"
"Nah, orang-orang seperti mereka tuh disebut Jamaah Tabligh. Mereka merantau dari rumah, singgah dari mesjid ke mesjid untuk menyebar agama Islam." Tatapannya terarah pada segerombol manusia yang mengenakan baju koko dan peci di kepalanya. Orang-orang itu tampak sedang bercengkerama satu sama lain di teras mesjid Alun-Alun. Saling bersalaman ketika satu atau dua di antara mereka hendak beranjak pergi.
Aku bertanya sembari mengunyah baso tahu di dalam mulutku. "Kira-kira, berapa lama mereka pergi dari rumah?"
"Tergantung. Ada yang cuma beberapa hari, ada yang satu minggu, ada juga yang sampai satu bulan."
"Oh gitu?" tanggapku polos, sama sekali tidak pernah mendengar tentang hal itu sebelumnya. Menyadari tidak punya alasan untuk memungkiri segala pengetahuan dan kecerdasan yang dia miliki.
Dia menyeruput habis es kelapa muda di hadapannya, kemudian berkata, "Kayaknya sebentar lagi bakal turun hujan deh."
Aku menatap ke arah luar, gerimis mulai turun perlahan. Beberapa pedagang keliling yang sejak tadi hilir mudik di lapangan alun-alun pun sudah melipir ke bawah tenda abu-abu.
"Abis ini kita mau ke mana lagi?" Dia bertanya penuh semangat.
"Gimana kalau ke Braga?" ucapku spontan.
"Mau ngapain?"
"Nggak tau. Kita jalan aja, cari sesuatu yang menarik. Apa pun bentuknya..."
Suasana berubah hening. Yang terdengar hanyalah deru bising kendaraan di jalan raya dan suara para pedagang yang sibuk bergosip ria.
Sementara itu, aku masih menunggu sebuah jawaban.
***
Dia masih berada di sebelahku. Mengayunkan kedua kaki rampingnya dengan langkah yang amat tegas, namun tetap terkesan santai. Pandangannya masih lurus tertuju ke depan. Tak sedetik pun bersedia menengok atau melirik ke sekelilingnya.
Aku berusaha menyamakan kecepatan langkahku dengan langkahnya. Dalam hati berbisik, aku harus menciptakan satu keadaan yang lebih baik daripada sekarang ini. Entah bagaimanapun caranya. Maka, aku memberanikan diri untuk memulai percakapan baru.
"Lihat lukisan ini, deh!" ucapku, sekonyong-konyong berhenti tepat di hadapan salah satu lukisan yang berjejer di trotoar di sepanjanh jalan Braga.
Dia membalikkan badannya, memusatkan perhatian pada sebuah pemandangan sungai jingga yang dihuni sejumlah perahu beraneka warna. Kuduga, gambar itu mengacu pada situasi senja di Venice.
"Kapan ya aku bisa beli lukisan kayak gini?" timpalnya, menganugrahiku segurat senyum yang jail.
Aku terkekeh pelan. "Masalahnya, lukisan sebagus dan segede ini mau ditaruh di mana? Di dinding kamar?"
Dia melepaskan tawa yang begitu renyah, tawa yang kerap menimbulkan candu tersendiri untukku.
Tak lama, dia kembali melanjutkan langkahnya dengan kecepatan yang sama. Sementara aku, masih sibuk mengisi keheningan dengan menekuni jalanan ber-paving hitam yang dilintasi pengendara sepeda motor. Sesekali melirik seisi kafe Braga Huis, lalu memandang kue-kue cantik dan rainbow cake yang terpajang di etalase Sugar Rush.
Kudengar dia bersuara, "Aku baru sadar kalau hari ini hari Sabtu."
Ucapannya barusan membuatku teringat pada sebuah event mingguan yang kerap diselenggarakan di sini. Braga Culinary Night namanya. Dan pada saat yang sama, aku pun tersadar akan satu hal, tonight is Saturday Night -- malam yang amat dinantikan bagi mereka yang sudah punya pasangan (ya, kecuali aku).
