Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label longwritten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label longwritten. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Februari 2015

Pertemuan Pertama (Perkara Senja Di Kota Bandung)

“Alungkeun ka dieu atuh, Bray!”

Lengkingan suara yang cukup nyaring itu membuatku spontan menoleh ke belakang.  Menyaksikan seorang anak kecil berambut cepak yang tengah menanti kehadiran bola dari temannya. Benda bundar berwarna putih itu melambung cukup tinggi sampai akhirnya mendarat dengan selamat. Dia berlari ke sana kemari hanya untuk mencetak gol di gawang lawan.

“Goooool!!!!” Bocah lelaki yang mengenakan kaus Madrid itu berteriak kegirangan selagi tangannya teracung di udara. Ketiga anak yang satu tim dengannya ikut merayakan kemenangan.

Aku jadi teringat seseorang yang pernah berkata bahwa bahagia itu sangat sederhana. Kau tidak perlu keliling dunia kalau ada hal kecil di sekitarmu yang bisa membuatmu tersenyum.

Angin berembus pelan meniup wajahku. Arloji yang melilit di pergelangan tanganku menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Hari sudah semakin petang, dan tempat ini masih terlihat ramai. Sebagian orang ada yang tengah duduk di tangga Monumen Perjuangan, sebagian lagi lebih memilih jogging di area taman.

Seekor anjing Golden Retriever melintas di depanku bersama pemiliknya. Mereka singgah di salah satu sudut yang ditumbuhi kembang sepatu berwarna-warni. Kilau matahari sore menyeruak di antara celah-celah pelepah pohon pinang. Aku lekas menenggelamkan buku The Street Lawyer ke dalam ransel dan beranjak bangkit dari kursi besi yang kududuki. Sepasang kakiku mulai melangkah menuju pintu keluar.

Di seberang sana Lapangan Gasibu. Namun jalanan tampak padat oleh sejumlah kendaraan yang sibuk berlalu lalang. Jam-jam seperti ini adalah jam di mana bunyi klakson saling beradu dengan caci maki para pengguna lainnya. 

Aku tidak pernah mahir dalam urusan menyeberang jalan. Keramaian dan lalu lintas yang rumit selalu membuat ketakutanku semakin parah. Dan sewaktu aku hinggap di sebuah pembatas jalan yang memisah dua ruas jalan, satu pesan baru muncul di layar ponselku.

Kamu di mana? Aku udah d Lapangan Gasibu.

Dadaku seakan bergemuruh. Aku mendadak diserang rasa takut dan bahagia secara bersamaan. Dan selama beberapa saat, aku masih berdiri di sana mengamati lalu lintas.

***

Kami pertama kali berkenalan di sebuah komunitas menulis online. Setiap anggota diberi akses untuk mengunggah tulisan mereka, memberi komentar pada post anggota yang lain, sekaligus menambah teman ke dalam friendlist.

Itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu.

Aku lupa tanggal berapa tepatnya. Tapi seingatku, itu adalah pertengahan bulan Juni. Aku baru saja mengunggah tulisanku yang berjudul City Of Tears. Cerpen itu bercerita tentang seorang perempuan yang berjuang mencari cinta sejatinya di kota Paris, namun berakhir dengan air mata. Terdengar tragis memang.

Komentar pertama datang dari seorang pemilik akun yang tak kukenal sebelumnya. Dia terpukau oleh alur ceritaku yang unpredictable. Dia juga mengaku bahwa tulisanku tidak melankolis sama sekali, meskipun kisahnya sangat menyentuh.

Orang itu bernama Awan, mahasiswa tingkat pertama di sebuah Universitas Islam di Bandung. Awalnya aku menduga dia satu tahun di atasku, atau barangkali kami seumuran. Tapi justru dia lebih muda setahun.

Aku dan Awan menjaga komunikasi lewat Yahoo Messenger dan e-mail. Sekadar bercerita mengenai sajak yang sedang ditulisnya, saling berbagi ide dan advice satu sama lain, bahkan tak jarang dia memberiku semangat untuk lekas menuntaskan naskah novelku. Semua itu terus berjalan sampai suatu ketika –  Awan menuliskan nomor ponselnya di sebuah surel tanpa subjek.

Setiap sajak yang dia tulis kukagumi dengan caraku sendiri.Tulisannya begitu sederhana, namun sanggup membuat orang jatuh cinta. Itulah yang terjadi padaku saat membaca sajaknya yang diberi judul ‘Ruang’. Pada salah salah satu bait, ada kalimat yang berbunyi; aku lebih suka waktu berjalan apa adanya. Tidak begitu cepat seperti saat aku dengannya, tidak juga terlalu lambat ketika aku tak bersamanya.
Tanpa pernah aku sadari, waktu telah mengubah kekaguman itu menjadi rasa suka yang tak biasa.

***

Kalau ketemu orang pake jaket jins bawa ransel hijau tua, tegur aja.

Pesan itu telah terkirim sejak aku tiba di Lapangan Gasibu. Mengedarkan pandangan ke sekitar sambil menempelkan ponsel di telingaku. Nomornya mendadak tidak aktif, sementarakakiku terus terayun di atas halaman ber­-paving. Sesekali menoleh ke sana kemari hanya untuk memastikan dia benar-benar berada di sini.

