Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label confession. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label confession. Tampilkan semua postingan
Selasa, 06 Oktober 2015

Confession #2

Dari awal harusnya saya menyadari kalau hal seperti ini akan terjadi. Hal-hal kecil kerapkali mengacaukan seluruh rencana yang telah kita susun matang-matang. Tanpa pernah kita duga dari mana datangnya. Meskipun begitu, saya tidak pernah belajar dari pengalaman. Saya terbiasa menaruh ekspektasi yang ketinggian, impian yang jauh sekali rasanya untuk dicapai. Padahal saya selalu  menasihati orang bahwa, expectation leads us to disappointment. I noted that. 

Dan kali ini, saya harus membuat satu pengakuan.
 
Saya rasa, orang-orang perlu mengetahui semuanya. Kebenaran yang selama ini bersembunyi di balik senyuman dan tawa palsu saya.

Orang-orang tahu, saya sudah kapok berurusan dengan sesuatu yang dinamakan cinta. Saya beranggapan, cinta, atau menjalin hubungan dengan seseorang hanya akan mengacaukan segalanya. Karier, passion, studi, bahkan ketangguhan seseorang, dapat diruntuhkan dengan mudah oleh lima huruf sederhana itu. Makanya saya pernah berjanji untuk berhenti mengincar seseorang, dilarang membuka pintu hati kepada siapa pun, dan menutup semua kemungkinan dari rayuan orang-orang asing.

Setidaknya itulah yang selalu saya ucapkan kepada mereka.

Namun, ada kalanya saya menjadi luluh tak berdaya. Penyebab utamanya, ya, karena cinta.

Saya melanggar semua larangan yang telah saya toreh di dalam memori. Saya mendadak lupa dengan tujuan utama, dan kebahagiaan saya yang sesungguhnya. Saya pun tidak ingin menoleh ke sekitar lantaran saya yakin, hanya mencinta dan dicinta yang bisa membuat saya bahagia.

Bah! Omong kosong dengan cinta.
 
Ia justru memperlakukan saya seperti budak dungu. Membutakan penglihatan saya dengan aneka impian semu. Dan bodohnya lagi, giliran saya menyadari semua kebodohan itu, saya akan selalu mengulanginya dalam fase yang sama. Bodoh bukan?

Mereka mengenal saya sebagai sosok yang tangguh, anti-peluru, dan keras seperti baja. Mereka beranggapan, selama ini saya cuma fokus pada mimpi dan cita-cita. Sepanjang hari bekerja keras mencari uang, sepulang kerja saya menuju ke pusat kebugaran untuk berolahraga, aktivitas malam akan diisi dengan revisi naskah sampai pukul sembilan. Tidur malam tidak pernah lewat dari pukul sepuluh. Siklus itu akan terus berulang di hari esok, lusa, dan seterusnya.

Biar saya perjelas, rutinitas demikian berhasil menyeimbangkan diri saya. Siapa pun pasti merasa puas saat mereka menjadi orang yang produktif. Sampai pada suatu hari, satu demi satu orang bermunculan dalam kehidupan saya, masuk melewati celah terkecil, menyihir saya dengan satu pesona sederhana namun istimewa, kemudian pergi begitu saya.

Butuh waktu yang cukup lama untuk bangkit dan menyadari kebodohan yang saya perbuat. Saya mulai bertingkah irasional, sulit mengendalikan emosi, dan mendadak kehilangan rasa percaya diri. Berhari-hari saya akan bersikap aneh, murung, kemudian menyumpah-serapah siapa pun yang menjadi penyebab peristiwa ini, termasuk menyalahkan diri saya sendiri.

Tidak pernah menyangka bahwa saya telah berjalan melewati batas, meninggalkan salah satu bagian terkecil dalam diri saya -- sosok yang patuh, yang bijaksana, yang mengerti bagaimana caranya menikmati kesepian.
Barangkali, inilah yang dinamakan dengan proses pendewasaan diri. Semakin banyak kesalahan yang kamu perbuat, kamu akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Melangkah dengan bebas, namun sangat hati-hati. Karena kamu tahu, kamu selalu merasa cukup dalam segala hal. Dan itu saja sudah cukup membuatmu bahagia.
Sabtu, 25 April 2015

This is How Goodbye Feels Like

Sebagian orang berpendapat, ketika hujan turun, itu artinya ada seseorang di tempat yang jauh sedang menangis. Entah menangis karena sedih, atau mungkin karena terharu. Keduanya sama-sama menitikkan air mata.

