Write. Anywhere. Anytime.

Tampilkan postingan dengan label memory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memory. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 April 2017

Sayonara, Mewko - Tentang Pertemuan dan Kehilangan

Apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu ketika mendengar bulan April? Langit biru dan matahari yang berpijar cerah? Warna-warni bunga yang bersemi? Atau justru hujan yang sesekali datang dan tak ingin pergi?

Bagi saya, April tak ayalnya seperti hari-hari yang penuh kejutan. Ada-ada saja peristiwa yang terjadi di luar ekspektasi. Dan anehnya, beberapa peristiwa itu identik dengan awan kelabu, hujan air mata, mendung dan hujan yang sesungguhnya.

Saya masih ingat dengan jelas rangkaian peristiwa pada Sabtu di siang yang dipenuhi rintik gerimis itu. Bau asap kendaraan dan aroma aspal yang basah, kardus-kardus terbengkalai, dan seekor anak kucing yang bersembunyi di balik ember kosong. Di bawah payung merah yang melindungi kepala saya dari sisa hujan, saya memperhatikan sosoknya yang mungil. Dia menatap saya iba. Saya mengajaknya berbicara dengan bahasa yang (mungkin) tidak dia mengerti, membujuknya agar tetap tenang; namun semua usaha itu tak mampu membuat isak tangisnya terhenti.

Anak kucing itu terlihat seperti kucing-kucing kecil pada umumnya. Keempat kaki yang ringkih, sepasang bola mata abu-abu dan bibir yang mungil. Dia memiliki tubuh dengan bulu putih yang sangat dominan, juga ekor panjang yang hampir sama seperti ukuran tubuhnya. Satu hal yang membuat dia tampak istimewa, ada sebuah tanda berwarna hitam di atas mata kanannya.

Hal itu serta-merta membuat saya ingin memilikinya.

Maka, tanpa memikirkan risiko yang akan saya terima, saya mengambil keputusan untuk mengadopsinya. Tangisnya berhenti setelah itu. Yang terdengar hanyalah suara dengkuran yang menandakan bahwa dia nyaman berada di dekat saya.

Empat hari berlalu dengan sejumlah kegiatan yang kami lalui bersama. Dan selama empat hari, saya belum menemukan satu nama yang tepat untuk dirinya. Saya kerap memanggilnya manis, dan dia akan membalas panggilan saya dengan suara yang ceria, Suara yang masih sama seperti pertama kali saya mendengarnya. Dia selalu berlari ke mana pun kaki saya melangkah, merengek setiap kali saya lupa memberinya makan.

Untuk beberapa saat, saya memahami seperti apa rasanya menjadi orang tua. Saya jadi terbiasa meninabobokannya sebelum dia terlelap; terbangun di malam buta hanya untuk menemaninya buang air besar; menerima cakarannya setiap kali saya mengabaikan kehadirannya di sebelah saya. Dan tidak jarang saya menjadi pengganggu di saat dia sedang terlelap; menggelitik perut buncitnya, memelintir telinganya yang lebar, sampai akhirnya dia terpaksa menyudahi tidur dan kembali bermain bersama saya.

Empat hari yang terasa manis sebelum kecelakaan itu menimpa dirinya.

Sore itu, tingkah lakunya tampak aneh dan tak bersahabat. Saya tidak yakin apa yang telah terjadi karena sebelumnya dia masih baik-baik saja. Pagi hari dia masih makan seperti biasa. Dia masih sempat berlarian sebelum saya akhirnya berangkat kerja. Setelah saya berusaha mengumpulkan fakta dan bertanya ke sana kemari, akhirnya saya tahu—tenggorokannya tercekik tulang yang membuat suaranya parau dan napasnya tersengal-sengal. Dan yang paling membuat saya ikut terluka, saya tidak tahu bagaimana menyelamatkannya selain membawanya ke dokter hewan.

Betapa saya bertekad menyelamatkan hidupnya saat itu juga. Ingin dia tetap sehat, ingin melihatnya tumbuh besar dan bermain bersama saya dalam beberapa hari ke depan. Dan saya rela melakukan apa saja asalkan dia bisa tertolong dari penderitaannya.

Di hadapan dokter hewan yang tengah menangani kucing saya, tak henti-hentinya saya membuang muka karena saya tak tega mendengar rintihannya yang memilukan; tak sampai melihat hati melihat ekspresi wajahnya yang menegang, matanya yang nyaris keluar, dan aneka gestur yang menunjukkan bahwa dia tidak nyaman diperlakukan demikian. Tapi, hanya itu satu-satunya jalan. Mengambil langkah operasi dengan cara memberi obat bius sama saja seperti membunuhnya perlahan. Tulang itu mungkin bisa ditarik keluar dari tenggorokannya, namun nyawanya tak akan mungkin terselamatkan.

