Write. Anywhere. Anytime.

Sabtu, 02 Mei 2015

Chapter 5 - Pantai, Sosial Media, dan Kamu

“...Please leave a message after the beep.”

Seribu kali aku menghubungi Texas, seribu kali pula suara itu mengiang di telingaku. Suara operator sialan yang membuatku sadar bahwa jarak adalah sesuatu yang sulit untuk dikalahkan. Tak peduli seberapa besar aku berusaha, rindu yang kutanam tak akan pernah terbalas.

Aku sudah memeriksa seluruh jejaring sosial yang dimilikinya. Dimulai dari Twitter; Facebook, Instagram, hanya untuk memastikan Texas sempat mengunggah sesuatu dalam beberapa waktu belakangan. Namun tetap saja, dia tidak pernah berada di sana. Texas bukan seorang internet-addict seperti orang-orang pada umumnya.

Terkenang lagi saat aku dan Texas berlibur di salah satu pantai di Pulau Bangka. Pantai Parai namanya. Di bawah terik matahari bulan Juni, ditemani suara ombak yang berderu dan nyanyian burung laut, rasanya tak ada yang lebih indah selain dapat berdua bersama Texas di pagi yang cerah itu.

Kami berdua berbaring di atas pasir putih yang sehalus gula. Keheningan membuat kami hanyut dalam kesibukan masing-masing; Texas dengan buku bacaannya, sementara aku berkutat di depan layar Blackberry-ku. Angin yang berdesir dari belakang membuat leherku dihujani rasa sejuk. Pelepah pohon kelapa ikut bergoyang ke sana kemari mengikuti arah angin bertiup.

Di antara kebisuan yang menyatu dengan simfoni alam itu, aku memamerkan satu artikel yang kutemui di salah satu  portal berita ternama di Indonesia. Artikel itu berisi tentang seorang pelajar SMA asal Bogor yang divonis penjara lantaran menulis sesuatu yang kurang pantas di Facebook. Tulisan itu ternyata memancing emosi sehingga terjadi aksi saling memaki antara kedua belah pihak. Tidak ada yang menyangka kasus tersebut akhirnya ditangani polisi dan berujung di pengadilan.

“All those fucking social networks can make anything more difficult.” Begitu katanya dulu.

Aku melepas Blackberry-ku dari genggaman dan meletakkannya asal-asalan di sebelahku. “Bukannya kamu selalu peduli sama hal-hal yang berbau hukum?” Menyinggungnya pada salah satu pihak terkait yang terlibat kasus pencemaran nama baik lewat Facebook.

“Tergantung kasusnya.” Texas menutup buku Pride and Prejudice yang dibacanya sejak tadi. Memandangku dari balik kacamata hitam itu sambil berkata, “Kontroversi yang terjadi pada media sosial biasanya bersumber dari hal sepele. Semata-mata cari sensasi. Mereka harusnya tahu, internet seperti pisau bermata dua. Punya kelebihan, tapi bisa juga sangat merugikan.”

Dia bilang, segalanya dapat menjadi mungkin lewat dunia maya. Orang biasa bisa terkenal lewat Youtube, selebritis semakin populer dengan bantuan fanpage di Facebook. Begitu dahsyatnya pengaruh sosial media di kehidupan nyata, sampai kita sering melupakan; hal-hal demikian bisa menjadi bumerang untuk diri kita sendiri.

“Contoh kecilnya kayak gini nih – “ Texas menepuk-nepuk kedua telapak tangannya yang ditempeli pasir pantai sambil berkata, “Kamu posting foto bareng seseorang ke Facebook. Padahal kamu nggak tahu kalau teman kamu itu pernah melakukan tindak kriminal, sebut saja kleptomania atau tukang bawa kabur uang orang.”

“Enak aja! Aku nggak setolol itu juga, kali.” Memutar kedua bola mata dan siap mencibir. “Aku tahu mana yang bersifat umum dan mana yang privat. Lagi pula, aku nggak pernah temenan sama tipe orang kayak gitu.”

“Sekadar perumpamaan. Don’t get me wrong, Babe.” Dia menyeringai lebar, tahu bahwa kisahnya terinterupsi oleh cibiranku. Tapi, Texas sama sekali tidak merasa keberatan. Dia malah mendekatkan wajahnya pada wajahku, sehingga aku dapat merasakan dengan jelas napasnya berembus.

Dan, hal pertama yang ingin kulakukan pada saat itu adalah melumat bibirnya. Terbayang setiap kali anak rambut di dagunya bersentuhan dengan kulitku sehingga kerap menimbulkan sensasi geli.

“Dalam kasus yang aku sebutkan tadi, secara tidak sengaja kamu udah membantu orang lain yang punya urusan sama buronan itu. Mereka cukup interogasi kamu, berbagi infomasi, selanjutnya tinggal cari keberadaan Si Buronan.”

“Social media makes nobody to be somebody.”

“Itu kelebihannya. Kekurangannya?” Pandangannya lurus ke arah lautan. Dia meneruskan, “Orang bakal beranggapan kamu salah pergaulan. Orang juga bisa berpikir kamu sekongkol sama buronan itu.”

Semua perandaian itu membuatku sadar kenapa Texas tidak peduli terhadap Facebook dan semacamnya. Ada banyak cara yang lebih baik untuk berbagi dan menerima infomasi tanpa perlu mengandalkan jejaring sosial. Dia bilang, pesan elektronik lebih efektif meskipun terbilang konservatif.