Mendongakkan kepala selagi kedua kakiku menyambangi jalanan yang terasa lengang daripada biasanya. Awan kelabu membentuk gumpalan tebal di atas sana. Tampak sebuah kilatan kecil yang menyala-nyala di kejauhan. Dalam hati aku membatin, sebentar lagi pasti akan turun hujan.

Aku menengok lagi ke arah belakang. Sebuah bangunan berlantai tiga dengan pintu pagar yang menganga di depannya. Selama beberapa saat, aku masih berdiri di sana sambil mengamati tempat itu baik-baik. Membayangkan sepuluh bulan terakhir yang kulewati dengan tawa dan air mata. Sepuluh bulan yang telah menorehkan banyak sekali peristiwa.

Itu adalah hari di mana aku sedang meringkuk di dalam selimut dengan kondisi setengah terpejam. Beberapa menit yang lalu, aku sudah terbangun dari tidur. Namun udara dingin dan sisa hujan di luar sana membuatku enggan untuk beranjak turun. Mom tiba-tiba muncul di ambang pintu kamarku. Napasnya putus-putus. Menyampaikan sesuatu yang – terus terang saja – belum ingin kuketahui.

Mataku membelalak seusai mendengar berita terlontar dari mulut Mom. Di satu sisi, aku tidak dapat membendung rasa bahagia. Sebagian yang lain justru merasakan gejolak aneh yang membuat perutku seperti dipelintir. Pukul sepuluh pagi, tanpa persiapan apa-apa, aku langsung disuruh bekerja.

Aku mungkin sedang bermimpi.

Entah dari mana datangnya kekuatan itu, aku menuruni tempat tidur dan segera menuju kamar mandi. Sekadar membasahi tubuhku tanpa sempat menyentuh sabun maupun secuil shampo ke kepalaku. Sementara mulutku terus merutuk kesal lantaran tidurku jadi terganggu. Egois memang jika aku masih memikirkan waktu tidurku. Namun suatu hari kelak, aku akhirnya menyadari bahwa itu bukanlah waktu tidur, melainkan waktu bermalas-malasan.

Aku membetulkan kardus yang kupeluk sejak tadi. Aneka kertas dan buku kosong, sejumlah alat tulis yang tersimpan dalam kotak pensil, rasanya masih seperti mimpi. Aku bahkan masih sulit memercayai bahwa ini akan jadi hari terakhirku.

Terbayang lagi saat aku melangkah ke dalam ruangan dan duduk berhadapan dengan atasanku. Jantungku berdegup sepuluh kali lebih cepat. Telapak tanganku mulai basah oleh keringat. Satu demi satu kalimat telah terucap. Napasku kian memburu. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara untuk mengendalikannya.

Lima belas menit berlalu dalam keheningan. Bunyi jarum jam sanggup mengalahkan suaraku yang terlalu lirih. Sampai semuanya telah tersampaikan pun, aku belum dapat bernapas dengan baik. Rasanya seperti habis berlari 1000 kilometer.

Hal itu juga sepertinya dirasakan oleh orang yang berhadapan denganku. Aku dapat melihat mata lelahnya berkaca-kaca. Artikulasi kalimat yang dia ucapkan terdengar kurang jelas. Mungkin aku salah. Tapi, mungkin aku juga benar. Bahwa dia pun merasakan kehilangan.

Semua orang tentu merasakan kehilangan.

Memang tidak dapat kupungkiri, banyak sekali yang kupelajari selama aku berada di sini. Seluruh hal yang tidak pernah kuketahui sebelumnya, berbagai istilah yang asing di telinga, menjadi pengalaman yang bisa kugunakan di masa depan. Pengalaman adalah guru yang paling baik, bukan?

