Write. Anywhere. Anytime.

Sabtu, 27 September 2014

Faith of Love (part 2 - ending)

December 11th, Westminster

Rasanya baru kemarin aku melihat sejumlah pepohonan yang mengering di kota ini. Daun-daun kuning yang biasanya mengotori jalanan dan pekarangan rumah, kini berganti dengan lapisan salju tipis. Musim dingin telah dimulai sejak pekan terakhir bulan November.

Malam baru saja naik saat aku meninggalkan apartemen dan memilih untuk berjalan keluar. Suhu mencapai -5◦C. Angin menusuk tajam, udara dingin berusaha menembus masuk mantelku. Melewati rumah-rumah kopel dan sederet restoran yang nyaman. Tempat keluarga sejati dan beberapa pasangan muda-mudi sedang makan bersama. Bercengkerama dan tertawa sambil menikmati kehangatan di dalam sana.

Menenggelamkan telapak tangan kiriku ke saku mantel sementara aku bergerak menuju Patissarie Valerie. Menutup payungku dan segera melangkah ke dalam kafe yang bernuansa remang-remang itu.

Suasana di Patisserie Valerie tidak pernah membosankan; etalase yang dihiasi kue-kue dan aneka roti, bunyi sendok yang beradu dengan dinding cangkir, serta ingar-bingar suara pengunjung yang tengah bercakap-cakap. Bahkan tempat ini terlalu sempit untuk menampung orang-orang yang bosan mengurung diri pada Jumat malam yang beku.

Aku berdiri di depan etalase yang menyajikan roti bagel dan jenis kue-kue cantik beraneka warna. Mencomot beberapa muffin cokelat dan cupcake ke atas nampan sambil menikmati alunan musik blues yang diputar lewat pengeras suara. Dan untuk saat ini, aku harus bilang bahwa bepergian ke suatu tempat dan berbelanja adalah cara termudah untuk membahagiakan diri sendiri.

Di luar sana, salju turun lagi. Aku baru mau menuju meja kasir saat terdengar seseorang yang memanggilku dari arah konter Cheese Cake.

“Kamu lagi?” Seorang pria tak dikenal tersenyum sumringah kepadaku.

Agak ragu aku bersuara, “Permisi?”

“Kau pasti Sophie, kan?” Dia menggaruk-garuk kepala, tampak bingung sendiri dengan ucapannya. “Ah, rasanya sudah lama sekali.”

Aku menatapnya dari atas ke bawah. Mengamati sosok asing bertubuh jangkung yang dibungkus jaket dan mantel tebal, dan rambut cokelat gelapnya yang dipotong rapi.

Dia berkata lagi, “Aku Hugo. Kita pernah bertemu beberapa bulan lalu.”

Aku mengulang namanya berkali-kali sambil berpikir keras. Berusaha mencari nama itu di sepanjang koridor memoriku – barangkali ada satu atau dua momen yang pernah kami lewati, tapi tak sengaja terlupakan. Dan aku baru teringat bahwa dia adalah orang yang pernah kutemui di Legoland pada Oktober lalu.

“Ya. Senang bisa bertemu denganmu lagi,” ucapku, tersenyum malu. “Omong-omong, apa yang kaulakukan di sini?”

Telunjuknya teracung pada seiris tar Almond dan Strawberry Shortcake yang terbungkus rapi dalam mika plastik.

Dan pada saat yang sama, aku benar-benar merasa malu lantaran telah melontarkan pertanyaan bodoh.

Dia balik bertanya, “Kau tidak bersama putrimu?”

Aku tercenung selama beberapa saat. Dalam hati, aku amat menyesali kebohonganku kala itu. Mengakui Emma sebagai putri kandungku justru membuatku terjebak dalam posisi yang sulit. Bingung harus memilih 1) tetap berbohong, atau 2) mengatakan yang sesungguhnya kepada Hugo.

“Sebenarnya, dia anak temanku. Waktu itu dia menitipkannya kepadaku karena ada suatu urusan yang harus dia selesaikan bersama suaminya.” Kuungkapkan saja yang sebenarnya. Biar dia tahu bahwa aku tak pandai bersandiwara.

Hugo hanya menganggukkan kepala.

“Kau sendiri? Ke mana perginya anak perempuan yang bersamamu waktu itu?”

“Nicki berada di rumah. Musim dingin bukan waktu yang tepat untuk bepergian.”

Percakapan kami ternyata memakan waktu yang cukup lama saat seorang kasir di hadapanku berdeham seakan-akan aku telah membuat satu kesalahan. Terperanjat kaget melihat sekelompok orang di belakangku yang membentuk satu antrean panjang. Beberapa orang memandangku dengan mata melotot sambil mendengus kesal.

Aku bergegas menyelesaikan proses pembayaran dan masih sempat menyampaikan permintaan maaf sebelum keluar dari barisan.

Hugo mengekoriku dari belakang.

Dia bertanya, “Masih pertanyaan yang sama seperti waktu itu, ke mana tujuanmu setelah ini?”

“Tidak ada tempat yang bisa menyelamatkan dari badai salju selain apartemen,” jawabku. “Kau?”

Alih-alih menjawab, dia malah balik bertanya, “Kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku ikut denganmu? Sekadar bertamu sambil menghabiskan kue bersamamu, barangkali.”

Tenggorokanku tercekat sewaktu menatap bola mata hijau zamrudnya berpendar cerah terkena cahaya lampu di kafe ini. Perutku terasa nyeri oleh sesuatu yang tidak beralasan. Aku mengembangkan payungku dan menjawab, “Dengan senang hati.”
***


“Kau sendirian yang menghuni tempat ini?” tanya Hugo seraya mengambil posisi duduk di atas sofa. Matanya memindai ke seluruh penjuru ruangan. Dimulai dari pemanas ruangan, bingkai foto, kertas dinding, aneka figura dan miniatur, sampai tumpukan majalah yang tersusun rapi di bawah rak televisi.

