"
"Nah, orang-orang seperti mereka tuh disebut Jamaah Tabligh. Mereka merantau dari rumah, singgah dari mesjid ke mesjid untuk menyebar agama Islam." Tatapannya terarah pada segerombol manusia yang mengenakan baju koko dan peci di kepalanya. Orang-orang itu tampak sedang bercengkerama satu sama lain di teras mesjid Alun-Alun. Saling bersalaman ketika satu atau dua di antara mereka hendak beranjak pergi.
Aku bertanya sembari mengunyah baso tahu di dalam mulutku. "Kira-kira, berapa lama mereka pergi dari rumah?"
"Tergantung. Ada yang cuma beberapa hari, ada yang satu minggu, ada juga yang sampai satu bulan."
"Oh gitu?" tanggapku polos, sama sekali tidak pernah mendengar tentang hal itu sebelumnya. Menyadari tidak punya alasan untuk memungkiri segala pengetahuan dan kecerdasan yang dia miliki.
Dia menyeruput habis es kelapa muda di hadapannya, kemudian berkata, "Kayaknya sebentar lagi bakal turun hujan deh."
Aku menatap ke arah luar, gerimis mulai turun perlahan. Beberapa pedagang keliling yang sejak tadi hilir mudik di lapangan alun-alun pun sudah melipir ke bawah tenda abu-abu.
"Abis ini kita mau ke mana lagi?" Dia bertanya penuh semangat.
"Gimana kalau ke Braga?" ucapku spontan.
"Mau ngapain?"
"Nggak tau. Kita jalan aja, cari sesuatu yang menarik. Apa pun bentuknya..."
Suasana berubah hening. Yang terdengar hanyalah deru bising kendaraan di jalan raya dan suara para pedagang yang sibuk bergosip ria.
Sementara itu, aku masih menunggu sebuah jawaban.
***
Dia masih berada di sebelahku. Mengayunkan kedua kaki rampingnya dengan langkah yang amat tegas, namun tetap terkesan santai. Pandangannya masih lurus tertuju ke depan. Tak sedetik pun bersedia menengok atau melirik ke sekelilingnya.
Aku berusaha menyamakan kecepatan langkahku dengan langkahnya. Dalam hati berbisik, aku harus menciptakan satu keadaan yang lebih baik daripada sekarang ini. Entah bagaimanapun caranya. Maka, aku memberanikan diri untuk memulai percakapan baru.
"Lihat lukisan ini, deh!" ucapku, sekonyong-konyong berhenti tepat di hadapan salah satu lukisan yang berjejer di trotoar di sepanjanh jalan Braga.
Dia membalikkan badannya, memusatkan perhatian pada sebuah pemandangan sungai jingga yang dihuni sejumlah perahu beraneka warna. Kuduga, gambar itu mengacu pada situasi senja di Venice.
"Kapan ya aku bisa beli lukisan kayak gini?" timpalnya, menganugrahiku segurat senyum yang jail.
Aku terkekeh pelan. "Masalahnya, lukisan sebagus dan segede ini mau ditaruh di mana? Di dinding kamar?"
Dia melepaskan tawa yang begitu renyah, tawa yang kerap menimbulkan candu tersendiri untukku.
Tak lama, dia kembali melanjutkan langkahnya dengan kecepatan yang sama. Sementara aku, masih sibuk mengisi keheningan dengan menekuni jalanan ber-paving hitam yang dilintasi pengendara sepeda motor. Sesekali melirik seisi kafe Braga Huis, lalu memandang kue-kue cantik dan rainbow cake yang terpajang di etalase Sugar Rush.
Kudengar dia bersuara, "Aku baru sadar kalau hari ini hari Sabtu."
Ucapannya barusan membuatku teringat pada sebuah event mingguan yang kerap diselenggarakan di sini. Braga Culinary Night namanya. Dan pada saat yang sama, aku pun tersadar akan satu hal, tonight is Saturday Night -- malam yang amat dinantikan bagi mereka yang sudah punya pasangan (ya, kecuali aku).
"Jadi, mau malem Mingguan di sini aja atau gimana?" Aku berusaha menanggapi sewajar mungkin, tapi entah kenapa pertanyaanku barusan terdengar sangat mengecewakan.
"Nggak terlalu yakin juga, sih." Dia mengedikkan bahu sambil terus berjalan.
Kerongkonganku terasa kering. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Karena saat ini, pikiranku pun seolah berhenti berputar. Dan aku tak punya pilihan selain terus berjalan mengikutinya dari belakang.
***
Masih membekas di ingatanku sewaktu aku berada di dalam toko Bread Life beberapa menit yang lalu. Berdiri mengamati seisi etalase yang dihuni segala rupa kue cantik berwarna-warni. Kesemuanya terlihat amat menggoda sehingga aku sempat kesulitan dalam menentukan pilihan.
Tapi, tak butuh waktu yang cukup lama sampai aku berhasil mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Sebuah kue kecil -- sejenis cupcake -- bertabur gula halus dengan tambahan ceri merah di atasnya. Begitu sederhana, namun tergolong istimewa.