“Rayna!”

Terdengar seseorang memanggil namaku dari arah belakang. Sebuah suara yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Aku praktis membalikkan badan. Mematung sejenak saat aku berhasil menemukan si pemilik suara itu.
Dia benar-benar berada di sana. Duduk seorang diri di atas bangku semen. Kemeja cokelat membungkus tubuh tegapnya. Tersenyum ke arahku seakan-akan memanggilku untuk segera mendekat.

Aku menuju bangku itu dengan perasaan tak keruan. Mengambil posisi duduk di sebelahnya sambil mengulurkan jabat tangan. Dan sewaktu kulit kami bersentuhan, aku dapat merasakan rasa geli dan sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhku.

“Kamu kebingungan banget tadi,” gumamnya tiba-tiba.

“Aku nggak tahu kalau kamu duduk di sini. Padahal tadinya aku mau jalan sampai ke ujung,” ujarku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Dia melepaskan derai tawa di udara. Tawa yang begitu renyah sehingga aku terpikir untuk mengabadikannya dengan kamera.

Usai tawa itu, suasana di sekitar kami berubah canggung. Aku terpikir untuk membuka satu percakapan, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.

Kudengar dia bertanya, “Kemarin lancar ketemu sama editor-nya?”

Aku menganggukkan kepala dan bercerita mengenai perjalananku dari mulai duduk di dalam gerbong KRL menuju Stasiun Lenteng Agung, sampai keluar dari kantor penerbit.

“Editor-nya bahkan kasih tantangan tiga puluh hari menulis. Kami udah brainstorming kemarin,” ulasku bersemangat. “Aku ambil setting tempatnya di Bangka dan harus riset tentang suku-suku apa aja yang ada di sana.”

“Kamu asli sana, harusnya itu nggak bakal bikin kamu kesulitan.” Dia menatapku lekat-lekat. Sepasang bola mata berwarna cokelat cerah itu seakan mengajakku tenggelam ke dasar sana.

Teringat pada sesuatu yang hendak kusampaikan padanya. “Aku dapat tawaran kerja di Bali, di bagian pemasaran hotel. Katanya sih hotel itu baru beroperasi setahun. Jadi butuh tenaga kerja yang bisa dipercaya.”

“Pemasaran?” Kedua alis tebalnya mengerut. “Menyimpang banget dari passion kamu, Ray.”

“Aku tahu. Makanya aku belum berani mengiyakan tawaran itu,” ujarku terus terang. “Kamu tahu sendiri, Bali berbeda dengan Jakarta. Budayanya cenderung kebarat-baratan.” Klub malam, bisnis prostitusi yang tersembunyi, ancaman para teroris; sepertinya semua alasan itu terasa cukup bagiku untuk tidak berkarier di Bali.
  
“Apa pun yang pilihan yang kamu ambil, aku selalu dukung yang terbaik untuk kamu.”

“Terima kasih, Awan.”

Kepalaku tertunduk dalam, menyadari bahwa dia tidak perlu mengucapkan hal itu kepadaku. Karena pada akhirnya, semua itu tak berarti apa-apa. Kebaikan yang dia miliki sudah tercurah sepenuhnya untuk orang lain.

Dan orang lain itu bukan aku.

Aku sudah tahu begitu banyak tanpa harus mendengar kisah apa pun dari dia. Semua sajak yang dia tulis selalu dipersembahkan untuk orang yang mencintainya sejak lama. Seseorang yang sudi berkorban untuk dia dalam kondisi tersulit sekalipun.

Keheningan yang menggantung di antara kami seketika buyar saat kudengar ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari seseorang.

Awan memandang layar ponselnya tanpa berkedip. Isi pesan itu berhasil menyedot hampir seluruh perhatiannya. Namun, dia tak menunjukkan tanda-tanda untuk mengirim sebuah pesan balasan. 

Ragu-ragu aku bertanya, “Siapa, Wan?”

“Linda,” ujarnya lirih. “Aku harus pulang sekarang, Ray.”

Seharusnya aku tidak perlu bertanya sesuatu yang terdengar bodoh seperti pertanyaanku barusan.
Seharusnya aku sudah tahu dari awal, pengirim pesan itu adalah kekasihnya. Seorang pacar akan senantiasa membuat ponsel kita berdering 24 jam dalam sehari – 7 kali dalam seminggu.

Aku mendongakkan kepala sewaktu dia mulai beranjak dari duduknya. Menyampirkan ranselnya di bahu tanpa mau melirikku sedikit pun.

“Aku pulang, ya.”

“Hati-hati,” balasku dengan suara bergetar.

Awan perlahan melangkahkan kakinya. Punggungnya semakin terlihat menjauh. Menaiki sejumlah anak tangga dan menghampiri seseorang yang sedang menantinya di bibir jalan.

Seseorang yang menjadi tempatnya untuk berpulang.