“Terkadang aku mengajak Emma dan kedua orangtuanya ke sini,” aku menjawab dari pantry dapur, sedang menyiapkan sesuatu untuk menemani perbincangan kami. “Sementara, rekan-rekan kerjaku kebanyakan sudah berkeluarga dan punya anak. Agak sulit jika harus mengajak mereka datang setiap hari.”

“Omong-omong, kau bekerja di mana?”

“Penulis artikel di Daily World.”

“Kedengarannya menarik.”

“Ya, begitulah. Hanya saja, aku bukan bekerja sebagai karyawan tetap. Kontrakku bisa saja habis sewaktu-waktu,” tanggapku sambil menuju ruang tengah, meletakkan dua cangkir yang berisi teh ginseng dan kudapan kecil yang kudapat dari Patisserie Valerie barusan. “Bagaimana dengan kau?”

Kemudian, Hugo pun bercerita tentang pekerjaannya sebagai manajer kreatif di sebuah perusahaan iklan. Butuh kerja keras dan penantian yang cukup panjang untuk mencapai kariernya yang gemilang. Dia juga mengisahkan apa saja yang dia alami di tahun pertama ketika menggeluti profesinya; seluruh perjuangan dan berbagai peristiwa emosional yang rasanya sulit untuk dilupakan.

Sesuatu yang istimewa dalam hidupnya baru dimulai di tahun keempat. Aku baru tahu bahwa Hugo adalah seorang ayah dari pernikahan yang kini berada di ambang kehancuran. Nicki adalah putri pertamanya. Aku sendiri tidak mengerti apa penyebab utamanya sehingga peristiwa itu bisa terjadi – dan aku pun tidak memaksa Hugo untuk bercerita. Dan selama setahun terakhir, Hugo lebih sering menghabiskan hari-harinya bersama Nicki, atau bahkan seorang diri.

“Rasanya pasti sulit sekali,” gumamku lirih.

“Tentu saja. Tapi aku sudah enggan memikirkannya lagi. Bagiku, semua itu sudah selesai.” Dia mengedikkan bahu. “Well, Sophie, apakah kau tertarik pergi denganku setelah nanti?”

Mataku memicing menatapnya. “Ke mana?”

“London’s Eye selalu terlihat memesona di malam hari. Semua orang akan berkumpul di sana untuk melihat festival kembang api.”

Apa yang dibicarakan Hugo barusan adalah tentang malam pergantian tahun. Pikiranku langsung dipenuhi oleh semburat warna-warni lampu dan jutaan kembang api yang meletup di langit kota London.

Aku hendak menanggapi ajakannya sewaktu ponsel Hugo berbunyi nyaring sehingga menginterupsi niatku.

Dia menatap layar ponselnya lekat-lekat, tercenung selama beberapa saat sebelum akhirnya mengambil jarak untuk menjawab panggilan itu.

Dua menit kuhabiskan dalam diam. Aku berharap Hugo segera muncul dan menyampaikan kabar gembira, atau setidaknya sesuatu yang menarik. Tapi rasanya sangat tak mungkin. Hugo berdiri di hadapanku dengan tatapan lesu. Air mukanya tampak berantakan, seolah-olah ada sesuatu yang telah terjadi dengannya.

“Barusan itu Celine. Dia ingin bertemu denganku untuk membicarakan proses perceraian kami.” Segera saja aku tahu bahwa itu bukan pertanda baik. “Dia baru saja tiba di Heathrow.”

Betapa pun aku sangat berharap tidak mendengar berita itu dari mulutnya.

Betapa pun aku sangat mengerti dia masih mencintai wanita itu dengan segenap jiwa; meskipun separuh hatinya telah hampa.

Tapi aku tak pernah mengerti kenapa aku bisa merasakan cemburu yang amat hebat atas apa yang dia sampaikan. Tak pernah mengerti kenapa hal ini bisa terjadi kepadaku.

“Pergilah,” ujarku singkat.

Hal berikut yang kuketahui adalah Hugo beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Memandangku sejenak sebelum dia melangkah pergi.

“Sampai nanti, Sophie...” gumamnya pelan, tapi aku terlalu letih untuk bersuara.

Pintu tertutup.

Air mataku tumpah.
***

Kontrak kerjaku berakhir di pertengahan bulan Februari. Musim salju masih belum sepenuhnya berhenti kala itu. Tapi, sebagian maskapai penerbangan tujuan domestik dan internasional telah beroperasi secara optimal. Aku akhirnya meninggalkan London pada malam hari dan terbang ke kampung halamanku di Belanda. Sudah lama sekali aku tak merasakan kehangatan yang berasal dari rumah.

Bulan April seperti menghantarkan atmosfer baru di kehidupanku. Semburat matahari musim semi yang menyeruak masuk lewat jendela membuat segalanya terasa sempurna pada pagi ini. Aku melangkah menuju dapur dan bergegas menyiapkan adonan pancake untuk menu sarapan.

Tidak ada siapa-siapa yang tinggal di rumah ini selain aku dan Mom. Dad meninggal ketika aku berusia 12 tahun. Satu hal yang kupelajari sejak hari itu, kepergian seseorang bukanlah satu alasan yang perlu ditakutkan sehingga kita sulit untuk melanjutkan kehidupan. Karena setiap hal yang pergi, pasti akan ada satu hal baru yang datang ke dalam hidup kita.