"Jadi, mau malem Mingguan di sini aja atau gimana?" Aku berusaha menanggapi sewajar mungkin, tapi entah kenapa pertanyaanku barusan terdengar sangat mengecewakan.
"Nggak terlalu yakin juga, sih." Dia mengedikkan bahu sambil terus berjalan.
Kerongkonganku terasa kering. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Karena saat ini, pikiranku pun seolah berhenti berputar. Dan aku tak punya pilihan selain terus berjalan mengikutinya dari belakang.
***
Masih membekas di ingatanku sewaktu aku berada di dalam toko Bread Life beberapa menit yang lalu. Berdiri mengamati seisi etalase yang dihuni segala rupa kue cantik berwarna-warni. Kesemuanya terlihat amat menggoda sehingga aku sempat kesulitan dalam menentukan pilihan.
Tapi, tak butuh waktu yang cukup lama sampai aku berhasil mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Sebuah kue kecil -- sejenis cupcake -- bertabur gula halus dengan tambahan ceri merah di atasnya. Begitu sederhana, namun tergolong istimewa.
Aku berjalan mendekati dia yang masih berdiri di depan restoran Wendy's. Berusaha menyembunyikan kantung belanjaanku saat berkata, "Buat kamu nih," menyerahkan es krim cone dengan topping Green Tea kepadanya.
Dia menolehkan kepala, lalu terkekeh pelan.
"Udah, ambil aja," aku menegaskan. "Topping-nya rada mencair gara-gara kelamaan ngantre di kasir."
"Kamu kayak anak SMA aja," dia masih sempat menimpal sebelum akhirnya menerima pemberianku.
Sadar ada sesuatu yang harus kuberikan lagi, aku pun lekas menambahkan, "And -- this one's for you too."
"Apa ini?" Sepasang alis tebalnya bertautan.
"Cek aja," tukasku seadanya, tidak sanggup menerjemahkannya ke dalam kalimat yang lebih efektif.
Menarik lengan kemeja denimnya, lalu mengintip sesuatu yang berada di dalam kantung oranye itu. Tersenyum ketika mengetahui isinya. "Joy..." Dia menatapku dalam-dalam, seolah ingin mengutarakan sesuatu yang sulit untuk diutarakan. "You don't need to do this."
"No! You really deserve it." Aku mengangguk mantap. "Ya -- meskipun aku tahu, terlalu cepet untuk ngucapin ulang tahun."
"That's okay. Lebih baik dikasih sekarang daripada ditunda-ditunda. Karena, belum tentu kamu bisa ketemu aku hari Senin nanti." Dia menganggukkan kepala, memaklumi alasan yang kusampaikan. "Anyway, thank you so much."
Senyumku terkembang sempurna ketika tahu pemberianku tidak berakhir sia-sia. Setidaknya, tanpa sebuah kalimat penolakan.
"Jadi, ke mana rute kita selanjutnya?"
Aku berpikir sejenak, berharap ada satu tempat tujuan yang bisa kami kunjungi setelah ini. Tapi, tak ada satu pun yang muncul di kepalaku. Langit sudah mulai gelap. Sebentar lagi sore akan turun. Kami tidak boleh sampai ketinggalan Bus Damri.
"Atau -- masih mau muter-muter keliling Braga lagi?" Dia memberi pilihan, sembari menungguku melontarkan jawaban.
"Sebaiknya kita pulang aja," putusku lirih.
Dia menghela napas dalamm sadar bahwa kami sudah berada di pengujung pertemuan.
Hal selanjutnya yang kuketahui, kami berdua kembali menapakkan kaki, menuju arah jalan pulang.
***
Selama perjalanan pulang, di dalam Bus Damri jurusan Kalapa-Cibiru, tak henti-hentinya saya memanjatkan rasa syukur. Sejumlah momen berharga ketika kami melintasi Jalan Dewi Sartika, singgah di mesjid Alun-Alun Bandung sambil berbagi cerita, kemudian berakhir di jalan Braga.
Segalanya terasa menyenangkan, meskipun hanya sementara. Dan saya sangat berterima kasih pada semesta yang masih mengizinkan saya bertualang dengan seorang pejalan kaki hari ini.