Susah payah saya menelan kenyataan tersebut. Meskipun proses penyembuhannya hanya berlangsung tidak lebih dari 30 menit, tetap saja saya merasa khawatir terhadap dirinya. Apakah dia akan baik-baik saja dalam beberapa hari ke depan? Akankah dia benar-benar sehat? Mungkinkah dia kembali ceria setelah ini?

Tuhan tahu saya telah berusaha.

Dan saya akan terus berusaha untuk menjaga dirinya semampu saya.

Sepulangnya dari dokter hewan, saya langsung menamainya Mewko. Saya tidak tahu dari mana gagasan itu berasal, tapi yang pasti—ia terdengar lucu untuk seekor kucing betina. Dia pun sama sekali tak keberatan dengan nama itu.

Hari setelah kunjungan ke dokter hewan itu, saya masih sering dihantui perasaan khawatir dan cemas yang tak beralasan. Saya bukan tipikal orang yang bisa percaya dengan mudah terhadap satu hal. Saya tipikal orang yang analisis dalam segala aspek. Dan saya mulai penasaran, kapan Mewko bisa mengeluarkan suara seperti sediakala? Kenapa Mewko masih tampak lesu setiap kali saya mengajaknya bermain?

Apakah suara Mewko akan hilang secara permanen setelah penyembuhan itu?
Apakah mungkin dia tidak bisa bertahan lama?
Apakah dia baik-baik saja?


Sekalipun saya bertanya kepada Mewko, saya tidak akan pernah tahu jawabannya. Dia tidak mengerti apa yang saya ucapkan. Dia juga tidak bisa bicara menggunakan bahasa yang saya gunakan. Jadi, perlahan-lahan saya mengusir aneka hipotesis tersebut dari kepala saya. Berusaha meyakinkan diri saya bahwa Mewko akan baik-baik saja.

Namun, kamu tak akan pernah tahu kapan harus memadamkan harapanmu.

Seseorang menelepon saya dan memberi tahu keadaan Mewko yang sesungguhnya. Saya sempat tidak percaya pada apa yang disampaikan orang tersebut. Lagi pula, saya ingat dengan baik, beberapa jam sebelum berangkat kerja, saya masih sempat memberinya makan dan menyuapinya susu—meskipun dia harus memuntahkan dari mulutnya.

Karena ingin membuktikan kabar tersebut, saya memberanikan diri pulang pada jam makan siang dan mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Dan kalimat klise itu kembali saya senandungkan di dalam kepala saya—everything will be alright, Joy. Anehnya, it didn’t work properly. Di saat-saat demikian, logika kerapkali mengalahkan perasaan. Itulah yang mereka namakan accepting reality.
Setibanya saya di muka rumah, saya terperangah bukan kepalang dengan apa yang saya lihat.
Mewko, dengan bulu putihnya yang bersih, terkapar tak berdaya di atas seonggok kardus. Sepasang matanya terpejam meskipun tak tertutup erat. Saya menghampirinya dengan langkah pelan, dan berusaha mengucapkan kalimat klise tadi berulang-ulang. Tapi faktanya, tidak ada yang baik-baik saja; ini adalah sesuatu yang tidak saya inginkan.

Saya meraba bantalan tangannya yang pucat. Dingin. Menggelitik perutnya beberapa kali, berharap tindakan saya bisa membangunkan tidurnya. Tapi tidak ada reaksi sama sekali yang saya terima. Mewko bungkam dalam kedamaian yang dia miliki. Atau barangkali, saya terlalu tuli untuk mendengar suaranya yang lirih. Saya tidak sadar apakah dia sempat menjawab panggilan saya dan meminta saya untuk merengkuh tubuhnya.

Mewko, saya harap kamu memaafkan saya karena saya mengabaikan permintaanmu.
Segenap fragmen itu kembali berputar di koridor memori saya. Hari di mana saya menatapnya untuk pertama kali; seorang pria di bawah lindungan payung merah, jatuh cinta kepada sepasang mata abu-abu dan tanda hitam di atas mata kanan yang dimiliki seekor kucing kecil.

Saya akan selalu ingat malam di mana kamu merengek minta ditemani buang air di dalam kamar mandi. 
Saya akan selalu ingat saat kamu dengan gemasnya mencakar setiap anggota saya karena saya tidak kunjung bangun.
Saya akan selalu ingat pada lengking suaramu yang menyerupai chord A major.
Saya akan selalu jatuh cinta pada setiap kenakalan dan keempat kakimu yang ringkih.
Dan saya tidak akan pernah lupa air matamu sewaktu dokter itu berusaha menyembuhkanmu.


