Write. Anywhere. Anytime.

Senin, 27 Januari 2014

Survive - Tentang Penantian Yang Tak Pernah Usai


Lihat aku di sini
Kau lukai hati dan perasaan ini
Tapi, entah mengapa
Aku bisa memberikan maaf padamu...

Kemilau lampu kota di sepanjang jalan Dago tampak begitu menyilaukan mata. Bunyi klakson kendaraan yang memekik dari arah luar seolah-olah ingin membuyarkan lamunan saya. Rama masih bersenandung di radio. Berada di dalam taksi Gemah Ripah ini semakin membuat leher saya serasa tercekik. Bukan karena pendingin udaranya, tapi karena sebuah lagu yang entah bagaimana -- seperti mengirimkan luka.

Arloji Casio di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh. Bandung belum mati. Masih ada kehidupan di saat-saat seperti ini. Tapi sekarang, saya benar-benar merasa sendiri. Keadaan di sekitar saya berubah sunyi.

Terkenang lagi akan tujuan utama saya ke kota ini. Saya sempat berjanji pada diri sendiri, termasuk pada orangtua saya untuk melakukan perubahan. Saya ingin hidup mandiri dan memulai segalanya lebih baik lagi. Teringat pula betapa besar pengorbanan mereka untuk merelakan kepergian saya. Melihat Bunda terisak dan sosok Papa yang tidak sanggup berbuat apa-apa. Mereka menaruh kepercayaan sekaligus harapan yang begitu besar kepada saya.

Pada saat yang sama, mata saya terasa begitu panas. Saya membayangkan betapa tololnya diri saya sewaktu berada di lapangan gasibu beberapa menit yang lalu. Saya duduk di sana sembari memandangi jalan raya yang dipenuhi sejumlah kendaraan yang sibuk berlalu-lalang. Tiga orang pengamen sedang mempersembahkan sebuah lagu dengan suara sumbang. Sedikit pun tidak menghibur.

Saya menengok ke layar ponsel, berharap lampu LED-nya berkelap-kelip dan memunculkan satu pesan dari seseorang. Namun, saya tidak mendapatkan apa-apa di dalam sana. Berkali-kali saya telah men-dial nomor teleponnya, tetap saja tidak ada jawaban. Saya sempat berpikir, mungkin dia sengaja menghindar supaya tidak berjumpa dengan saya.

Tapi, pada saat itu saya hanya diam dan tidak mau menyalahkan siapa pun. Satu hal yang pasti, saya harus menerima kekalahan saya dengan lapang dada. Berusaha meyakini diri sendiri bahwa akan ada hal baik yang terjadi di kemudian hari.

Taksi yang saya tumpangi baru saja melewati Hotel Bukit Dago. Sebentar lagi saya akan sampai di kamar - tempat di mana saya mengistirahatkan badan beserta pikiran. Setelah itu, mungkin saya akan memutuskan untuk pulang ke suatu tempat yang sebenarnya. Satu tempat yang saya sebut rumah..

Sementara itu, tembang Bertahan milik Rama masih terdengar di telinga ketika saya melangkah keluar taksi.

Meski kau terus sakiti aku
Cinta ini akan selalu memaafkan
Dan aku percaya nanti engkau mengerti bila cintaku takkan mati

Rabu, 15 Januari 2014

Sebuah Pengantar

Dahulu, pernah ada satu masa saat cinta memperkenalkanku pada seorang pria. Bermula dari sekadar perasaan biasa, lalu berlanjut ke sebuah cerita cinta yang dewasa. Saat itu, aku sepenuhnya menyadari bahwa cinta memiliki keajaibannya tersendiri sehingga mampu menghantarkanku ke suatu kisah yang tak pernah kuduga.

Cinta sanggup mengubah dusta menjadi indah, lemah menjadi kuat, ataupun sebaliknya.

Gilang.

Pria inilah yang sempat membangun kerajaan di hatiku. Dialah yang menyatakan bahwa aku satu-satunya wanita yang dia pilih. Aku bangga, bukan main amat bahagia. Sejak saat itu aku pun berjanji untuk bersungguh-sungguh mencintainya.

Tapi kini, segalanya telah berubah.

"Aku pengin kamu bahagia meski tanpa aku," ucap Gilang datar, sedatar ekspresi wajahnya.

Aku tidak bersuara, belum ingin bicara.

Seperti yang kuketahui sebelumnya, kalimat seperti itu bukan kali pertama yang diucapkan Gilang. Rasanya sudah jutaan kali dia melontarkan frasa serupa meski dalam situasi yang berbedia. Dan inti dari seluruh rangkaian kata itu hanya satu; perpisahan.

Terus terang saja, aku benar-benar tidak mengerti seperti apa definisi bahagia menurut dirinya. Setelah cukup sekian lama bersama dan membina rumah tangga, kini dia meminta aku bahagia dan mengikhlasan keputusannya. Bahagiakah aku tanpa kehadiran dia? Bagaimana bisa?