Selamat ulang tahun yang ke-21, kamu..
Bandung, 25 April 2014
Aku terbiasa hidup di dalam sepi
Menghargai sunyi, menyulam satu demi satu benang mimpi
Tapi aku tak pernah tahu kepada siapa semua itu akan kubagi
Aku mencoba berlari, hingga segalanya mulai terkubur di dalam hati
Lalu kau datang seperti tamu tak diundang
Mengulurkan tangan dengan sebersit senyuman
Aku menikmati setiap keindahan yang kau miliki
Bahkan sampai elemen terkecil yang sulit untuk kupungkiri
Puisi ini hanya kata-kata sederhana
Ungkapan isi hati yang kurangkai sedemikian rupa
Namun percayalah, sedikit pun aku tak ingin berdusta
Tak ingin pula aku mengharapkan setangkai mawar atau azalea
Karena bagiku, tiada yang lebih indah selain suara dan kilau matamu yang senada
Ps: selamat Hari Kasih Sayang untuk kamu yang Terkasih.
Lihat aku di sini
Kau lukai hati dan perasaan ini
Tapi, entah mengapa
Aku bisa memberikan maaf padamu...
Kemilau lampu kota di sepanjang jalan Dago tampak begitu menyilaukan mata. Bunyi klakson kendaraan yang memekik dari arah luar seolah-olah ingin membuyarkan lamunan saya. Rama masih bersenandung di radio. Berada di dalam taksi Gemah Ripah ini semakin membuat leher saya serasa tercekik. Bukan karena pendingin udaranya, tapi karena sebuah lagu yang entah bagaimana -- seperti mengirimkan luka.
Arloji Casio di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh. Bandung belum mati. Masih ada kehidupan di saat-saat seperti ini. Tapi sekarang, saya benar-benar merasa sendiri. Keadaan di sekitar saya berubah sunyi.
Terkenang lagi akan tujuan utama saya ke kota ini. Saya sempat berjanji pada diri sendiri, termasuk pada orangtua saya untuk melakukan perubahan. Saya ingin hidup mandiri dan memulai segalanya lebih baik lagi. Teringat pula betapa besar pengorbanan mereka untuk merelakan kepergian saya. Melihat Bunda terisak dan sosok Papa yang tidak sanggup berbuat apa-apa. Mereka menaruh kepercayaan sekaligus harapan yang begitu besar kepada saya.
Pada saat yang sama, mata saya terasa begitu panas. Saya membayangkan betapa tololnya diri saya sewaktu berada di lapangan gasibu beberapa menit yang lalu. Saya duduk di sana sembari memandangi jalan raya yang dipenuhi sejumlah kendaraan yang sibuk berlalu-lalang. Tiga orang pengamen sedang mempersembahkan sebuah lagu dengan suara sumbang. Sedikit pun tidak menghibur.
Saya menengok ke layar ponsel, berharap lampu LED-nya berkelap-kelip dan memunculkan satu pesan dari seseorang. Namun, saya tidak mendapatkan apa-apa di dalam sana. Berkali-kali saya telah men-dial nomor teleponnya, tetap saja tidak ada jawaban. Saya sempat berpikir, mungkin dia sengaja menghindar supaya tidak berjumpa dengan saya.
Tapi, pada saat itu saya hanya diam dan tidak mau menyalahkan siapa pun. Satu hal yang pasti, saya harus menerima kekalahan saya dengan lapang dada. Berusaha meyakini diri sendiri bahwa akan ada hal baik yang terjadi di kemudian hari.
Taksi yang saya tumpangi baru saja melewati Hotel Bukit Dago. Sebentar lagi saya akan sampai di kamar - tempat di mana saya mengistirahatkan badan beserta pikiran. Setelah itu, mungkin saya akan memutuskan untuk pulang ke suatu tempat yang sebenarnya. Satu tempat yang saya sebut rumah..
Sementara itu, tembang Bertahan milik Rama masih terdengar di telinga ketika saya melangkah keluar taksi.