Sekali lagi, maaf yang sedalam-dalamnya.
Maaf karena saya belum bisa menjadi majikan yang baik.
Maaf karena sering menelantarkan kamu selama saya bekerja.
Maaf apabila rengekan kamu seringkali tidak mampu saya sanggupi.
Maaf untuk fasilitas di kamar yang seadanya.
Maaf karena sering mengusik waktu tidurmu,
Maaf karena saya terlalu lalai sehingga kamu tiba-tiba hendak pergi.
Maaf apabila kepergianmu masih belum saya ikhlaskan.


Dan, terima kasih karena sudah bersedia dibawa pulang di hari Sabtu yang rintik itu. Terima kasih atas enam hari yang menyenangkan dan tak terlupakan bersama kamu. Things come and go, but memories about you will still remain, Mewko. Berisitarahatlah dengan tenang.
Sabtu, 30 Mei 2015

Selamat Menjadi Genap, Sahabat.


Sebagian orang kerap kali mengaitkan momen ulang tahun dengan pengurangan sisa umur. Saya sering mendengar sejumlah harapan yang diucapkan untuk mereka yang sedang berulang tahun – sehat selalu, semakin dewasa, semoga panjang umur, dan bahagia. Terdengar seperti lagu, ya? Tapi entah kenapa, kalimat klise seperti itu dapat membuat siapa pun tersentuh.

Mari kita enyahkan sejenak filosofi ulang tahun ini sejenak dan mengenang momen paling berharga dalam hidup kita. Menghidupkan masa lalu. Saya sering melakukannya, dengan atau tanpa teman. Memang tidak ada yang menarik dengan hal itu. Rasanya seperti membuang-buang waktu saja. Namun, ada semacam keseruan setiap kali saya menjelajahi koridor memori dan bertabrakan dengan secuil cerita lampau.

Itu adalah pertama kalinya kami memulai pertemanan. Facebook sangat berjaya pada saat itu. Lewat perkenalan singkat, coretan di dinding profil masing-masing, komentar nyeleneh di album foto; sudah menjadi kebiasaan kami sehari-hari. Mungkin di akhir tulisan ini, saya harus memberi credit khusus untuk Mark Zuckerberg yang telah menciptakan Facebook.

Saya sempat menjulukinya sebagai The Most Talkative Person. Bagaimana tidak? Dia bisa berceloteh ratusan kalimat di saat saya hanya mampu menuturkan sepuluh. Saya sering berbicara padanya tentang masalah percintaan, karier, passion, bisnis, teknologi, edukasi, dan entertainment. Dia tahu bagaimana caranya menempatkan diri pada sejumlah aspek yang berbeda. Mungkin karena dia seorang Geminian. Biasanya, orang Gemini itu supel dan fleksibel.

Pada suatu siang yang terik di pengujung bulan Maret, kami meninggalkan kos dengan pintu pagar berwarna hijau itu. Menyusuri gang kecil yang terhubung langsung ke jalan raya Ujung Berung. Atmosfer dipenuhi asap kendaraan. Saya mengayuhkan kaki lebih cepat, mencari tempat untuk menanti bus Damri jurusan Kebon Kalapa, atau sekadar berteduh dari panasnya matahari. Sementara itu, teman saya jauh tertinggal di belakang. Mengusap peluh yang membanjiri keningnya dengan kain bercorak batik khas Sunda. Kepalanya tertutup tudung sweater. Dia selalu bermasalah dalam urusan menyeimbangkan kecepatan.

Sebuah pohon yang berdiri di depan bengkel kusam menjadi tempat persinggahan kami. Saya sempat menebak, bus Damri akan mengalami sedikit keterlambatan. Lalu lintas pada jam makan siang dapat mengacaukan segalanya. Selagi menunggu kedatangan bus Damri, saya membahas kembali tentang insiden mengerikan yang kami alami tadi malam. We were kidnapped by stranger, stepped into his car, til we found the way home. Sedikit pun kami tidak pernah menduga hal itu dapat terjadi. Meskipun, ya – kami sempat terpukau oleh Nissan March putih yang dikendarainya.

Butuh waktu lima belas menit sampai bus berwarna biru putih itu muncul di hadapan kami. Seluruh kursi penumpang tampak penuh. Tak ada lagi kesempatan untuk duduk bersebelahan dan memperbincang kejadian tadi malam. Kami tak punya pilihan selain berdiri di antara himpitan mahasiswa UIN bertampang Islami.

Sebuah pesan baru tiba-tiba muncul di layar ponsel saya.

Langsung nonton atau makan dulu, Buk?

Saya bergegas menekan tombol alfabet dan membalas.

Makan dulu aja. Di Giggle Box.