“Terus gimana sama mereka yang berhubungan jarak jauh?” Aku masih sempat menyanggah, “E-mail kan nggak cukup. Mereka pasti butuh video-chat kayak Skype...”

“Then built trust with each other.” Texas tersenyum dan kembali menekuni bukunya.

Itulah alasan mengapa aku mengagumi sosok Texas sampai saat ini.

Texas selalu menilai segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Pola pikirnya sulit untuk diprediksi. Bahkan, apa pun yang dia lakukan tak pernah salah di mataku. Dia selalu mempertimbangkan setiap konsekuensi yang akan dia terima sebelum bertindak.


Dan aku sepenuhnya percaya, dia tidak akan pernah mengingkari ucapannya.[]
Sabtu, 25 April 2015

This is How Goodbye Feels Like

Sebagian orang berpendapat, ketika hujan turun, itu artinya ada seseorang di tempat yang jauh sedang menangis. Entah menangis karena sedih, atau mungkin karena terharu. Keduanya sama-sama menitikkan air mata.

Mendongakkan kepala selagi kedua kakiku menyambangi jalanan yang terasa lengang daripada biasanya. Awan kelabu membentuk gumpalan tebal di atas sana. Tampak sebuah kilatan kecil yang menyala-nyala di kejauhan. Dalam hati aku membatin, sebentar lagi pasti akan turun hujan.

Aku menengok lagi ke arah belakang. Sebuah bangunan berlantai tiga dengan pintu pagar yang menganga di depannya. Selama beberapa saat, aku masih berdiri di sana sambil mengamati tempat itu baik-baik. Membayangkan sepuluh bulan terakhir yang kulewati dengan tawa dan air mata. Sepuluh bulan yang telah menorehkan banyak sekali peristiwa.

Itu adalah hari di mana aku sedang meringkuk di dalam selimut dengan kondisi setengah terpejam. Beberapa menit yang lalu, aku sudah terbangun dari tidur. Namun udara dingin dan sisa hujan di luar sana membuatku enggan untuk beranjak turun. Mom tiba-tiba muncul di ambang pintu kamarku. Napasnya putus-putus. Menyampaikan sesuatu yang – terus terang saja – belum ingin kuketahui.

Mataku membelalak seusai mendengar berita terlontar dari mulut Mom. Di satu sisi, aku tidak dapat membendung rasa bahagia. Sebagian yang lain justru merasakan gejolak aneh yang membuat perutku seperti dipelintir. Pukul sepuluh pagi, tanpa persiapan apa-apa, aku langsung disuruh bekerja.

Aku mungkin sedang bermimpi.

Entah dari mana datangnya kekuatan itu, aku menuruni tempat tidur dan segera menuju kamar mandi. Sekadar membasahi tubuhku tanpa sempat menyentuh sabun maupun secuil shampo ke kepalaku. Sementara mulutku terus merutuk kesal lantaran tidurku jadi terganggu. Egois memang jika aku masih memikirkan waktu tidurku. Namun suatu hari kelak, aku akhirnya menyadari bahwa itu bukanlah waktu tidur, melainkan waktu bermalas-malasan.

Aku membetulkan kardus yang kupeluk sejak tadi. Aneka kertas dan buku kosong, sejumlah alat tulis yang tersimpan dalam kotak pensil, rasanya masih seperti mimpi. Aku bahkan masih sulit memercayai bahwa ini akan jadi hari terakhirku.

Terbayang lagi saat aku melangkah ke dalam ruangan dan duduk berhadapan dengan atasanku. Jantungku berdegup sepuluh kali lebih cepat. Telapak tanganku mulai basah oleh keringat. Satu demi satu kalimat telah terucap. Napasku kian memburu. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara untuk mengendalikannya.

Lima belas menit berlalu dalam keheningan. Bunyi jarum jam sanggup mengalahkan suaraku yang terlalu lirih. Sampai semuanya telah tersampaikan pun, aku belum dapat bernapas dengan baik. Rasanya seperti habis berlari 1000 kilometer.

Hal itu juga sepertinya dirasakan oleh orang yang berhadapan denganku. Aku dapat melihat mata lelahnya berkaca-kaca. Artikulasi kalimat yang dia ucapkan terdengar kurang jelas. Mungkin aku salah. Tapi, mungkin aku juga benar. Bahwa dia pun merasakan kehilangan.

Semua orang tentu merasakan kehilangan.

Memang tidak dapat kupungkiri, banyak sekali yang kupelajari selama aku berada di sini. Seluruh hal yang tidak pernah kuketahui sebelumnya, berbagai istilah yang asing di telinga, menjadi pengalaman yang bisa kugunakan di masa depan. Pengalaman adalah guru yang paling baik, bukan?

Hujan turun perlahan. Mataku terasa perih. Bangunan yang berdiri tegak di hadapanku kini justru terlihat seperti tempat yang istimewa. Sebuah tempat yang menawarkan segalanya. Sebuah tempat yang akan membuatku rindu dan ingin kembali.

Mungkin kembali, suatu hari nanti.
Minggu, 05 April 2015

Chapter 4 - Pulang Bersama


Ada banyak hal di dunia ini yang bisa saja terjadi dengan mudah tanpa pernah kita prediksi sebelumnya.

Itulah yang kualami saat aku dan Heru sedang dalam perjalanan menuju rumahku.