"Monica..." panggil Gilang sepelan mungkin.
"Memangnya kenapa?" Aku balik bertanya. memberanikan diri untuk bertanya.
Dengan terbata-bata, dia menjawab, "Aku – aku udah nggak bisa lanjutin semuanya lagi, Mon."
"Iya, tapi kenapa? Aku butuh alasannya!" Aku bersikukuh mencari tahu asal muasal penyebab keputusan itu.
"I – I just can't."
"Apa kamu suka perempuan lain?" Dari sekian banyak tanda tanya dan jenis pertanyaan yang bercokol di kepalaku, hanya itulah itng sanggup kusuarakan.
"No. That's such an impossible!" Spontan Gilang menjawab seraya mengeraskan suaranya.
"Then, why?" desakku.
"Monica, listen to me... Kamu sendiri tahu kalau aku udah nggak punya pekerjaan tetap. Aku luntang-lantung nggak jelas, kerja serabutan." Gilang membuat pengakuan.  "Aku nggak mampu lagi menafkahi anak sekaligus istri aku. Bahkan, aku nggak bisa jadi sosok ayah yang baik untuk Nadine."

Lagi-lagi, aku tidak mampu berkomentar. Aku lebih memilih diam sembari mencerna kembali segala koleksi alasan yang baru saja dia sampaikan.

Ternyata benar. Kondisi keuangan itulah yang jadi penyebab utamanya.

Dua tahun terakhir ini, Gilang memang tidak memiliki pekerjaan. Setelah kontrak kerjanya habis, Gilang resmi diberhentikan dari perusahan kontraktor perumahan di Pedurungan itu. Namun sesekali, dia kerap mencoba bangkit dan memperbaiki situasi dengan mencari pekerjaan lain. Entah sebagai sopir taksi, petugas keamanan di Minimarket, sales mobil... Hingga kini, mentok di bengkel sebagai seorang montir.

Sejujurnya, tidak jadi masalah besar bagiku. Tidak peduli seperti apa dirinya, apa pun pekerjaannya, bagaimanapun kondisi kami, aku tidak pernah meributkannya sama sekali. Walau kenyataannya, di dunia ini tidak ada istri yang tidak materialistis. Semua istri pasti haus akan nilai materi dan suapan dari seorang suami. Tapi untukku pribadi, selagi aku mampu mengupayakan bersama-sama, kenapa hal macam ini harus dipermasalahkan? Toh aku juga masih punya pekerjaan, meskipun gajiku sebagai guru tidaklah seberapa.

"Lebih baik kita cerai aja," desis Gilang.
"Lang, aku paham sama situasi yang sulit ini. Tapi, apa kita nggak bisa berusaha sekali lagi?" tandasku seraya menahan volume suara. “Demi Nadine, Lang...”
Alih-alih membalas kalimatku, Gilang justru bungkam seribu bahasa. Bibirnya terkatup rapat, - mengunci aneka penjelasan yang sedang melepuh di kepalanya. Air mukanya muram, matanya yang sendu menunjukkan keletihan.
Kesal akan sikap Gilang yang sedemikian kaku, aku pun menyeru, “Gilang!!!” Sudah tidak dapat lagi kukendalikan emosi di dalam diriku ini.
“Nggak bisa,” tukas Gilang singkat.

Praktis, aku tersentak. Terkejut saat mendengar betapa pedih jawaban yang dia berikan. Bagai tinjuan ke ulu hati, semuja itu hampir membuatku tak bernyawa. Sepuluh tahun bersama, menjalin kasih sayang, berbagi dalam bahagia maupun duka, saling bermimpi tentang keajaiban cinta, kini segalanya kandas tak bersisa. Musnah.

Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghadapi kenyataan yang kuterima. Semua itu seakan-akan melumpuhkan kemampuan akal sehatku. Satu-satunya tindakan yang mampu kulakukan mungkin hanya menangis. Terisak sedih sambil terus menyeka bulir-bulir kristal di setiap lekuk wajahku.

Tapi, tangisku yang semakin tak terkendali sama sekali tidak membawa perubahan sedikit pun. Maksudku, aku yakin – sangat yakin – Gilang mengetahui kesedihanku. Sangat tidak mungkin jika dia tidak mendengar sesenggukan yang kutahan. Jadi, apakah hatinya tidak tergerak untuk menenangkanku?

Alih-alih memberi dekapan hangat seperti yang kuharapkan, Gilang justru meloyor pergi begitu saja. Langkahnya tertuju ke ambang pintu utama.

