia tidak marah atas ketidakacuhanku belakangan ini.
            Langkahku tergesa-gesa. Aku bergegas keluar, dan seketika terhenti oleh kehadiran sesuatu di depan pintu. Seonggok kardus yang bertengger persis di atas keset kaki. Tanpa alamat, tanpa nama tercantum. Kotak itu tidak terlalu besar, hanya seukuran dua telapak tangan.
            Kudekatkan kotak itu ke telinga dan mengguncangnya beberapa kali. Tidak ada yang aneh. Mungkin isinya hanya permen, atau sampo kemasan sachet. Tapi, aku cukup tercengang sewaktu mendapati setumpuk foto berukuran 4R di dalam kotak tersebut. Sebagian gambar itu tampak tidak asing; dengan latar belakang yang sangat kukenal. Itu adalah foto ketika aku memainkan gitar di bawah halte usai perform di Rolling Stones. Foto sepatu Converse-ku yang kumal, foto jari-jariku yang menekan chord C major. Ada pula potret Oby, Lastri, Arga, Bisma—dan keempatnya yang saling berdekatan.
            Hanya memandangnya pun, aku sudah bisa menebak siapa pengirimnya.
            Seolah kurang lengkap, ia juga melampirkan sehelai kertas scrapbook di antara foto-foto itu. Sepucuk surat. Mataku mulai menjelajah tulisan pada kertas tersebut dengan saksama.

            Gagasan ini sebenarnya muncul tiga hari yang lalu. Waktu itu, aku dengar orangtuaku membahas tentang bisnis batik dan kerajinan kayu mereka mengalami kemerosotan. Permintaan pelanggan berkurang, sementara stok barang di gudang masih menumpuk. Ibuku berpikir, daripada jatuh bangkrut, mungkin akan lebih baik jika bisnis di Jakarta ditutup saja. Ide itu disetujui ayahku. Dan mau tidak mau, aku mendukung keinginan mereka.
            Aku tahu, kamu nggak bakalan memaafkan aku setelah membaca ini, Bayu. Mungkin kamu bakal bertanya, kenapa nggak jujur dari awal?
            Aku terpikir untuk menyampaikannya, tapi aku tahu semua itu pasti sulit untuk diterima. Nggak peduli semenarik apa pun alasannya, kalau sudah menyangkut urusan perpisahan, tetap saja menyakitkan.
            Percaya atau nggak, aku bahagia bisa berkenalan dengan kamu. Aku mengagumi setiap lagu yang kamu mainkan lewat gitar itu. Dan, aku harus berterima kasih karena kamu telah menjadi teman yang baik selama beberapa minggu kemarin. Terima kasih pula karena telah menjadi sosok yang sangat menyenangkan. Lain waktu, jika ada kesempatan, berkunjunglah ke Bali. Akan aku tunjukkan kucing-kucing yang kami bawa pindah dari Jakarta. Jumlahnya semakin banyak!

                                                                                                With love,
                                                                                                Luna.
           
PS: Aku jatuh cinta pada Oby sejak pertama. Jadi, aku juga membawanya ke Bali. Kamu nggak perlu khawatir, I’ll be the one who always giving him an extra-meal. Sebisa mungkin aku bawal merawat Oby supaya dia nggak jatuh sakit atau kelaparan. Tadinya aku kepikiran buat ngajak Arga, Lastri, dan Bisma. Tapi aku nggak mau dicap sebagai orang serakah, Bay. Jadi, kuharap kamu nggak menyimpan dendam.

            Surat itu kutuntaskan dengan satu senyuman kecut. Tak ada tangis, tak ada luapan amarah. Semuanya masih baik-baik saja—setidaknya untuk saat ini. Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri, selama membaca kalimat yang terurai di sana, hampir sepanjang waktu kurasakan napasku tercekat. Pikirku pun ikut melayang ke sejumlah adegan di mana segalanya berawal, setiap detik yang pernah terlewati bersama Luna, lagu yang kumainkan untuknya, percakapan sebelum tidur—di telepon maupun di dalam kamarku.
            Dan Oby.
            Sikapnya pernah membuatku terganggu pada saat pertama. Suara-suara bising yang kerap ia timbulkan setiap kali aku lupa membawakan porsi ekstra; tanda bahwa dia marah. Terlepas dari semua hal yang menyebalkan itu, ialah satu-satunya sahabat yang kumiliki sejak tiba di sini. Satu-satunya yang sudi menyisihkan waktunya untuk menunggu, mendengkur di pelukanku, meskipun hanya sekejap.
            Kulipat kembali kertas di genggamanku, dan memasukkannya ke tempat semula. Mungkin tak ada lagi yang perlu ditangisi. Karena sampai kapan pun, manusia akan terus dihadapi dengan aneka kejutan, salah satunya perpisahan. Dan tak banyak orang yang sanggup mengatasi rasa kehilangan itu.
            Namun, suatu hari kau akan mengerti, merelakan kepergian bukanlah proses melupakan. Ia akan selalu ada di sana, menjadi satu cerita lama yang tak mungkin bisa untuk dihidupkan kembali.

-fin-
           

Sabtu, 01 Agustus 2015

Pelbagai Kenangan Tentang Mimpi dan Perjalanan

Fakta bahwa semua orang pernah bertindak impulsif meskipun hanya satu kali dalam seumur hidup. Tak peduli apa yang jadi alasan utamanya, tetap saja hal tersebut memberi kesan mengasyikkan. Sesuatu yang addicted. Tapi setelah direnungkan berulang-ulang, terkadang menjadi seorang impulsif sangat konyol dan kekanakan.

Aku tidak berhasil mengingat tanggal dan bulan berapa persisnya peristiwa itu. Mungkin sekitar sembilan tahun yang lalu, saat aku masih duduk di kelas sebelas.

Bel sekolah berdering lebih cepat dari perkiraanku. Awalnya aku mengira, aku bisa tiba di sekolah tepat waktu. Setidaknya satu menit sebelum guru muncul di dalam kelas. Tapi, ada beberapa hal di dunia ini yang bisa terjadi begitu saja dalam satu kedipan mata, tanpa mampu kita cegah. Sekalipun kita telah menyusun rencana serapi mungkin.

Seperti yang kualami di pagi hari yang terik itu.

Pintu gerbang sekolah terkunci rapat. Satpam sekolah yang berdiri di dalam sana memelototi kami dengan tatapan mengancam, seakan-akan hendak memberi hukuman. Aku ditemani puluhan murid lain yang sama-sama terlambat. Salah satu di antara mereka adalah Texas Nejrabi, siswa kelas XI IPS 2.

Kami pernah berbincang di perpustakaan sebelumnya. Peristiwa itu sudah cukup lama. Aku juga sering dengar orang-orang memanggilnya si Arab Nyasar. Julukan itu dia dapatkan dari para senior sewaktu masih jadi murid baru.