Meski kau terus sakiti aku
Cinta ini akan selalu memaafkan
Dan aku percaya nanti engkau mengerti bila cintaku takkan mati
Dahulu, pernah ada satu masa saat cinta memperkenalkanku pada seorang pria. Bermula dari sekadar perasaan biasa, lalu berlanjut ke sebuah cerita cinta yang dewasa. Saat itu, aku sepenuhnya menyadari bahwa cinta memiliki keajaibannya tersendiri sehingga mampu menghantarkanku ke suatu kisah yang tak pernah kuduga.
Cinta sanggup mengubah dusta menjadi indah, lemah menjadi kuat, ataupun sebaliknya.
Gilang.
Pria inilah yang sempat membangun kerajaan di hatiku. Dialah yang menyatakan bahwa aku satu-satunya wanita yang dia pilih. Aku bangga, bukan main amat bahagia. Sejak saat itu aku pun berjanji untuk bersungguh-sungguh mencintainya.
Tapi kini, segalanya telah berubah.
"Aku pengin kamu bahagia meski tanpa aku," ucap Gilang datar, sedatar ekspresi wajahnya.
Aku tidak bersuara, belum ingin bicara.
Seperti yang kuketahui sebelumnya, kalimat seperti itu bukan kali pertama yang diucapkan Gilang. Rasanya sudah jutaan kali dia melontarkan frasa serupa meski dalam situasi yang berbedia. Dan inti dari seluruh rangkaian kata itu hanya satu; perpisahan.
Terus terang saja, aku benar-benar tidak mengerti seperti apa definisi bahagia menurut dirinya. Setelah cukup sekian lama bersama dan membina rumah tangga, kini dia meminta aku bahagia dan mengikhlasan keputusannya. Bahagiakah aku tanpa kehadiran dia? Bagaimana bisa?
"Monica..." panggil Gilang sepelan mungkin.
"Memangnya kenapa?" Aku balik bertanya. memberanikan diri untuk bertanya.
Dengan terbata-bata, dia menjawab, "Aku – aku udah nggak bisa lanjutin semuanya lagi, Mon."
"Iya, tapi kenapa? Aku butuh alasannya!" Aku bersikukuh mencari tahu asal muasal penyebab keputusan itu.
"I – I just can't."
"Apa kamu suka perempuan lain?" Dari sekian banyak tanda tanya dan jenis pertanyaan yang bercokol di kepalaku, hanya itulah itng sanggup kusuarakan.
"No. That's such an impossible!" Spontan Gilang menjawab seraya mengeraskan suaranya.
"Then, why?" desakku.
"Monica, listen to me... Kamu sendiri tahu kalau aku udah nggak punya pekerjaan tetap. Aku luntang-lantung nggak jelas, kerja serabutan." Gilang membuat pengakuan. "Aku nggak mampu lagi menafkahi anak sekaligus istri aku. Bahkan, aku nggak bisa jadi sosok ayah yang baik untuk Nadine."
Lagi-lagi, aku tidak mampu berkomentar. Aku lebih memilih diam sembari mencerna kembali segala koleksi alasan yang baru saja dia sampaikan.
Ternyata benar. Kondisi keuangan itulah yang jadi penyebab utamanya.
Dua tahun terakhir ini, Gilang memang tidak memiliki pekerjaan. Setelah kontrak kerjanya habis, Gilang resmi diberhentikan dari perusahan kontraktor perumahan di Pedurungan itu. Namun sesekali, dia kerap mencoba bangkit dan memperbaiki situasi dengan mencari pekerjaan lain. Entah sebagai sopir taksi, petugas keamanan di Minimarket, sales mobil... Hingga kini, mentok di bengkel sebagai seorang montir.
Sejujurnya, tidak jadi masalah besar bagiku. Tidak peduli seperti apa dirinya, apa pun pekerjaannya, bagaimanapun kondisi kami, aku tidak pernah meributkannya sama sekali. Walau kenyataannya, di dunia ini tidak ada istri yang tidak materialistis. Semua istri pasti haus akan nilai materi dan suapan dari seorang suami. Tapi untukku pribadi, selagi aku mampu mengupayakan bersama-sama, kenapa hal macam ini harus dipermasalahkan? Toh aku juga masih punya pekerjaan, meskipun gajiku sebagai guru tidaklah seberapa.