Sebelum kudengar pintu berderit, Gilang berkata, “Besok aku datang lagi ke sini, untuk minta kamu tandatangani surat cerainya.”
Tadinya, aku sangat ingin membuat perlawanan saat kalimat itu lolos dari bibir tipisnya. Namun, apa daya diriku saat ini? Menguatkan diri pun aku sudah tak mampu.

“Aku pulang, Mon...” katanya untuk yang terakhir kali.

Pintu berwarna cokelat itu sempat menganga selama beberapa saat. Tapi, aku tidak berniat menatap sosok tubuh tinggi yang terbungkus busana biru dongker – penuh aroma bengkel itu. Aku tidak mau. Bukan karena sudah tak cinta atau mengikhlaskan kepergiannya, hanya saja aku tidak kuasa.

Dan dalam hitungan detik, daun pintu itu kembali mengatup hingga mengeluarkan bunyi yang sedikit keras.

Kepergiannya membuatku meratapi kembali satu per satu adegan di masa silam. Sekelabat kenangan manis yang berlalu-lalang di kepalaku seolah menciptakan getir pahit yang mengiris-iris pembuluh nadi. Untuk sesaat, aku sempat merasa amat menyesal.

Andai saja dulu aku lebih sanggup menahan ketertarikanku pada milyaran bual manisnya, andai saja aku tidak melakukan kesalahan ketika kami masih berpacaran, mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Mungkin aku tidak perlu menikah di usia dini demi menghindari segala aib yang bermunculan di sekitarku.

Tapi, beginilah yang terjadi pada diriku. Seperti kata sebuah petuah, penyesalan akan selalu hadir di belakang.

Baru setelah kuusap sisa-sisa air mata di pipi, alangkah tercengangnya aku saat menyaksikan putriku yang sedang berdiri di mulut pintu. Tatapannya terarah kepadaku, penuh akan cinta dan kesetiaan. Entah sejak kapan dia berada di sana, aku tidak tahu. Yang jelas, perhatiannya membuatku sangsi.

Dengan segera, aku mendekatinya dan bertanya, “Nadine kenapa belum tidur?”
Nadine kecil pun menggeleng. Dia bersuara, “Papa mana, Mom?”
Pertanyaannya membuatku terenyuh. Aku tahu, cepat atau lambat Nadine pasti akan menanyakan hal itu kepadaku. Di usianya yang baru empat tahun, Nadine sudah memiliki sedikit banyak cerita yang melekat di ingatannya.
Aku mengerjapkan mata, berusaha mengumpul keberanian sebelum menjawab. Kataku, “Papa nggak bisa pulang malam ini, Sayang... Papa lagi banyak pekerjaan.”

Dia menunduk lemas. Ada kekecewaan yang tersirat jelas di kedua bola matanya.
Tapi sebelum kudengar dia memintaku bercerita lebih jauh, aku lekas membimbing tubuhnya ke dalam pelukanku. Berharap dekapan itu dapat menembus ketidakhadiran ayahnya. “Malam ini, Nadine tidur di kamar Mommy aja, ya...” bujukku lirih.
Nadine hanya mengangguk kecil. Selebihnya, dia tetap memelukku dengan erat. Sama halnya dengan diriku.

Pernikahanku dengan Gilang mungkin sudah tidak dapat terselamatkan lagi. Harapan untuk terus bersama hanya tinggal mimpi. Tapi, keadaan ini menyadarkanku pada satu pelajaran besar bahwa aku tidak sepenuhnya sendiri.

Aku masih memiliki Nadine.

Dan sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan putriku menderita krisis kasih sayang. Aku berjanji; sekarang, esok, dan selamanya – aku harus menjaga Nadine dengan sepenuh hati.

Jumat, 27 Desember 2013

Dear Father...


I'm pretty fed up with my father. Long story short, he's not a very good father. He didnt even believe in my passion at all. Sometimes, I wanna get away from him. I know I can move out, but i cant stop wishing if I had a different father, an uncle, or whatever - someone who can treat me like a son, and support what I want to do.

I was physically and emotionally disappointed by my father. As far as I remember, he never care for me , accept me , initiate conversation and give me attention . I hate being lonely. He was never there whenever I need a shoulder to cry on. The day when I was young, he always left me cry in loneliness.

The most important, he never know what I really needed. He always treat me like a stranger, never gave me support for what I did. He's become the reason why I hate another part of myself, the reason why I wanna go out there, the reason why I dont wanna stay here anylonger. I hate when he tried to domimate something that he doesn't understand or shortly -- know me.

I just want to be happy like another. Want to feel like I'm an importance person no matter what happens. Want him to love me even if I walked in the wrong path. I just want to feel the warmth of an embrace.

Back then again when I was teen, he wants me to succeed. But he never had the time to understand my feelings. He never cared what I planned for. Instead, he never really cared for my happiness. I'm still like a stranger in his eyes.

Kamis, 26 Desember 2013

Sebelum Pergi


Semuanya masih terasa sama ketika seulas kata itu terucap dari mulutku.