Hujan turun perlahan. Mataku terasa perih. Bangunan yang berdiri tegak di hadapanku kini justru terlihat seperti tempat yang istimewa. Sebuah tempat yang menawarkan segalanya. Sebuah tempat yang akan membuatku rindu dan ingin kembali.

Mungkin kembali, suatu hari nanti.
Jumat, 20 Juni 2014

Regret and Forgiveness

Aku udah di rumah nih. Sorry ya enggak bilang2

Mendengus kesal begitu mendapat pesan itu terpampang jelas di layar gadget. Aku bergegas membuka aplikasi LINE, mengintip window chat, dan mulai mengetik kalimat balasan yang tak kalah menyedihkan. 

Emm.. Ok.

Sesingkat itulah pesan yang kukirim kepadanya, tanpa melampirkan nasihat atau kalimat basa-basi busuk lainnya. Entah setan apa yang merasuk pikiranku pada saat itu, aku pun tidak tahu. Yang kurasakan hanyalah dongkol, kesal, jengkel, sebal, tapi juga rindu. Barangkali rindu untuk memarahinya.

Ya. Itulah hal berikut yang aku lakukan ketika segalanya bertambah rumit.

Dia mencoba memberi penjelasan, menguraikan satu demi satu peristiwa dengan kalimat yang amat sederhana. Alih-alih menyimak seluruh pernyataan yang dia berikan, aku justru menanggapinya dengan satu kalimat tanya. Mencari tahu, apa yang hendak dia lakukan dengan pernyataan itu? Ingin meyakinkanku atau sekadar memberi alasan palsu?

Namun, pada saat itu yang kuterima hanyalah ketidakacuhan. Barangkali dia sudah bisa menebak ke mana percakapan ini akan berakhir. Dengan bodohnya, aku kembali bertanya dengan kejam, what if i dont want to hear?

Terkadang, kalimat itu memang sangat ampuh jika dilontarkan kepada gerombolan Jerky Boys di luar sana. Sekadar membuat mereka malu dan tahu rasa. Aku pernah mencobanya satu kali kepada seseorang yang sempat mengintimidasiku lewat cibirannya. Dan itu berhasil.

Di lain waktu, barulah aku menyadari betapa tajamnya kalimat itu ketika kuarahkan kepada seseorang yang tidak bersalah.

Tidak butuh waktu yang lama sampai kami berdua saling beradu argumen dan menyalahkan satu sama lain. Aku belum mau menyerah. Terus mengoceh segala kekhawatiran dengan penuh kesabaran. Tapi, lawan bicaraku pun tak mau mengalah. Perang baru saja dimulai. Satu hal yang aku yakin, hal-hal seperti ini pasti berlangsung lama dan berujung petaka.

Sesekali emosiku menjadi sulit terkendali. Aku mendadak terpancing emosi. Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Inhale – Exhale. Aku sering melakukan hal seperti ini untuk menjaga keseimbangan diri. Sampai pada akhirnya, aku memutuskan untuk memasang bendera putih. Aku menjelaskan betapa lelahnya diri kami sehingga menjadi sangat kacau seperti tadi. Melontarkan kekurangan sama lain, merasa yang paling benar, mencurigai tanpa alasan. Hal-hal sepele seperti itu terkadang bisa menjadi penyebab rusaknya suatu hubungan.

Menasihati lagi agar semuanya dibicarakan di keesokan hari. Karena aku berpikir, semuanya tidak akan membaik jika diteruskan dengan penuh emosi. Mengistirahatkan pikiran adalah satu-satunya jalan. Tak lupa, aku pun menyertai permintaan maaf dan ucapan selamat tidur. Aku hanya berharap agar dia dapat memaklumi.

Tapi, semua itu masih jauh dari selesai.

Ada banyak hal yang masih hendak dia ungkapkan. Tentang bagaimana dia bisa mengeluarkan caci-maki, bagaimana dia yang selama ini sudah terlalu sabar dalam memahamiku, bagaimana dia yang selalu menunjukkan perhatiannya meskipun dengan cara yang berbeda. Dan yang terakhir, dia juga menyampaikan satu kalimat penyesalan atas apa yang telah dia lakukan. Satu kalimat permohonan maaf yang tulus.