Dia mengajakku berbincang-bincang agar saling mengenal satu sama lain. Bertanya siapa nama lengkapku, apa saja hobi yang kugemari, pekerjaan apa yang kugeluti saat ini, lulusan universitas mana. Dan aku menjawab semua pertanyaan itu tanpa ada yang harus ditutup-tutupi.

Heru setahun lebih muda daripada aku. Dia sibuk menyelesaikan tesisnya untuk mengambil gelar Master di NTU, Singapore sana. Selain gym, aktivitasnya lebih banyak diisi sebagai master of ceremony di beberapa perhelatan besar seperti; launching kafe, bedah buku, bisnis properti dan acara-acara berkelas lainnya.

Rintik gerimis yang hinggap di kaca mobil menyisakan titik-titik embun. Hujan memang kerap muncul beberapa waktu belakangan ini. Apalagi di pengujung bulan Februari. Angin malam yang berembus dari luar berhasil masuk dan menggigit rusukku, meskipun AC mobil telah dimatikan.

“Yang sebelah kiri itu rumah gue.” Aku menunjuk sebuah rumah bercat putih dengan pagar besi. Lampu terasnya menyala terang. Sama halnya dengan cahaya yang menyeruak lewat jendela di lantai atas.

Dan tentu saja, itu kamarku!

Heru memperlambat laju mobilnya untuk mengurangi kebisingan. Hitung-hitung menghindari gerutu atau amukan dari para tetangga yang mungkin sedangn beristirahat.

Dia menatap layar jam digital yang mnempel di atas dashboard mobil. Empat digit angka berwarna biru itu menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh. Kurang beberapa menit lagi menuju tengah malam.

“Orangtua lo bakal marah kalau lo pulang larut malam?”

Aku menyengir. “Mungkin marah, kalau gue masih SMP.”

Heru ikut-ikutan tertawa. Suaranya bergema memenuhi atmosfer di dalam mobil ini.

Dia bertanya lagi, “Besok masuk kerja jam berapa, Dam?”

Aku tercenung. Bukan karena aku enggan memberi jawaban. Hanya saja, pertanyaan itu terdengar seperti keingintahuan yang bermakna khusus.

Mataku tertambat pada sebuah lambang Nazi yang bergelantungan di kaca spion. Benda itu sepertinya terbuat dari stainless stell. Didesain dan dimodifikasi sekreatif mungkin sehingga menjadi hiasan mobil. Aku jadi bertanya-tanya, apakah orang ini adalah pendukung Nazi dan Mussolini di zamannya?

“Dam...” Tangannya tiba-tiba mendarat di bahuku.

Aku terperanjat kaget mengetahui tindakannya. Sadar bahwa aku tidak menginginkan sentuhan itu sama sekali. Namun, Heru segera mengenyahkan tangannya saat aku menoleh dan mengujar, “Nggak tentu, namanya juga freelancer.”

Seperti itu saja responsnya. Jadi kurasa, sudah saatnya aku menarik kenop pintu mobil, mengangkat kaki dan berjalan ke dalam halaman rumahku detik ini juga. Untuk apa berdiam diri di sini tanpa ada satu topik yang dapat kami perbincangkan?


Tepat saat aku hendak meneruskan niatku, Heru segera menyelinap keluar hingga aku tak yakin dapat mengalahkan gerakannya. Maksudku, dia hanya berlari kecil. Tidak seperti gerakan seorang vampir di filem-filem yang pernah kutonton.

Heru yang sudah berada di luar langsung membukakan pintu mobil untukku, mempersilakanku turun dengan cara yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Bagi sebagian orang, perlakuannya mungkin terbilang manis dan cukup romantis. Tapi entah kenapa, bagiku hal seperti itu terlalu norak dan – menggelikan! Karena lucu sekali jika ada seseorang yang baru kukenal beberapa jam lalu, tiba-tiba menunjukkan perilaku aneh seperti itu.

Satu-satunya tindakan yang hendak kulakukan hanya melangkah keluar dari dalam mobilnya. Berjalan seakan tidak terjadi apa-apa. Walaupun pada akhirnya aku harus berkata, “ Terima kasih untuk tumpangan gratisnya.”

“Jangan sungkan. Gue sama sekali nggak merasa direpotkan.” Sebuah senyum tergurat sempurna di wajahnya.

“Gue – masuk duluan, ya,” ucapku sambil melingkarkan kedua lengan di pinggang, demi mengusir rasa dingin.

Heru mengangguk, mengizinkan aku untuk kembali ke rumah. Tidak beberapa lama sesuai membukakan pintu pagar, dia justru menggamit lenganku dan berseru, “Tunggu sebentar.”

Aku mengernyit heran. “Apa lagi?”

“Nanti gue bakal mention ke Twitter lo kalau gue udah sampe rumah.”

Lagi-lagi masalah Twitter! Kami memang membicarakan hal itu sejak  perjalanan tadi. Namun aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia perlu memberiku kabar seperti itu sedangkan kami baru bertemu.

Mention-nya nggak akan gue balas. Ya – barangkali gue bakal nge-block akun lo, terus ambil tindakan report as spam.”

“Gue bakal bikin akun baru,” balasnya bersikeras.

“Coba aja kalau berani!”

Heru kembali melepaskan tawa, sama sekali tidak tersinggung akan penuturanku. Tawanya begitu hangat, seksi, dan memikat sehingga aku merasa ditelanjangi – tidak mampu berbuat apa-apa melainkan kejujuran kalimatku sendiri.

“Bercanda. Lagian gue bukan anak ABG yang doyan minta follow-back atau berusaha di-follow seseorang.”