Langit kota Bandung satu jam lebih gelap. Warna jingga tumpah di sepanjang cakrawala. Senja kini semakin tua. Kekagumanku terhadap dirinya pun terasa sia-sia.

***

Dear Awan...
You – you alone will have the stars as no one else has them
In one of the stars I shall be living
In one of them I shall be laughing
And so it will be as if all the stars were laughing, when you look at the sky at the night
You – only you – will have stars that can laugh.

Sincerely, Rayna
Jumat, 23 Mei 2014

Selamat Ulang Tahun, Teman


Wednesday, May 22nd 2013
Cafe Divan, A La Renaissance, Naturalia, Rue de La Roquete, Clinique de Mesnil...
Tunggu! Aku nulis apaan, sih? Harusnya saat ini aku sedang menyiapkan dialog antara Agnes Karenina dan Fabian. Bukannya mendata satu demi satu nama tempat yang masih simpang-siur lokasinya.
Jadi, aku menutup jendela Search Engine; Google Chrome dan langsung menyambar selembar kertas scrap beserta alat tulis. Berancang-ancang untuk memulai satu kalimat percakapan yang akan dilontarkan oleh Agnes, tokoh utama dalam naskah terbaruku.
Benar! Aku tengah menulis satu cerita terbaru yang ber-setting tempat di Paris. Dan rencananya, naskah ini hendak kuikutsertakan dalam kompetisi menulis Seven Deadly Sins. Aku sengaja memilih tema Lust karena tokoh utamaku kali ini benar-benar penuh ambisi. Seolah-olah, tidak ada satu orang pun di dunia yang sanggup menghentikan jalan hidupnya.
Aku baru mau menulis satu kata kerja ketika kusaksikan Blackberry-ku menyala. Menampilkan sejumlah pengingat ulang tahun teman-temanku. Setiap pukul 9 pagi, reminder yang terintegrasi langsung dengan media sosial Facebook itu akan memunculkan notifikasi secara otomatis.
Meraih handheld berwarna putih itu dan menilik siapa saja yang berulang tahun hari ini. Hanya satu orang. Sepehr Rahmani, namanya. Dia orang Iran yang kini bermukim di London. Usianya baru 23. Tapi entah kenapa, perawakannya lebih menyerupai orang yang sudah berusia 30.
Well, lupakan Sepehr Rahmani dan seperti apa karakteristik wajahnya. Karena yang ingin kubahas saat ini adalah; ulang tahun sahabatku. Janna -- I called his Jane, sometimes. Dan kenapa aku mendadak teringat dirinya? Karena dia berulang tahun kemarin, sementara aku belum memberi bingkisan ataupun ucapan ulang tahun yang berisi harapan. Jangankan ucapan, terakhir kali menghubunginya pun aku sudah lupa kapan.
Sahabat macam apa aku ini? Tak tahu diri!
Tapi, aku tak ingin berlama-lama meratapi rasa bersalah. Aku harus melakukan sesuatu agar semuanya jadi membaik.
Aku bergegas menuju kamar. Kertas scrap beserta pulpen pun kubiarkan tergeletak di atas meja ruang tamu. Mengambil tablet-ku dan membuka aplikasi Whatsapp yang terpampang nyata di homescreen-nya. Semata-mata bertujuan mengirim pesan kepada sahabatku. Tapi, alih-alih mengetik kalimat puitis dan ucapan yang sangat klise, aku justru mengiriminya sebuah voice notes singkat yang lumayan nyeleneh.
"I dont know about you, but I'm feeling twenty-two..." Aku bersenandung kecil. Kemudian dilanjutkan dengan sejumlah kalimat yang malah terdengar seperti teriakan.
And I must confess, i'm not a verbal person. Aku tidak cukup pandai untuk berbicara langsung kepada siapa pun.
Mendengar voice notes-ku yang tidak lebih dari semenit, Janna pun menanggapinya dengan satu kalimat seruan yang dihujani sejuta tanda seru!
Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuk!!!!!!!!! Thought you forget my birthday.
Dan entah mengapa, frasa yang tertulis begitu sederhana itu seolah mampu membuat mataku berkaca-kaca. Aku tidak tahu. Mungkin saja, selama ini kami sudah seperti dua bersaudara. Atau barangkali, karena kami tak pernah berjumpa setelah sekian lama.
Hanya semesta yang mengetahui betapa aku merindukanmu, Teman...
Satu hal yang kuketahui berikutnya, kami langsung terjebak dalam percakapan panjang. Membicarakan masalah cinta, kehidupan pribadi, sampai naskah terbaru yang sedang kugarap.
Dia begitu tertarik untuk membaca cerita itu secara keseluruhan. Tapi aku menolaknya. Aku bilang, ini masih rahasia. Akan ada waktu di mana naskah itu menjadi sebuah buku yang siap untuk dibaca.
Dan aku tahu, sejak saat itu dia selalu memercayaiku.
***
Wed, 21st May 2014
"Today is my cake day. Thank you for the biggest surprise."
Sejujurnya, ada kegetiran yang muncul ketika kubaca caption foto itu. Dia diapit oleh dua orang dengan sebuah kue di tangan masing-masing. Senyum yang terkembang seolah-olah menjadi bukti valid akan kebahagiaan mereka.
But I wasnt there.
Aku berada di suatu tempat berbeda ketika dia sibuk merayakan hari ulang tahunnya.
Sahabat macam apa aku ini?
Menepuk tombol 'loves' sebelum benar-benar keluar dari beranda Instagram-ku.
***