Kalau tahu semuanya bakal kayak gini, mungkin aku enggak akan cerita yang tadi itu ke kamu. Mungkin aku bakal cerita aja ke orangtua aku, yang siap untuk ngasih dukungan ke aku sewaktu-waktu.

Pengakuan yang dia sampaikan seketika membuatku terenyuh.

Aku mendadak malu betapa irasionalnya tindakanku beberapa menit yang lalu. Menuduhnya macam-macam, mengatasnamakan cinta untuk segala bentuk kekhawatiran. Aku juga menyadari bahwa aku telah bersikap insecure dan berlebihan.

He was right, and I was wrong.


Tebersit lagi di benakku akan sebuah pertanyaan yang pernah aku ucapkan dahulu. Kenapa rasanya terlalu sulit untuk mendapatkan seseorang yang bersedia mencintai dan dicintai?

Kini, mungkin aku telah menemukan jawabannya. Satu-satunya jawaban mengapa aku sulit menjalin hubungan percintaan, karena aku terlalu rumit. Aku selalu mengalami kesulitan dalam menghadapi ketakutan yang aku ciptakan sendiri. Aku ini ganjil. Aku ini berbahaya.

Aku pernah begitu dekat dengan seseorang yang tepat. Meyakini di dalam hati bahwa dialah satu-satunya sejak awal pertama. Melakukan apa saja yang aku bisa untuk mempertahankan keutuhan kami. Tapi pada akhirnya, aku malah menyia-nyiakan kehadirannya dengan segala spekulasi negatif tak beralasan.

Kembali ke percakapan kami...

Dia masih mengutarakan segenap kalimat permintaan maaf. Membujukku agar mengerti bahwa dialah yang bersalah dalam kasus ini. Aku berusaha menepis pernyataannya. Lantaran aku menyadari, bukan dia yang berdosa. Dia tidak pernah salah.

Akulah yang sepatutnya meminta maaf.

Dan dia masih bersedia memberikan sebuah pengampunan.

Dia terlalu baik untuk mengampuni seseorang seperti aku.

Satu hal yang aku yakini... Meskipun pintu maaf itu akan selalu terbuka, aku tidak yakin apakah kesempatan itu masih ada. Aku baru saja menorehkan luka sekaligus membuatnya kecewa. Dan untuk saat ini, aku masih ragu apakah aku pantas untuk mencinta dan dicinta.
Jumat, 27 Desember 2013

Dear Father...


I'm pretty fed up with my father. Long story short, he's not a very good father. He didnt even believe in my passion at all. Sometimes, I wanna get away from him. I know I can move out, but i cant stop wishing if I had a different father, an uncle, or whatever - someone who can treat me like a son, and support what I want to do.

I was physically and emotionally disappointed by my father. As far as I remember, he never care for me , accept me , initiate conversation and give me attention . I hate being lonely. He was never there whenever I need a shoulder to cry on. The day when I was young, he always left me cry in loneliness.

The most important, he never know what I really needed. He always treat me like a stranger, never gave me support for what I did. He's become the reason why I hate another part of myself, the reason why I wanna go out there, the reason why I dont wanna stay here anylonger. I hate when he tried to domimate something that he doesn't understand or shortly -- know me.

I just want to be happy like another. Want to feel like I'm an importance person no matter what happens. Want him to love me even if I walked in the wrong path. I just want to feel the warmth of an embrace.

Back then again when I was teen, he wants me to succeed. But he never had the time to understand my feelings. He never cared what I planned for. Instead, he never really cared for my happiness. I'm still like a stranger in his eyes.

Jumat, 13 Desember 2013

Fragile Heart


Setahun yang lalu, segalanya masih belum serumit ini. Aku masih dapat menikmati gejolak perasaan menyenangkan setiap hari, tersenyum di depan cermin seorang diri, bahkan menulis kata-kata indah di setiap halaman buku binder-ku. Semuanya terasa indah pada saat itu.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Lewat cara konvensional di social media - Twitter - aku dan dirinya sering bertutur sapa. Sekadar bersinggungan mengenai twit-twit yang lucu, berperang sajak, bahkan tak jarang kami berbincang di Direct Message. Dan ya, aku amat bahagia dapat berkenalan dengannya. Aku sudah menganggap dirinya sebagai kembaranku sendiri.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tak terasa kami berjumpa dengan bulan April. Ketika itulah segalanya mulai berubah secara perlahan. Aku mulai sering mengiriminya ucapan selamat pagi, mengucapkan selamat tidur sebelum kami bermimpi, dan tentu - aku sering menuliskannya puisi. Aku bahkan tak ragu-ragu meminta nomor ponselnya pada waktu itu.