Bunda hanya bergeming, sedikit pun tak ingin memberi komentar mengenai kalimat yang kusampaikan barusan. Pandangannya kosong, melesat jauh ke arah pepohonan jambu air di halaman rumahku. Angin di luar sana menyapu beberapa helai rambutnya. Tapi dia tak hiraukan. Dia lebih memilih untuk mengunci bibirnya rapat-rapat sambil menahan air mata.

Sesaat kemudian, aku merasa bersalah. Aku benar-benar berdosa karena telah membuatnya terluka. Bahkan, aku selalu mengecewakannya dengan cara seperti ini. Mengungkapkan sesuatu yang tidak ingin dia dengar, hanya untuk melihatnya menjatuhkan air mata.

Peristiwa seperti ini mengingatkanku lagi pada satu tahun yang lalu. Aku baru saja resign dari pekerjaanku waktu itu. Mengundurkan diri lantaran lelah bekerja di bawah tekanan. Dan setelah itu, aku terpikir untuk pergi, berniat melanjutkan hidup dengan cara yang lebih baik lagi. Aku sudah bertekad meninggalkan kota ini.

Tapi saat itu, aku tak menerima apa-apa selain penolakan. Baik Papa maupun Bunda sama-sama tidak memberi izin. Mereka berpikir, akan lebih baik jika aku tetap tinggal di sini sampai tua nanti. Tidak perlu pergi ke mana-mana kalau memang ingin melanjutkan hidup.

Aku memberontak, menyangkal pendapat Papa dengan sejumlah alasan yang meyakinkan. Aku terus berkelakar mengenai apa yang akan kuterima di sana nanti. Sampai pada akhirnya, Bunda mengambil jalan tengah dan mengakhiri perdebatan di antara kami. Dia menangis. Dan satu-satunya orang yang membuatnya menangis adalah aku.

Bunda memang selalu seperti itu. Dari luar, dia tampak begitu tegar. Tapi dia begitu sensitif untuk urusan yang menyangkut perpisahan. Dia tidak pernah sanggup membiarkan satu pun dari kami pergi meninggalkannya. Pernah waktu itu dia menangis sepanjang malam karena tidak sampai hati melepas kepergian Kakakku ke Yogyakarta. Dia masih dapat tersenyum, meskipun matanya terlihat keruh.

Dan hari ini, semuanya terjadi lagi. Aku kembali membuatnya terluka dengan cara yang sama, dengan tujuan yang sama. Bunda tetap tak mau bicara ataupun memberi keputusan. Sama halnya dengan Papa. Mereka masih bungkam, seolah-olah tak mau memberiku kesempatam untuk bahagia.

Minggu, 22 Desember 2013

Kenangan

Dia pernah membangunkan saya di waktu subuh. Hanya untuk mengabarkan bahwa dia rindu dan ingin sekali bercakap-cakap denganku. Dan anehnya, aku sama sekali tidak terganggu. Mataku terbelalak sempurma setiap kali aku membaca pesan darinya..

Aku terjaga. Dan kami masih bercerita.

Pada saat yang sama, adzan subuh mulai terdengar di udara. Kami belum mau menyudahi segalanya. Terus berbicara dan bertukar pikiran sampai kami sepakat untuk menyudahinya.

Dan saat aku menua nanti, aku tak ingin kenangan seperti ini melapuk. Aku ingin terus mengingat dan menjaganya di dalam sanubari. Meskipun aku tahu, kita takkan pernah bisa untuk saling memiliki.

Jumat, 13 Desember 2013

Fragile Heart


Setahun yang lalu, segalanya masih belum serumit ini. Aku masih dapat menikmati gejolak perasaan menyenangkan setiap hari, tersenyum di depan cermin seorang diri, bahkan menulis kata-kata indah di setiap halaman buku binder-ku. Semuanya terasa indah pada saat itu.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Lewat cara konvensional di social media - Twitter - aku dan dirinya sering bertutur sapa. Sekadar bersinggungan mengenai twit-twit yang lucu, berperang sajak, bahkan tak jarang kami berbincang di Direct Message. Dan ya, aku amat bahagia dapat berkenalan dengannya. Aku sudah menganggap dirinya sebagai kembaranku sendiri.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tak terasa kami berjumpa dengan bulan April. Ketika itulah segalanya mulai berubah secara perlahan. Aku mulai sering mengiriminya ucapan selamat pagi, mengucapkan selamat tidur sebelum kami bermimpi, dan tentu - aku sering menuliskannya puisi. Aku bahkan tak ragu-ragu meminta nomor ponselnya pada waktu itu.