Aku kerap memperhatikan Texas diam-diam; memata-matai setiap kali dia bersama teman-temannya;  sesekali melempar senyum setiap kali berpapasan di kantin. Dan selama berbulan-bulan, aku terus berpura-pura di hadapan Texas. Aku tidak ingin dia mengetahui orientasi seksualku yang sebenarnya. Bertingkah seakan-akan aku ini cowok sungguhan – cowok normal yang suka cewek, bukan dengan cowok.

Kerumunan orang di sekelilingku mulai menipis. Sebagian besar masih berdiri di sana lantaran tak punya banyak pilihan, sisanya justru minggat ke suatu tempat. Aku mulai sadar satu hal; saatnya aku mengambil keputusan. Maka, aku pun pergi menjauh. Lebih baik kabur daripada menunggu kedatangan Kepala Sekolah atau guru piket untuk menghadiahi sanksi.

Aku melangkah ke sebuah warung kecil yang terletak di seberang jalan, letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah kami. Gerobak makanan bertuliskan ‘mi goreng, mi rebus, bubur kacang, gorengan’ itu belum sepenuhnya terisi. Pemiliknya bernama Pak Komar. Dia sedang meracik adonan tahu isi sewaktu aku masuk dan mencomot teh botol dari dalam kulkasnya.

Cuaca pagi itu ternyata tidak bisa diajak kompromi. Peluh menbanjiri pelipisku. Aku menyekanya berkali-kali, tapi ia seakan tak mau berhenti. Tepat ketika aku hendak membanjiri tenggorokanku dengan minuman dingin, seseorang tiba-tiba muncul dan mengurungkan niatku.

Seseorang yang biasanya kukagumi dari kejauhan.

Seseorang dengan rahang yang kokoh, tulang pipi yang tegas, sepasang bola mata cokelat cerah, dan bertubuh atletis.

Dia berjalan menuju meja panjang yang menempel ke dinding warung. Di tangannya ada sebotol air mineral ukuran sedang. Beberapa tegukan saja sampai air di dalam botol itu habis tak bersisa.

“Kamu yang anak IPA itu, kan?” Telunjuknya teracung ke arahku.

Aku mengangguk spontan, kemudian memberanikan diri untuk duduk di sebelahnya. “Dan kamu Texas, anak IPS yang terkenal karena julukan itu.”

Kepalanya berguncang ke belakang. Itulah kali pertama aku melihat Texas tertawa lepas. Tawa yang begitu memabukkan, tanpa secuil kepalsuan.

“Bangun kesiangan?” Aku melempar tanya.

Dia menjawab dengan kepala terangguk. Kemudian mengeluarkan sebuah novel fenomenal yang berjudul To Kill A Mockingbird dari dalam ranselnya. Aku tidak tahu seperti apa alur cerita buku tersebut. Tapi suatu hari kelak, aku akan menyadari bahwa novel itu berkaitan dengan passion yang dia miliki.

Orangtua Texas tidak tinggal bersamanya di Jakarta. Keduanya berada di Pakistan, sesekali mampir ke Indonesia sebelum bertolak ke Sydney untuk mengurus bisnis Real Estate milik ayahnya. Seperti itulah yang dia ungkapkan sebelum percakapan kami bergulir semakin jauh.

“Biasanya kalau lagi boring, kamu pergi ke mana?”

Aku segera menjawab tanpa pertimbangan, “Nggak ke mana-mana, lebih sering di kamar aja. Mentok-mentok ya – jalan kaki keliling komplek perumahan.”

“Kelihatan, sih. Kamu tipe anak rumahan banget. Kulit putih, bersih, kalem.” Texas mulai menekuniku dari atas ke bawah, seakan-akan ada yang salah dengan penampilanku. Baru pertama kali aku mendengar seseorang mendeskripsikan diriku secara gamblang.

“Aku tahu,” jawabku. “Kalau kamu?”

“Pasar! Di Jakarta banyak pasar loak. Selain berburu barang murah, bisa berburu buku obral juga.” Texas menutur, “Aku senang membaca. Aku bisa duduk di perpustakaan satu hari penuh, tanpa makan dan minum.”

“Nggak heran aku sering lihat kamu di perpustakaan sekolah.”

“Ternyata kamu sering memperhatikan aku, ya?”

Aku semakin kehabisan perbendaharaan kata. Niat awal ingin menceletuk, justru diserang balik. Agak gugup aku membalasnya, “Itu kebetulan aja, kok.”

“That’s okay. I don’t mind at all.” Dia tersenyum, seakan-akan tidak merasa keberatan. “Oh ya, habis ini mau ke mana?”

 “Mustahil untuk masuk ke kelas. Gerbang udah ditutup. Jam pelajaran pertama pun udah dimulai.” Aku mengedikkan bahu. “Lagian aku nggak suka berurusan sama Pak Ikbal. Kamu juga pasti sependapat sama aku!”

Pak Ikbal itu satpam sekolah kami. Orangnya rese, sering ikut campur urusan orang, sok berkuasa, mata keranjang.

Texas tergelak lagi. Kali ini lebih pelan. Cukup pelan hingga menyisakan satu keheningan.

Dan di tengah-tengah keheningan yang canggung itu, kudengar dia bicara, “Ikut aku, yuk.”

Dahiku mengernyit. “Ke mana?”

Texas beranjak dari kursi. Senyumnya terkembang sempurna. Ada sesuatu yang aneh di balik senyuman itu. Tapi aku tidak sanggup menerka. Dia hanya menjawab, “Somewhere only we know. Ayo!”

Bagaimana aku sanggup membuat satu penolakan ketika aku sama sekali tidak punya pilihan? Texas menggapai tanganku. Kami keluar dari warung Pak Komar, berlarian ke jalanan sampai akhirnya melompat ke dalam bus Patas 76 jurusan Pasar Senen. Aku sepenuhnya sadar bahwa tindakanku sangat gila. Tapi aku tak dapat memungkiri; aku menyukainya.

Apa pun terasa lebih menyenangkan selama aku bersama Texas.

Alih-alih singgah ke Plaza Atrium untuk nonton atau sekadar cuci mata, kami justru melipir ke Pasar Senen. Texas kerap mengunjungi tempat itu karena keunikannya. Siapa yang menyangka, kawasan itu dipenuhi sejumlah seniman dan kumpulan mahakaryanya. Pemain musik, pengrajin kayu, pelukis, pembuat puisi. Aku bahkan baru tahu kalau Chairil Anwar termasuk salah satu di antara Seniman Senen pada zamannya.

Perjalanan belum berhenti sampai di situ. Aku dan Texas melipir ke salah satu lapak PKL yang menjual tas dan koper bermerek dengan harga murah. Belakangan aku baru tahu, ternyata tidak sedikit selebriti tanah air yang doyan belanja di sana. Pedagang itu bilang, mereka lebih suka belanja barang bekas berkualitas ketimbang barang mahal. Agak mengejutkan memang.

Selama berjam-jam kami menjelajahi Pasar Senen tanpa rasa lelah. Tepat pukul 12, aku dan Texas memutuskan keluar dari pasar lantaran merasa lapar. Matahari membakar kepalaku. Kami sepakat menuju pedagang mie ayam yang berjualan di depan Stasiun Senen.