Usai menuangkan pasta cokelat dan madu ke atas pancake, aku mendengar seseorang mengetuk pintu rumahku dari luar. Aku hendak menuju asal suara itu ketika Mom lebih dulu menggerakkan kursi rodanya dan memutar kenop pintu.

Tamu dalam wujud anak perempuan berambut pirang itu bersuara, “Nona Sophie?”

Mom mendongak menatapku, seakan-akan meminta penjelasan siapa gadis kecil yang tengah berdiri di hadapan kami.

“Ya. Aku Sophie.” Aku mengernyitkan dahi sambil melepas celemek yang kukenakan. “Kau siapa?”

“Aku... Kau mungkin sudah melupakanku, tapi aku masih mengingat dengan jelas kau siapa,” ucapnya dengan seulas senyum polos.

“Oke. Tapi, bisakah kita bicara sejenak?” sergahku setengah ketakutan. Sementara, Mom masih memandangku dengan tatapan bingung.

Dia meraih telapak tanganku dan menggenggamnya erat. “Kau harus ikut aku sekarang. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”

Untuk sejenak, aku sempat berniat mengenyahkan genggamannya dari tanganku. Tapi, ada sesuatu yang membuatku percaya bahwa dia tak akan berbuat macam-macam. Gadis kecil ini menuntunku berjalan dan melewati pekarangan rumah yang ditumbuhi rumput dan beraneka ragam tanaman hias. Seekor sapi betina pun tampak heran menyaksikan derap langkah kami yang berubah semakin cepat.

Aku bertanya dengan napas tak keruan, “Tunggu! Ke mana kau akan membawaku?”

“Ke sana – “ Anak perempuan ini mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah kebun yang bunga tulip yang jaraknya memang cukup jauh dari rumahku.

Ternyata, inilah yang dibilang orang-orang tentang bunga cinta itu. Warna-warni bunga tulip mampu membuat siapa pun terpana akan pesonanya. Tapi, aku sedang tidak membicarakan tentang sihir yang dimiliki bunga tulip. Ada sesuatu yang membuatku benar-benar tercengang dan membuat lidahku terasa kelu.

“Seperti yang kita ketahui, Belanda adalah kota kecil yang serbakekurangan sejak perang dunia kedua berakhir. Sampai pada suatu hari di musim dingin, seorang gadis kecil dari Amerika yang bernama Rosy mengirimkan kado berisi cokelat kepada temannya tinggal di kota ini. Surat menyurat antara mereka terus berlanjut meskipun keduanya tidak pernah bertemu.”

Aku pernah mendengar dongeng itu sebelumnya. Dongeng yang mengisahkan kedua anak perempuan bernama Rosy dan Fiona yang menjalin komunikasi dengan cara surat-menyurat. Setiap kali Fiona mengisahkan apa yang terjadi di tempatnya, Rosy pasti menghadiahkan Fiona sesuatu yang mungkin diperlukannya. Pada surat mereka yang terakhir, di musim semi, Rosy menerima surat dan paket dari Fiona yang berisi umbi bunga tulip untuk ditanam.

Dan betapa pun hadiah itu teramat sederhana, Rosy sama sekali tidak mempermasalahkannya. Rosy teramat gembira. Umbi tulip itu dibagi-bagi untuk ditanam di sebagian tempat di Amerika.

Begitulah ceritanya.

“Lama tak berjumpa, Sophie.”

Sesuatu membuat mataku terasa panas. Aku masih mengingat dengan jelas saat Hugo meninggalkan apartemenku pada malam itu. Dia berdiri di ambang pintu dan berkata ‘sampai nanti’ – tanpa kupahami maksud dari kalimatnya. Dan kini, dia benar-benar membuktikan apa yang pernah dia ucapkan.

Dia menggumam, “Aku benar-benar menyesali atas apa yang telah terjadi waktu itu.”

“Aku mengerti, Hugo. Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa tersulit di dalam hidupnya,” balasku.

“Jadi, segalanya benar-benar telah berakhir.” Dia mulai berkisah tanpa kuminta, “Juri akhirnya memberikanku kuasa penuh atas hak asuh Nicki. Tapi dengan syarat, Celine tetap diperbolehkan menengok ataupun merawatnya dalam situasi tertentu.”

Aku membalas seadanya, “Senang mendengar kabar baik itu darimu.”

Sosok pria dalam balutan kemeja biru ini mengambil posisi berdiri di hadapanku. Pandangan kami saling bertumbukan sehingga rasanya tidak ada kesempatan bagiku untuk berkedip. Dia meraih telapak tanganku dan meremasnya lembut. Sementara, tangan kanannya mengulurkan sesuatu kepadaku.

Sebuah bunga tulip berwarna merah.

Aku menerima pemberiannya. Mencium kelopaknya yang masih terasa lengket dan basah oleh embun.

“Kau tentu mengetahui makna dari bunga tulip merah itu, Sophie...” Kalimatnya dibiarkan menggantung.

“Sebuah cinta dengan ketulusan tanpa batas,” jawabku dengan wajah merah padam. “Kuharap kau bersungguh-sungguh dengan kalimatmu, Hugo.”

“Tak ada batas dalam mencintaimu.”

“Tak ada batas untuk percaya pada kekuatan cinta,” sambung Nicki yang tiba-tiba muncul di dekat kami.
Hugo memberikan satu kecupan kecil dan membimbingku ke dalam pelukannya.

***END***
Kamis, 28 Agustus 2014

Faith Of Love


Sebagian orang mungkin berpikir jika musim gugur akan lebih baik jika dihabiskan dengan mengurung diri di dalam rumah. Mengenakan kaus kaki dan bergelung di dalam selimut tebal, menyaksikan daun mapel yang berguguran, atau sekadar menikmati sereal cokelat sambil menonton DVD seharian penuh.