***

Ada beberapa hal di dunia ini yang tak bisa dihindari, tak peduli seberapa besar kita berusaha. Sebagai contohnya, suara sopir angkot Kalapa yang meneriakkan tujuan keberangkatannya. Malam telah naik sejak satu jam lalu. Kawasan Merdeka dihujani cahaya remang oleh sejumlah lampu jalan. Arloji di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul delapan. Sebagian besar angkot jurusan Kalapa memang beroperasi 24 jam. Tapi, bus Primajasa di terminal Leuwi Panjang sana hanya tersedia sampai pukul sembilan.

“I gotta go now.”

Ada getir yang terasa ketika kalimat itu terlontar dari mulut sahabat saya. Dia membenarkan letak ranselnya. Ransel yang hanya berisi dua helai kaus, charger, dan aneka peralatan kecantikan. Ponselnya telanjur mati sejak di dalam bioskop tadi.

Pada saat yang sama, benak saya terputar lagi pada sosok Iko Uwais, Mad Dog, dan Julie Estelle. Film The Raid berhasil membuat saya menjerit dengan kondisi perut melilit. Tapi, keseluruhan film itu tidak ada apa-apanya dibandingkan drama kehilangan tiket masuk studio XXI. Memang kesalahan saya yang kelewat teledor lantaran menyimpan tiket itu asal-asalan. Entah di mana dan bagaimana tiket itu bisa hilang, saya pun tidak ingat. Satu hal yang saya tahu, tiket itu sudah menghilang dari genggaman saat kami tiba di Giggle Box.

Terus terang perasaan saya campur aduk pada waktu itu. Ada rasa bersalah, sekaligus pasrah. Bersalah karena telah mengacaukan agenda siang ini dalam satu kedipan mata. Pasrah karena saya tahu; saya patut mengganti tiket itu dua kali lipat, meskipun pada akhirnya kami masih diizinkan masuk ke Studio berkat bantuan manajer dan kesaksian si Kasir. Terima kasih, Empire XXI.

”Dont forget to text me when you’re at home.” Menariknya ke dalam pelukan sebelum dia benar-benar melangkah ke dalam angkot hijau itu.

Dia mengiyakan permintaan saya dengan satu senyuman. Senyum yang seolah-olah menunjukkan, everything will be fine – sooner or later.

Dan semua itu tidak pernah salah.

Karena bagi kami, sebuah perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Saya sudah pernah mengalami hal itu berkali-kali. Making plans, waving goodbye, memulai hidup yang baru, tapi pada akhirnya – waktu selalu membawa kami pada satu pertemuan. Terminal Kampung Rambutan, Mangga Dua Square, Bandung Timur Plaza, dalam momentum yang berbeda, segalanya masih terasa sama. Senyum kami melayang di udara, dua tawa melebur jadi satu, di antara ingar-bingar suara.

Saya selalu berharap jarak dapat menguatkan, meskipun waktu selalu membuat perubahan. Tak peduli di mana pun kita berada nanti, pasti ada satu atau dua hal yang akan kita rindukan. Salah satunya; kebersamaan.

Selamat menjadi genap. Semoga selalu berkecukupan.


Sincerely,
Joy

Sabtu, 14 Februari 2015

Pertemuan Pertama (Perkara Senja Di Kota Bandung)

“Alungkeun ka dieu atuh, Bray!”

Lengkingan suara yang cukup nyaring itu membuatku spontan menoleh ke belakang.  Menyaksikan seorang anak kecil berambut cepak yang tengah menanti kehadiran bola dari temannya. Benda bundar berwarna putih itu melambung cukup tinggi sampai akhirnya mendarat dengan selamat. Dia berlari ke sana kemari hanya untuk mencetak gol di gawang lawan.

“Goooool!!!!” Bocah lelaki yang mengenakan kaus Madrid itu berteriak kegirangan selagi tangannya teracung di udara. Ketiga anak yang satu tim dengannya ikut merayakan kemenangan.

Aku jadi teringat seseorang yang pernah berkata bahwa bahagia itu sangat sederhana. Kau tidak perlu keliling dunia kalau ada hal kecil di sekitarmu yang bisa membuatmu tersenyum.

Angin berembus pelan meniup wajahku. Arloji yang melilit di pergelangan tanganku menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Hari sudah semakin petang, dan tempat ini masih terlihat ramai. Sebagian orang ada yang tengah duduk di tangga Monumen Perjuangan, sebagian lagi lebih memilih jogging di area taman.

Seekor anjing Golden Retriever melintas di depanku bersama pemiliknya. Mereka singgah di salah satu sudut yang ditumbuhi kembang sepatu berwarna-warni. Kilau matahari sore menyeruak di antara celah-celah pelepah pohon pinang. Aku lekas menenggelamkan buku The Street Lawyer ke dalam ransel dan beranjak bangkit dari kursi besi yang kududuki. Sepasang kakiku mulai melangkah menuju pintu keluar.

