Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label day. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label day. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Desember 2014

The Test (Part 2)



Untuk kedua kalinya, aku mendatangi rumah sakit dengan alasan yang sama. Masih ingat dengan jelas, dua belas bulan yang lalu, aku berjalan menelusuri koridor rumah sakit hanya untuk mencari tahu di mana letak Poli Melati. Ruangan itu biasanya digunakan untuk konseling sekaligus tes darah. Dan selama melakukan pencarian, aku memandang ke arah taman yang ditumbuhi rumput liar dan pohon-pohon ketapang. Pohon-pohon itu kerap mengantarkan aroma mistik saat aku pertama kali berada di sana.

Aku tersadar bahwa aku sudah berada di kota yang berbeda.

Menapakkan kaki di Rumah Sakit SB (*disamarkan) ini seperti melempar saya ke zaman dahulu. Sebagian bangunannya adalah karya arsitektur Belanda yang masih dipertahankan sampai saat ini. Pilar-pilar megah di pintu utama, daun jendela kuno yang terbuat dari kayu jati, seperti ada kisah lama yang tak boleh dilupakan di rumah sakit ini.

Awan kelabu yang bergelayut mulai menumpahkan rintik hujan. Udara dingin berembus pulan, tapi terasa menusuk hingga ke tulang. Di sekitarku ada seorang suster berbaju putih yang tengah mendorong kereta makan siang. Lelah menghiasi wajahnya. Mengalihkan pandangan ke arah halaman yang ditumbuhi pohon-pohon cemara menjulang tinggi. Sebuah pohon pinang sedang bertahan menantang angin. Salah satu pelepahnya tampak layu dan putus asa. Bahkan, sebatang pohon pun bisa menunjukkan rasa jenuh pada kehidupan.

Hujan turun semakin deras. Aku tiba di depan ruangan yang kelihatan sepi dari arah luar. Daun pintunya menganga lebar. Melangkah ke dalam seusai mengetuk pintu dan disambut oleh seorang dokter yang telah membuat janji denganku sebelumnya. Dokter Hendrik namanya. Aku sempat berpikir dokter ini sudah berumur dan punya uban di kepalanya. Tapi aku salah. Dokter Hendrik masih kelihatan muda, meskipun aku tidak tahu persis berapa umurnya.

Kami saling bersalaman sebelum menjatuhkan diri di atas sofa. Menanyakan kabar masing-masing seolah-olah hal itu tidak boleh dilewatkan. Aku sudah sering mendengar basa-basi seperti itu dari beberapa dokter sebelumnya. Tidak butuh waktu lama sampai Dokter Hendrik menyerahkan satu lembar kuesioner dipenuhi kolom yang harus aku isi. Menekuninya dengan saksama sambil menyimak satu demi satu pertanyaan yang  mulai dilontarkan cepat.

Barangkali dokter ini termasuk orang multitasking yang sering melakukan dua hal dalam waktu bersamaan.

Aku sudah pernah melakukan VCT setahun sebeleumnya di Bangka. Dan pada waktu itu, hasil tes yang kuterima adalah negatif. Dokter Hendrik kembali meluncurkan aneka pertanyaan seperti; mengapa aku tergerak menjalani tes, apakah belakangan ini sempat terjadi sesuatu yang membahayakan kesehatanku, dan kapan peristiwa itu terjadi. Perutku menegang hebat ketika merangkai sebuah kalimat yang tepat. Tapi beruntung, jawabanku tidak serta-merta membuat dokter pusing kepala.

Begitu sesi wawancara selesai, dokter meminta kuesioner yang telah kuisi dan berpesan sesuatu kepadaku. Dia berkata, sebaiknya aku bergegas menuju laboratorium untuk pengambilan darah. Ada seorang perawatnya yang telah menungguku di sana. Dalam hati aku mengujar, inilah yang kutunggu-tunggu!

Jadi, aku keluar ruangan dan berlari menuju laboratorium. Otakku berputar mengingat petunjuk yang diberikan Dokter Hendrik tadi. Sejumlah anak tangga kulewati. Sekelompok pembesuk menatapku aneh ketuka aku melintas cepat di hadapan mereka.

Setibanya di lantai 2, aku dengan mudah menemukan ruang laboratorium. Dokter Hendrik benar. Ada seorang perawat yang sedang duduk di dalam sana. Aku lupa namanya siapa. Tapi yang pasti, perawat itu mengenakan kerudung hijau muda dan masker yang menutupi separuh wajahnya. Aku mengambil posisi duduk di hadapannya. Dan seakan tahu maksud kedatanganku, perawat itu mengambil sesuatu dari dalam laci meja.

Sebuah suntik yang masih disegel!