Tapi aku bukan salah satu dari orang seperti itu.

Aku lebih memilih keluar dan berjalan menyusuri Alderney Street bersama seorang gadis kecil yang biasa kupanggil Kitty. Well, nama aslinya Emma Huntington. Dia baru berusia lima tahun, masih duduk di taman kanak-kanak. Memiliki rambut panjang berwarna pirang yang sering dikuncir ekor kuda. Emma terbiasa menata rambutnya sendiri sejak kecil.

Kami meninggalkan apartemen pukul satu siang. Singgah sebentar ke sebuah kafe kecil untuk membeli secangkir kopi dan cokelat panas. Matahari tertutup oleh awan tebal. Dedaunan kering yang teronggok di sepanjang jalan Pimlico sesekali tertiup oleh angin. Ranting-ranting pohon di sekitar kami berderik pelan, pertanda hujan akan turun. Tapi kami tak peduli. Terus melanjutkan perjalanan hingga kami tiba di Legoland Windsor Resort.

Atmosfer berbeda mulai terasa ketika kulihat slogan ‘Play Your Part’ yang terpampang di pintu masuk. Huruf kapital hitam yang bertuliskan LEGOLAND itu seakan-akan menyambut kedatangan kami. Aku sama sekali tidak punya rencana untuk pergi ke sini. Namun entah kenapa, setiap kali melewati tempat ini, Emma selalu menggamit tanganku untuk segera masuk ke pusat permainan lego itu.

Aku tak sampai hati jika harus menolak keinginannya.

Menuju Duplo Valley – sebuah wahana permainan yang memperbolehkan kami menjelajahi lembah dengan sebuah perahu sampai terkena cipratan air. Menikmati es krim Cornetto sambil menaiki kereta Brickville Express. Kemudian berteriak sekencang-kencangnya saat melaju di atas Dragon Roller Coaster. Sewaktu berada di Atlantis Experience, kami sempat mengabadikan momen itu dengan memotret beberapa ikan hiu dan bermacam-macam tumbuhan laut.

Aku dan Emma berhenti di satu wahana bernama Miniland. Menyaksikan miniatur kota dari berbagai negara di dunia yang tersusun menggunakan empat puluh juta blok lego. Setiap detail kota itu diciptakan semirip mungkin dengan versi aslinya. Bahkan, jika diperhatikan dari dekat, lego-lego itu seakan-akan tampak sangat nyata.

“Sebagian warga Inggris masih belum tahu apa itu The Elizabeth Tower. Mereka beranggapan bahwa menara itu bernama Big Ben. Padahal sebenarnya, Big Ben adalah nama lonceng yang berada di dalam jam itu. Menaranya sendiri disebut St. Stephen Tower.”

Seorang pria berambut cokelat gelap yang mengenakan sweter kasmir abu-abu bersuara di belakangku. Memandangnya dari atas ke bawah, menebak-nebak apa yang membuat dirinya muncul di sana dan menceritakan asal-usul tentang jam raksasa yang dikenal dengan nama Big Ben. Pria itu tidak berdiri sendirian. Dia hadir bersama seorang anak perempuan yang sepertinya seusia dengan Emma.

“Itu saudara perempuanmu?” Dia bertanya sambil melirik Emma yang sedang mengamati struktur kota London yang terbuat dari lego.

“No, ze is mijn dochter[1],” jawabku terpaksa berdusta. Karena faktanya, Emma adalah keponakanku. Kedua orangtuanya sedang berada di luar kota lantaran ada urusan pekerjaan.

“Aku rasa – kau berasal dari sana, ya?” Telunjuknya terarah pada miniatur lego berbentuk rumah kincir angin yang dikelilingi kebun bunga tulip dan peternakan sapi.

Penuturannya kuiyakan dengan anggukan kepala.

“Belanda sangat menakjubkan. Aku pernah mengunjungi tempat itu sekali saat aku masih kuliah,” ucapnya membuat pengakuan. “Jadi, ke mana tujuanmu setelah ini?”

“Aku tidak tahu. Barangkali pulang ke apartemen,”

“Kau tidak berminat mengunjungi taman hiburan di Hyde Park? Ada sejumlah wahana permainan di sana.” Pria dengan bola mata hijau zamrud itu membenamkan kedua telapak tangannya ke dalam sweter dan melanjutkan, “Kau tahu. Ferris Wheel, Caroussel, Rumah Hantu, permen kapas... Rasanya sayang sekali untuk dilewatkan.”

Ucapannya terdengar seperti pemandu wisata yang menawarkan paket perjalanan dengan tarif murah. Dan untuk sesaat, aku sempat menoleh pada Emma yang sedang mendongakkan kepala dengan tatapan penuh harap; satu pertanda bahwa dia sangat ingin mengunjungi tempat itu. Membayangkan keseruan kami saat menembak balon-balon yang berhadiah boneka, naik ke atas replika bus Double Decker, dan membawa sepasang balon terbang ke apartemen.

Tapi aku menjawab, “Kedengarannya menarik. Tapi, lain kali saja. Aku harus segera pulang.”

“Baiklah, geniet van je dag[2],” ucapnya seraya menganggukkan kepala.

Tanpa perlu berpamitan, aku segera meraih tangan Emma dan mengajaknya menjauh dari pria asing di hadapan kami. Sebisa mungkin berjalan cepat-cepat agar tak perlu lagi terlibat dalam percakapan yang tidak kuinginkan.

Dan tepat ketika aku hendak menggendong tubuh Emma ke dalam pelukanku, aku mendengar satu teriakan lagi dari pria itu.