Di seberang sana Lapangan Gasibu. Namun jalanan tampak padat oleh sejumlah kendaraan yang sibuk berlalu lalang. Jam-jam seperti ini adalah jam di mana bunyi klakson saling beradu dengan caci maki para pengguna lainnya. 

Aku tidak pernah mahir dalam urusan menyeberang jalan. Keramaian dan lalu lintas yang rumit selalu membuat ketakutanku semakin parah. Dan sewaktu aku hinggap di sebuah pembatas jalan yang memisah dua ruas jalan, satu pesan baru muncul di layar ponselku.

Kamu di mana? Aku udah d Lapangan Gasibu.

Dadaku seakan bergemuruh. Aku mendadak diserang rasa takut dan bahagia secara bersamaan. Dan selama beberapa saat, aku masih berdiri di sana mengamati lalu lintas.

***

Kami pertama kali berkenalan di sebuah komunitas menulis online. Setiap anggota diberi akses untuk mengunggah tulisan mereka, memberi komentar pada post anggota yang lain, sekaligus menambah teman ke dalam friendlist.

Itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu.

Aku lupa tanggal berapa tepatnya. Tapi seingatku, itu adalah pertengahan bulan Juni. Aku baru saja mengunggah tulisanku yang berjudul City Of Tears. Cerpen itu bercerita tentang seorang perempuan yang berjuang mencari cinta sejatinya di kota Paris, namun berakhir dengan air mata. Terdengar tragis memang.

Komentar pertama datang dari seorang pemilik akun yang tak kukenal sebelumnya. Dia terpukau oleh alur ceritaku yang unpredictable. Dia juga mengaku bahwa tulisanku tidak melankolis sama sekali, meskipun kisahnya sangat menyentuh.

Orang itu bernama Awan, mahasiswa tingkat pertama di sebuah Universitas Islam di Bandung. Awalnya aku menduga dia satu tahun di atasku, atau barangkali kami seumuran. Tapi justru dia lebih muda setahun.

Aku dan Awan menjaga komunikasi lewat Yahoo Messenger dan e-mail. Sekadar bercerita mengenai sajak yang sedang ditulisnya, saling berbagi ide dan advice satu sama lain, bahkan tak jarang dia memberiku semangat untuk lekas menuntaskan naskah novelku. Semua itu terus berjalan sampai suatu ketika –  Awan menuliskan nomor ponselnya di sebuah surel tanpa subjek.

Setiap sajak yang dia tulis kukagumi dengan caraku sendiri.Tulisannya begitu sederhana, namun sanggup membuat orang jatuh cinta. Itulah yang terjadi padaku saat membaca sajaknya yang diberi judul ‘Ruang’. Pada salah salah satu bait, ada kalimat yang berbunyi; aku lebih suka waktu berjalan apa adanya. Tidak begitu cepat seperti saat aku dengannya, tidak juga terlalu lambat ketika aku tak bersamanya.
Tanpa pernah aku sadari, waktu telah mengubah kekaguman itu menjadi rasa suka yang tak biasa.

***

Kalau ketemu orang pake jaket jins bawa ransel hijau tua, tegur aja.

Pesan itu telah terkirim sejak aku tiba di Lapangan Gasibu. Mengedarkan pandangan ke sekitar sambil menempelkan ponsel di telingaku. Nomornya mendadak tidak aktif, sementarakakiku terus terayun di atas halaman ber­-paving. Sesekali menoleh ke sana kemari hanya untuk memastikan dia benar-benar berada di sini.

“Rayna!”

Terdengar seseorang memanggil namaku dari arah belakang. Sebuah suara yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Aku praktis membalikkan badan. Mematung sejenak saat aku berhasil menemukan si pemilik suara itu.
Dia benar-benar berada di sana. Duduk seorang diri di atas bangku semen. Kemeja cokelat membungkus tubuh tegapnya. Tersenyum ke arahku seakan-akan memanggilku untuk segera mendekat.

Aku menuju bangku itu dengan perasaan tak keruan. Mengambil posisi duduk di sebelahnya sambil mengulurkan jabat tangan. Dan sewaktu kulit kami bersentuhan, aku dapat merasakan rasa geli dan sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhku.

“Kamu kebingungan banget tadi,” gumamnya tiba-tiba.

“Aku nggak tahu kalau kamu duduk di sini. Padahal tadinya aku mau jalan sampai ke ujung,” ujarku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Dia melepaskan derai tawa di udara. Tawa yang begitu renyah sehingga aku terpikir untuk mengabadikannya dengan kamera.

Usai tawa itu, suasana di sekitar kami berubah canggung. Aku terpikir untuk membuka satu percakapan, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.