Friday, May 23rd 2014

Kepada teman lama yang tidak perlu kusebut namanya siapa;
Ini aku lagi, hendak mempersembahkan sebuah tulisan sederhana
Sebenarnya ini bukan apa-apa, karena aku tahu -- kamu pernah membaca sesuatu yang lebih sempurna
Tapi aku juga tahu, tulisan seperti ini akan selalu membuatmu rindu
Sekaligus percaya
Kita punya mimpi bersama
Mewujudkan segalanya menjadi nyata, apa pun bentuknya
Entah kapan, kita tidak pernah tahu
Tapi tidak ada salahnya untuk percaya
Sekaligus berusaha

Kepada teman lama di mana pun kamu berada...
Waktu berlalu begitu cepat
Dan aku tak ingin semuanya jadi terlambat
Aku rasa, inilah waktu yang tepat untuk menyampaikan doa dan harapan
Selamat bertambah umur.
Jangan pernah takut dengan ketiadaan
Karena ketiadaan itu meluaskan
"Age is just a number, but maturity is a choice." - Anonymous
Selasa, 20 Mei 2014

Pertemuan Kedua (Selamat Ulang Tahun)

"
"Nah, orang-orang seperti mereka tuh disebut Jamaah Tabligh. Mereka merantau dari rumah, singgah dari mesjid ke mesjid untuk menyebar agama Islam." Tatapannya terarah pada segerombol manusia yang mengenakan baju koko dan peci di kepalanya. Orang-orang itu tampak sedang bercengkerama satu sama lain di teras mesjid Alun-Alun. Saling bersalaman ketika satu atau dua di antara mereka hendak beranjak pergi.

Aku bertanya sembari mengunyah baso tahu di dalam mulutku. "Kira-kira, berapa lama mereka pergi dari rumah?"

"Tergantung. Ada yang cuma beberapa hari, ada yang satu minggu, ada juga yang sampai satu bulan."

"Oh gitu?" tanggapku polos, sama sekali tidak pernah mendengar tentang hal itu sebelumnya. Menyadari tidak punya alasan untuk memungkiri segala pengetahuan dan kecerdasan yang dia miliki.

Dia menyeruput habis es kelapa muda di hadapannya, kemudian berkata, "Kayaknya sebentar lagi bakal turun hujan deh."
Aku menatap ke arah luar, gerimis mulai turun perlahan. Beberapa pedagang keliling yang sejak tadi hilir mudik di lapangan alun-alun pun sudah melipir ke bawah tenda abu-abu.
"Abis ini kita mau ke mana lagi?" Dia bertanya penuh semangat.
"Gimana kalau ke Braga?" ucapku spontan.
"Mau ngapain?"
"Nggak tau. Kita jalan aja, cari sesuatu yang menarik. Apa pun bentuknya..."
Suasana berubah hening. Yang terdengar hanyalah deru bising kendaraan di jalan raya dan suara para pedagang yang sibuk bergosip ria.
Sementara itu, aku masih menunggu sebuah jawaban.

***

Dia masih berada di sebelahku. Mengayunkan kedua kaki rampingnya dengan langkah yang amat tegas, namun tetap terkesan santai. Pandangannya masih lurus tertuju ke depan. Tak sedetik pun bersedia menengok atau melirik ke sekelilingnya.

Aku berusaha menyamakan kecepatan langkahku dengan langkahnya. Dalam hati berbisik, aku harus menciptakan satu keadaan yang lebih baik daripada sekarang ini. Entah bagaimanapun caranya. Maka, aku memberanikan diri untuk memulai percakapan baru.

"Lihat lukisan ini, deh!" ucapku, sekonyong-konyong berhenti tepat di hadapan salah satu lukisan yang berjejer di trotoar di sepanjanh jalan Braga.
Dia membalikkan badannya, memusatkan perhatian pada sebuah pemandangan sungai jingga yang dihuni sejumlah perahu beraneka warna. Kuduga, gambar itu mengacu pada situasi senja di Venice.
"Kapan ya aku bisa beli lukisan kayak gini?" timpalnya, menganugrahiku segurat senyum yang jail.
Aku terkekeh pelan. "Masalahnya, lukisan sebagus dan segede ini mau ditaruh di mana? Di dinding kamar?"
Dia melepaskan tawa yang begitu renyah, tawa yang kerap menimbulkan candu tersendiri untukku.
Tak lama, dia kembali melanjutkan langkahnya dengan kecepatan yang sama. Sementara aku, masih sibuk mengisi keheningan dengan menekuni jalanan ber-paving hitam yang dilintasi pengendara sepeda motor. Sesekali melirik seisi kafe Braga Huis, lalu memandang kue-kue cantik dan rainbow cake yang terpajang di etalase Sugar Rush.
Kudengar dia bersuara, "Aku baru sadar kalau hari ini hari Sabtu."
Ucapannya barusan membuatku teringat pada sebuah event mingguan yang kerap diselenggarakan di sini. Braga Culinary Night namanya. Dan pada saat yang sama, aku pun tersadar akan satu hal, tonight is Saturday Night -- malam yang amat dinantikan bagi mereka yang sudah punya pasangan (ya, kecuali aku).
"Jadi, mau malem Mingguan di sini aja atau gimana?" Aku berusaha menanggapi sewajar mungkin, tapi entah kenapa pertanyaanku barusan terdengar sangat mengecewakan.
"Nggak terlalu yakin juga, sih." Dia mengedikkan bahu sambil terus berjalan.