“Hey!” panggilnya dari kejauhan. Bocah perempuan di sebelahnya melambaikan tangan. “Siapa namamu?”

Aku menoleh ke belakang dan berseru, “Sophie!”

“Aku Hugo. Senang bisa berkenalan denganmu!”

Aku melempar seulas senyum, kemudian bersiap untuk melangkah pergi.

Dalam hati aku membatin, senang berkenalan denganmu, Hugo.

(to be continued)



[1]. Dia adalah anak perempuanku
[2]. Selamat menikmati harimu
Rabu, 06 Agustus 2014

Last Night

“Menurut kamu, nanti kita bakal ketemu lagi nggak, sih?”

Pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja ketika kami saling bertatapan dalam waktu yang lama. Benar saja. Aku menganggap kalimat itu sebagai pertanyaan bodoh karena aku tidak terlalu yakin dengan apa yang kuucapkan. Tidak terlalu yakin juga apakah dia memahami maksud dari pertanyaanku.

Malam semakin larut ketika nyanyian jangkrik di luar sana terdengar mengganggu telinga. Jarum jam yang berada di angka dua belas seolah-olah mengingatkan kami bahwa tanggal telah berganti. Tapi kami tak sedikit pun hendak memejamkan mata dan lekas tersesat di alam mimpi. Masih ingin seperti ini – saling merengkuh satu sama lain di bawah selimut – untuk waktu yang cukup lama.

“Aku boleh tahu alasan kenapa kamu masih mau ketemu aku?” Dia memandangku dengan satu alis terangkat. “Kamu sama sekali nggak nyesel kenal sama orang kayak aku, gitu?”

Aku menggeleng yakin. “Karena kamu orang yang menyenangkan. Dan terus terang, aku ngerasa nyaman sama kamu.” Aku sadar, sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menjadi orang verbal. Aku selalu gagal menyampaikan jawaban kepada seseorang dengan kalimat yang cukup tepat.

Dia menarik selimut hingga menutupi dadanya dan menatapku lekat-lekat. Bibirnya terkunci rapat selagi aku merasakan jemarinya di setiap riak rambutku. Membelai lembut kepalaku sambil tersenyum saat aku mengernyit heran ke arahnya.

“Kenapa?”

“Kamu lucu,” ucapnya seakan-akan sedang berhadapan dengan pendongeng favoritnya.

“Nyebelin!” cibirku sembari mencubit hidungnya.

Satu hal yang aku tahu selanjutnya, dia mengenyahkan diri dari selimut dan mengambil posisi di atasku. Mengusap pipiku sebelum kedua bibir kami saling berpagutan dalam irama pelan. Aku dapat merasakan sensasi hangat yang menjalar di sepanjang aliran darahku, mendesakku untuk tidak berhenti melumat bibirnya, menggerilya lidahnya dengan satu gigitan kecil.

Tepat ketika tangannya berada di dadaku, memoriku mendadak terlempar pada satu masa di mana semua ini berawal.

Aku sedang mengunjungi sebuah situs pertemanan yang berinisial J ketika sebuah pesan baru masuk di inbox-ku. Sebuah pesan dari seseorang tak dikenal. Awalnya aku tidak berminat memeriksa apalagi menanggapi pesan itu. Tapi sewaktu aku mengetahui ada ketulusan yang tersirat pada sapaannya, aku jadi tergerak untuk mengetik pesan balasan. Kami sepakat untuk bertukar foto di kesempatan selanjutnya. Saling bertukar cerita sampai kami memutuskan agar percakapan kami dilanjutkan di messenger yang lebih serius.

Aku berinisiatif menyapanya di Whatsapp lebih dulu. Mengajaknya bercakap-cakap tentang hal-hal kecil seperti; apa kesibukannya, tinggal di mana, dan berbagai topik wajar lainnya. Kemudian, aku merasakan ada satu dorongan yang berasal nuraniku untuk merencanakan sebuah pertemuan. Dan aku sempat tak percaya saat dia menyetujui ajakanku, meskipun aku sadar akan satu hal; entah kapan dan di mana pertemuan itu akan berlangsung.

Dia hanya berpesan, just let me know if you’re ready enough to meet me.

Dan selanjutnya, peristiwa itu benar-benar terjadi.

Selasa siang, pukul dua lebih tiga puluh lima menit, aku berlari keluar dari gedung Nav Karaoke dan segera menuju tempat yang dia maksud. Ragu-ragu aku berjalan mendekati seseorang dengan sweter putih yang tengah menilik gadget di atas motor besarnya. Dia yang pertama kali menyapa dan mengulurkan jabat tangan perkenalan itu. Untuk sejenak aku sempat merasakan ada sesuatu aneh yang muncul saat telapak tangan kami saling bersentuhan.
Sesuatu yang membuatku terenyuh dan ingin menikmatinya lagi dan lagi.

Dan aku tidak sedikit pun menghiraukannya.

Kami tetap berbincang beberapa patah kata sebelum akhirnya dia memilih untuk pergi sejenak lantaran ada urusan yang harus dia selesaikan. Itu saja yang terjadi pada pertemuan singkat kami.

Satu hal yang masih dan akan terus kuingat adalah ketika kami bertemu di kesempatan selanjutnya. Pertemuan itu berlangsung di hari yang sama, namun di jam yang berbeda. Aku baru saja bertolak dari rumah temanku yang jaraknya tidak terlalu jauh jika dijangkau dengan berjalan kaki.  Sekitar pukul setengah sepuluh, dia hadir dengan sebuah kendaraan yang terlihat berbeda dengan tadi sore. Di atas skuter matic yang dikendarainya, dia membuat pengakuan bahwa kondisi kesehatannya tidak terlalu baik. Terbatuk-batuk di tengah pembicaraan kami yang membaur dengan angin malam.