"Lebih baik kita cerai aja," desis Gilang.
"Lang, aku paham sama situasi yang sulit ini. Tapi, apa kita nggak bisa berusaha sekali lagi?" tandasku seraya menahan volume suara. “Demi Nadine, Lang...”
Alih-alih membalas kalimatku, Gilang justru bungkam seribu bahasa. Bibirnya terkatup rapat, - mengunci aneka penjelasan yang sedang melepuh di kepalanya. Air mukanya muram, matanya yang sendu menunjukkan keletihan.
Kesal akan sikap Gilang yang sedemikian kaku, aku pun menyeru, “Gilang!!!” Sudah tidak dapat lagi kukendalikan emosi di dalam diriku ini.
“Nggak bisa,” tukas Gilang singkat.
Praktis, aku tersentak. Terkejut saat mendengar betapa pedih jawaban yang dia berikan. Bagai tinjuan ke ulu hati, semuja itu hampir membuatku tak bernyawa. Sepuluh tahun bersama, menjalin kasih sayang, berbagi dalam bahagia maupun duka, saling bermimpi tentang keajaiban cinta, kini segalanya kandas tak bersisa. Musnah.
Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghadapi kenyataan yang kuterima. Semua itu seakan-akan melumpuhkan kemampuan akal sehatku. Satu-satunya tindakan yang mampu kulakukan mungkin hanya menangis. Terisak sedih sambil terus menyeka bulir-bulir kristal di setiap lekuk wajahku.
Tapi, tangisku yang semakin tak terkendali sama sekali tidak membawa perubahan sedikit pun. Maksudku, aku yakin – sangat yakin – Gilang mengetahui kesedihanku. Sangat tidak mungkin jika dia tidak mendengar sesenggukan yang kutahan. Jadi, apakah hatinya tidak tergerak untuk menenangkanku?
Alih-alih memberi dekapan hangat seperti yang kuharapkan, Gilang justru meloyor pergi begitu saja. Langkahnya tertuju ke ambang pintu utama.
Sebelum kudengar pintu berderit, Gilang berkata, “Besok aku datang lagi ke sini, untuk minta kamu tandatangani surat cerainya.”
Tadinya, aku sangat ingin membuat perlawanan saat kalimat itu lolos dari bibir tipisnya. Namun, apa daya diriku saat ini? Menguatkan diri pun aku sudah tak mampu.
“Aku pulang, Mon...” katanya untuk yang terakhir kali.
Pintu berwarna cokelat itu sempat menganga selama beberapa saat. Tapi, aku tidak berniat menatap sosok tubuh tinggi yang terbungkus busana biru dongker – penuh aroma bengkel itu. Aku tidak mau. Bukan karena sudah tak cinta atau mengikhlaskan kepergiannya, hanya saja aku tidak kuasa.
Dan dalam hitungan detik, daun pintu itu kembali mengatup hingga mengeluarkan bunyi yang sedikit keras.
Kepergiannya membuatku meratapi kembali satu per satu adegan di masa silam. Sekelabat kenangan manis yang berlalu-lalang di kepalaku seolah menciptakan getir pahit yang mengiris-iris pembuluh nadi. Untuk sesaat, aku sempat merasa amat menyesal.
Andai saja dulu aku lebih sanggup menahan ketertarikanku pada milyaran bual manisnya, andai saja aku tidak melakukan kesalahan ketika kami masih berpacaran, mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Mungkin aku tidak perlu menikah di usia dini demi menghindari segala aib yang bermunculan di sekitarku.
Tapi, beginilah yang terjadi pada diriku. Seperti kata sebuah petuah, penyesalan akan selalu hadir di belakang.
Baru setelah kuusap sisa-sisa air mata di pipi, alangkah tercengangnya aku saat menyaksikan putriku yang sedang berdiri di mulut pintu. Tatapannya terarah kepadaku, penuh akan cinta dan kesetiaan. Entah sejak kapan dia berada di sana, aku tidak tahu. Yang jelas, perhatiannya membuatku sangsi.