Aku tersenyum, bersyukur karena dia tidak menanggapi ucapanku terlalu serius.

“Cepat tidur. Kayaknya lo udah ngantuk.”

Well, then. Good night.” Aku berpamitan, sepenuhnya sadar sewaktu melontarkan kalimat selamat malam itu. Karena meskipun Heru bukan siapa-siapa, tetapa saja kata-kata itu mengundang secuil perhatian yang mampu membuat wajahku merona. Setidaknya itu yang tengah kurasakan.

Aku masih mematung di depan pintu pagar, menyaksikan Heru melangkah ke dalam kecebong merahnya, kemudian mulai menyalakan mesin mobil. Tersenyum ketika dia menurunkan kaca jendela dan berusaha memutarbalikkan mobilnya ke arah yang berlawanan.

Hanya butuh lima belas detik sampai Toyota Yaris yang dia kendarai menembus kabut tebal di kompleks perumahanku.
Kamis, 19 Februari 2015

Chapter 3 - Apollo Bar

Setelah sekian lama dan untuk ketiga kalinya, aku mengunjungi Apollo.

Karena entah bagaimana, rumah seolah berubah menjadi tempat yang amat membosankan. Tak ada lagi kenyamanan dan kehangatan. Aku sendiri tidak menyangka jika peristiwa waktu itu bisa membawa dampak buruk terhadap sesuatu yang belum pernah kuprediksi sebelumnya. Papa mulai jarang pulang dan lebih memilih bermukim di rumah dinasnya. Bunda semakin sibuk dengan pekerjaannya di klinik. Sementara itu, aku dapat merasakan hubunganku dengan David semakin menjauh.

Seperti ada tembok besar yang membuat kami lupa satu sama lain.

Aku sepenuhnya sadar, semua itu disebabkan olehku – murni kesalahanku. Fakta sederhana bahwa akulah satu-satunya orang yang menyeret adikku ke dalam masalah. Satu-satunya orang yang terlalu percaya diri untuk tampil di tengah gerombolan anak-anak. Tanpa pernah menebak, mereka pasti memvisualisasikanku sebagai pria lemah lembut dan gemulai.

Dan tujuan utamaku mendatangi tempat ini bukan karena aku hendak menatap warna-warni lampu disko sambil menikmati sebotol bir sampai tak sadarkan diri. Aku hanya ingin menemui Bagas. Sekadar bertatap muka dan menceritakan betapa rumitnya masalah yang muncul akhir-akhir ini. Atau barangkali, Bagas mempunya satu cerita mengenai Texas yang belum pernah kuketahui sebelumnya.

“Bir atau cocktail?” Seorang bartender menghampiriku yang tengah melamun di meja bar. Dia berdiri di sana sambil ber-juggling ria dengan botol shaker-nya.

Aku memandang cowok itu dengan alis mengernyit. Berpikir apakah semua bartender di tempat ini harus mahir beratraksi penuh gaya – memutar, melempar botol di udara, lalu menangkapnya – di depan pelanggannya.

“Nanti aja.”

Tidak butuh waktu lama sampai bartender itu menghampiri pelanggan yang lain di ujung bar. Tiga pria metropolitan dengan setelan trendi yang sibuk jelalatan ke sana kemari. Barangkali sedang mencari mangsa di antara lautan manusia yang tengah asyik berjoget itu.

Mengedarkan pandangan ke sepanjang meja bar selagi aku memulai pencarian. Orang-orang dengan kemeja hitam, slayer hitam terikat di kepala, piercing di telinga – terlihat seperti satu keharusan bagi para bartender itu.

Dalam hati aku bertanya, mengapa Bagas sama sekali tidak terlihat?

“Eh, Bro!” panggilku kepada seorang bartender lain yang tengah mengelap meja kerjanya.

Dia menyampirkan lapnya ke bahu. Menghampiriku dan melempar pertanyaan yang sama, “Bir atau cocktail?”

“Bukan...” Aku menggeleng takjub. “Gue mau cari Bagas. Ada lihat dia nggak?”

“Bagas – “ Dia memutar kedua bola matanya. “Bagas yang mana, ya?”

“Bagas yang kerja di sini, yang jadi bartender,” ujarku sambil mengetuk ujung jari tengah di atas meja bar.

“Waduh, gue kurang tahu, Bro. Gue baru dua bulan kerja di sini masalahnya.”

Musik berdentum semakin keras. Lampu laser bergerak lincah seperti sorotan mercusuar. Aku memperhatikan panggung yang kini mengeluarkan efek asap berwarna-warni. Samar-samar terlihat beberapa pria yang muncul di antara gumpalan asap itu.

Pria-pria berbadan tegap yang hanya mengenakan briefs sebagai pelengkap.

Sorak-sorai penonton melambung di udara menyambut kedatangan mereka. Tentu saja, inilah satu pertunjukan yang ditunggu-tunggu. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menonton aksi seronok para pria nyaris bugil di atas panggung. Tak ada larangan bagi siapa pun yang mau menggoda atau meraba-raba tubuh mereka. Bahkan, ada yang rela merogoh kocek lebih dalam hanya untuk menikmati fasilitas short-time dengan para penari erotis itu.

Aku tiba-tiba teringat seseorang.

“Kalau sama Tommy yang anak go-go boy, lo kenal?” tanyaku setengah berteriak, mencoba menyaingi lagu I Don’t Like You-nya Eva Simons yang di-remix sedemikian oleh DJ.