Bertukar nomor ponsel seolah menjadi jembatan bagi kami berdua. Kami sering terjebak dalam pesan singkat yang berisi lelucon konyol dan ledekan garing. Aku juga kerap mengabarkannya setiap kali aku menulis. Entah mengapa aku mau melakukannya, aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu, setiap kali berbicara dengannya, darahku berdesir hangat seolah dialiri gelombang semangat tak tanpa batas. Dan aku amat menikmatinya.

Tapi sayangnya, waktu bergulir begitu cepat bagai desingan peluru. Semakin banyak biaya yang kami habiskan untuk percakapan di dunia maya, semakin besar pula bahagia itu tercipta. Dan secara tidak langsung, aku tersadar bahwa aku telah jatuh cinta. Lebih tepatnya, aku telanjur suka. Teramat suka pada sosoknya yang menyenangkan, yang tenang, yang selalu membuatku kangen setiap waktu.

Aku menikmati setiap bulir kebahagiaan itu mengisi kepalaku sepanjang hari. Dan selagi aku terjebak dalam lembah yang dipenuhi warna-warni cinta, aku juga sering dihujani rasa cemburu yang tak beralasan. Aku sering menangis karena rindu terhadap dirinya yang sering menghilang. Bahkan, aku pernah merasakan hal-hal seperti itu selama berbulan-bulan sampai aku tak dapat lagi berpikir secara normal. Akal sehatku seolah-olah mendadak lumpuh.

Hingga pada hari ini, sesuatu yang tak pernah kuharapkan benar-benar terjadi.

Aku tidak tahu apa penyebab sebenarnya. Karena sejak dua hari kemarin, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Aku masih menjalin komunikasi dengannya via pesan singkat. Mengiriminya puisi dan bercakap-cakap barang sejenak. Tapi entah kenapa, sewaktu aku hendak membuka akun Twitter-ku, aku melihat satu keganjilan yang membuatku berpikir; ada yang tidak beres dengan jumlah followers-ku.

Aku tahu, ini masalah yang sepele dan sangat wajar. Namun yang tak kumengerti adalah, seseorang yang tidak berada di sana adalah namanya. Selama sejenak, perutku terasa mulas selagi jantungku berdegup kencang. Kepalaku mulai dihujani sejumlah tanda tanya dan spekulasi burukmyang tak kuketahui dari mana datangnya.

Meraih ponselku, dan mencoba menghubunginya. Sekadar bertanya mengenai alasan atau penjelasan singkat sehingga dia melakukan hal seperti itu. Setelah cukup lama menunggu, dia pun menanggapinya dengan satu kalimat yang berisi kata 'maaf'. Aku tidak mengerti kenapa dia harus minta maaf. Karena bagiku, followers are just a number. Aku bahkan tidak peduli seberapa banyak jumlah followers di akun Twitter-ku.

Sampai pada akhirnya, dia menjelaskan alasannya serinci mungkin. Ada sesuatu yang membuatnya harus menjauh, haris menjaga jarak dariku. Dan langkah kecil itu tentu saja dimulai dari social media. Aku berpikir, kenapa sih harus ada drama follow-unfollow-block-unblock di social media? Kenapa??? Itu semua terlalu kekanak-kanakkan!

Dia juga berkata padaku tentang sesuatu yang sulit sekali untuk kuterima. Maksudku, aku sudah berjanji untuk memaklumi apa pun alasannya. Tapi apa yang dia ucapkan begitu -- begitu ganjil dan tidak masuk akal. Aku tidak mengerti. Yang pasti, pada saat itu aku mengungkapkan apa yang telah kusimpan selama ini terhadapnya. Biar saja! Biar dia menyadari semuanya.

Tapi kemudian, tampaknya aku harus menelan kecewa. Semua upayaku tak membawa perubahan. Dia lebih memilih untuk pergi, sementara aku tidak berhak untuk menahannya. Karena akan lebih sakit jika kubiarkan dia bertahan lebih lama. Jadi, mau tidak mau aku mengikhlaskan pilihannya.

Aku sadar, semua orang memang berhak memilih siapa yang hendak dia jadikan sebagai sahabat ataupun teman hidup. Seperti apa pun keputusannya, tidak seorang pun yang pantas untuk melarang.

Saat menulis kisah ini, aku memang merasakan sakit hati yang teramat dalam. Kecewa sekaligus bercampur putus asa. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menanam benci, sekalipun dia berkata bahwa aku pantas untuk membencinya. Aku tidak mau. Kebencian tidak akan membuahkan apa pun selain kebencian itu sendiri.

Dan jika suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih tetap sama. Sedikit pun tak akan pernah lupa pada seluruh masa lalu kita - meskipun kini ia telah berakhir.