Bertukar nomor ponsel seolah menjadi jembatan bagi kami berdua. Kami sering terjebak dalam pesan singkat yang berisi lelucon konyol dan ledekan garing. Aku juga kerap mengabarkannya setiap kali aku menulis. Entah mengapa aku mau melakukannya, aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu, setiap kali berbicara dengannya, darahku berdesir hangat seolah dialiri gelombang semangat tak tanpa batas. Dan aku amat menikmatinya.

Tapi sayangnya, waktu bergulir begitu cepat bagai desingan peluru. Semakin banyak biaya yang kami habiskan untuk percakapan di dunia maya, semakin besar pula bahagia itu tercipta. Dan secara tidak langsung, aku tersadar bahwa aku telah jatuh cinta. Lebih tepatnya, aku telanjur suka. Teramat suka pada sosoknya yang menyenangkan, yang tenang, yang selalu membuatku kangen setiap waktu.

Aku menikmati setiap bulir kebahagiaan itu mengisi kepalaku sepanjang hari. Dan selagi aku terjebak dalam lembah yang dipenuhi warna-warni cinta, aku juga sering dihujani rasa cemburu yang tak beralasan. Aku sering menangis karena rindu terhadap dirinya yang sering menghilang. Bahkan, aku pernah merasakan hal-hal seperti itu selama berbulan-bulan sampai aku tak dapat lagi berpikir secara normal. Akal sehatku seolah-olah mendadak lumpuh.

Hingga pada hari ini, sesuatu yang tak pernah kuharapkan benar-benar terjadi.

Aku tidak tahu apa penyebab sebenarnya. Karena sejak dua hari kemarin, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Aku masih menjalin komunikasi dengannya via pesan singkat. Mengiriminya puisi dan bercakap-cakap barang sejenak. Tapi entah kenapa, sewaktu aku hendak membuka akun Twitter-ku, aku melihat satu keganjilan yang membuatku berpikir; ada yang tidak beres dengan jumlah followers-ku.

Aku tahu, ini masalah yang sepele dan sangat wajar. Namun yang tak kumengerti adalah, seseorang yang tidak berada di sana adalah namanya. Selama sejenak, perutku terasa mulas selagi jantungku berdegup kencang. Kepalaku mulai dihujani sejumlah tanda tanya dan spekulasi burukmyang tak kuketahui dari mana datangnya.

Meraih ponselku, dan mencoba menghubunginya. Sekadar bertanya mengenai alasan atau penjelasan singkat sehingga dia melakukan hal seperti itu. Setelah cukup lama menunggu, dia pun menanggapinya dengan satu kalimat yang berisi kata 'maaf'. Aku tidak mengerti kenapa dia harus minta maaf. Karena bagiku, followers are just a number. Aku bahkan tidak peduli seberapa banyak jumlah followers di akun Twitter-ku.

Sampai pada akhirnya, dia menjelaskan alasannya serinci mungkin. Ada sesuatu yang membuatnya harus menjauh, haris menjaga jarak dariku. Dan langkah kecil itu tentu saja dimulai dari social media. Aku berpikir, kenapa sih harus ada drama follow-unfollow-block-unblock di social media? Kenapa??? Itu semua terlalu kekanak-kanakkan!

Dia juga berkata padaku tentang sesuatu yang sulit sekali untuk kuterima. Maksudku, aku sudah berjanji untuk memaklumi apa pun alasannya. Tapi apa yang dia ucapkan begitu -- begitu ganjil dan tidak masuk akal. Aku tidak mengerti. Yang pasti, pada saat itu aku mengungkapkan apa yang telah kusimpan selama ini terhadapnya. Biar saja! Biar dia menyadari semuanya.