Kerongkonganku terasa kering. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Karena saat ini, pikiranku pun seolah berhenti berputar. Dan aku tak punya pilihan selain terus berjalan mengikutinya dari belakang.

***

Masih membekas di ingatanku sewaktu aku berada di dalam toko Bread Life beberapa menit yang lalu. Berdiri mengamati seisi etalase yang dihuni segala rupa kue cantik berwarna-warni. Kesemuanya terlihat amat menggoda sehingga aku sempat kesulitan dalam menentukan pilihan.

Tapi, tak butuh waktu yang cukup lama sampai aku berhasil mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Sebuah kue kecil -- sejenis cupcake -- bertabur gula halus dengan tambahan ceri merah di atasnya. Begitu sederhana, namun tergolong istimewa.

Aku berjalan mendekati dia yang masih berdiri di depan restoran Wendy's. Berusaha menyembunyikan kantung belanjaanku saat berkata, "Buat kamu nih," menyerahkan es krim cone dengan topping Green Tea kepadanya.
Dia menolehkan kepala, lalu terkekeh pelan.
"Udah, ambil aja," aku menegaskan. "Topping-nya rada mencair gara-gara kelamaan ngantre di kasir."
"Kamu kayak anak SMA aja," dia masih sempat menimpal sebelum akhirnya menerima pemberianku.
Sadar ada sesuatu yang harus kuberikan lagi, aku pun lekas menambahkan, "And -- this one's for you too."
"Apa ini?" Sepasang alis tebalnya bertautan.
"Cek aja," tukasku seadanya, tidak sanggup menerjemahkannya ke dalam kalimat yang lebih efektif.
Menarik lengan kemeja denimnya, lalu mengintip sesuatu yang berada di dalam kantung oranye itu. Tersenyum ketika mengetahui isinya. "Joy..." Dia menatapku dalam-dalam, seolah ingin mengutarakan sesuatu yang sulit untuk diutarakan. "You don't need to do this."
"No! You really deserve it." Aku mengangguk mantap. "Ya -- meskipun aku tahu, terlalu cepet untuk ngucapin ulang tahun."
"That's okay. Lebih baik dikasih sekarang daripada ditunda-ditunda. Karena, belum tentu kamu bisa ketemu aku hari Senin nanti." Dia menganggukkan kepala, memaklumi alasan yang kusampaikan. "Anyway, thank you so much."
Senyumku terkembang sempurna ketika tahu pemberianku tidak berakhir sia-sia. Setidaknya, tanpa sebuah kalimat penolakan.
"Jadi, ke mana rute kita selanjutnya?"
Aku berpikir sejenak, berharap ada satu tempat tujuan yang bisa kami kunjungi setelah ini. Tapi, tak ada satu pun yang muncul di kepalaku. Langit sudah mulai gelap. Sebentar lagi sore akan turun. Kami tidak boleh sampai ketinggalan Bus Damri.
"Atau -- masih mau muter-muter keliling Braga lagi?" Dia memberi pilihan, sembari menungguku melontarkan jawaban.
"Sebaiknya kita pulang aja," putusku lirih.
Dia menghela napas dalamm sadar bahwa kami sudah berada di pengujung pertemuan.
Hal selanjutnya yang kuketahui, kami berdua kembali menapakkan kaki, menuju arah jalan pulang.

***

Selama perjalanan pulang, di dalam Bus Damri jurusan Kalapa-Cibiru, tak henti-hentinya saya memanjatkan rasa syukur. Sejumlah momen berharga ketika kami melintasi Jalan Dewi Sartika, singgah di mesjid Alun-Alun Bandung sambil berbagi cerita, kemudian berakhir di jalan Braga.

Segalanya terasa menyenangkan, meskipun hanya sementara. Dan saya sangat berterima kasih pada semesta yang masih mengizinkan saya bertualang dengan seorang pejalan kaki hari ini.

Selamat ulang tahun yang ke-21, kamu..