Aku mungkin tidak mengerti bagaimana caranya agar dia merasa lebih baik. Tapi aku tidak ingin tinggal diam. Segera melingkarkan lenganku di pinggangnya, dan sesekali mengusap dadanya jika batuk itu kumat kembali. Hanya itu yang bisa kulakukan.

“Babe...” panggilnya lirih. Terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan, “Kamu udah ngantuk?”

No. My mind was filled with your memory. And I dont know why i cant stop thinking about it, even just for a while. I guess, I have fell in love with someone – someone with his bright eyes, his dark skin, his tall body, and for every single thing he got. And the only one I think about is you, Baby.

That’s you...

“Kamu mau tidur?” aku balik bertanya sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

“Aku bakal tidur kalau kamu juga tidur.” Begitu katanya.

My heartbeat suddenly quickened. I dont know. It was soft and seductive. I remembered seeing him in blue sweater on his motorcycle and he smiled at me. Then my world was stop spinning. I could feel the warmth coming off from him and could smell his perfume and sweet like a wine.

And i wondered if he could hear my heart beating so fast.

Aku menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan. Setuju bahwa inilah saat yang tepat untuk segera beristirahat dan pergi ke alam mimpi. Barangkali kami diberi kesempatan untuk berada bersama di sana juga?

Dia mengambil posisi tidur yang benar, lalu memberi tempat bagiku untuk berbaring di sebelahnya. Menarik kembali selimut yang melesak jauh dari kasur sembari berkata, “Kamu tahu, aku yakin kita pasti bakal ketemu lagi.”

Aku dapat merasakan sebuah ketulusan di dalam kalimatnya. Dan aku sepenuhnya percaya.

Sebelum kami benar-benar memejamkan mata, dia sempat menghujaniku dengan kecupan di kening, kemudian membimbingku ke dalam pelukannya.

Sabtu, 26 Juli 2014

Restart

Hujan baru saja usai ketika aku melangkah keluar dari sebuah kedai kopi di Old Town Square. Lampu-lampu jalan yang berpijar terang sama sekali tidak memberikan rasa hangat. Udara musim gugur rasanya menusuk hingga ke tulangku. Kuhirup lagi secangkir cappuccino yang rasanya agak tawar di lidah, semata-mata agar aku tidak kedinginan.

Aku masih ingat, itu adalah malam terakhirku di Prague.

Malam di mana aku angkat kaki dari apartemen Karin dan memilih untuk berjalan seorang diri sampai dini hari. Terus berjalan tanpa punya arah tujuan sama sekali. Tapi satu hal yang aku tahu, pada saat itu aku berhenti di Charles Bridge. Berdiri di sana selama beberapa jam sambil melamun hal-hal yang tidak penting.

Aku melihat bayang diriku sedang berdiri di bawah patung St. John Nepomuk. Bersama Bram yang hadir di sebelahku. Segalanya terasa manis pada saat itu. Menikmati langit sore kota Prague yang berwarna jingga, ditemani sepotong es krim yang berada di tangan masing-masing. Dia terus menceritakan tentang sejarah 30 patung di Charles Bridge yang kini terdengar seperti omong kosong bagiku.

Salah satu cerita yang masih kuingat adalah tentang patung itu.

“Sebagian besar orang percaya kalau patung St. John ini bisa membawa keberuntungan bagi siapa pun yang menyentuhnya.” Dia tahu aku penasaran dengan ceritanya. Oleh karena itu, dia melanjutkan, “Suatu hari nanti, orang itu pasti akan kembali lagi ke kota ini.”

Aku mulai berargumen, “Kata siapa?”

“Aku nggak tahu. Kisahnya menyebar dari mulut ke mulut.” Dia mengedikkan bahu. “Kalau kamu mau lihat salah satu contohnya, ya aku.”

Selanjutnya, Bram mulai bercerita bagaimana dia bersama ibunya naik kereta dari Berlin dan tiba di sini pada pukul satu siang. Itu adalah siang yang cerah yang di musim panas. Begitu yang dia ceritakan kepadaku. Bram mengambil foto dengan berbagai pose di bawah patung St. John dan sempat menyentuhnya beberapa kali. Ibunya pun melakukan hal yang serupa.

Dia mengakhiri cerita itu dengan satu kalimat pendek, “Aku sayang kamu, Win...”

Dan itu adalah hal berikutnya yang tidak ingin kuingat.

Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak punya punya alasan mengapa aku teramat benci dengan kalimat sederhana itu. Barangkali karena aku telah menyadari bahwa aku sama sekali tidak istimewa baginya.

Satu hal yang kutahu, pada waktu itu aku hanya bergeming. Aku dapat merasakan jantungku berdegup kencang seakan hendak melompat dari dadaku. Es krim cokelat yang kupegang pun mendadak terlepas dari genggaman.  Seolah-olah, aku baru saja mendengarkan hal yang paling membahagiakan di hidupku.

Tapi saat ini, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku sudah telanjur muak dengan dirinya yang terlalu licik. Dan aku pun benci kepada diriku yang terlalu picik. Entah kenapa aku bisa dibodohi oleh cinta dengan mudahnya, dengan tiga kata sederhana yang sama sekali tidak memiliki makna.

Aku memandangi lagi ke layar ponselku. Jam sudah menunjukkan pukul empat subuh. Kabut tipis mulai memenuhi pemandangan di hadapanku. Tapi matahari belum muncul sama sekali. Aku mulai berpikir, sudah saatnya kepedihan ini berakhir. Sudah tak ada gunanya bertahan di sini untuk mempertahankan segala sesuatu yang tidak pasti.