*teruntuk inisial H.A

Kamis, 05 Desember 2013

Reason


Pada suatu hari, aku sangat berharap keajaiban itu dapat terjadi. Di mana kamu menyapaku dengan penuh semangat, lalu meyakinkanku bahwa kamu rindu. Aku pun selalu berharap kamu mengungkapkan satu hal yang lucu. Kamu akan bilang, komunikasi kita terganggu karena sesuatu yang sangat sepele. Beberapa di antaranya karena kesibukanmu yang menumpuk, tidak tersedianya waktu untuk menengok ponsel, atau barangkali kartu prabayarmu belum di-top up. Setidaknya alasan-alasan seperti itu masih dapat kumaklumi.

Tapi, apa pun alasan yang akan kudengar pada suatu hari nanti, aku akan tetap memercayainya. Percayalah...

Jumat, 22 November 2013

The Test


Hari itu, matahari seakan-akan berada di atas kepala. Hawa panas yang bercampur dengan pengap asap kendaraan semakin membuatku merasa gerah. Jalan Jenderal Sudirman selalu seperti ini di siang hari. Aneka kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi setiap ruas jalan.

Aku berangkat dari rumah pukul sembilan pagi. Sengaja minta diantar oleh Dad dengan alasan ingin menjenguk temanku yang sedang dirawat di rumah sakit. Padahal, kalau saja Dad tahu, aku punya tujuan yang lebih penting daripada itu.

Semuanya berawal ketika aku membaca beberapa artikel di internet mengenai gejala pengidap HIV-AIDS. Aku sama sekali tidak berniat untuk mencari tahu tentang hal itu sebelumnya. Tapi berhubung aku ingin menulis cerita terbaru yang ada kaitannya dengan penyakit itu, aku pun mulai mengumpulkan informasi lewat mesin pencaharian; google.

Singkat cerita, ketika aku tersadar betapa pentingnya pemeriksaan HIV-AIDS, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengunjungi rumah sakit terdekat. Sedikit pun tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika aku mengetahui hasilnya tidak sesuai seperti yang kuharapkan. Tapi, we never know until we try. Selalu begitu, kan?

Menjejakkan kaki di sepanjang koridor rumah sakit, aroma obat-obatan dan cairan kimia mulai memenuhi penciumanku. Setiap sudut ruangan yang dikerumuni para pembesuk terlihat begitu mencekam. Hanya dingin, selalu diselimuti kesedihan. Kehadiran pohon ketapang yang tumbuh di tengah-tengah taman pun tidak menghantar suasana nyaman. Seolah-olah ada pesan kematian yang akan muncul di setiap waktu.

Sesampainya aku di Poli Melati, sepi itu menyambutku kembali. Aku tidak melihat kehadiran satu orang pun selain suster yang sibuk berlalu-lalang dan para pengunjung dengan muka masam. Tidak tampak senyum bahagia di wajah mereka. Kalaupun ada, mungkin senyum itu hanya terpancar dari anak kecil yang sedang bersama mereka. Betapa pun bocah itu tidak mengerti tentang apa-apa.

Cukup lama aku duduk seorang diri di Poli Melati. Dokter yang memiliki janji denganku tak kunjung muncul. Dan untuk mengisi kejenuhan yang meruap di dalam ruangan itu, aku tidak punya pilihan selain mengutak-atik gadget kesayanganku. Subway Surfer, Temple Run 2, Angry Birds Season selalu dimain secara bergantian. Sesekali, kala aku merasa bosan dengan permainan-permainan itu, aku beranjak dari duduk dan melihat-lihat isi lemari. Sejumlah obat - pil dan kapsul - terpajang rapi beserta catatannya, satu set suntik yang masih disegel, alat kontrasepsi untuk wanita dan pria, brosur-brosur penyuluhan, dan masih banyak lagi benda-benda yang tidak kuketahui apa fungsinya.

Aku sedang mengintip keluar jendela saat mendengar pintu berderit dan menyaksikan seorang wanita berkerudung biru tersenyum kepadaku. Bu Vivi namanya. Tadinya aku berpikir, dia adalah seorang perawat yang biasa keluar-masuk di Poli itu. Ternyata perkiraanku salah. Bu Vivilah yang akan mewawancaraiku sesaat lagi. Bukan dokter Fauzan Muhammad, seperti yang kubayangkan.

Bersamaan dengan hal itu, Bu Vivi lekas mempersilakan duduk di sofa. Aku sempat merasa takut selama beberapa saat. Terlebih ketika aku harus memaparkan sejumlah pengakuan kepada orang yang belum pernah kukenal sebelumnya. Tapi, Bu Vibi berpesan agar aku terbuka saja. Segala yang kututurkan akan tetap menjadi rahasia di antara kami berdua. Dan aku percaya.

Sesi tanya jawab itu terlewati dengan sempurna. Aku selalu menjawab dengan baik setiap pertanyaan yang dia ajukan. Tidak ada rasa takut sedikit pun untuk membeberkan segala fakta yang berkaitan dengan masa laluku. Bahkan, Bu Vivi mendengarkannya dengan saksama, lalu memberikan pengarahan dan nasihat yang tidak terkesan menggurui.