Bandung, 25 April 2014

Jumat, 14 Februari 2014

Destiny


Aku terbiasa hidup di dalam sepi
Menghargai sunyi, menyulam satu demi satu benang mimpi
Tapi aku tak pernah tahu kepada siapa semua itu akan kubagi
Aku mencoba berlari, hingga segalanya mulai terkubur di dalam hati

Lalu kau datang seperti tamu tak diundang
Mengulurkan tangan dengan sebersit senyuman
Aku menikmati setiap keindahan yang kau miliki
Bahkan sampai elemen terkecil yang sulit untuk kupungkiri

Puisi ini hanya kata-kata sederhana
Ungkapan isi hati yang kurangkai sedemikian rupa
Namun percayalah, sedikit pun aku tak ingin berdusta
Tak ingin pula aku mengharapkan setangkai mawar atau azalea

Karena bagiku, tiada yang lebih indah selain suara dan kilau matamu yang senada




Ps: selamat Hari Kasih Sayang untuk kamu yang Terkasih.

Jumat, 13 Desember 2013

Fragile Heart


Setahun yang lalu, segalanya masih belum serumit ini. Aku masih dapat menikmati gejolak perasaan menyenangkan setiap hari, tersenyum di depan cermin seorang diri, bahkan menulis kata-kata indah di setiap halaman buku binder-ku. Semuanya terasa indah pada saat itu.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Lewat cara konvensional di social media - Twitter - aku dan dirinya sering bertutur sapa. Sekadar bersinggungan mengenai twit-twit yang lucu, berperang sajak, bahkan tak jarang kami berbincang di Direct Message. Dan ya, aku amat bahagia dapat berkenalan dengannya. Aku sudah menganggap dirinya sebagai kembaranku sendiri.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tak terasa kami berjumpa dengan bulan April. Ketika itulah segalanya mulai berubah secara perlahan. Aku mulai sering mengiriminya ucapan selamat pagi, mengucapkan selamat tidur sebelum kami bermimpi, dan tentu - aku sering menuliskannya puisi. Aku bahkan tak ragu-ragu meminta nomor ponselnya pada waktu itu.

Bertukar nomor ponsel seolah menjadi jembatan bagi kami berdua. Kami sering terjebak dalam pesan singkat yang berisi lelucon konyol dan ledekan garing. Aku juga kerap mengabarkannya setiap kali aku menulis. Entah mengapa aku mau melakukannya, aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu, setiap kali berbicara dengannya, darahku berdesir hangat seolah dialiri gelombang semangat tak tanpa batas. Dan aku amat menikmatinya.

Tapi sayangnya, waktu bergulir begitu cepat bagai desingan peluru. Semakin banyak biaya yang kami habiskan untuk percakapan di dunia maya, semakin besar pula bahagia itu tercipta. Dan secara tidak langsung, aku tersadar bahwa aku telah jatuh cinta. Lebih tepatnya, aku telanjur suka. Teramat suka pada sosoknya yang menyenangkan, yang tenang, yang selalu membuatku kangen setiap waktu.

Aku menikmati setiap bulir kebahagiaan itu mengisi kepalaku sepanjang hari. Dan selagi aku terjebak dalam lembah yang dipenuhi warna-warni cinta, aku juga sering dihujani rasa cemburu yang tak beralasan. Aku sering menangis karena rindu terhadap dirinya yang sering menghilang. Bahkan, aku pernah merasakan hal-hal seperti itu selama berbulan-bulan sampai aku tak dapat lagi berpikir secara normal. Akal sehatku seolah-olah mendadak lumpuh.

Hingga pada hari ini, sesuatu yang tak pernah kuharapkan benar-benar terjadi.

Aku tidak tahu apa penyebab sebenarnya. Karena sejak dua hari kemarin, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Aku masih menjalin komunikasi dengannya via pesan singkat. Mengiriminya puisi dan bercakap-cakap barang sejenak. Tapi entah kenapa, sewaktu aku hendak membuka akun Twitter-ku, aku melihat satu keganjilan yang membuatku berpikir; ada yang tidak beres dengan jumlah followers-ku.

Aku tahu, ini masalah yang sepele dan sangat wajar. Namun yang tak kumengerti adalah, seseorang yang tidak berada di sana adalah namanya. Selama sejenak, perutku terasa mulas selagi jantungku berdegup kencang. Kepalaku mulai dihujani sejumlah tanda tanya dan spekulasi burukmyang tak kuketahui dari mana datangnya.

Meraih ponselku, dan mencoba menghubunginya. Sekadar bertanya mengenai alasan atau penjelasan singkat sehingga dia melakukan hal seperti itu. Setelah cukup lama menunggu, dia pun menanggapinya dengan satu kalimat yang berisi kata 'maaf'. Aku tidak mengerti kenapa dia harus minta maaf. Karena bagiku, followers are just a number. Aku bahkan tidak peduli seberapa banyak jumlah followers di akun Twitter-ku.

Sampai pada akhirnya, dia menjelaskan alasannya serinci mungkin. Ada sesuatu yang membuatnya harus menjauh, haris menjaga jarak dariku. Dan langkah kecil itu tentu saja dimulai dari social media. Aku berpikir, kenapa sih harus ada drama follow-unfollow-block-unblock di social media? Kenapa??? Itu semua terlalu kekanak-kanakkan!

Dia juga berkata padaku tentang sesuatu yang sulit sekali untuk kuterima. Maksudku, aku sudah berjanji untuk memaklumi apa pun alasannya. Tapi apa yang dia ucapkan begitu -- begitu ganjil dan tidak masuk akal. Aku tidak mengerti. Yang pasti, pada saat itu aku mengungkapkan apa yang telah kusimpan selama ini terhadapnya. Biar saja! Biar dia menyadari semuanya.