Ada sekelompok siswa SMA yang mendekati kami pada waktu itu. Mereka sepertinya berasal dari SMA swasta. Seragamnya bermotif batik kebiruan. Salah satu di antara mereka meminta rokok kepada kami secara paksa. Aku enggan menggubris, begitu pula dengan Texas. Kami berdua tahu, tidak ada pilihan selain berdamai atau balas menggertak. Tapi, membuat keributan di tempat umum sangat tidak dianjurkan.

Apalagi saat masih mengenakan seragam sekolah.

Jadi, aku merogoh selembar uang pecahan sepuluh ribu dari dalam saku seragam dan menaruhnya di bawah mangkuk mie ayamku. Diam-diam menyenggol Texas supaya bergegas kabur dari hadapan mereka. Kami melesat cepat seperti anak panah. Sebisa mungkin melarikan diri dari bahaya. Orang-orang itu terus-menerus meneriakkan sumpah-serapah, menyamakan kami dengan para penghuni kebun binatang. Terlalu nyaring sehingga aku dapat mendengarnya begitu jelas.

Aku terlalu sibuk untuk menoleh ke belakang. Fokusku terpecah antara jalanan dan jemari Texas yang senantiasa kugenggam. Napasku memburu. Perutku berguncang hebat. Seporsi mie ayam yang kusantap bisa saja melompat keluar dari mulutku sewaktu-waktu.

“Naik ke angkot!” perintah Texas dari belakang.

Ada sebuah kendaraan umum berjenis angkot yang berada beberapa meter di hadapan kami. Angkot itu baru mau mempercepat lajunya ketika aku dan Texas melompat masuk, dan menimbulkan bunyi gradak-gruduk yang berisik. Hanya ada empat orang penumpang yang berada di dalam. Seorang ibu dengan bayi di gendongannya menatap aneh ke arah kami.

Tapi kami sama sekali tak peduli.

Selama beberapa saat, aku dan Texas masih cekikikan sambil membahas apa yang baru saja terjadi. Mobil mulai memasuki kawasan Senen Raya yang ramai, kemudian berbelok ke Jalan Pejambon. Macet di mana-mana. Pada jam makan siang, lalu lintas akan berubah dua kali lebih sibuk. Aku baru sadar ke mana arah dan tujuan kendaraan ini ketika Texas bertanya pada salah seorang penumpang yang duduk di sebelahnya.

“Permisi, Pak, angkot ini berhentinya di mana, ya?”

Pria berkumis tebal itu menjawab dengan logat betawi yang sangat kental, “Di depan sono noh, Stasiun Gambir.”

Tak ada kalimat apa pun yang keluar dari mulut Texas. Dia hanya melirikku sekilas, menantiku bereaksi.
Pada saat itu, aku tak sanggup berkata apa-apa. Lututku mendadak lemas. Pikiran-pikiran buruk merasuki seisi kepala. Aku mulai menebak-nebak apa yang kami lakukan setelah ini? Kami bahkan sama sekali tidak punya rencana.

Satu hal yang kutahu, kejadian selanjutnya berlangsung begitu cepat.

***

Aku tidak pernah menyangka hari itu akan menjadi satu perjalanan yang sangat panjang.
Cukup lama kami berdiri di depan pintu masuk Stasiun Gambir tanpa berbuat apa-apa. Texas menatapku lama, kepala dimiringkan ke sisi, sepasang alis tebalnya terangkat; satu pertanda bahwa dia telah membuat keputusan. Aku bergeming, keheningan mulai melebur di antara kami. Namun sebelum aku menemukan alasan yang didasari keraguan, aku melihat Texas membongkar ranselnya dan mengeluarkan sesuatu ke hadapanku.

Sehelai kaus abu-abu dengan logo Crocodile berukuran kecil di bagian belakang. Warna kaus itu agak kusam, seperti telah dicuci ribuan kali. Dan aku langsung menarik kesimpulan, baju itu dia dapatkan di Pasar Senen tadi. Setali tiga uang dengan kaus hitam bergambar Rolling Stone yang kemudian berada di genggamannya.

Kita butuh ini.

Dan entah bagaimana, aku tersihir begitu saja oleh ucapannya;

Melangkah ke dalam Stasiun Gambir tanpa rasa keberatan, menuju toilet untuk mengganti seragam sekolah kami dengan kaus di tangan masing-masing.

Texas sama sekali tidak menunjukkan rasa malu ketika harus membuka seragamnya di hadapanku. Aku dapat melihat rambut-rambut halus yang tumbuh di sekitar pusarnya. Beberapa tahun kemudian, aku semakin sering menyaksikan pemandangan itu. Dengan beberapa perubahan yang membuktikan bahwa hormon selalu berpengaruh dalam masa pertumbuhan.

Sebagian dari diriku tak berhenti berpikir, bagaimana aku bisa secepat itu merasa nyaman dengan seseorang? Seseorang yang selama ini hanya sanggup kukagumi diam-diam. Anehnya lagi, aku terus berharap rasa nyaman itu tak segera pergi.

“Dam, cita-cita kamu apa?”

Texas bertanya dengan suara lirih. Dia berbaring terlentang di atas rumput-rumput yang tumbuh seadanya. Langit malam di atas kami tampak seperti selendang hitam yang dihiasi manik-manik.

Jadi, di sinilah kami berada. Setelah dirundung perasaan cemas bercampur bahagia, menempuh perjalanan berjam-jam dari Stasiun Gambir menggunakan kereta Argo Parahyangan, kemudian mengayuhkan sepasang kaki sampai tumit melepuh, aku dan Texas akhirnya tiba di Bukit Bintang.

Walau dinamakan demikian, sebenarnya tempat ini tidak memiliki unsur perbukitan sama sekali. Hanya ada hamparan tanah dan bebatuan yang tidak rata, ditumbuhi ilalang kecil di mana-mana, serta-merta terdapat beberapa warung kecil yang menyediakan jajanan ala kadarnya. Di malam hari, semua orang dapat menyaksikan kerlap-kerlip lampu yang menyala di sepanjang kota Bandung.

“Belum tahu.” Aku berada di belakangnya, duduk dengan kaki terlipat dan kedua tangan mencengkeram rumput. “Tapi kalau yang kamu maksud ini cita-cita yang sering ditanyakan orangtua sama anak mereka sewaktu kecil, aku punya jawabannya.”

“Jadi dokter? Atau pilot?” Texas terkekeh.

“Selalu bahagia dalam kesederhanaan. Simple as that.” Mataku menerawang jauh, menembus kilau lampu di bawah sana.

Texas beranjak, kemudian mengambil posisi duduk di sebelahku. “Sebenarnya, itu lebih mengacu ke impian, sih.” Mengalirlah filosofi sederhana tentang mimpi dan cita-cita versi Texas. Sebagian orang beranggapan bahwa cita-cita adalah goal terbesar dalam hidup mereka, sesuatu yang patut dipertahankan dengan harga mati. Namun, semua itu tak akan terwujud tanpa kehadiran mimpi. The dream is an energy that propels us to move forward. Mimpi membuat seseorang percaya bahwa segalanya terasa mungkin.