Tommy kerja di Apollo juga. Semua orang mengenalnya sebagai go-go dancer. Meskipun harus kukatakan – dia juga berprofesi sebagai escort yang biasa dipanggil untuk acara-acara tertentu. Bagas yang mengenalkannya padaku dulu. Selain itu, Tommy pernah memiliki keterkaitan dnegan Texas, di mana keduanya sempat berpacaran untuk waktu yang singkat di masa lalu.

Dan seandainya  aku bertemu Tommy, barangkali dia juga tahu keberadaan Bagas.

“Kurang tahu juga, Bro,” jawabnya polos. “Setahu gue emang banyak dancer lama yang udah pada cabut.”

Aku tertunduk lesu. Meratapi semua agenda yang telah tersusun rapi, namun hancur berantakan dalam waktu kurang dari 1 jam. Tidak ada satu pun dari rencana itu yang berjalan sesuai keinginan. Aku bahkan tidak tahu harus melarikan diri ke mana. Tak ada lagi tempat yang bisa dijadikan persinggahan.

Sebagian besar pengunjung Apollo kini mengerumuni area panggung. Lantai dansa terasa lengang. Mengamati kemeriahan yang berlangsung di atas sana dari kejauhan. Ada empat orang pria muscle bertopi pelaut sedang meliuk-liuk seperti ulat. Tubuh mereka yang dibanjiri keringat tampak berkilauan di bawah sorot lampu. Dua di antara empat orang itu saling berhadapan dan menggerayangi satu sama lain.

Dua tahun lalu, aku pernah menyaksikan pertunjukan serupa di sini. Texas duduk di sebelahku waktu itu, lebih tertarik berbincang dengan Bagas yang baru kukenal dalam hitungan menit. Sesekali Texas menegurku hanya untuk menawarkan minum dan mengajakku bergabung dalam percakapan mereka.

Tapi aku mengabaikan imbauannya. Tak pernah merasa nyaman saat berbincang dengan orang-orang baru.

“Punya lighter?”

Aku tersentak kaget dan praktis menyudahi semua lamunan. Menolehkan kepala pada seorang cowok bertubuh jangkung yang tiba-tiba saja berada di sebelahku. Sebatang rokok putih teracung di antara telunjuk dan jari tengahnya. Dia terus menatapku dalam-dalam sampai aku terdiam dalam kebingungan.

Cricket? Umm – “ Aku mulai bertingkah tidak keruan, melirik ke sekitar kemudia meraba saku jinsku. “Sori, gue nggak merokok.” Karena memang benar, aku sudah berhenti merokok sejak dua tahun terakhir.

Dia mengangguk sambil menyeringai. “That’s okay.” Cowok asing berkemeja denim ini pun membalikkan badan dan memanggil seorang bartender. Berbicara sedemikian dekat untuk meredam bunyi bising yang berasal dari sound system. Tak beberapa lama, bartender itu kembali dengan membawa sebuah korek gas Zippo dan meletakkannya di atas meja.

Api Zippo perlahan menyambar ujung rokok sampai mengeluarkan asap kecil. Refleks membungkam mulut dan hidung dengan kedua telapak tangan supaya terhindar dari zat beracun itu.

“Lo terganggu?” Cowok itu memandangku dengan tatapan bersalah. “Maaf. Gue nggak tahu lo alergi asap rokok.”

Dan sebelum aku sempat menanggapi ucapannya, dia lebih dulu mematikan rokok itu ke alam asbak di hadapannya.

“Dulunya gue emang bukan perokok. Anti banget malah sama asapnya.” Dia mengulas tanpa kuminta. Meneguk cairan merah di gelasnya sebelum bercerita, “Sekarang boro-boro mau berhenti, sehari aja biasa habis dua bungkus.”

Aku hanya tersenyum tipis, tidak tahu menunjukkan reaksi yang tepat terhadap kisahnya. Dalam hati menduga-duga, cowok ini pasti sedang kesepian. Dia datang ke sini untuk menghibur diri; minum-minum sambil mencari teman untuk berbagi cerita.

Musik di sekeliling kami memelan sejenak. Lampu laser masih berkelap-kelip, hanya saja dalam kecepatan yang sedikit lambat. Leherku terjulur untuk mencari tahu keanehan yang sedang terjadi.

Cowok dengan potongan rambut a la Morrisey itu bersuara, “Bagian dari pertunjukan. DJ sengaja bikin situasi kayak gitu supaya audience ikutan cooling down.”

Tingkahku barusan mungkin agak konyol dan kelewat parno. Karena terus terang saja, pengalamanku di dunia malam masih sangat kurang. Bisa dibilang, aku perlu membiasakan diri dengan hal-hal seperti ini.

“Sama siapa ke sini?”

“Sendiri,” jawabku datar. “Lo?”

Dia mengedikkan jempolnya ke balik bahu, satu isyarat bahwa dia tidak datang sendirian.Dugaanku sebelumnya ternyata salah besar.

“Gabung yuk! Temen-temen gue lagi di table tuh.”

Perasaanku semakin tidak enak. Mencium sesuatu yang ganjil dari ucapannya. Perutku seperti dipelintir sewaktu kami berpandangan.

Sekilas kulirik arloji digital di pergelangan tanganku. “Gue mesti pulang.” Ucapanku terdengar seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kaca.

“Cepat amat! Acaranya kan masih belum selesai.”

“Mendadak ngantuk nih.” Ralat, maksudku mendadak jenuh.

