Aku terbiasa hidup di dalam sepi
Menghargai sunyi, menyulam satu demi satu benang mimpi
Tapi aku tak pernah tahu kepada siapa semua itu akan kubagi
Aku mencoba berlari, hingga segalanya mulai terkubur di dalam hati
Lalu kau datang seperti tamu tak diundang
Mengulurkan tangan dengan sebersit senyuman
Aku menikmati setiap keindahan yang kau miliki
Bahkan sampai elemen terkecil yang sulit untuk kupungkiri
Puisi ini hanya kata-kata sederhana
Ungkapan isi hati yang kurangkai sedemikian rupa
Namun percayalah, sedikit pun aku tak ingin berdusta
Tak ingin pula aku mengharapkan setangkai mawar atau azalea
Karena bagiku, tiada yang lebih indah selain suara dan kilau matamu yang senada
Ps: selamat Hari Kasih Sayang untuk kamu yang Terkasih.
Ada masa di mana bahagiaku pernah tercipta
Kepada satu yang selalu kupuja
Kepada dia satu-satunya penguasa palung jiwa,
yang akhirnya harus kuterima bahwa dia memperlakukanku layaknya pelabuhan sementara.
Bukan sebuah muara.
Namun padamu, aku merasa berbeda.
Kamu menenggelamkanku di ruang masa,
tempat aku menelusuri relief sejuta kisah
Tentang manusia sebelum kita.
Sejak kamu menghilang, rinduku terbelenggu waktu.
Gravitasi menyiksaku ke dalam perasaan tanpa jeda.
Jadi, kepada langit biruku yang tak pernah bersuara,
sampaikan kepadanya tentang satu rindu
yang selama ini tertahan di ujung kata.
Aku menantinya, pada satu temu.
Aku kembali, menjejaki lagi kakiku di tempat ini.
Di sini, tempat di mana kita selalu menitipkan mimpi, menyulam janji, merangkai sejumlah sajak yang penuh arti.
Tidak luput juga beberapa sabda cintamu yang selalu mengembun di lubuk hati.
Tapi, aku tak berteman, sama dengan kisah cintaku yang tak bertuan – tanpa arah dan tujuan.
Tanpa secuil pesan yang kautinggalkan.
Meski begitu, semuanya tetap sama.
Tidak ada yang kulupa, karena bayangmu di sini tetap kujaga.
Setiap penuturanku pun masih menempel setia di sana, di pilar-pilar dan tiang yang menjulang tinggi tak terkira.
Sama seperti banyaknya air mata yang tumpah di sini karena perpisahan kita.
Dulu kala.... Saat kita masih bersama.
Aku tahu, waktu takkan bisa terulang.
Semua memori itu hanya sanggup kukenang.
Sekalipun aku meradang, tangisku tidak mungkin membawamu pulang.
Namun, jika boleh aku meminta, aku ingin mengemas harapan ini dan menjaganya hingga aku tutup usia.
Dear, Layla...
Masih ingatkah kau tentang dongeng yang pernah kucerita?
Tentang seorang pangeran yang tak pernah berhenti memuja gadis pujaan hatinya meski segala cobaan terus mendera?
Atau, tentang seorang putri raja yang bersedia mengorbankan nyawanya demi satu yang ia cinta?
Layla, kita pernah bermimpi bahwa cinta kita abadi.
Tak ada rintangan yang melintang, atau aturan-aturan yang menantang.
Yang ada hanya kisah bahagia penuh canda tawa dan gembira.
Sesederhana itu.
Namun, Layla... Aku sangat berharap kalimatku ini dapat kaumengerti.
Semua ini tentang harapan yang tak kunjung henti, juga tentang rentetan penantian yang tak pernah letih.
Selalu begitu.
Dan, Layla... Andai saja engkau tahu...
Tak peduli sejauh apa pun dan di mana pun kamu berada, aku selalu menanamkan rindu, hanya padamu satu.
Termasuk kalimat-kalimat mesra yang mewakilkan kecupku kepadamu.