Tapi kemudian, tampaknya aku harus menelan kecewa. Semua upayaku tak membawa perubahan. Dia lebih memilih untuk pergi, sementara aku tidak berhak untuk menahannya. Karena akan lebih sakit jika kubiarkan dia bertahan lebih lama. Jadi, mau tidak mau aku mengikhlaskan pilihannya.

Aku sadar, semua orang memang berhak memilih siapa yang hendak dia jadikan sebagai sahabat ataupun teman hidup. Seperti apa pun keputusannya, tidak seorang pun yang pantas untuk melarang.

Saat menulis kisah ini, aku memang merasakan sakit hati yang teramat dalam. Kecewa sekaligus bercampur putus asa. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menanam benci, sekalipun dia berkata bahwa aku pantas untuk membencinya. Aku tidak mau. Kebencian tidak akan membuahkan apa pun selain kebencian itu sendiri.

Dan jika suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih tetap sama. Sedikit pun tak akan pernah lupa pada seluruh masa lalu kita - meskipun kini ia telah berakhir.

*teruntuk inisial H.A

Sabtu, 31 Agustus 2013

Mom: Sebuah Kado Terindah

Di suatu siang yang mendung, aku duduk termenung di depan kelasku. Halaman sekolah sudah tampak sepi sejak satu jam yang lalu. Sementara itu, hujan masih belum juga usai. Rintik-rintiknya terus mengguyur lapangan upacara hingga menciptakan genangan air di mana-mana. Dan sesekali terdengar gemuruh petir yang menyalak-nyalak seakan hendak membelah langit. 

Selama beberapa saat, aku terus bertanya dalam hati mengapa hujannya belum juga berhenti. Buruknya lagi, mengapa aku masih betah berdiam diri di sini sementara sosok yang kutunggu tak kunjung muncul? 

Sejujurnya, aku bisa saja pergi dari tempat ini sejak tadi jika aku mau. Okky – teman sekelasku – dan ayahnya sempat menawarkan tumpangan untuk mengantarku pulang. Hanya saja aku menolak tawaran keduanya. Aku lebih memilih menunggu karena Mom telah berjanji untuk menjemputku. Tak hanya itu, salah satu alasan yang membuatku bertahan karena aku juga ingin menunjukkan pada Mom hasil ulangan Bahasa Inggris-ku yang mendapat angka 90. 

Kupandangi jam G-Shock kuning yang melilit di pergelangan tanganku, waktu menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit. Itu artinya aku telah berada di sini selama satu jam tanpa melakukan hal apa pun selain duduk dan menunggu.

Saat aku maju beberapa langkah, hendak menyorongkan tanganku dan menangkap air hujan yang mengucur dari atap sekolah, tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing di telingaku.

“Dek...”

Aku menoleh, menangkap sosok pria yang berumur empat puluhan dalam balutan kemeja biru muda dan celana hitam yang sangat kukenal. Setelan khas karyawan rumah sakit milik Dad. 

Lantas, dia pun melangkah ke arahku tanpa terpikir untuk melipat payung hijau bermotif bunga-bunga yang berada dalam genggamannya.

Aku mengerutkan dahi menatap kehadirannya yang benar-benar nyata. “Dad...?” tanyaku, suara diwarnai kebingungan. “Dad kenapa bisa ada di sini? Mom mana?”

“Mom di rumah,” jawabnya lirih.

“Di rumah?” Sama sekali tidak mengerti bagaimana Mom bisa mengabaikan janjinya untuk menjemputku. Lagi pula, Dad seharusnya masih berada di rumah sakit, bukan di sini.

“Mom nggak bisa jemput, Dek,”

Kurasakan mataku memanas seketika. Teramat kecewa saat mengetahui penantianku selama satu jam tadi hanyalah tindakan yang sia-sia. Dan saat Dad menuturkan pernyataan itu, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan selain merajuk. “Mom kenapa?”

“Mom sakit...” Nada yang sama seperti sebelumnya.

Aku terkesiap. Emosi itu semakin tak terbendung saat aku bertanya, “Sakit apa???”

Dad membuang napas panjang. “Maag-nya kambuh.”

Aku bergeming, merasa sangat bodoh, tak berguna, dan patut disalahkan.

Sepengetahuanku, Mom adalah perempuan yang supertangguh. Satu-satunya perempuan yang kukenal sebagai ibu yang merangkap sekaligus sebagai seorang pekerja. Namun, semua orang di rumahku tahu bahwa Mom tidak pernah akrab untuk urusan kesehatannya, terutama kondisi perutnya. Belakangan, Dad memang menceritakan padaku mengenai Mom yang selalu mengalami sakit seperti maag sejak masih remaja.

“Aku mau pulang sekarang!” kataku dengan suara sesenggukan, tidak bisa lagi membendung air mataku sejak tadi.

Satu hal yang kutahu setelah itu, Dad menuntun tanganku, dan kami bergegas menyeberangi halaman sekolah, menantang hujan.