Dengan segera, aku mendekatinya dan bertanya, “Nadine kenapa belum tidur?”
Nadine kecil pun menggeleng. Dia bersuara, “Papa mana, Mom?”
Pertanyaannya membuatku terenyuh. Aku tahu, cepat atau lambat Nadine pasti akan menanyakan hal itu kepadaku. Di usianya yang baru empat tahun, Nadine sudah memiliki sedikit banyak cerita yang melekat di ingatannya.
Aku mengerjapkan mata, berusaha mengumpul keberanian sebelum menjawab. Kataku, “Papa nggak bisa pulang malam ini, Sayang... Papa lagi banyak pekerjaan.”
Dia menunduk lemas. Ada kekecewaan yang tersirat jelas di kedua bola matanya.
Tapi sebelum kudengar dia memintaku bercerita lebih jauh, aku lekas membimbing tubuhnya ke dalam pelukanku. Berharap dekapan itu dapat menembus ketidakhadiran ayahnya. “Malam ini, Nadine tidur di kamar Mommy aja, ya...” bujukku lirih.
Nadine hanya mengangguk kecil. Selebihnya, dia tetap memelukku dengan erat. Sama halnya dengan diriku.
Pernikahanku dengan Gilang mungkin sudah tidak dapat terselamatkan lagi. Harapan untuk terus bersama hanya tinggal mimpi. Tapi, keadaan ini menyadarkanku pada satu pelajaran besar bahwa aku tidak sepenuhnya sendiri.
Aku masih memiliki Nadine.
Dan sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan putriku menderita krisis kasih sayang. Aku berjanji; sekarang, esok, dan selamanya – aku harus menjaga Nadine dengan sepenuh hati.
I'm pretty fed up with my father. Long story short, he's not a very good father. He didnt even believe in my passion at all. Sometimes, I wanna get away from him. I know I can move out, but i cant stop wishing if I had a different father, an uncle, or whatever - someone who can treat me like a son, and support what I want to do.
I was physically and emotionally disappointed by my father. As far as I remember, he never care for me , accept me , initiate conversation and give me attention . I hate being lonely. He was never there whenever I need a shoulder to cry on. The day when I was young, he always left me cry in loneliness.
The most important, he never know what I really needed. He always treat me like a stranger, never gave me support for what I did. He's become the reason why I hate another part of myself, the reason why I wanna go out there, the reason why I dont wanna stay here anylonger. I hate when he tried to domimate something that he doesn't understand or shortly -- know me.
I just want to be happy like another. Want to feel like I'm an importance person no matter what happens. Want him to love me even if I walked in the wrong path. I just want to feel the warmth of an embrace.
Back then again when I was teen, he wants me to succeed. But he never had the time to understand my feelings. He never cared what I planned for. Instead, he never really cared for my happiness. I'm still like a stranger in his eyes.
Semuanya masih terasa sama ketika seulas kata itu terucap dari mulutku.
Bunda hanya bergeming, sedikit pun tak ingin memberi komentar mengenai kalimat yang kusampaikan barusan. Pandangannya kosong, melesat jauh ke arah pepohonan jambu air di halaman rumahku. Angin di luar sana menyapu beberapa helai rambutnya. Tapi dia tak hiraukan. Dia lebih memilih untuk mengunci bibirnya rapat-rapat sambil menahan air mata.
Sesaat kemudian, aku merasa bersalah. Aku benar-benar berdosa karena telah membuatnya terluka. Bahkan, aku selalu mengecewakannya dengan cara seperti ini. Mengungkapkan sesuatu yang tidak ingin dia dengar, hanya untuk melihatnya menjatuhkan air mata.
Peristiwa seperti ini mengingatkanku lagi pada satu tahun yang lalu. Aku baru saja resign dari pekerjaanku waktu itu. Mengundurkan diri lantaran lelah bekerja di bawah tekanan. Dan setelah itu, aku terpikir untuk pergi, berniat melanjutkan hidup dengan cara yang lebih baik lagi. Aku sudah bertekad meninggalkan kota ini.