Anything could happen.

“Lulus nanti, aku mau kuliah jurusan Hukum. Terus lanjut magang di kantor pengacara ternama, terus menangani banyak kasus dan berurusan dengan klien.” Texas tidak peduli orang-orang beranggapan profesi itu sangat berkelas sekaligus kejam. Dia tidak peduli berapa banyak pendapatan yang akan diperoleh dalam satu bulan, satu tahun, lima tahun. Bukan uang yang dia cari.

Satu-satunya alasan mengapa Texas begitu berambisi menjadi seorang pengacara; karena dia tahu betapa banyak orang-orang lemah di luar sana yang membutuhkan perlindungan hukum.

Dan untuk kali pertama, aku terkagum-kagum mendengar pengakuannya.

“Tapi aku punya impian seperti itu juga.”

Aku mengernyit dan bertanya, “Seperti apa?”

Jeda sejenak. Kedua bola mata kami saling beradu. Dan selama jeda yang singkat itu, ada desir hangat yang membanjiri aliran darahku. Sesuatu yang membuatku ingin merasakannya lagi, lagi, dan lagi. Sekalipun perasaan itu sungguh tidak tepat.

“Like you said before.” Texas mengujar, kemudian merebahkan tubuhnya lagi di atas rumput.

Dari kejauhan, terdengar sekelompok mahasiswa sedang mendendangkan sebuah lagu. Bunyi dawai gitar yang dipetik; rangkaian chords sederhana. Disusul siul-siulan panjang yang bertransformasi menjadi sebuah melodi.

Shed a tear ‘cause I am missing you
I’m still alright to smile
Girl, I think about you everyday now
Was a time when I wasn’t sure
But you set my mind at ease
There is no doubt; you’re in my heart now

Patience yang dibawakan orang-orang itu masih mengalun di udara. Angin malam berembus pelan. Bukan dingin yang kurasakan, namun kehangatan yang begitu  kentara. Pikiranku melayang jauh bersama lagu.

Begitu jauh hingga aku tersadar bahwa Texas tak lagi berada di dekatku saat ini.

Di masa kini.
Kamis, 30 Juli 2015

Chapter 8 - Making Plans

“Masih belum kelar kerjaan lo?”  Fino menduduki kursi kosong di hadapanku. Secangkir Green Tea Frappuccino pesananku berada di genggamannya. Itu adalah cangkir kelima setelah aku menghabiskan dua jam di Starbucks tanpa melakukan apa-apa.

 “Dari tadi gue bolak-balik majalah, tapi belum ada satu pun ide yang nyangkut.”

“Jangan terlalu dipaksain. Istirahat dulu, deh.”

Aku menanggalkan kacamata minus-ku, mengempas lembar demi lembar kertas HVS yang berisi coretan kacau ke atas meja. Bolpoin-ku terguling ke sudut meja. Fino menahannya sebelum ia sempat jatuh di lantai.

Dia meraih majalah Vogue Spanyol yang tertutup lembaran sketsa berengsek itu dan mulai menjelajahi halamannya satu per satu. Mulutnya terkunci rapat. Sosok Constance Jablonski yang menghiasi sampul depannya seolah-olah tampak sedang mengejekku.

“Ini mesti diserahkan 5 hari lagi, Fin. Astaga!” Aku memijit pelipisku dan memejamkan mata erat-erat. Kepalaku mendadak terasa sangat nyeri, seperti dipukul lusinan palu. “Gue mesti gimana abis iniiiiiii?”

“Lo maunya bikin konsep kayak gimana, sih?”

“Yang jelas nggak pasaran dan sesuai sama permintaan mereka!” ucapku setengah menyerah. “Lo lihat aja, nih – “ Menarik satu rangkap kertas yang sejak tadi teronggok di salah satu kursi dan menyodorkannya ke hadapan Fino. “Gara-gara konsep sialan itu, orang-orang pasti berpikir gue nggak becus kerja, nggak profesional. Karier gue bakal ikut terancam kalau kayak gini terus!”

“Tega banget mereka nolak konsep kayak gini.”

Agak gengsi memang ketika aku harus memaparkan pengakuan Uki waktu itu. Tapi, Fino pantas mengetahuinya; konsep foto di pinggir pantai sudah ketinggalan zaman dan terlalu melenceng dari trademark kami selama ini.

Fino hanya diam. Memelototi gambar yang tertoreh pada kertas itu dengan saksama sampai kudengar dia berseru pelan, “Ambil notebook lo, gue punya jalan keluarnya!”

Bagaikan dihipnotis, aku langsung menyambar buku bersampul kulit dari dalam messenger bag-ku. Menuju kertas paling belakang di mana halaman itu dipenuhi oleh guratan pensil warna dan catatan yang tidak terlalu penting. Bolpoin berada dalam posisi siaga. Telingaku mulai menyimak apa yang disampaikan Fino. Tapi, gagasan itu belum sepenuhnya terangkum kala aku memilih untuk berhenti menulis.

Ada sesuatu yang salah.

 “Tunggu...” Aku melepaskan bolpoin dari genggaman. “Lo bermaksud iseng ke gue atau gimana?”

“Kenapa emang?” Dahi Fino mengernyit.

“Kebun Raya Bogor, latar pepohonan, gadis bergaun putih. Lo bercanda?” ulasku dengan napas terengah-engah. “Tema photoshoot­-nya urban vintageFin. Bukan yang spooky mirip majalah misteri gitu.”

 “Kalau lo berpikir konsep yang gue bilang barusan agak horor, berarti lo salah.” Fino membela diri. “Foto gothic-spooky lagi tren, tahu.”

“Oke, gue hargai pendapat lo. Cuma, yang harus ditonjolkan pada sebuah foto adalah konsepnya. Harmonisasi antara kostum, dandanan, dan pemilihan tempat.” Secara harfiah, ada pesan yang bisa tersampaikan lewat foto tersebut.

 “Coba lo googling, deh. Atau lo bisa cari di Pinterest. Di sana banyak banget fotografer lokal yang udah bikin portfolio mereka sendiri.”

 Perdebatan ini tidak akan kunjung usai. Jadi, lebih baik aku membungkam mulutku rapat-rapat. Sisa hujan masih beririsan di luar sana. Sejumlah kendaraan memadati jalan Melawai, menanti pergantian traffic light. Gumpalan asap knalpot Metromini membuat segalanya tampak lebih pekat.

Dan... Kotor.