Tapi kemudian, tampaknya aku harus menelan kecewa. Semua upayaku tak membawa perubahan. Dia lebih memilih untuk pergi, sementara aku tidak berhak untuk menahannya. Karena akan lebih sakit jika kubiarkan dia bertahan lebih lama. Jadi, mau tidak mau aku mengikhlaskan pilihannya.

Aku sadar, semua orang memang berhak memilih siapa yang hendak dia jadikan sebagai sahabat ataupun teman hidup. Seperti apa pun keputusannya, tidak seorang pun yang pantas untuk melarang.

Saat menulis kisah ini, aku memang merasakan sakit hati yang teramat dalam. Kecewa sekaligus bercampur putus asa. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menanam benci, sekalipun dia berkata bahwa aku pantas untuk membencinya. Aku tidak mau. Kebencian tidak akan membuahkan apa pun selain kebencian itu sendiri.

Dan jika suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih tetap sama. Sedikit pun tak akan pernah lupa pada seluruh masa lalu kita - meskipun kini ia telah berakhir.

*teruntuk inisial H.A

Jumat, 25 Oktober 2013

Why I Don't Wanna Be an Employee


Siang itu, orangtua saya kedatangan seorang tamu dari jauh. Saya tidak tahu siapa orang itu. Yang saya tahu, mereka terus berbincang-bincang di ruang tamu. Dimulai dari menanyakan kabar satu sama lain, bagaimana kondisi anak-anak, sampai yang menyangkut kehidupan pribadi anak-cucu masing-masing. Saya sendiri sempat mendengar dia menanyakan bagaimana kabar saya. Dan orangtua saya hanya bilang kalau saya jobless dan nggak punya kesibukan apa-apa.

Sontak saya terenyuh. Terkejut sekaligus tidak mengerti bagaimana kalimat itu bisa meluncur dari mulut kedua orangtua saya.

Di dalam kamar, saya masih terdiam. Saya duduk termenung di hadapan laptop yang menampilkan revisi naskah saya sambil merenungi kalimat barusan. Mata saya terasa memanas. Saya pengin menitikkan air mata. Tapi saya tidak mau menunjukkan kesedihan. Saya sudah berjanji untuk tidak menangisi hal-hal yang terdengar sepele.

Namun, saya masih nggak pernah mengerti mengapa orang-orang selalu menganggap sebuah pekerjaan adalah keharusan. Sesuatu yang dinilai komersil dan memiliki nilai jual. Mereka bilang, nggak punya pekerjaan nggak akan bisa hidup. Jujur, saya sendiri pernah berpikir demikian. Tapi itu dulu banget. Saat saya masih memiliki ambisi untuk meneruskan hidup dengan cara yang normal.

Tapi kenyataannya, saya hidup di dunia yang tidak normal. And I’m not normal actually...

Sejauh ini saya justru merasa nyaman dengan kesibukan saya sebagai seorang tenaga pengajar lepas dan seorang penulis – sekalipun itu belum mendapat pengakuan secara luas. Tapi, apakah sebuah pengakuan menjadi nilai tolak ukur yang mutlak? Dan, apakah uang menjadi satu-satunya simbol bahwa orang tersebut memiliki pekerjaan?

Saya tekankan sekali lagi bahwa itu tidak benar. Saya sendiri tidak beranggapan demikian. Bagi saya, pekerjaan adalah sesuatu yang harus dikerjakan berdasarkan sebuah tuntutan. Sementara, profesi adalah sesuatu yang telah dipilih oleh seseorang dengan alasan kecintaan dan keikhlasan. Begitu pula anggapan saya terhadap kesibukan yang saya tekuni sampai pada saat ini. Terus terang, uang adalah urusan yang kesekian. Yang terpenting adalah selama saya cinta terhadap apa yang lakukan, itulah profesi saya yang sesungguhnya.