Semuanya berlangsung begitu cepat sewaktu aku menyerahkan lengan kiriku. Jemarinya sibuk mencari titik pembuluh darah. Kemudian, dia membuka bungkusan suntik. Tali pengikat sudah dikenakan. Aku menunduk dalam-dalam lantaran ngeri menyaksikan jarum itu menusuk ke dalam kulitku. Perih sejenak, tapi tidak berlangsung lama. Aku hanya terenyuh sewaktu dia membubuhi kapas beralkohol untuk menutupi bekas suntikan.

Seperti ada sesuatu yang ketegangan itu jadi semakin berlipat-lipat.

Kini, suntik yang tergeletak di atas meja itu sudah terisi darahku dan siap dibawa ke laboratorium untuk segera diperiksa.

Aku diminta menunggu di luar.

Harap-harap cemas menanti hasil lab yang akan keluar dalam waktu 30 menit.

***

Tiga puluh menit berlalu dalam keheningan. Berkali-kali aku menengok ke dalam ruang pemeriksaan hanya untuk memastika tes laboratorium sudah ada atau belum. Tapi, ruang kecil yang bersebelahan dengan laboratorium itu masih tampak kosong. Tak ada siapa-siapa yang duduk di belakang meja itu.

Beginilah yang kurasakan setahun lalu. Duduk menanti kabar dari laboratorium sambil mencari cara untuk mengusir kegelisahan. Pada waktu itu, aku mengutak-atik sejumlah games di Tablet-ku demi menghibur diri. Dan kali ini, aku berkutat di hadapan Blackberry Messenger yang menampilkan window percakapan antara aku dan sahabatku, Janna.

Derai hujan di luar sana masih belum berhenti. Mendung terlihat semakin tebal. Aku langsung berpikir bagaimana caranya pulang ke kantor seusai menerima hasil dari pihak laboratorium. Aku bisa singgah di rumah sakit pun karena memanfaatkan jam makan siang.

Tepat ketika aku mendengar denting notifikasi Blackberry Messenger, seorang perawat memanggil namaku dari dalam ruangan itu. Dia hendak menyampaikan sesuatu. Jantungku seperti bunyi gendang yang ditabuh. Kedua telapak tanganku mendadak dibanjiri keringat.

Perawat itu memintaku untuk tetap tenang. Karena setelah mendengar kabar yang dia sampaikan, aku pasti bisa merasa sedikit lega – sekalipun kabar buruk. Dan ternyata, benar saja. Jawabannya serta-merta membuatku terperangah dan tak sanggup meneteskan air mata.

Aku masih dinyatakan NEGATIF!
Itu berarti, aku masih baik-baik saja.

Rasanya seperti diguyur air hujan. Aku bahkan tidak tahu bagaimana mengekspresikan kegembiraanku saat ini. Hanya melonjak kegirangan, tersenyum sumringah, lantas bersalaman dengan si perawat dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa bersyukur kepada doa yang kupanjatkan kepada Tuhan.

Aku berlari menuruni sejumlah anak tangga, menuju ke lantai bawah. Bahagia sekaligus segenap emosi yang meletup-letup membuat langkahku semakin bersemangat. Tak peduli pada petugas kebersihan dan resepsionis yang menatapku heran, aku masih tersenyum gembira. Meninggalkan gedung rumah sakit dan segera melompat ke dalam angkutan umum.

Langit memang sedang bersedih pada hari ini.
Tapi aku percaya, hujan tidak selamanya menyimpan kesedihan.
Hujan akan berhenti, dan berubah menjadi pelangi.
Jumat, 23 Mei 2014