Fino benar. Terkadang referensi itu memang sangat diperlukan. Bukan bermaksud menjiplak, tapi sekadar membandingkan gagasan kita dengan milik orang lain. Selain itu, referensi juga dapat membantu dalam evaluasi diri. Supaya kita tahu, apa saja yang perlu dikembangkan atau diperbaiki.
Namun, brainstorming dengan Fino sama sekali tidak ada gunanya. Dia mungkin mengerti masalah fashion. Fino tahu bagaimana menata penampilannya agar terlihat maskulin dan classy. Tapi, tidak semua individu dapat menciptakan ide. Gagasan out-of-the-box adalah sesuatu yang kubutuhkan saat ini.

Seorang pelayan berkaus hitam dan celemek hijau melintas di sebelah meja kami. Pada saat yang sama, iPhone-ku tiba-tiba berdering. Menatap sejenak empat huruf yang muncul di layar itu sebelum benar-benar menggapainya. Empat huruf yang membuatku yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untuk diajak bicara.

“Halo...” Telapak tanganku sedingin es. Fino mulai heran terhadap tingkahku yang mendadak tak keruan.

“Lagi di mana, Dam?” balas Heru di seberang sana. Samar terdengar bunyi klakson kendaraan. Dugaanku, Heru sedang berada dalam perjalanan menuju suatu tempat.

“Lagi di Starbucks Melawai, Her. Bareng temen gue, cewek.” Entah kenapa, statement yang terakhir itu terdengar kurang penting.

“Eh, kebetulan banget. Gue lagi on the way Taman Langsat nih, tapi masih di Sudirman, sih. Lo nyusul dong!”

Aku mengernyitkan dahi dan bertanya, “Gerimis gini ke Taman Langsat mau ngapain?”

“Ada kerjaan,” ucapnya santai. “Udah, ke sini aja. Apa mau gue jemput?”

Fino bertanya tanpa suara, ingin tahu dengan siapa aku bicara. Namun aku hanya memberinya isyarat untuk hening sesaat. Menengok arlojiku sebelum membuat keputusan, “Bentar lagi gue ke sana, deh.”

“Sip! Gue tunggu, ya.”


Aku mengakhiri panggilan. Berusaha menyembunyikan letupan rasa bahagia di dalam hati. Sementara, Fino masih menatapku dengan senyuman aneh; tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan semua ini.
Minggu, 17 Mei 2015

Chapter 6 - Kenangan dalam Aksara


Langit sudah gelap ketika aku dan Heru tiba di Cilandak Town Square. Pada awalnya, aku memang enggan mematuhi ajakannya. Apalagi bepergian ke sebuah Mall, tempat yang sarat akan kerumunan umat dan segala jenis aktivitas. Aku tidak pernah merasa nyaman berada di tengah keramaian. Selalu berpikir, semua orang akan menyerangku dengan tatapan aneh.

Tapi mau bagaimana lagi, Heru bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menolak ataupun bernegosiasi.

Setiap hari Sabtu, Cilandak Town Square selalu terlihat ramai dibandingkan hari-hari biasa. Seorang DJ akan hadir di tengah-tengah hall utama dan memainkan musik hingga larut malam. Tak heran jika sebagian besar para selebritis sering muncul di tempat ini. Hal itulah yang terjadi sewaktu kami meninggalkan lot parkir.

Seorang pria berperawakan sedang dengan topi jenis flat cap dan kacamata minus melintas di hadapan kami. Wajahnya tampak familier sekali. Dia pernah muncul di sebuah liputan salah satu stasiun televisi swasta, tapi aku lupa namanya siapa. Heru lekas menyadarkanku bahwa pria itu adalah Mas Joko Anwar.

Kami melewati restoran Burger King sebelum tiba di Aksara Bookstore. Heru sengaja membawaku ke sini karena dia yakin, toko buku ini juga menjual buku Memory Of Solferino.

Heru bergegas menuju undakan buku-buku yang disusun pada satu meja khusus. Semua novel best seller, majalah terbaru, dan aneka literatur terpajang rapi di sana. Sementara itu, aku berhenti di rak magazine, lantas meraih majalah entertainment dengan sosok Miranda Kerr yang menghiasi sampul depan. Tulisan-tulisan mencolok seperti; Tren Super Seru, Seks Gaya Asia, Kesan apa yang ia tangkap dalam 5 detik membuatku tertarik untuk mengintip isi majalah tersebut.

Satu demi satu halaman terlewati. Sederet artikel dan gosip membosankan berada di sana-sini. Meletakkan majalah itu ke tempat semula, sembari melayangkan pandangan ke sekitar. Tampak beberapa pengunjung sedang membaca buku secara gratis lantaran plastik pelindungnya telah terbuka. Sebagian lagi, ada yang tengah bercengkerama dengan seorang pramuniaga.

Situasi seperti ini membuatku teringat pada masa di mana aku dan Texas berbincang untuk pertama kalinya.

Aku berdiri di depan rak buku sambil menekuni Modul Praktikum Fisika Dasar milik perpustakaan sekolah. Materi yang terkandung dalam modul itu adalah hukum Newton dan prinsip dasar dinamika untuk gerak lurus. Texas juga berada di lorong yang sama denganku. Mengulurkan jabat tangan perkenalan sekaligus menyinggung tentang buku bacaanku.

Kami masih terlalu muda untuk jatuh cinta semasa itu. Tapi entah kenapa, aku dapat merasakan getaran aneh setiap kali berhadapan dengannya. Mustahil untuk memungkiri segenap keindahan yang dimiliki Texas. Pada sepasang alis tebal dan bulu matanya yang lebat, bola mata berwarna cokelat pekat, dan bibir merah yang kerap membentuk simpul senyum paling memikat.

“Adam...” Sebuah suara yang diselubungi kehangatan tiba-tiba hinggap telingaku.

Selama sekejap, aku sempat berhalusinasi jika pemilik suara itu adalah Texas. Tersenyum ketika mata kami berdua saling bertemu dalam satu garis maya. Menghambur ke dalam pelukannya tanpa peduli komentar orang-orang di sekeliling kami. Namun, semua angan-angan itu terpaksa kumuntahkan selagi aku menyadari sosok yang kini berdiri di hadapanku adalah Heru.

“Elo ternyata,” aku melengos kecewa.

Heru melipat kedua lengannya di depan dada. “Nggak di tempat rame, nggak di tempat sepi, kerjaan lo melamun aja,” gumamnya. “Nggak takut kesambet apa?”

Aku mengabaikan ucapannya dan lebih memilih bertanya, “Jadi gimana? Ketemu novel Solferino-nya?”

Dia menggeleng lesu. “Abis muter-muter ke semua rak buku, tapi gue sama sekali nggak ketemu buku yang dimaksud.”

“Udah coba tanya ke pegawainya?” Aku memberi solusi alternatif. “Biasanya kan mereka punya database semua judul buku di sini.”

“Udah,” tukas Heru. “Emang bukunya nggak ada.”

Sudah kuduga! Buku itu memang agak sulit didapatkan di Jakarta. Selain langka, novel yang ditulis langsung oleh Henry Dunant itu sudah terabaikan bagi mereka yang tidak tahu apa-apa tentang sejarah Palang Merah. Lagi pula, kalau memang benar-benar tersedia di Indonesia, buat apa aku bersusah payah membelinya di situs Amazon?