Aku berjalan mendekati dia yang masih berdiri di depan restoran Wendy's. Berusaha menyembunyikan kantung belanjaanku saat berkata, "Buat kamu nih," menyerahkan es krim cone dengan topping Green Tea kepadanya.
Dia menolehkan kepala, lalu terkekeh pelan.
"Udah, ambil aja," aku menegaskan. "Topping-nya rada mencair gara-gara kelamaan ngantre di kasir."
"Kamu kayak anak SMA aja," dia masih sempat menimpal sebelum akhirnya menerima pemberianku.
Sadar ada sesuatu yang harus kuberikan lagi, aku pun lekas menambahkan, "And -- this one's for you too."
"Apa ini?" Sepasang alis tebalnya bertautan.
"Cek aja," tukasku seadanya, tidak sanggup menerjemahkannya ke dalam kalimat yang lebih efektif.
Menarik lengan kemeja denimnya, lalu mengintip sesuatu yang berada di dalam kantung oranye itu. Tersenyum ketika mengetahui isinya. "Joy..." Dia menatapku dalam-dalam, seolah ingin mengutarakan sesuatu yang sulit untuk diutarakan. "You don't need to do this."
"No! You really deserve it." Aku mengangguk mantap. "Ya -- meskipun aku tahu, terlalu cepet untuk ngucapin ulang tahun."
"That's okay. Lebih baik dikasih sekarang daripada ditunda-ditunda. Karena, belum tentu kamu bisa ketemu aku hari Senin nanti." Dia menganggukkan kepala, memaklumi alasan yang kusampaikan. "Anyway, thank you so much."
Senyumku terkembang sempurna ketika tahu pemberianku tidak berakhir sia-sia. Setidaknya, tanpa sebuah kalimat penolakan.
"Jadi, ke mana rute kita selanjutnya?"
Aku berpikir sejenak, berharap ada satu tempat tujuan yang bisa kami kunjungi setelah ini. Tapi, tak ada satu pun yang muncul di kepalaku. Langit sudah mulai gelap. Sebentar lagi sore akan turun. Kami tidak boleh sampai ketinggalan Bus Damri.
"Atau -- masih mau muter-muter keliling Braga lagi?" Dia memberi pilihan, sembari menungguku melontarkan jawaban.
"Sebaiknya kita pulang aja," putusku lirih.
Dia menghela napas dalamm sadar bahwa kami sudah berada di pengujung pertemuan.
Hal selanjutnya yang kuketahui, kami berdua kembali menapakkan kaki, menuju arah jalan pulang.
***
Selama perjalanan pulang, di dalam Bus Damri jurusan Kalapa-Cibiru, tak henti-hentinya saya memanjatkan rasa syukur. Sejumlah momen berharga ketika kami melintasi Jalan Dewi Sartika, singgah di mesjid Alun-Alun Bandung sambil berbagi cerita, kemudian berakhir di jalan Braga.
Segalanya terasa menyenangkan, meskipun hanya sementara. Dan saya sangat berterima kasih pada semesta yang masih mengizinkan saya bertualang dengan seorang pejalan kaki hari ini.
Selamat ulang tahun yang ke-21, kamu..
Bandung, 25 April 2014
Aku terbiasa hidup di dalam sepi
Menghargai sunyi, menyulam satu demi satu benang mimpi
Tapi aku tak pernah tahu kepada siapa semua itu akan kubagi
Aku mencoba berlari, hingga segalanya mulai terkubur di dalam hati
Lalu kau datang seperti tamu tak diundang
Mengulurkan tangan dengan sebersit senyuman
Aku menikmati setiap keindahan yang kau miliki
Bahkan sampai elemen terkecil yang sulit untuk kupungkiri
Puisi ini hanya kata-kata sederhana
Ungkapan isi hati yang kurangkai sedemikian rupa
Namun percayalah, sedikit pun aku tak ingin berdusta
Tak ingin pula aku mengharapkan setangkai mawar atau azalea
Karena bagiku, tiada yang lebih indah selain suara dan kilau matamu yang senada
Ps: selamat Hari Kasih Sayang untuk kamu yang Terkasih.
Setahun yang lalu, segalanya masih belum serumit ini. Aku masih dapat menikmati gejolak perasaan menyenangkan setiap hari, tersenyum di depan cermin seorang diri, bahkan menulis kata-kata indah di setiap halaman buku binder-ku. Semuanya terasa indah pada saat itu.
Aku mengenalnya sudah cukup lama. Lewat cara konvensional di social media - Twitter - aku dan dirinya sering bertutur sapa. Sekadar bersinggungan mengenai twit-twit yang lucu, berperang sajak, bahkan tak jarang kami berbincang di Direct Message. Dan ya, aku amat bahagia dapat berkenalan dengannya. Aku sudah menganggap dirinya sebagai kembaranku sendiri.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tak terasa kami berjumpa dengan bulan April. Ketika itulah segalanya mulai berubah secara perlahan. Aku mulai sering mengiriminya ucapan selamat pagi, mengucapkan selamat tidur sebelum kami bermimpi, dan tentu - aku sering menuliskannya puisi. Aku bahkan tak ragu-ragu meminta nomor ponselnya pada waktu itu.