Tapi saat itu, aku tak menerima apa-apa selain penolakan. Baik Papa maupun Bunda sama-sama tidak memberi izin. Mereka berpikir, akan lebih baik jika aku tetap tinggal di sini sampai tua nanti. Tidak perlu pergi ke mana-mana kalau memang ingin melanjutkan hidup.
Aku memberontak, menyangkal pendapat Papa dengan sejumlah alasan yang meyakinkan. Aku terus berkelakar mengenai apa yang akan kuterima di sana nanti. Sampai pada akhirnya, Bunda mengambil jalan tengah dan mengakhiri perdebatan di antara kami. Dia menangis. Dan satu-satunya orang yang membuatnya menangis adalah aku.
Bunda memang selalu seperti itu. Dari luar, dia tampak begitu tegar. Tapi dia begitu sensitif untuk urusan yang menyangkut perpisahan. Dia tidak pernah sanggup membiarkan satu pun dari kami pergi meninggalkannya. Pernah waktu itu dia menangis sepanjang malam karena tidak sampai hati melepas kepergian Kakakku ke Yogyakarta. Dia masih dapat tersenyum, meskipun matanya terlihat keruh.
Dan hari ini, semuanya terjadi lagi. Aku kembali membuatnya terluka dengan cara yang sama, dengan tujuan yang sama. Bunda tetap tak mau bicara ataupun memberi keputusan. Sama halnya dengan Papa. Mereka masih bungkam, seolah-olah tak mau memberiku kesempatam untuk bahagia.
Dia pernah membangunkan saya di waktu subuh. Hanya untuk mengabarkan bahwa dia rindu dan ingin sekali bercakap-cakap denganku. Dan anehnya, aku sama sekali tidak terganggu. Mataku terbelalak sempurma setiap kali aku membaca pesan darinya..
Aku terjaga. Dan kami masih bercerita.
Pada saat yang sama, adzan subuh mulai terdengar di udara. Kami belum mau menyudahi segalanya. Terus berbicara dan bertukar pikiran sampai kami sepakat untuk menyudahinya.
Dan saat aku menua nanti, aku tak ingin kenangan seperti ini melapuk. Aku ingin terus mengingat dan menjaganya di dalam sanubari. Meskipun aku tahu, kita takkan pernah bisa untuk saling memiliki.
Setahun yang lalu, segalanya masih belum serumit ini. Aku masih dapat menikmati gejolak perasaan menyenangkan setiap hari, tersenyum di depan cermin seorang diri, bahkan menulis kata-kata indah di setiap halaman buku binder-ku. Semuanya terasa indah pada saat itu.
Aku mengenalnya sudah cukup lama. Lewat cara konvensional di social media - Twitter - aku dan dirinya sering bertutur sapa. Sekadar bersinggungan mengenai twit-twit yang lucu, berperang sajak, bahkan tak jarang kami berbincang di Direct Message. Dan ya, aku amat bahagia dapat berkenalan dengannya. Aku sudah menganggap dirinya sebagai kembaranku sendiri.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tak terasa kami berjumpa dengan bulan April. Ketika itulah segalanya mulai berubah secara perlahan. Aku mulai sering mengiriminya ucapan selamat pagi, mengucapkan selamat tidur sebelum kami bermimpi, dan tentu - aku sering menuliskannya puisi. Aku bahkan tak ragu-ragu meminta nomor ponselnya pada waktu itu.
Bertukar nomor ponsel seolah menjadi jembatan bagi kami berdua. Kami sering terjebak dalam pesan singkat yang berisi lelucon konyol dan ledekan garing. Aku juga kerap mengabarkannya setiap kali aku menulis. Entah mengapa aku mau melakukannya, aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu, setiap kali berbicara dengannya, darahku berdesir hangat seolah dialiri gelombang semangat tak tanpa batas. Dan aku amat menikmatinya.