Dengan kata lain, sudah saatnya aku berjalan dan melangkah pulang.

Pulang untuk mencari arti kebahagiaan yang sesungguhnya.

Jumat, 18 Juli 2014

Prelude

PRELUDE

“Windy... I want you to be mine. Will you?”

Aku tercenung. Alat perekam itu masih berada di genggamanku. Jantungku selalu bergetar cepat setiap kali aku mendengar rekaman suara yang tidak lebih dari tujuh detik itu. Tak pernah bosan memainkannya berulang-ulang sampai-sampai aku hafal akan intonasi suara dan bunyi napas yang kerap muncul di pertengahan kalimat.

Sebuah suara yang selalu membuatku rindu pada keteduhan di kedua bola matanya, segaris senyum yang menenangkan, dan gelak tawanya yang renyah. Bahkan segala sesuatu tentangnya masih terasa nyata di ingatanku.

Hanya saja, satu hal yang menjadi masalah saat ini adalah; aku tidak menemukan jawaban yang tepat untuk membalas pertanyaannya. Aku telah kehabisan kata-kata. Dan pikiranku pun seolah tidak mau diajak bekerjasama.

Ibu jariku berada pada tombol record yang berwarna merah. Aku hendak menguraikan satu alasan panjang saat terdengar sebuah ketukan di pintu kamarku.

“Windy...”

Itu suara Papa.

Alat suara itu tak lagi kupedulikan.

Aku bergegas turun dari tempat tidur. Menghirup napas dalam-dalam sambil merapikan rambutku, sebelum menyambut seseorang di balik pintu itu.

“Iya, Pa,”

Papa membetulkan letak kacamatanya dan berkata, “Udah ditungguin di bawah tuh.”

Aku menengok ke arah jam bundar yang menempel di dinding kamarku. Pukul empat lebih sepuluh menit. Itu berarti, aku telah membuang waktu enam ratus detik tanpa melakukan apa-apa.

Segera saja aku bertanya, “Aku harus kasih jawaban seperti apa, Pa?”

Papa tersenyum. Garis kerutan di wajahnya terlihat semakin jelas. “Hanya kamu yang tahu jawabannya, Win. Ini masalah kejujuran hati.”

“Dan, gimana kalau jawaban dari aku malah bikin dia kecewa?” tukasku gelisah.

Papa meletakkan kedua telapak tangannya di bahuku, meremasnya lembut sambil berkata, “Papa yakin dia bisa terima apa pun keputusan kamu.” Dia tersenyum lagi. “Sekarang, temui dia di bawah, ya.”

Aku menggigit bibir bawahku, meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mulai menuruni sejumlah anak tangga dengan amat hati-hati. Tangan kananku mencengkeram erat pegangan tangga, khawatir kalau aku akan terpeleset atau jatuh sewaktu-waktu.

Dan ketika kakiku menapaki anak tangga yang terakhir, aku dapat melihat kehadirannya dengan sangat jelas. Duduk di atas sofa ruang tamu. Dalam balutan kemeja cokelat dan celana jins berwarna gelap; satu setelan khas dirinya. Pandangannya tertancap ke lantai. Meskipun begitu, aku dapat merasakan segunduk kecemasan yang bergejolak di sepasang bola matanya. Kecemasan yang bercampur dengan secuil harapan.

Sadar akan sosokku yang tengah mengamatinya dari jauh, dia pun menyapa, “Hei.”

Aku menyeret kedua kakiku ke arahnya dan lekas mengambil posisi duduk di atas sofa. “Maaf agak lama. Tadi abis – beresin kamar sebentar,” ujarku terpaksa berbohong.

“Tadinya aku sempat mikir kalau kamu nggak bakalan turun, lho.”

Aku membalas penuturannya dengan senyuman kecil, tahu dia sedang berbasa-basi untuk menghindari kecanggungan. Dan sejak awal aku sudah menebak, berada di dekatnya sudah pasti akan membuatku gugup. Saking gugupnya, aku bahkan tidak tahu bagaimana memulai sebuah pembicaraan.

Tapi, kecanggungan itu berangsur hilang ketika kudengar dia bersuara, “Tentang pertanyaan aku waktu itu, kamu udah punya jawabannya?”

“Aku – sejujurnya aku belum tahu harus ngambil keputusan seperti apa.”

Hening selama beberapa saat.

Aku yakin, pernyataanku barusan sudah cukup mematahkan separuh dari harapannya. Semua itu tergambar jelas dari wajahnya yang seolah-olah tak ada lagi keinginan untuk berada di sini lebih lama.

Tapi, sebelum terjadi kesalahpahaman di antara kami, aku segera menambahkan, “Aku sama sekali nggak bermaksud narik-ulur hati kamu, Bay. Aku cuma – belum yakin aja.” Lanjutku, “Aku takut kalau ada penyesalan yang harus dibayar oleh salah satu di antara kita suatu hari nanti.”

“Aku ngerti. Dari awal harusnya aku nggak perlu mendesak kamu untuk nerima cinta aku, Win. Aku juga belum tentu siap kalau harus mendengar satu penolakan dari kamu.” Dia menyeringai pasrah, berusaha menghibur diri sendiri dengan kalimat itu. “Tapi nggak apa-apa. Just take your time.”

Di satuan waktu selanjutnya, aku menyadari dia telah beranjak dari sofa. Berancang-ancang mengambil langkah menuju pintu utama. Dan aku tahu, aku tidak punya banyak waktu untuk melakukan sesuatu jika aku hendak menahan kepergiannya.

“Bayu!” panggilku setengah berteriak. “Kamu masih bersedia nunggu?”