Kudengar dia bertanya, “Kemarin lancar ketemu sama editor-nya?”

Aku menganggukkan kepala dan bercerita mengenai perjalananku dari mulai duduk di dalam gerbong KRL menuju Stasiun Lenteng Agung, sampai keluar dari kantor penerbit.

“Editor-nya bahkan kasih tantangan tiga puluh hari menulis. Kami udah brainstorming kemarin,” ulasku bersemangat. “Aku ambil setting tempatnya di Bangka dan harus riset tentang suku-suku apa aja yang ada di sana.”

“Kamu asli sana, harusnya itu nggak bakal bikin kamu kesulitan.” Dia menatapku lekat-lekat. Sepasang bola mata berwarna cokelat cerah itu seakan mengajakku tenggelam ke dasar sana.

Teringat pada sesuatu yang hendak kusampaikan padanya. “Aku dapat tawaran kerja di Bali, di bagian pemasaran hotel. Katanya sih hotel itu baru beroperasi setahun. Jadi butuh tenaga kerja yang bisa dipercaya.”

“Pemasaran?” Kedua alis tebalnya mengerut. “Menyimpang banget dari passion kamu, Ray.”

“Aku tahu. Makanya aku belum berani mengiyakan tawaran itu,” ujarku terus terang. “Kamu tahu sendiri, Bali berbeda dengan Jakarta. Budayanya cenderung kebarat-baratan.” Klub malam, bisnis prostitusi yang tersembunyi, ancaman para teroris; sepertinya semua alasan itu terasa cukup bagiku untuk tidak berkarier di Bali.
  
“Apa pun yang pilihan yang kamu ambil, aku selalu dukung yang terbaik untuk kamu.”

“Terima kasih, Awan.”

Kepalaku tertunduk dalam, menyadari bahwa dia tidak perlu mengucapkan hal itu kepadaku. Karena pada akhirnya, semua itu tak berarti apa-apa. Kebaikan yang dia miliki sudah tercurah sepenuhnya untuk orang lain.

Dan orang lain itu bukan aku.

Aku sudah tahu begitu banyak tanpa harus mendengar kisah apa pun dari dia. Semua sajak yang dia tulis selalu dipersembahkan untuk orang yang mencintainya sejak lama. Seseorang yang sudi berkorban untuk dia dalam kondisi tersulit sekalipun.

Keheningan yang menggantung di antara kami seketika buyar saat kudengar ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari seseorang.

Awan memandang layar ponselnya tanpa berkedip. Isi pesan itu berhasil menyedot hampir seluruh perhatiannya. Namun, dia tak menunjukkan tanda-tanda untuk mengirim sebuah pesan balasan. 

Ragu-ragu aku bertanya, “Siapa, Wan?”

“Linda,” ujarnya lirih. “Aku harus pulang sekarang, Ray.”

Seharusnya aku tidak perlu bertanya sesuatu yang terdengar bodoh seperti pertanyaanku barusan.
Seharusnya aku sudah tahu dari awal, pengirim pesan itu adalah kekasihnya. Seorang pacar akan senantiasa membuat ponsel kita berdering 24 jam dalam sehari – 7 kali dalam seminggu.

Aku mendongakkan kepala sewaktu dia mulai beranjak dari duduknya. Menyampirkan ranselnya di bahu tanpa mau melirikku sedikit pun.

“Aku pulang, ya.”

“Hati-hati,” balasku dengan suara bergetar.

Awan perlahan melangkahkan kakinya. Punggungnya semakin terlihat menjauh. Menaiki sejumlah anak tangga dan menghampiri seseorang yang sedang menantinya di bibir jalan.

Seseorang yang menjadi tempatnya untuk berpulang.

Langit kota Bandung satu jam lebih gelap. Warna jingga tumpah di sepanjang cakrawala. Senja kini semakin tua. Kekagumanku terhadap dirinya pun terasa sia-sia.

***

Dear Awan...
You – you alone will have the stars as no one else has them
In one of the stars I shall be living
In one of them I shall be laughing
And so it will be as if all the stars were laughing, when you look at the sky at the night
You – only you – will have stars that can laugh.

Sincerely, Rayna
Minggu, 06 Juli 2014

Surat Untuk Bapak Jokowi

Sore itu, saya berdiri mematung di depan lobi utama Plaza Semanggi. Saya baru saja turun dari Sky Dining dan hendak menuju jembatan penyeberangan yang mengarah ke halte Trans Jakarta. Benar. Jembatan penyeberangan yang jaraknya nyaris 500 meter itu. Tapi saya tidak terlalu buru-buru untuk pulang. Saya masih berdiri di sana sambil mengamati satu pemandangan yang membuat hati saya tergetar.