Tapi sayangnya, waktu bergulir begitu cepat bagai desingan peluru. Semakin banyak biaya yang kami habiskan untuk percakapan di dunia maya, semakin besar pula bahagia itu tercipta. Dan secara tidak langsung, aku tersadar bahwa aku telah jatuh cinta. Lebih tepatnya, aku telanjur suka. Teramat suka pada sosoknya yang menyenangkan, yang tenang, yang selalu membuatku kangen setiap waktu.
Aku menikmati setiap bulir kebahagiaan itu mengisi kepalaku sepanjang hari. Dan selagi aku terjebak dalam lembah yang dipenuhi warna-warni cinta, aku juga sering dihujani rasa cemburu yang tak beralasan. Aku sering menangis karena rindu terhadap dirinya yang sering menghilang. Bahkan, aku pernah merasakan hal-hal seperti itu selama berbulan-bulan sampai aku tak dapat lagi berpikir secara normal. Akal sehatku seolah-olah mendadak lumpuh.
Hingga pada hari ini, sesuatu yang tak pernah kuharapkan benar-benar terjadi.
Aku tidak tahu apa penyebab sebenarnya. Karena sejak dua hari kemarin, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Aku masih menjalin komunikasi dengannya via pesan singkat. Mengiriminya puisi dan bercakap-cakap barang sejenak. Tapi entah kenapa, sewaktu aku hendak membuka akun Twitter-ku, aku melihat satu keganjilan yang membuatku berpikir; ada yang tidak beres dengan jumlah followers-ku.
Aku tahu, ini masalah yang sepele dan sangat wajar. Namun yang tak kumengerti adalah, seseorang yang tidak berada di sana adalah namanya. Selama sejenak, perutku terasa mulas selagi jantungku berdegup kencang. Kepalaku mulai dihujani sejumlah tanda tanya dan spekulasi burukmyang tak kuketahui dari mana datangnya.
Meraih ponselku, dan mencoba menghubunginya. Sekadar bertanya mengenai alasan atau penjelasan singkat sehingga dia melakukan hal seperti itu. Setelah cukup lama menunggu, dia pun menanggapinya dengan satu kalimat yang berisi kata 'maaf'. Aku tidak mengerti kenapa dia harus minta maaf. Karena bagiku, followers are just a number. Aku bahkan tidak peduli seberapa banyak jumlah followers di akun Twitter-ku.
Sampai pada akhirnya, dia menjelaskan alasannya serinci mungkin. Ada sesuatu yang membuatnya harus menjauh, haris menjaga jarak dariku. Dan langkah kecil itu tentu saja dimulai dari social media. Aku berpikir, kenapa sih harus ada drama follow-unfollow-block-unblock di social media? Kenapa??? Itu semua terlalu kekanak-kanakkan!
Dia juga berkata padaku tentang sesuatu yang sulit sekali untuk kuterima. Maksudku, aku sudah berjanji untuk memaklumi apa pun alasannya. Tapi apa yang dia ucapkan begitu -- begitu ganjil dan tidak masuk akal. Aku tidak mengerti. Yang pasti, pada saat itu aku mengungkapkan apa yang telah kusimpan selama ini terhadapnya. Biar saja! Biar dia menyadari semuanya.
Tapi kemudian, tampaknya aku harus menelan kecewa. Semua upayaku tak membawa perubahan. Dia lebih memilih untuk pergi, sementara aku tidak berhak untuk menahannya. Karena akan lebih sakit jika kubiarkan dia bertahan lebih lama. Jadi, mau tidak mau aku mengikhlaskan pilihannya.
Aku sadar, semua orang memang berhak memilih siapa yang hendak dia jadikan sebagai sahabat ataupun teman hidup. Seperti apa pun keputusannya, tidak seorang pun yang pantas untuk melarang.
Saat menulis kisah ini, aku memang merasakan sakit hati yang teramat dalam. Kecewa sekaligus bercampur putus asa. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menanam benci, sekalipun dia berkata bahwa aku pantas untuk membencinya. Aku tidak mau. Kebencian tidak akan membuahkan apa pun selain kebencian itu sendiri.
Dan jika suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih tetap sama. Sedikit pun tak akan pernah lupa pada seluruh masa lalu kita - meskipun kini ia telah berakhir.
*teruntuk inisial H.A