“Terus? Itu buku apaan?” Aku memperhatikan sebuah buku agak tebal bersampul hitam di genggamannya.

“Stephen King. Different Seasons. Kata Mbaknya, sih, bagus.” Dari judulnya, aku bisa menebak buku itu ber-genre fantasi atau horor thriller. Terbukti sewaktu Heru mengulas secara singkat salah satu chapter berjudul Rita Hayworth and Shawshank Redemption. Kisah seorang banker bernama Andy Dufresne yang dituduh bersalah lantaran membunuh istrinya yang selingkuh. Dufresne menjalani masa-masa tersulitnya selama menjadi tahanan di Shawshank, sebuah penjara di USA.

“Mau pinjam?” Dia menyodorkan buku itu kepadaku.

“Boleh, kalau lo nggak keberatan,” jawabku.

“Tapi ada syaratnya!”

Kebahagiaanku pupus seketika. “Apa?”

“Barteran sama buku Henry Dunant.”

Aku menggeleng mantap, sama sekali tidak terpengaruh pada seringai senyum dan tatapan Heru yang meskipun harus kuakui, sangat memesona. Tapi tetap saja, hal itu tidak akan membuatku berubah pikiran.

“Oke,” Heru mengedikkan bahu. “Mungkin belum diizinkan untuk memiliki kali, ya.”

Di ruang waktu berikutnya, kami berdua membatu dan saling berpandangan selagi irama musik melantun merdu lewat pengeras suara. Itu adalah Unbeliavable, lagunya Craig David.

But, you came and you change my whole world now
I’m somewhere I’ve never been before
Now, I see what love means...

Aku mendadak terenyuh dalam diam. Lagu itu seperti membungkus kami berdua dalam satu terowongan panjang di mana segalanya terasa hening, tanpa gravitasi, sekaligus damai. Tapi entah kenapa, lama kelamaan lagu itu terdengar memuakkan. Apalagi di tengah situasi awkward seperti ini.

Heru yang lebih dulu mengakhiri kecanggungan itu. “Kalau boleh tahu, isi twit lo kemarin sore itu tentang apa, Dam?”

Aku bergeming. Sedikit pun tidak siap untuk menjawab tentang apa, siapa, dan bagaimana penyebabnya sehingga aku terpikir untuk mempublikasikan kutipan itu ke sosial media.

“Prediksi gue, sih – pasti tentang mantan lo?”

“Bukan!” tanggapku, kelewat defensif.

Faktanya, Texas memang bukan mantan kekasihku. Hanya karena ada jarak di antara kami dan minimnya komunikasi, tidak berarti kami berdua telah resmi berpisah. Aku sendiri tidak berhak memproklamirkan siapa dan seperti apa status hubungan kami saat ini. Karena aku tahu, Texas sendiri telah memiliki hubungan asmara yang lebih jelas dengan Sarah, wanita pilihan hatinya.

“Gue tahu elo menyembunyikan sesuatu.” Heru berdiri tepat di hadapanku. “Kalau emang ada yang mau lo utarakan, ngomong aja. Gue bersedia mendengarkan, kok.”

Tenggorokanku tercekat. Sesuatu memaksa nuraniku untuk bercerita, “There was a time – when i need to forget all about my past and live my life like everyone else. Lo pasti bisa membayangkan gimana rasanya ketika semua kenangan dan suka-duka di masa lalu itu menghantui pikiran lo?” Aku menggelengkan kepala, berkedip beberapa kali sebelum melanjutkan, “Dan lo terbawa arus, nggak ada yang bisa lo lakuin selain menanti sesuatu yang nggak pasti.”

Memutuskan untuk berhenti sejenak lantaran tahu bahwa ceritaku sudah terlalu jauh. Bukan hal bijak jika aku memaparkan semua itu di hadapan Heru. Satu-satunya orang yang dapat menyelesaikan masalahmu hanya dirimu sendiri.

“Kenapa berhenti?” tanya Heru.

Aku menggeleng. “Can we skip this conversation?”

“That’s okay, Dam. Just let ‘em out.” Heru meremas telapak tanganku erat-erat. Matanya menyiratkan bahwa dia ingin mendengar satu cerita komplet tanpa melewatkan satu detail pun.

Tapi aku menepis tangannya dan berkata, “Gue tunggu di luar, ya. Gotta find some fresh air.”
Sabtu, 27 September 2014

Faith of Love (part 2 - ending)

December 11th, Westminster

Rasanya baru kemarin aku melihat sejumlah pepohonan yang mengering di kota ini. Daun-daun kuning yang biasanya mengotori jalanan dan pekarangan rumah, kini berganti dengan lapisan salju tipis. Musim dingin telah dimulai sejak pekan terakhir bulan November.

Malam baru saja naik saat aku meninggalkan apartemen dan memilih untuk berjalan keluar. Suhu mencapai -5◦C. Angin menusuk tajam, udara dingin berusaha menembus masuk mantelku. Melewati rumah-rumah kopel dan sederet restoran yang nyaman. Tempat keluarga sejati dan beberapa pasangan muda-mudi sedang makan bersama. Bercengkerama dan tertawa sambil menikmati kehangatan di dalam sana.

Menenggelamkan telapak tangan kiriku ke saku mantel sementara aku bergerak menuju Patissarie Valerie. Menutup payungku dan segera melangkah ke dalam kafe yang bernuansa remang-remang itu.

Suasana di Patisserie Valerie tidak pernah membosankan; etalase yang dihiasi kue-kue dan aneka roti, bunyi sendok yang beradu dengan dinding cangkir, serta ingar-bingar suara pengunjung yang tengah bercakap-cakap. Bahkan tempat ini terlalu sempit untuk menampung orang-orang yang bosan mengurung diri pada Jumat malam yang beku.

Aku berdiri di depan etalase yang menyajikan roti bagel dan jenis kue-kue cantik beraneka warna. Mencomot beberapa muffin cokelat dan cupcake ke atas nampan sambil menikmati alunan musik blues yang diputar lewat pengeras suara. Dan untuk saat ini, aku harus bilang bahwa bepergian ke suatu tempat dan berbelanja adalah cara termudah untuk membahagiakan diri sendiri.

Di luar sana, salju turun lagi. Aku baru mau menuju meja kasir saat terdengar seseorang yang memanggilku dari arah konter Cheese Cake.

“Kamu lagi?” Seorang pria tak dikenal tersenyum sumringah kepadaku.

Agak ragu aku bersuara, “Permisi?”

“Kau pasti Sophie, kan?” Dia menggaruk-garuk kepala, tampak bingung sendiri dengan ucapannya. “Ah, rasanya sudah lama sekali.”

Aku menatapnya dari atas ke bawah. Mengamati sosok asing bertubuh jangkung yang dibungkus jaket dan mantel tebal, dan rambut cokelat gelapnya yang dipotong rapi.

Dia berkata lagi, “Aku Hugo. Kita pernah bertemu beberapa bulan lalu.”