Cukup lama dia menatapku dari balik kacamata minus itu sampai kudengar dia mengujar, “I will.”

“Okay, stay right here! Aku permisi ke kamar dulu.”

Dengan segenap kekuatan yang aku punya, aku segera berlari ke lantai atas. Jantungku terasa berdengap saat aku tiba di kamar.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Selama dua menit, aku habiskan dalam diam sambil mematut bayang diriku di depan cermin. Semenit lagi kuhabiskan untuk mondar-mandir tanpa berbuat apa-apa. Semenit berikutnya, aku sudah menutup pintu kamar dan kembali menemui Bayu yang masih berdiri di ambang pintu rumahku.

“Aku udah ngambil keputusan. Dan kamu bisa dengerin jawabannya ketika kamu sampai di rumah,” ujarku di sela-sela napas yang tak keruan. Tanganku mengulurkan sesuatu berwarna silver kepadanya.

Bayu menerima pemberianku. Memandangi benda itu dengan tatapan bingung bercampur penasaran. “Kamu yakin sama semua ini?” Dia bertanya sambil menimang-nimang alat perekam suara itu.

“Sepenuhnya yakin,” jawabku dengan kepala terangguk.

Minggu, 06 Juli 2014

Surat Untuk Bapak Jokowi

Sore itu, saya berdiri mematung di depan lobi utama Plaza Semanggi. Saya baru saja turun dari Sky Dining dan hendak menuju jembatan penyeberangan yang mengarah ke halte Trans Jakarta. Benar. Jembatan penyeberangan yang jaraknya nyaris 500 meter itu. Tapi saya tidak terlalu buru-buru untuk pulang. Saya masih berdiri di sana sambil mengamati satu pemandangan yang membuat hati saya tergetar.

Lengkungan bunga cengkih di jalanan Semanggi itu masih sama seperti terakhir kali saya melihatnya. Pepohonan dan rumput-rumput hijau itu tampak segar oleh semprotan air yang mencuat di tengah-tengah halaman. Saya senang sekali menyaksikannya dari atas sini. Meskipun sesekali terllihat sejumlah kendaraan yang terjebak dalam kemacetan, hal itu sama sekali tidak memengaruhi saya untuk segera beranjak.

Saya masih berada di sana untuk beberapa saat yang lama. Menikmati senja yang meleleh di langit sore kota Jakarta, sembari merenungkan sejumlah peristiwa yang pernah terjadi di tempat ini belasan tahun yang lalu. Belasan tahun yang terasa sangat kelam buat saya, buat seluruh warga Indonesia, dan tentu saja buat Bapak Jokowi juga.

Saya memang tidak berada di kota ini pada tahun 1998. Saya menempuh pendidikan saya selama sembilan tahun di Pulau Bangka dan hanya tahu peristiwa itu lewat berita. Lagi pula, saya masih terlalu kecil untuk ikut campur dalam unjuk rasa itu. Satu hal yang masih saya ingat, seluruh media cetak dan media elektronik selalu dipenuhi dengan berita mengenaskan. Kolom artikel yang memaparkan betapa kejamnya pemimpin negara dan para kaki-tangannya.

Kita semua tahu apa yang terjadi dalam peristiwa itu. Pekik kebencian dari para mahasiswa Universitas Atmajaya kepada aparat negara, sumpah serapah yang membabi-buta, dan milyaran cara telah mereka coba untuk mengalahkan antek-antek bersenjata. Para pasukan anti huru-hara tak mau kalah. Mereka berbalik menyerang sampai beberapa orang di antara mereka harus mengorbankan nyawa. Bahkan ada pula oknum yang sengaja menculik para aktivis dengan modus tertentu. Menodongkan pistol, memasukkan mereka secara paksa ke dalam mobil Toyota Twin Cam, lalu membawa mereka kabur.

Kejadian itu berlangsung di depan RS Cipto Mangunkusumo.

Dan saya yakin, Bapak mungkin sedang menebak-nebak siapa pelakunya.

Segalanya mungkin telah berlalu sejak lama, Pak. Kematian Elang dan kawan-kawannya mungkin hanya sekadar sejarah. Tapi bagi kami, semua itu masih jauh dari kata selesai. Saya sendiri masih sering dihantui rasa takut setiap kali membayangkan hal-hal yang demikian terulang kembali. Penculikan, maraknya kekacauan, krisis keuangan, pengkhianatan, ambruknya sistem pemerintahan, politik dinasti... Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka.

Jadi... Kepada Pak Jokowi yang baik hati...

Mungkin surat ini hanya berisi seputar kilas-balik masa lalu Indonesia. Semua orang masih bisa menyampaikan isi yang lebih baik daripada saya. Namun, jauh di dasar hati saya, ada harapan besar yang saya tanamkan kepada Bapak. Seluruh warga Indonesia – kami –  tidak ingin negara ini jatuh untuk kesekian kalinya. Kami tidak ingin melihat pertumpahan darah oleh mereka yang tidak berdosa.

Sejatinya, kami menginginkan pemimpin yang lebih baik. Pemimpin yang sabar. Kami benar-benar berharap negeri ini dipimpin oleh seseorang seperti Bapak. Sosok yang rendah hati, yang menginspirasi, yang dermawan, tegas namun tidak menakutkan, dan yang paling penting; yang mengerti bagaimana caranya membaur dengan rakyat. Dan semua itu ada di dalam diri Pak Jokowi.

Kami semua senang dan sangat kagum dengan Bapak. Sama seperti saya mengagumi bentuk bunga cengkih di jalan Semanggi.
Oleh karena itulah, kami menaruh harapan besar padamu, Pak Jokowi.
Terima kasih banyak.

#SalamDuaJari