Lengkungan bunga cengkih di jalanan Semanggi itu masih sama seperti terakhir kali saya melihatnya. Pepohonan dan rumput-rumput hijau itu tampak segar oleh semprotan air yang mencuat di tengah-tengah halaman. Saya senang sekali menyaksikannya dari atas sini. Meskipun sesekali terllihat sejumlah kendaraan yang terjebak dalam kemacetan, hal itu sama sekali tidak memengaruhi saya untuk segera beranjak.

Saya masih berada di sana untuk beberapa saat yang lama. Menikmati senja yang meleleh di langit sore kota Jakarta, sembari merenungkan sejumlah peristiwa yang pernah terjadi di tempat ini belasan tahun yang lalu. Belasan tahun yang terasa sangat kelam buat saya, buat seluruh warga Indonesia, dan tentu saja buat Bapak Jokowi juga.

Saya memang tidak berada di kota ini pada tahun 1998. Saya menempuh pendidikan saya selama sembilan tahun di Pulau Bangka dan hanya tahu peristiwa itu lewat berita. Lagi pula, saya masih terlalu kecil untuk ikut campur dalam unjuk rasa itu. Satu hal yang masih saya ingat, seluruh media cetak dan media elektronik selalu dipenuhi dengan berita mengenaskan. Kolom artikel yang memaparkan betapa kejamnya pemimpin negara dan para kaki-tangannya.

Kita semua tahu apa yang terjadi dalam peristiwa itu. Pekik kebencian dari para mahasiswa Universitas Atmajaya kepada aparat negara, sumpah serapah yang membabi-buta, dan milyaran cara telah mereka coba untuk mengalahkan antek-antek bersenjata. Para pasukan anti huru-hara tak mau kalah. Mereka berbalik menyerang sampai beberapa orang di antara mereka harus mengorbankan nyawa. Bahkan ada pula oknum yang sengaja menculik para aktivis dengan modus tertentu. Menodongkan pistol, memasukkan mereka secara paksa ke dalam mobil Toyota Twin Cam, lalu membawa mereka kabur.

Kejadian itu berlangsung di depan RS Cipto Mangunkusumo.

Dan saya yakin, Bapak mungkin sedang menebak-nebak siapa pelakunya.

Segalanya mungkin telah berlalu sejak lama, Pak. Kematian Elang dan kawan-kawannya mungkin hanya sekadar sejarah. Tapi bagi kami, semua itu masih jauh dari kata selesai. Saya sendiri masih sering dihantui rasa takut setiap kali membayangkan hal-hal yang demikian terulang kembali. Penculikan, maraknya kekacauan, krisis keuangan, pengkhianatan, ambruknya sistem pemerintahan, politik dinasti... Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka.

Jadi... Kepada Pak Jokowi yang baik hati...

Mungkin surat ini hanya berisi seputar kilas-balik masa lalu Indonesia. Semua orang masih bisa menyampaikan isi yang lebih baik daripada saya. Namun, jauh di dasar hati saya, ada harapan besar yang saya tanamkan kepada Bapak. Seluruh warga Indonesia – kami –  tidak ingin negara ini jatuh untuk kesekian kalinya. Kami tidak ingin melihat pertumpahan darah oleh mereka yang tidak berdosa.

Sejatinya, kami menginginkan pemimpin yang lebih baik. Pemimpin yang sabar. Kami benar-benar berharap negeri ini dipimpin oleh seseorang seperti Bapak. Sosok yang rendah hati, yang menginspirasi, yang dermawan, tegas namun tidak menakutkan, dan yang paling penting; yang mengerti bagaimana caranya membaur dengan rakyat. Dan semua itu ada di dalam diri Pak Jokowi.

Kami semua senang dan sangat kagum dengan Bapak. Sama seperti saya mengagumi bentuk bunga cengkih di jalan Semanggi.
Oleh karena itulah, kami menaruh harapan besar padamu, Pak Jokowi.
Terima kasih banyak.

#SalamDuaJari

Selasa, 17 Juni 2014

Pulang

“Kepada seluruh penumpang yang terhormat, sesaat lagi pesawat ini akan mengudara dengan ketinggian tiga ribu kaki di atas permukaan laut. Harap kencangkan sabuk pengaman dan bla bla bla....”

Pramugari itu masih mengumandangkan pemberitahuan lewat pengeras suara, kemudian mengganti isi pesan itu dengan bahasa asing yang terdengar sangat membosankan. Aku menempelkan kening ke arah jendela, memandangi landasan pacu dan sepetak rumput hijau di sekitarnya. Matahari berpijar terik di luar sana. Sementara, sejumlah mobil pengangkut bagasi mulai bertolak ke tempat semula.