Begitu sesi tanya jawab itu berakhir, Bu Vivi beranjak berdiri dan langsung menuju lemari yang terletak di sudut ruangan itu. Sebuah suntik kini berada di genggamannya. Aku sudah tahu, pasti dia akan segera mengambil darahku untuk dilakukan pemeriksaan. Oleh karena itulah, aku memohon padanya untuk menggunakan cara alternatif seperti tes melalui air liur atau cara apa pun asalkan tidak disuntik. Terus terang, aku bukan penyuka jarum suntik!
Sembari menggelengkan kepalanya, dia berkata padaku bahwa cuma itu satu-satunya cara yang paling akurat. Karena darah yang diambil, akan diperiksa melalui tiga tahap di laboratorium rumah sakit. Mau tidak mau, aku pun mengiyakan penuturannya.

Aku lebih banyak diam selama proses pengambilan darah berlangsung. Sedikit pun tidak berkehendak menatap jarum suntik sialan itu menghunus ke dalam kulitku sampai ia benar-benar mengisap sepersekian mili darahku ke dalam tabungnya. Benar-benar cara yang kejam! Dan sesaat sebelum Bu Vivi benar-benar pergi ke laboratorium, dia menutupi lipatan lengan kiriku dengan sebuah kapas yang telah dibasahi dengan cairan alkohol. Kemudian berpesan bahwa dia akan kembali menemuiku sesaat lagi.

Lima belas menit telah berlalu. Kebosanan tak henti-hentinya menghinggapi isi kepalaku. Tak hanya itu, suasana di dalam ruangan pun seketika berubah mencekam. Aku takut saat Bu Vivi muncul di hadapanku, dia memberitahukan sebuah kabar yang tidak ingin kudengar. Semua ketakutan itu semakin bertambah parah ketika aku teringat nama-nama orang yang tercantum di daftar Follow Up Pasien, di mana beberapa di antara mereka ada yang telah meninggal dunia dalam waktu dua minggu terakhir. Tapi, aku berusaha mengenyahkan pikiran buruk itu sejauh mungkin. Aku terus menenangkan pikiranku dengan membaca ayat Al-Ikhlas sebanyak 10 kali dan berdoa agar aku diberikan kekuatan yang cukup.

Selang beberapa menit, pintu kaca itu kembali berderik. Bu Vivi benar-benar menepati janjinya untuk kembali. Dia duduk di hadapanku dengan wajah yang sulit sekali untuk ditebak. Bertanya dengan lirih apakah bekas suntiknya sudah hilang? Dan pertanyaan itu hanya mampu kujawab dengan sebuah anggukan. Rasanya aku hilang kemampuan untuk bicara sebelum mendengar keputusan akhir dari Bu Vivi.

Seakan mengerti dengan keadaanku yang sedang harap-harap cemas, saat itu juga Bu Vivi menyampaikan sesuatu yang mengejutkan. Tidak ditemukan virus berbahaya jenis apa pun di dalam darahku. Kondisi CD4-ku pun tidak mengalami penurunan. Itu berarti, aku dinyatakan HIV Negatif!

Entah apa yang terjadi pada diriku pada saat itu, aku tidak tahu persis. Yang pasti, aku tidak mampu berbicara banyak. Ingin sekali rasanya aku berteriak, menangis, tertawa, bahkan sujud di hadapan Bu Vivi pada detik itu juga. Tapi aku tahu, itu hal yang berlebihan. Dan satu-satunya hal yang  dapat kulakukan saat itu adalah berterima kasih sebesar-besarnya. Kepada Tuhan, kepada Bu Vivi, kepada jarum suntik, kepada lemari, kepada rerumputan di tamah rumah sakit, kepada pohon ketapang yang mengirim aroma mistik, aku berterima kasih. Segala yang kuterima pada hari itu tidak dapat terbayarkan dengan materi jenis apa pun. Dan saat itu pula, aku berjanji untuk menjaga diriku dari perbuatan-perbuatan hina seperti yang pernah kulakukan di waktu dulu.

Wednesday, 20 November 2013

Minggu, 10 November 2013

Kangen

Seringkali, aku mengulang segala kenangan tentangmu. Membaca satu demi satu percakapan kita yang terdahulu, memandangi potret wajahmu, dan hal apa pun yang kerap membuatku merindu..

Dalam hati aku terus bertanya, masih adakah sebongkah kangen itu? Masih adakah namaku di relung hatimu?

Dan jika kau menanyakan hal itu kepadaku, mungkin kau sudah tahu jawabannya.. Iya. Aku rindu! Teramat rindu sampai-sampai aku tidak mampu berpikir dengan baik lagi.