“Lo yakin?” Sepertinya dia sedang berusaha mengulur-ulur kepergianku.

Aku mengangguk mantap, tidak perlu membantah maupun mengalah. Meyakinkan diri untuk turun dari kursi tanpa perlu berpikir dua kali. Berusaha membuang muka saat melewati meja yang dihinggapi sekelompok pria bertampang mesum. Dan pada saat itu, aku sepenuhnya menyadari bahwa tidak ada gunanya berlama-lama di tempat ini.
Selasa, 17 Februari 2015

Chapter 2 - Mistake

Rutinitas yang biasanya dikerjakan Papa atau Bunda kini dialihkan kepadaku. Aku menangani David sejak tadi pagi. Mulai dari menyiapkan bekal makanan, memeriksa penampilan David agar terlihat menarik, mengantarnya tepat di depan pintu kelas, sampai menjemputnya saat jam pelajaran di sekolah berakhir.

Tidak sedikit pun aku merasa kesulitan terhadap seluruh rangkaian pekerjaan itu. Aku menekuninya dengan sepenuh hati tanpa merasa terbebani. Karena sedari dulu, aku percaya, lebih baik mengerjakan sesuatu yang kecil dengan penuh cinta daripada melakoni sesuatu yang besar secara terpaksa.

Namun, sesuatu yang tidak biasa mulai terasa saat kami dalam perjalanan pulang. David terus memelintir ujung tali tasnya tanpa bicara sedikit pun. Pandangannya kosong. Aku tidak tahu persis apakah dia sedang sedih karena kehilangan sesuatu, atau rindu terhadap seseorang... Satu hal yang pasti, dia terlihat seperti menjaga jarak denganku.

Aku mulai bertanya, “David mikirin apa, sih?”

Dia hanya menggeleng, tanpa mengucap satu patah kata pun dari bibir mungilnya.

“Tadi dimarahi guru, ya? Atau uang jajannya hilang pas jam istirahat?” Menduga-duga, hal seperti itu adalah penyebabnya. “Kamu kalau ada masalah, cerita aja sama Kakak. Janji deh nggak bakal kasih tahu siapa-siapa.”

“David mau tanya sesuatu,” David mendesis. Suaranya terlalu lirih hingga nyaris tak terdengar di telinga. “Tapi Kak Adam jangan marah.”

Aku meletakkan tanganku di atas kepalanya. “Tanya aja,” ucapku sambil mengusap rambut ikalnya.

“Pas istirahat, teman-teman iseng sama David. Mereka ngolok-olok Kakak.” David berhenti beberapa detik untuk mengambil napas. Tapi aku semakin tidak sabar menanti kelanjutan kisah itu sampai kudengar dia berbicara, “Kata mereka, Kakak kayak bencong.”

Perutku menegang tak keruan. Aku mendadak kesulitan memenuhi paru-paruku dengan oksigen seusai mendengar penuturan David barusan. Sedikit pun tidak mengerti bagaimana dan seperti apa asal muasal kejadian itu. 

Tapi kemudian, pikiranku kembali terlempar pada momen di mana semua itu bermula.

Aku berjalan di halaman SD Bhakti Mulya, bersama David di sisi kiriku. Melewati selasar yang dipenuhi para siswa dengan seragam olahraga putih-biru. Beberapa di antara mereka ada yang masih ditemani orangtua masing-masing. Dan memang, beberapa pasang mata sempat melihat kedatanganku ketika aku hendak tiba di pintu kelas David. 

Awalnya aku berasumsi, mungkin mereka pikir aku ini single parent atau sosok pria yang memiliki anak di usia muda.

Tapi ternyata, perkiraanku salah.

“Jawab, Kak...” rengek David, memandangku nanar.

“Teman-teman David mungkin cuma bercanda. Namanya juga anak-anak, kan?” ujarku, berusaha menjelaskan. “Jangan terlalu dipikirin.”

“Kalau cuma main-main, kenapa mereka suruh aku – supaya jauh-jauh dari Kak Adam?” Suara David meninggi, meskipun kalimat terakhir itu diucapkan dengan sedikit terbata-bata. “Mereka bilang nggak boleh main sama Kakak lagi, nanti aku jadi bencong!”

Kontan, aku terenyuh. Menyadari bahwa aku telah terlibat dalam kasus klasik di masa perkembangan kanak-kanak dan lingkungan sekitarnya.

Aku baru mau menjawab saat seorang pengendara sepeda motor menyalip tiba-tiba di depan kami. Bunyi knalpotnya yang bising meninggalkan asap pekat sehingga jalanan di depan tampak kabur. Menekan klakson keras-keras sambil mengumpat dalam hati. Sebagian kekesalan itu berasal dari kisah David yang membuatku tak habis pikir.

“Gini aja, besok Kakak datang ke sekolah buat nasihati teman-teman David, ya. Biar mereka minta maaf sama David.”

Sungguhpun aku berharap David setuju dengan saran yang kuberikan. Dengan begitu, masalah ini tidak perlu dipikirkan berlarut-larut. Tapi aku sadar, David bukan lagi anak kecil yang tidak tahu apa-apa seperti pertama kali Bunda membawanya ke dalam keluarga kami. David yang sekarang telah tumbuh cerdas dan memiliki daya ingat yang kuat.

“Nggak mau!” David menepuk jok yang didudukinya. “Pokoknya besok David nggak mau sekolah!”