Selamat Ulang Tahun, Teman


Wednesday, May 22nd 2013
Cafe Divan, A La Renaissance, Naturalia, Rue de La Roquete, Clinique de Mesnil...
Tunggu! Aku nulis apaan, sih? Harusnya saat ini aku sedang menyiapkan dialog antara Agnes Karenina dan Fabian. Bukannya mendata satu demi satu nama tempat yang masih simpang-siur lokasinya.
Jadi, aku menutup jendela Search Engine; Google Chrome dan langsung menyambar selembar kertas scrap beserta alat tulis. Berancang-ancang untuk memulai satu kalimat percakapan yang akan dilontarkan oleh Agnes, tokoh utama dalam naskah terbaruku.
Benar! Aku tengah menulis satu cerita terbaru yang ber-setting tempat di Paris. Dan rencananya, naskah ini hendak kuikutsertakan dalam kompetisi menulis Seven Deadly Sins. Aku sengaja memilih tema Lust karena tokoh utamaku kali ini benar-benar penuh ambisi. Seolah-olah, tidak ada satu orang pun di dunia yang sanggup menghentikan jalan hidupnya.
Aku baru mau menulis satu kata kerja ketika kusaksikan Blackberry-ku menyala. Menampilkan sejumlah pengingat ulang tahun teman-temanku. Setiap pukul 9 pagi, reminder yang terintegrasi langsung dengan media sosial Facebook itu akan memunculkan notifikasi secara otomatis.
Meraih handheld berwarna putih itu dan menilik siapa saja yang berulang tahun hari ini. Hanya satu orang. Sepehr Rahmani, namanya. Dia orang Iran yang kini bermukim di London. Usianya baru 23. Tapi entah kenapa, perawakannya lebih menyerupai orang yang sudah berusia 30.
Well, lupakan Sepehr Rahmani dan seperti apa karakteristik wajahnya. Karena yang ingin kubahas saat ini adalah; ulang tahun sahabatku. Janna -- I called his Jane, sometimes. Dan kenapa aku mendadak teringat dirinya? Karena dia berulang tahun kemarin, sementara aku belum memberi bingkisan ataupun ucapan ulang tahun yang berisi harapan. Jangankan ucapan, terakhir kali menghubunginya pun aku sudah lupa kapan.
Sahabat macam apa aku ini? Tak tahu diri!
Tapi, aku tak ingin berlama-lama meratapi rasa bersalah. Aku harus melakukan sesuatu agar semuanya jadi membaik.
Aku bergegas menuju kamar. Kertas scrap beserta pulpen pun kubiarkan tergeletak di atas meja ruang tamu. Mengambil tablet-ku dan membuka aplikasi Whatsapp yang terpampang nyata di homescreen-nya. Semata-mata bertujuan mengirim pesan kepada sahabatku. Tapi, alih-alih mengetik kalimat puitis dan ucapan yang sangat klise, aku justru mengiriminya sebuah voice notes singkat yang lumayan nyeleneh.
"I dont know about you, but I'm feeling twenty-two..." Aku bersenandung kecil. Kemudian dilanjutkan dengan sejumlah kalimat yang malah terdengar seperti teriakan.
And I must confess, i'm not a verbal person. Aku tidak cukup pandai untuk berbicara langsung kepada siapa pun.
Mendengar voice notes-ku yang tidak lebih dari semenit, Janna pun menanggapinya dengan satu kalimat seruan yang dihujani sejuta tanda seru!
Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuk!!!!!!!!! Thought you forget my birthday.
Dan entah mengapa, frasa yang tertulis begitu sederhana itu seolah mampu membuat mataku berkaca-kaca. Aku tidak tahu. Mungkin saja, selama ini kami sudah seperti dua bersaudara. Atau barangkali, karena kami tak pernah berjumpa setelah sekian lama.
Hanya semesta yang mengetahui betapa aku merindukanmu, Teman...
Satu hal yang kuketahui berikutnya, kami langsung terjebak dalam percakapan panjang. Membicarakan masalah cinta, kehidupan pribadi, sampai naskah terbaru yang sedang kugarap.
Dia begitu tertarik untuk membaca cerita itu secara keseluruhan. Tapi aku menolaknya. Aku bilang, ini masih rahasia. Akan ada waktu di mana naskah itu menjadi sebuah buku yang siap untuk dibaca.
Dan aku tahu, sejak saat itu dia selalu memercayaiku.
***
Wed, 21st May 2014
"Today is my cake day. Thank you for the biggest surprise."
Sejujurnya, ada kegetiran yang muncul ketika kubaca caption foto itu. Dia diapit oleh dua orang dengan sebuah kue di tangan masing-masing. Senyum yang terkembang seolah-olah menjadi bukti valid akan kebahagiaan mereka.
But I wasnt there.
Aku berada di suatu tempat berbeda ketika dia sibuk merayakan hari ulang tahunnya.
Sahabat macam apa aku ini?
Menepuk tombol 'loves' sebelum benar-benar keluar dari beranda Instagram-ku.
***

Friday, May 23rd 2014

Kepada teman lama yang tidak perlu kusebut namanya siapa;
Ini aku lagi, hendak mempersembahkan sebuah tulisan sederhana
Sebenarnya ini bukan apa-apa, karena aku tahu -- kamu pernah membaca sesuatu yang lebih sempurna
Tapi aku juga tahu, tulisan seperti ini akan selalu membuatmu rindu
Sekaligus percaya
Kita punya mimpi bersama
Mewujudkan segalanya menjadi nyata, apa pun bentuknya
Entah kapan, kita tidak pernah tahu
Tapi tidak ada salahnya untuk percaya
Sekaligus berusaha

Kepada teman lama di mana pun kamu berada...
Waktu berlalu begitu cepat
Dan aku tak ingin semuanya jadi terlambat
Aku rasa, inilah waktu yang tepat untuk menyampaikan doa dan harapan
Selamat bertambah umur.
Jangan pernah takut dengan ketiadaan
Karena ketiadaan itu meluaskan
"Age is just a number, but maturity is a choice." - Anonymous