Minggu, 03 November 2013

Trouble

Pernah aku berpikir untuk melupakanmu.
Mengenyahkan segala kenangan tentangmu dari dalam kepala.
Tapi, aku tidak pernah tahu bagaimana caraku melakukannya.
Selain itu, aku pun tidak yakin jika tindakan itu sepenuhnya membantu

Jumat, 25 Oktober 2013

Why I Don't Wanna Be an Employee


Siang itu, orangtua saya kedatangan seorang tamu dari jauh. Saya tidak tahu siapa orang itu. Yang saya tahu, mereka terus berbincang-bincang di ruang tamu. Dimulai dari menanyakan kabar satu sama lain, bagaimana kondisi anak-anak, sampai yang menyangkut kehidupan pribadi anak-cucu masing-masing. Saya sendiri sempat mendengar dia menanyakan bagaimana kabar saya. Dan orangtua saya hanya bilang kalau saya jobless dan nggak punya kesibukan apa-apa.

Sontak saya terenyuh. Terkejut sekaligus tidak mengerti bagaimana kalimat itu bisa meluncur dari mulut kedua orangtua saya.

Di dalam kamar, saya masih terdiam. Saya duduk termenung di hadapan laptop yang menampilkan revisi naskah saya sambil merenungi kalimat barusan. Mata saya terasa memanas. Saya pengin menitikkan air mata. Tapi saya tidak mau menunjukkan kesedihan. Saya sudah berjanji untuk tidak menangisi hal-hal yang terdengar sepele.

Namun, saya masih nggak pernah mengerti mengapa orang-orang selalu menganggap sebuah pekerjaan adalah keharusan. Sesuatu yang dinilai komersil dan memiliki nilai jual. Mereka bilang, nggak punya pekerjaan nggak akan bisa hidup. Jujur, saya sendiri pernah berpikir demikian. Tapi itu dulu banget. Saat saya masih memiliki ambisi untuk meneruskan hidup dengan cara yang normal.

Tapi kenyataannya, saya hidup di dunia yang tidak normal. And I’m not normal actually...

Sejauh ini saya justru merasa nyaman dengan kesibukan saya sebagai seorang tenaga pengajar lepas dan seorang penulis – sekalipun itu belum mendapat pengakuan secara luas. Tapi, apakah sebuah pengakuan menjadi nilai tolak ukur yang mutlak? Dan, apakah uang menjadi satu-satunya simbol bahwa orang tersebut memiliki pekerjaan?

Saya tekankan sekali lagi bahwa itu tidak benar. Saya sendiri tidak beranggapan demikian. Bagi saya, pekerjaan adalah sesuatu yang harus dikerjakan berdasarkan sebuah tuntutan. Sementara, profesi adalah sesuatu yang telah dipilih oleh seseorang dengan alasan kecintaan dan keikhlasan. Begitu pula anggapan saya terhadap kesibukan yang saya tekuni sampai pada saat ini. Terus terang, uang adalah urusan yang kesekian. Yang terpenting adalah selama saya cinta terhadap apa yang lakukan, itulah profesi saya yang sesungguhnya.

Saya sudah pernah merasa hidup di bawah tekanan sebuah institusi yang mengharuskan saya bangun pukul tujuh pagi, bersiap-siap kerja dari jam sembilan sampai pukul sepuluh. Dua belas jam dalam sehari, tujuh puluh dua jam dalam seminggu. Terkadang lembur saat akhir pekan. Bayangkan  ketika saya melakukan aktivitas yang hanya itu-itu saja di dalam lingkaran yang teramat membosankan. Sedikit membuat kekeliruan, surat peringatan pun melayang. Begitu menjenuhkan hingga akhirnya saya mengambil keputusan untuk resign dan kembali untuk menulis.

Di pekerjaan saya yang sekarang, memang masih ada sistem yang seperti saya bilang barusan. Bangun pagi, mandi, mengajar dari jam sekian sampai jam sekian, menulis dari jam sekian sampai jam sekian. Tapi terus terang, siklus tersebut diciptakan oleh saya sendiri. Andaipun saya melanggarnya, saya harus menerima konsekuensi dari saya pribadi. Bukan dari orang lain.

Dan saya merasa nyaman dengan aktivitas tersebut.

Yang saya tidak habis pikir, entah kenapa kalimat seperti itu tercetus dari mulut orangtua saya? Saya pernah berangan-angan, suatu hari nanti mereka bersedua menuturkan sesuatu di hadapan teman-temannya bahwa saya seorang penulis, dengan bangganya pula menyatakan bahwa saya tidak bekerja pada suatu perusahaan ternama yang memberi saya upah per bulan. 

Saya pun sangat berharap orang-orang dapat memahami maksud dan tujuan kehidupan saya. Saya sengaja berkarya karena ingin berbagi, bukan untuk mencari uang. Dan saya senang dengan apa yang saya lakukan sekarang.