Aku mengulang namanya berkali-kali sambil berpikir keras. Berusaha mencari nama itu di sepanjang koridor memoriku – barangkali ada satu atau dua momen yang pernah kami lewati, tapi tak sengaja terlupakan. Dan aku baru teringat bahwa dia adalah orang yang pernah kutemui di Legoland pada Oktober lalu.

“Ya. Senang bisa bertemu denganmu lagi,” ucapku, tersenyum malu. “Omong-omong, apa yang kaulakukan di sini?”

Telunjuknya teracung pada seiris tar Almond dan Strawberry Shortcake yang terbungkus rapi dalam mika plastik.

Dan pada saat yang sama, aku benar-benar merasa malu lantaran telah melontarkan pertanyaan bodoh.

Dia balik bertanya, “Kau tidak bersama putrimu?”

Aku tercenung selama beberapa saat. Dalam hati, aku amat menyesali kebohonganku kala itu. Mengakui Emma sebagai putri kandungku justru membuatku terjebak dalam posisi yang sulit. Bingung harus memilih 1) tetap berbohong, atau 2) mengatakan yang sesungguhnya kepada Hugo.

“Sebenarnya, dia anak temanku. Waktu itu dia menitipkannya kepadaku karena ada suatu urusan yang harus dia selesaikan bersama suaminya.” Kuungkapkan saja yang sebenarnya. Biar dia tahu bahwa aku tak pandai bersandiwara.

Hugo hanya menganggukkan kepala.

“Kau sendiri? Ke mana perginya anak perempuan yang bersamamu waktu itu?”

“Nicki berada di rumah. Musim dingin bukan waktu yang tepat untuk bepergian.”

Percakapan kami ternyata memakan waktu yang cukup lama saat seorang kasir di hadapanku berdeham seakan-akan aku telah membuat satu kesalahan. Terperanjat kaget melihat sekelompok orang di belakangku yang membentuk satu antrean panjang. Beberapa orang memandangku dengan mata melotot sambil mendengus kesal.

Aku bergegas menyelesaikan proses pembayaran dan masih sempat menyampaikan permintaan maaf sebelum keluar dari barisan.

Hugo mengekoriku dari belakang.

Dia bertanya, “Masih pertanyaan yang sama seperti waktu itu, ke mana tujuanmu setelah ini?”

“Tidak ada tempat yang bisa menyelamatkan dari badai salju selain apartemen,” jawabku. “Kau?”

Alih-alih menjawab, dia malah balik bertanya, “Kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku ikut denganmu? Sekadar bertamu sambil menghabiskan kue bersamamu, barangkali.”

Tenggorokanku tercekat sewaktu menatap bola mata hijau zamrudnya berpendar cerah terkena cahaya lampu di kafe ini. Perutku terasa nyeri oleh sesuatu yang tidak beralasan. Aku mengembangkan payungku dan menjawab, “Dengan senang hati.”
***


“Kau sendirian yang menghuni tempat ini?” tanya Hugo seraya mengambil posisi duduk di atas sofa. Matanya memindai ke seluruh penjuru ruangan. Dimulai dari pemanas ruangan, bingkai foto, kertas dinding, aneka figura dan miniatur, sampai tumpukan majalah yang tersusun rapi di bawah rak televisi.

“Terkadang aku mengajak Emma dan kedua orangtuanya ke sini,” aku menjawab dari pantry dapur, sedang menyiapkan sesuatu untuk menemani perbincangan kami. “Sementara, rekan-rekan kerjaku kebanyakan sudah berkeluarga dan punya anak. Agak sulit jika harus mengajak mereka datang setiap hari.”

“Omong-omong, kau bekerja di mana?”

“Penulis artikel di Daily World.”

“Kedengarannya menarik.”

“Ya, begitulah. Hanya saja, aku bukan bekerja sebagai karyawan tetap. Kontrakku bisa saja habis sewaktu-waktu,” tanggapku sambil menuju ruang tengah, meletakkan dua cangkir yang berisi teh ginseng dan kudapan kecil yang kudapat dari Patisserie Valerie barusan. “Bagaimana dengan kau?”

Kemudian, Hugo pun bercerita tentang pekerjaannya sebagai manajer kreatif di sebuah perusahaan iklan. Butuh kerja keras dan penantian yang cukup panjang untuk mencapai kariernya yang gemilang. Dia juga mengisahkan apa saja yang dia alami di tahun pertama ketika menggeluti profesinya; seluruh perjuangan dan berbagai peristiwa emosional yang rasanya sulit untuk dilupakan.

Sesuatu yang istimewa dalam hidupnya baru dimulai di tahun keempat. Aku baru tahu bahwa Hugo adalah seorang ayah dari pernikahan yang kini berada di ambang kehancuran. Nicki adalah putri pertamanya. Aku sendiri tidak mengerti apa penyebab utamanya sehingga peristiwa itu bisa terjadi – dan aku pun tidak memaksa Hugo untuk bercerita. Dan selama setahun terakhir, Hugo lebih sering menghabiskan hari-harinya bersama Nicki, atau bahkan seorang diri.

“Rasanya pasti sulit sekali,” gumamku lirih.

“Tentu saja. Tapi aku sudah enggan memikirkannya lagi. Bagiku, semua itu sudah selesai.” Dia mengedikkan bahu. “Well, Sophie, apakah kau tertarik pergi denganku setelah nanti?”

Mataku memicing menatapnya. “Ke mana?”

“London’s Eye selalu terlihat memesona di malam hari. Semua orang akan berkumpul di sana untuk melihat festival kembang api.”

Apa yang dibicarakan Hugo barusan adalah tentang malam pergantian tahun. Pikiranku langsung dipenuhi oleh semburat warna-warni lampu dan jutaan kembang api yang meletup di langit kota London.

Aku hendak menanggapi ajakannya sewaktu ponsel Hugo berbunyi nyaring sehingga menginterupsi niatku.

Dia menatap layar ponselnya lekat-lekat, tercenung selama beberapa saat sebelum akhirnya mengambil jarak untuk menjawab panggilan itu.

Dua menit kuhabiskan dalam diam. Aku berharap Hugo segera muncul dan menyampaikan kabar gembira, atau setidaknya sesuatu yang menarik. Tapi rasanya sangat tak mungkin. Hugo berdiri di hadapanku dengan tatapan lesu. Air mukanya tampak berantakan, seolah-olah ada sesuatu yang telah terjadi dengannya.

“Barusan itu Celine. Dia ingin bertemu denganku untuk membicarakan proses perceraian kami.” Segera saja aku tahu bahwa itu bukan pertanda baik. “Dia baru saja tiba di Heathrow.”

Betapa pun aku sangat berharap tidak mendengar berita itu dari mulutnya.

Betapa pun aku sangat mengerti dia masih mencintai wanita itu dengan segenap jiwa; meskipun separuh hatinya telah hampa.