Saya sudah pernah merasa hidup di bawah tekanan sebuah institusi yang mengharuskan saya bangun pukul tujuh pagi, bersiap-siap kerja dari jam sembilan sampai pukul sepuluh. Dua belas jam dalam sehari, tujuh puluh dua jam dalam seminggu. Terkadang lembur saat akhir pekan. Bayangkan  ketika saya melakukan aktivitas yang hanya itu-itu saja di dalam lingkaran yang teramat membosankan. Sedikit membuat kekeliruan, surat peringatan pun melayang. Begitu menjenuhkan hingga akhirnya saya mengambil keputusan untuk resign dan kembali untuk menulis.

Di pekerjaan saya yang sekarang, memang masih ada sistem yang seperti saya bilang barusan. Bangun pagi, mandi, mengajar dari jam sekian sampai jam sekian, menulis dari jam sekian sampai jam sekian. Tapi terus terang, siklus tersebut diciptakan oleh saya sendiri. Andaipun saya melanggarnya, saya harus menerima konsekuensi dari saya pribadi. Bukan dari orang lain.

Dan saya merasa nyaman dengan aktivitas tersebut.

Yang saya tidak habis pikir, entah kenapa kalimat seperti itu tercetus dari mulut orangtua saya? Saya pernah berangan-angan, suatu hari nanti mereka bersedua menuturkan sesuatu di hadapan teman-temannya bahwa saya seorang penulis, dengan bangganya pula menyatakan bahwa saya tidak bekerja pada suatu perusahaan ternama yang memberi saya upah per bulan. 

Saya pun sangat berharap orang-orang dapat memahami maksud dan tujuan kehidupan saya. Saya sengaja berkarya karena ingin berbagi, bukan untuk mencari uang. Dan saya senang dengan apa yang saya lakukan sekarang.
Jumat, 11 Oktober 2013

Suara Hati




Aku masih mengingat dengan jelas segala hal yang kita bicarakan dalam percakapan panjang pada malam itu. Kamu dengan suaramu yang selalu rendah, sesekali diiringi gelak tawa yang renyah, dan letupan gairah untuk saling berbagi kisah. Sementara aku, yang terkadang terlalu ceroboh dan tidak bisa mengontrol diri untuk menanggapi pertanyaanmu dengan bahasa yang tepat.

Kamu bertanya padaku dalam kalimat yang sulit kupahami...

Kenapa kamu begitu ingin bertemu denganku?  

Aku sempat terdiam selama beberapa saat sebelum aku memutuskan untuk sebuah jawaban. Ketika itu aku hanya menjawab, karena aku ingin bercerita denganmu lebih banyak dari biasanya. Tapi kamu hanya melepaskan tawa, tawa yang selalu membuatku merindu. Dan aku tidak mengerti apa maksud dari tawamu itu. Tidak terpikir pula untuk menanyakan mengapa kamu menertawaiku?

Yang kutahu saat itu, kita kembali melanjutkan percakapan. Fokus kepada satu topik pembicaraan, lalu tertawa, sampai kita tidak tahu harus memperbincangkan apa. Tapi entah kenapa, aku selalu menikmati saat-saat seperti itu. Tidak pernah merasa nyaman berada dalam kulitku sendiri ketika aku bersamamu, meskipun hanya lewat cara yang semu.

Kau dan aku mungkin sama-sama mengetahui bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini yang dapat memahami prinsip kerja waktu. Baik itu untuk urusan jodoh, perjumpaan, ataupun perpisahan. Oleh karena itulah, aku merasa patut mengungkapkan jawaban atas pertanyaanmu waktu itu.

Aku ingin bertemu denganmu karena aku harus menemuimu. Aku ingin mempergunakan kesempatan itu selagi aku masih bernyawa dan masih sanggup bernapas dalam suka maupun duka. Karena kita tidak pernah tahu kapan seseorang akan pergi, sehingga tidak ada cara baginya untuk kembali. Dan aku ingin memandangi matamu, menggenggam tanganmu, menikmati tawamu, merengkuh hangatmu, tanpa memedulikan seperti apa dirimu yang sebenarnya. Dan aku tidak peduli jika suatu hari nanti kita harus jatuh cinta atau terluka. Aku hanya ingin – merasakan kehadiranmu lewat cara yang nyata. 

Terdengar sedikit sinting, bukan? Tapi beginilah jawaban yang bisa kusampaikan. 

Aku harap kamu dapat memahaminya...