Pada saat yang sama, pikiranku tiba-tiba terlempar pada sederet kejadian yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Aku teringat bagaimana aku berpamitan dengan temanku, Ebbi, yang masih tertidur pulas. Meninggalkan kamarnya dengan perasaan tak keruan, kemudian memanjat pintu pagarnya yang terkunci rapat. Berjalan melewati jalan Karnolong sampai akhirnya aku menemukan sebuah taksi berwarna biru.

Jalan raya di Jakarta tampak begitu sepi pada pukul enam pagi. Masih sedikit sekali kendaraan pribadi yang berkeliaran di saat-saat seperti ini. Lampu jalan pun masih banyak yang menyala. Dan setibanya di stasiun Gambir, aku langsung bergegas mencari Bus Damri tujuan Bandara.
Meletakkan koperku pada bagasi yang telah disediakan, lantas melangkah masuk ke dalam bus berwarna abu-abu itu. Lebih memilih duduk di pinggir jendela agar aku dapat memandangi situasi jalanan di pagi hari. Aku senang melakukannya setiap kali hendak bepergian. Dan beruntungnya, tidak ada satu orang pun yang duduk di sebelahku.

Bus mulai berjalan, melewati sederet gedung yang menjulang tinggi di sana-sini. Aku bersiap menyumbat telingaku dengan earphone, menikmati playlist yang berisi lagu-lagu Air Supply, Maroon 5, ABBA, The Fray, dan sebagainya. Berpikir mereka dapat menenangkan perasaanku yang tengah kacau-balau. Tapi aku salah. Lagu-lagu itu justru menyeretku ke lembah masa lalu.

Aku kembali terpikir bagaimana pertama kali aku tiba di kota ini dengan wajah sumringah dan semangat membara. Satu-satunya hal yang kuinginkan saat itu adalah; kebahagiaan. Begitu yakin 1000% bahwa aku telah mengambil keputusan yang tepat. Jakarta atau Bandung, aku siap mengejar mimpi. Aku pun sempat berjanji pada semua orang – termasuk diri sendiri – untuk memulai hidup yang lebih baik lagi. Namun pada akhirnya, semuanya berubah tanpa sanggup kuprediksi.

Seseorang pernah bertanya padaku, “sampai kapan kamu mau menetap di sini?”
Aku terdiam selama beberapa saat.
Saat itu, kami baru saja menuntaskan wisata kecil kami di Braga. Berjalan di bawah jembatan penyeberangan dan hendak menuju halte bus Mesjid Alun-Alun Kota Bandung. Hari sudah pukul lima sore. Tapi, langit yang berwarna gelap keabu-abuan membuat kami ingin segera pulang.
Pulang, satu frasa yang memiliki banyak makna.
Dia bertanya lagi dengan suaranya yang lirih, “Kamu enggak mungkin stay di Bandung dengan pekerjaan yang itu-itu aja, kan?”
“Maksudnya?” tanggapku, menatapnya dengan mata memicing.
“Aku tahu passion kamu, Joy. Kamu yakin mau berkarier di sana selama-lamanya?”
Alih-alih memberi jawaban diplomatis, aku malah mengedikkan bahu; tanda bahwa aku sama sekali tidak mengerti bagaimana menanggapi pertanyaannya. Aku sempat berpikir bahwa aku memang tidak akan bisa bertahan lama pada pekerjaanku. Bukan karena aku tidak bersyukur atas apa yang telah aku terima, tapi karena aku tidak punya passion sedikit pun di bidang itu.
“Kalau seandainya aku bilang, aku bakal stay di Bandung untuk waktu yang lama, apa kamu bakalan percaya?” balasku.
“Percaya,” dia mengangguk. “Tapi aku yakin, suatu hari nanti pasti kamu bakalan pergi, entah ke mana tujuannya.”

Selanjutnya, percakapan itu menggantung tanpa menemukan titik terang. Baik aku ataupun dia, kami berdua lebih memilih bungkam dan tak banyak bicara. Percuma saja berkelakar. Toh aku tidak memiliki alasan yang tepat untuk merangkai sebuah penyangkalan

Sampai pada suatu hari, aku menemukan kebenaran pada kalimatnya.

Aku memilih untuk pulang; untuk mengistirahatkan diri dari segala beban dan tekanan, untuk mencari ketenangan, untuk menemukan lagi arti dari kebebasan. Dan aku rasa, aku telah menentukan pilihan yang tepat.

Seketika, terdengar sebuah denging yang memekakkan telinga. Lamunanku mendadak terpecah-belah. Aku baru menyadari kalau sejak tadi aku menitikkan air mata. Pantas saja pipiku terasa basah. Tapi aku tak peduli. Karena tangis yang baru saja tumpah bukanlah tangis penyesalan. Ini tangis bahagia dari sebuah kemenangan.
Tak lama, pesawatku pun mulai mengudara.