Dia membuang muka ke luar jendela di sebelahnya. Enggan sekali bertatapan denganku barang sedetik. Sempat terpikir untuk menepikan mobil dan membuat satu keputusan dengan David. Tapi, aku segera membuang pikiran itu dari kepalaku. Sudah terlalu lelah dan putus asa untuk membicarakan hal ini lebih jauh.
Lagi pula, membodohi anak kecil bukanlah kemampuanku.
Sabtu, 14 Februari 2015

Pertemuan Pertama (Perkara Senja Di Kota Bandung)

Alungkeun ka dieu atuh, Bray!”

Lengkingan suara yang cukup nyaring itu membuatku spontan menoleh ke belakang.  Menyaksikan seorang anak kecil berambut cepak yang tengah menanti kehadiran bola dari temannya. Benda bundar berwarna putih itu melambung cukup tinggi sampai akhirnya mendarat dengan selamat. Dia berlari ke sana kemari hanya untuk mencetak gol di gawang lawan.

“Goooool!!!!” Bocah lelaki yang mengenakan kaus Madrid itu berteriak kegirangan selagi tangannya teracung di udara. Ketiga anak yang satu tim dengannya ikut merayakan kemenangan.

Aku jadi teringat seseorang yang pernah berkata bahwa bahagia itu sangat sederhana. Kau tidak perlu keliling dunia kalau ada hal kecil di sekitarmu yang bisa membuatmu tersenyum.

Angin berembus pelan meniup wajahku. Arloji yang melilit di pergelangan tanganku menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Hari sudah semakin petang, dan tempat ini masih terlihat ramai. Sebagian orang ada yang tengah duduk di tangga Monumen Perjuangan, sebagian lagi lebih memilih jogging di area taman.

Seekor anjing Golden Retriever melintas di depanku bersama pemiliknya. Mereka singgah di salah satu sudut yang ditumbuhi kembang sepatu berwarna-warni. Kilau matahari sore menyeruak di antara celah-celah pelepah pohon pinang. Aku lekas menenggelamkan buku The Street Lawyer ke dalam ransel dan beranjak bangkit dari kursi besi yang kududuki. Sepasang kakiku mulai melangkah menuju pintu keluar.

Di seberang sana Lapangan Gasibu. Namun jalanan tampak padat oleh sejumlah kendaraan yang sibuk berlalu lalang. Jam-jam seperti ini adalah jam di mana bunyi klakson saling beradu dengan caci maki para pengguna lainnya. 

Aku tidak pernah mahir dalam urusan menyeberang jalan. Keramaian dan lalu lintas yang rumit selalu membuat ketakutanku semakin parah. Dan sewaktu aku hinggap di sebuah pembatas jalan yang memisah dua ruas jalan, satu pesan baru muncul di layar ponselku.

Kamu di mana? Aku udah d Lapangan Gasibu.

Dadaku seakan bergemuruh. Aku mendadak diserang rasa takut dan bahagia secara bersamaan. Dan selama beberapa saat, aku masih berdiri di sana mengamati lalu lintas.

***

Kami pertama kali berkenalan di sebuah komunitas menulis online. Setiap anggota diberi akses untuk mengunggah tulisan mereka, memberi komentar pada post anggota yang lain, sekaligus menambah teman ke dalam friendlist.

Itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu.

Aku lupa tanggal berapa tepatnya. Tapi seingatku, itu adalah pertengahan bulan Juni. Aku baru saja mengunggah tulisanku yang berjudul City Of Tears. Cerpen itu bercerita tentang seorang perempuan yang berjuang mencari cinta sejatinya di kota Paris, namun berakhir dengan air mata. Terdengar tragis memang.

Komentar pertama datang dari seorang pemilik akun yang tak kukenal sebelumnya. Dia terpukau oleh alur ceritaku yang unpredictable. Dia juga mengaku bahwa tulisanku tidak melankolis sama sekali, meskipun kisahnya sangat menyentuh.

Orang itu bernama Awan, mahasiswa tingkat pertama di sebuah Universitas Islam di Bandung. Awalnya aku menduga dia satu tahun di atasku, atau barangkali kami seumuran. Tapi justru dia lebih muda setahun.

Aku dan Awan menjaga komunikasi lewat Yahoo Messenger dan e-mail. Sekadar bercerita mengenai sajak yang sedang ditulisnya, saling berbagi ide dan advice satu sama lain, bahkan tak jarang dia memberiku semangat untuk lekas menuntaskan naskah novelku. Semua itu terus berjalan sampai suatu ketika –  Awan menuliskan nomor ponselnya di sebuah surel tanpa subjek.

Setiap sajak yang dia tulis kukagumi dengan caraku sendiri.Tulisannya begitu sederhana, namun sanggup membuat orang jatuh cinta. Itulah yang terjadi padaku saat membaca sajaknya yang diberi judul ‘Ruang’. Pada salah salah satu bait, ada kalimat yang berbunyi; aku lebih suka waktu berjalan apa adanya. Tidak begitu cepat seperti saat aku dengannya, tidak juga terlalu lambat ketika aku tak bersamanya.
Tanpa pernah aku sadari, waktu telah mengubah kekaguman itu menjadi rasa suka yang tak biasa.

***

Kalau ketemu orang pake jaket jins bawa ransel hijau tua, tegur aja.

Pesan itu telah terkirim sejak aku tiba di Lapangan Gasibu. Mengedarkan pandangan ke sekitar sambil menempelkan ponsel di telingaku. Nomornya mendadak tidak aktif, sementarakakiku terus terayun di atas halaman ber­-paving. Sesekali menoleh ke sana kemari hanya untuk memastikan dia benar-benar berada di sini.