***

Setibanya di teras rumah, suasana sepi serta merta menyambut kedatangan kami. Dad dalam setelan kemeja biru mudanya yang basah, mengeluarkan serenceng anak kunci dari saku celananya dan bergegas membukakan pintu rumah. Hujan masih belum juga selesai. Aku sudah lama merasa kedinginan semenjak sepatu Pro ATT yang kukenakan ini basah terkena genangan air hujan di halaman sekolah.

Sesaat setelah daun pintu coklat itu menganga, aku segera menanggalkan sepatu beserta kaus kakiku dan berlari ke kamar Mom. Menemukan beliau sedang berbaring lemah di atas ranjangnya sambil ditemani segelas air putih, beberapa lapis roti tawar, dan tak lupa juga sejumlah obat yang tak kuketahui namanya pada waktu itu.

“Dek, Mom minta – “

Belum sempat Mom menyelesaikan ucapannya, aku sudah lebih dulu menaiki ranjang dan memeluk dirinya yang berselimut tebal.

“Maafin aku ya, Mom. Harusnya – dari tadi aku pulang biar bisa jagain Mom di rumah,” aku berusaha berbicara selagi air mataku tidak mau berhenti. 

Selama sejenak, Mom hanya diam. Sesekali aku dapat mendengar isak tangisnya yang sengaja ditahan. “Nggak apa-apa. Ini salah Mom juga yang nggak bisa jaga pola makan,” tuturnya sambil membelai pelan riak rambutku. “Ulangannya gimana, Gus?” 

Aku beranjak bangkit dan membuka ritsleting tasku, mengeluarkan dua helai kertas HVS yang dibubuhi angka 90 menggunakan tinta merah. Memamerkan kertas ulangan Bahasa Inggris lecek yang nyaris basah itu ke hadapan Mom dengan bangga. “Sembilan puluh, Mom!” seruku.

Mom meraih kertas itu, kemudian memicingkan matanya untuk memastikan kembali angka yang tercantum di sana. Dia mengujar sesuatu, “Angka ini udah cukup bikin Mom bangga sama kamu.” Meskipun dia mengucapkan kalimatnya dengan lirih, rasa terima kasih itu dapat tersampaikan dengan jelas. 

Aku tersenyum, tidak ingin berkomentar karena ungkapan seperti itulah yang ingin kudengar darinya. Rasanya bahagia sekali dapat membuat Mom bahagia dengan cara yang sederhana seperti ini. Dan sejak hari itu, aku mempelajari satu hal terpenting dalam hidupku, sekecil apa pun pengorbanan yang kamu lakukan terhadap orangtuamu, percayalah bahwa mereka akan selalu menghargainya...

***

Hari ini, 27 Agustus 2013...

Sejak tadi, aku mengabaikan aroma mentega leleh yang terendus jelas di penciumanku. Begitu pula dengan pekat wangi Dark Chocolate yang mungkin telah bercampur ke adonan kue yang berada di dalam loyang. Sementara itu, mesin mixer sudah lama berhenti berteriak saat aku menyadari aku telah melewatkan sesuatu yang penting.

That cake!!!

Aku bergegas meninggalkan Notebook-ku dan keluar dari kamar sesaat setelah hidungku menangkap aroma yang serupa dari arah dapur. Mendapati Mom dalam busananya sehari-hari sedang berkutat di hadapan sesuatu yang berbentuk persegi, berwarna coklat, dan tentu saja wangi...

That’s my cake!!!

Aku menghampirinya dan bertanya, “Mau aku bantu, Mom?”

“Bantu makan, ya?” celetuk Mom.

Aku tergelak, bisa-bisanya Mom mengkaryakan pertanyaan jenaka di saat aku hendak menerkam kue yang berhubungan dengan hari lahirku itu.

Dia meneruskan, “Tapi, kue ini emang khusus buat kamu, kok.”

Tidak berniat memberi tanggapan dengan sesuatu yang konyol, aku pun tersenyum, memandanginya dengan mantap, seolah-olah sebuah telepati yang mengisyaratkan bahwa today is a perfect day!

Maka detik itu juga, aku menghambur ke dalam pelukannya. Berbisik, “Terima kasih banyak, Mom...”

“Selamat ulang tahun, Gus. Tetep jadi anak yang baik, ya,” ucapnya seraya menyertai sebuah belaian di kepalaku.

Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Saat di mana aku berada dalam pelukannya, dihadiahi sentuhan lembut di riak rambutku, dan aku berhasil membuatnya tersenyum hanya dengan angka 90 yang kuperoleh dalam tes Bahasa Inggris. Hanya saja, kali ini sedikit berbeda karena akulah yang mengucapkan kata terima kasih untuknya.

Mom merenggangkan pelukannya, kemudian berkata, “Semoga suka sama kuenya, ya.”

“It’s okay, Mom. This is completely perfect...” Aku berusaha menampilkan senyum terbaik, tapi tak bisa. “Terima kasih, Mom.”

Dan untuk kado yang terindah ini, izinkan aku mengucapkan terima kasih sekali lagi.