Tapi aku tak pernah mengerti kenapa aku bisa merasakan cemburu yang amat hebat atas apa yang dia sampaikan. Tak pernah mengerti kenapa hal ini bisa terjadi kepadaku.

“Pergilah,” ujarku singkat.

Hal berikut yang kuketahui adalah Hugo beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Memandangku sejenak sebelum dia melangkah pergi.

“Sampai nanti, Sophie...” gumamnya pelan, tapi aku terlalu letih untuk bersuara.

Pintu tertutup.

Air mataku tumpah.
***

Kontrak kerjaku berakhir di pertengahan bulan Februari. Musim salju masih belum sepenuhnya berhenti kala itu. Tapi, sebagian maskapai penerbangan tujuan domestik dan internasional telah beroperasi secara optimal. Aku akhirnya meninggalkan London pada malam hari dan terbang ke kampung halamanku di Belanda. Sudah lama sekali aku tak merasakan kehangatan yang berasal dari rumah.

Bulan April seperti menghantarkan atmosfer baru di kehidupanku. Semburat matahari musim semi yang menyeruak masuk lewat jendela membuat segalanya terasa sempurna pada pagi ini. Aku melangkah menuju dapur dan bergegas menyiapkan adonan pancake untuk menu sarapan.

Tidak ada siapa-siapa yang tinggal di rumah ini selain aku dan Mom. Dad meninggal ketika aku berusia 12 tahun. Satu hal yang kupelajari sejak hari itu, kepergian seseorang bukanlah satu alasan yang perlu ditakutkan sehingga kita sulit untuk melanjutkan kehidupan. Karena setiap hal yang pergi, pasti akan ada satu hal baru yang datang ke dalam hidup kita.

Usai menuangkan pasta cokelat dan madu ke atas pancake, aku mendengar seseorang mengetuk pintu rumahku dari luar. Aku hendak menuju asal suara itu ketika Mom lebih dulu menggerakkan kursi rodanya dan memutar kenop pintu.

Tamu dalam wujud anak perempuan berambut pirang itu bersuara, “Nona Sophie?”

Mom mendongak menatapku, seakan-akan meminta penjelasan siapa gadis kecil yang tengah berdiri di hadapan kami.

“Ya. Aku Sophie.” Aku mengernyitkan dahi sambil melepas celemek yang kukenakan. “Kau siapa?”

“Aku... Kau mungkin sudah melupakanku, tapi aku masih mengingat dengan jelas kau siapa,” ucapnya dengan seulas senyum polos.

“Oke. Tapi, bisakah kita bicara sejenak?” sergahku setengah ketakutan. Sementara, Mom masih memandangku dengan tatapan bingung.

Dia meraih telapak tanganku dan menggenggamnya erat. “Kau harus ikut aku sekarang. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”

Untuk sejenak, aku sempat berniat mengenyahkan genggamannya dari tanganku. Tapi, ada sesuatu yang membuatku percaya bahwa dia tak akan berbuat macam-macam. Gadis kecil ini menuntunku berjalan dan melewati pekarangan rumah yang ditumbuhi rumput dan beraneka ragam tanaman hias. Seekor sapi betina pun tampak heran menyaksikan derap langkah kami yang berubah semakin cepat.

Aku bertanya dengan napas tak keruan, “Tunggu! Ke mana kau akan membawaku?”

“Ke sana – “ Anak perempuan ini mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah kebun yang bunga tulip yang jaraknya memang cukup jauh dari rumahku.

Ternyata, inilah yang dibilang orang-orang tentang bunga cinta itu. Warna-warni bunga tulip mampu membuat siapa pun terpana akan pesonanya. Tapi, aku sedang tidak membicarakan tentang sihir yang dimiliki bunga tulip. Ada sesuatu yang membuatku benar-benar tercengang dan membuat lidahku terasa kelu.

“Seperti yang kita ketahui, Belanda adalah kota kecil yang serbakekurangan sejak perang dunia kedua berakhir. Sampai pada suatu hari di musim dingin, seorang gadis kecil dari Amerika yang bernama Rosy mengirimkan kado berisi cokelat kepada temannya tinggal di kota ini. Surat menyurat antara mereka terus berlanjut meskipun keduanya tidak pernah bertemu.”

Aku pernah mendengar dongeng itu sebelumnya. Dongeng yang mengisahkan kedua anak perempuan bernama Rosy dan Fiona yang menjalin komunikasi dengan cara surat-menyurat. Setiap kali Fiona mengisahkan apa yang terjadi di tempatnya, Rosy pasti menghadiahkan Fiona sesuatu yang mungkin diperlukannya. Pada surat mereka yang terakhir, di musim semi, Rosy menerima surat dan paket dari Fiona yang berisi umbi bunga tulip untuk ditanam.

Dan betapa pun hadiah itu teramat sederhana, Rosy sama sekali tidak mempermasalahkannya. Rosy teramat gembira. Umbi tulip itu dibagi-bagi untuk ditanam di sebagian tempat di Amerika.

Begitulah ceritanya.

“Lama tak berjumpa, Sophie.”

Sesuatu membuat mataku terasa panas. Aku masih mengingat dengan jelas saat Hugo meninggalkan apartemenku pada malam itu. Dia berdiri di ambang pintu dan berkata ‘sampai nanti’ – tanpa kupahami maksud dari kalimatnya. Dan kini, dia benar-benar membuktikan apa yang pernah dia ucapkan.

Dia menggumam, “Aku benar-benar menyesali atas apa yang telah terjadi waktu itu.”

“Aku mengerti, Hugo. Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa tersulit di dalam hidupnya,” balasku.

“Jadi, segalanya benar-benar telah berakhir.” Dia mulai berkisah tanpa kuminta, “Juri akhirnya memberikanku kuasa penuh atas hak asuh Nicki. Tapi dengan syarat, Celine tetap diperbolehkan menengok ataupun merawatnya dalam situasi tertentu.”

Aku membalas seadanya, “Senang mendengar kabar baik itu darimu.”

Sosok pria dalam balutan kemeja biru ini mengambil posisi berdiri di hadapanku. Pandangan kami saling bertumbukan sehingga rasanya tidak ada kesempatan bagiku untuk berkedip. Dia meraih telapak tanganku dan meremasnya lembut. Sementara, tangan kanannya mengulurkan sesuatu kepadaku.

Sebuah bunga tulip berwarna merah.

Aku menerima pemberiannya. Mencium kelopaknya yang masih terasa lengket dan basah oleh embun.

“Kau tentu mengetahui makna dari bunga tulip merah itu, Sophie...” Kalimatnya dibiarkan menggantung.

“Sebuah cinta dengan ketulusan tanpa batas,” jawabku dengan wajah merah padam. “Kuharap kau bersungguh-sungguh dengan kalimatmu, Hugo.”

“Tak ada batas dalam mencintaimu.”

“Tak ada batas untuk percaya pada kekuatan cinta,” sambung Nicki yang tiba-tiba muncul di dekat kami.
Hugo memberikan satu kecupan kecil dan membimbingku ke dalam pelukannya.

***END***