“Rayna!”

Terdengar seseorang memanggil namaku dari arah belakang. Sebuah suara yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Aku praktis membalikkan badan. Mematung sejenak saat aku berhasil menemukan si pemilik suara itu.
Dia benar-benar berada di sana. Duduk seorang diri di atas bangku semen. Kemeja cokelat membungkus tubuh tegapnya. Tersenyum ke arahku seakan-akan memanggilku untuk segera mendekat.

Aku menuju bangku itu dengan perasaan tak keruan. Mengambil posisi duduk di sebelahnya sambil mengulurkan jabat tangan. Dan sewaktu kulit kami bersentuhan, aku dapat merasakan rasa geli dan sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhku.

“Kamu kebingungan banget tadi,” gumamnya tiba-tiba.

“Aku nggak tahu kalau kamu duduk di sini. Padahal tadinya aku mau jalan sampai ke ujung,” ujarku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Dia melepaskan derai tawa di udara. Tawa yang begitu renyah sehingga aku terpikir untuk mengabadikannya dengan kamera.

Usai tawa itu, suasana di sekitar kami berubah canggung. Aku terpikir untuk membuka satu percakapan, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.

Kudengar dia bertanya, “Kemarin lancar ketemu sama editor-nya?”

Aku menganggukkan kepala dan bercerita mengenai perjalananku dari mulai duduk di dalam gerbong KRL menuju Stasiun Lenteng Agung, sampai keluar dari kantor penerbit.

“Editor-nya bahkan kasih tantangan tiga puluh hari menulis. Kami udah brainstorming kemarin,” ulasku bersemangat. “Aku ambil setting tempatnya di Bangka dan harus riset tentang suku-suku apa aja yang ada di sana.”

“Kamu asli sana, harusnya itu nggak bakal bikin kamu kesulitan.” Dia menatapku lekat-lekat. Sepasang bola mata berwarna cokelat cerah itu seakan mengajakku tenggelam ke dasar sana.

Teringat pada sesuatu yang hendak kusampaikan padanya. “Aku dapat tawaran kerja di Bali, di bagian pemasaran hotel. Katanya sih hotel itu baru beroperasi setahun. Jadi butuh tenaga kerja yang bisa dipercaya.”

“Pemasaran?” Kedua alis tebalnya mengerut. “Menyimpang banget dari passion kamu, Ray.”

“Aku tahu. Makanya aku belum berani mengiyakan tawaran itu,” ujarku terus terang. “Kamu tahu sendiri, Bali berbeda dengan Jakarta. Budayanya cenderung kebarat-baratan.” Klub malam, bisnis prostitusi yang tersembunyi, ancaman para teroris; sepertinya semua alasan itu terasa cukup bagiku untuk tidak berkarier di Bali.
  
Apa pun yang pilihan yang kamu ambil, aku selalu dukung yang terbaik untuk kamu.”

“Terima kasih, Awan.”

Kepalaku tertunduk dalam, menyadari bahwa dia tidak perlu mengucapkan hal itu kepadaku. Karena pada akhirnya, semua itu tak berarti apa-apa. Kebaikan yang dia miliki sudah tercurah sepenuhnya untuk orang lain.

Dan orang lain itu bukan aku.

Aku sudah tahu begitu banyak tanpa harus mendengar kisah apa pun dari dia. Semua sajak yang dia tulis selalu dipersembahkan untuk orang yang mencintainya sejak lama. Seseorang yang sudi berkorban untuk dia dalam kondisi tersulit sekalipun.

Keheningan yang menggantung di antara kami seketika buyar saat kudengar ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari seseorang.

Awan memandang layar ponselnya tanpa berkedip. Isi pesan itu berhasil menyedot hampir seluruh perhatiannya. Namun, dia tak menunjukkan tanda-tanda untuk mengirim sebuah pesan balasan. 

Ragu-ragu aku bertanya, “Siapa, Wan?”

“Linda,” ujarnya lirih. “Aku harus pulang sekarang, Ray.”

Seharusnya aku tidak perlu bertanya sesuatu yang terdengar bodoh seperti pertanyaanku barusan.
Seharusnya aku sudah tahu dari awal, pengirim pesan itu adalah kekasihnya. Seorang pacar akan senantiasa membuat ponsel kita berdering 24 jam dalam sehari – 7 kali dalam seminggu.

Aku mendongakkan kepala sewaktu dia mulai beranjak dari duduknya. Menyampirkan ranselnya di bahu tanpa mau melirikku sedikit pun.

“Aku pulang, ya.”

“Hati-hati,” balasku dengan suara bergetar.

Awan perlahan melangkahkan kakinya. Punggungnya semakin terlihat menjauh. Menaiki sejumlah anak tangga dan menghampiri seseorang yang sedang menantinya di bibir jalan.

Seseorang yang menjadi tempatnya untuk berpulang.

Langit kota Bandung satu jam lebih gelap. Warna jingga tumpah di sepanjang cakrawala. Senja kini semakin tua. Kekagumanku terhadap dirinya pun terasa sia-sia.

***

Dear Awan...
You – you alone will have the stars as no one else has them
In one of the stars I shall be living
In one of them I shall be laughing
And so it will be as if all the stars were laughing, when you look at the sky at the night
You – only you – will have stars that can laugh.

Sincerely, Rayna