Bertukar nomor ponsel seolah menjadi jembatan bagi kami berdua. Kami sering terjebak dalam pesan singkat yang berisi lelucon konyol dan ledekan garing. Aku juga kerap mengabarkannya setiap kali aku menulis. Entah mengapa aku mau melakukannya, aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu, setiap kali berbicara dengannya, darahku berdesir hangat seolah dialiri gelombang semangat tak tanpa batas. Dan aku amat menikmatinya.
Tapi sayangnya, waktu bergulir begitu cepat bagai desingan peluru. Semakin banyak biaya yang kami habiskan untuk percakapan di dunia maya, semakin besar pula bahagia itu tercipta. Dan secara tidak langsung, aku tersadar bahwa aku telah jatuh cinta. Lebih tepatnya, aku telanjur suka. Teramat suka pada sosoknya yang menyenangkan, yang tenang, yang selalu membuatku kangen setiap waktu.
Aku menikmati setiap bulir kebahagiaan itu mengisi kepalaku sepanjang hari. Dan selagi aku terjebak dalam lembah yang dipenuhi warna-warni cinta, aku juga sering dihujani rasa cemburu yang tak beralasan. Aku sering menangis karena rindu terhadap dirinya yang sering menghilang. Bahkan, aku pernah merasakan hal-hal seperti itu selama berbulan-bulan sampai aku tak dapat lagi berpikir secara normal. Akal sehatku seolah-olah mendadak lumpuh.
Hingga pada hari ini, sesuatu yang tak pernah kuharapkan benar-benar terjadi.
Aku tidak tahu apa penyebab sebenarnya. Karena sejak dua hari kemarin, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Aku masih menjalin komunikasi dengannya via pesan singkat. Mengiriminya puisi dan bercakap-cakap barang sejenak. Tapi entah kenapa, sewaktu aku hendak membuka akun Twitter-ku, aku melihat satu keganjilan yang membuatku berpikir; ada yang tidak beres dengan jumlah followers-ku.
Aku tahu, ini masalah yang sepele dan sangat wajar. Namun yang tak kumengerti adalah, seseorang yang tidak berada di sana adalah namanya. Selama sejenak, perutku terasa mulas selagi jantungku berdegup kencang. Kepalaku mulai dihujani sejumlah tanda tanya dan spekulasi burukmyang tak kuketahui dari mana datangnya.
Meraih ponselku, dan mencoba menghubunginya. Sekadar bertanya mengenai alasan atau penjelasan singkat sehingga dia melakukan hal seperti itu. Setelah cukup lama menunggu, dia pun menanggapinya dengan satu kalimat yang berisi kata 'maaf'. Aku tidak mengerti kenapa dia harus minta maaf. Karena bagiku, followers are just a number. Aku bahkan tidak peduli seberapa banyak jumlah followers di akun Twitter-ku.
Sampai pada akhirnya, dia menjelaskan alasannya serinci mungkin. Ada sesuatu yang membuatnya harus menjauh, haris menjaga jarak dariku. Dan langkah kecil itu tentu saja dimulai dari social media. Aku berpikir, kenapa sih harus ada drama follow-unfollow-block-unblock di social media? Kenapa??? Itu semua terlalu kekanak-kanakkan!
Dia juga berkata padaku tentang sesuatu yang sulit sekali untuk kuterima. Maksudku, aku sudah berjanji untuk memaklumi apa pun alasannya. Tapi apa yang dia ucapkan begitu -- begitu ganjil dan tidak masuk akal. Aku tidak mengerti. Yang pasti, pada saat itu aku mengungkapkan apa yang telah kusimpan selama ini terhadapnya. Biar saja! Biar dia menyadari semuanya.
Tapi kemudian, tampaknya aku harus menelan kecewa. Semua upayaku tak membawa perubahan. Dia lebih memilih untuk pergi, sementara aku tidak berhak untuk menahannya. Karena akan lebih sakit jika kubiarkan dia bertahan lebih lama. Jadi, mau tidak mau aku mengikhlaskan pilihannya.
Aku sadar, semua orang memang berhak memilih siapa yang hendak dia jadikan sebagai sahabat ataupun teman hidup. Seperti apa pun keputusannya, tidak seorang pun yang pantas untuk melarang.
Saat menulis kisah ini, aku memang merasakan sakit hati yang teramat dalam. Kecewa sekaligus bercampur putus asa. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menanam benci, sekalipun dia berkata bahwa aku pantas untuk membencinya. Aku tidak mau. Kebencian tidak akan membuahkan apa pun selain kebencian itu sendiri.
Dan jika suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih tetap sama. Sedikit pun tak akan pernah lupa pada seluruh masa lalu kita - meskipun kini ia telah berakhir.
*teruntuk inisial H.A