Write. Anywhere. Anytime.

Sabtu, 30 Mei 2015

Selamat Menjadi Genap, Sahabat.


Sebagian orang kerap kali mengaitkan momen ulang tahun dengan pengurangan sisa umur. Saya sering mendengar sejumlah harapan yang diucapkan untuk mereka yang sedang berulang tahun – sehat selalu, semakin dewasa, semoga panjang umur, dan bahagia. Terdengar seperti lagu, ya? Tapi entah kenapa, kalimat klise seperti itu dapat membuat siapa pun tersentuh.

Mari kita enyahkan sejenak filosofi ulang tahun ini sejenak dan mengenang momen paling berharga dalam hidup kita. Menghidupkan masa lalu. Saya sering melakukannya, dengan atau tanpa teman. Memang tidak ada yang menarik dengan hal itu. Rasanya seperti membuang-buang waktu saja. Namun, ada semacam keseruan setiap kali saya menjelajahi koridor memori dan bertabrakan dengan secuil cerita lampau.

Itu adalah pertama kalinya kami memulai pertemanan. Facebook sangat berjaya pada saat itu. Lewat perkenalan singkat, coretan di dinding profil masing-masing, komentar nyeleneh di album foto; sudah menjadi kebiasaan kami sehari-hari. Mungkin di akhir tulisan ini, saya harus memberi credit khusus untuk Mark Zuckerberg yang telah menciptakan Facebook.

Saya sempat menjulukinya sebagai The Most Talkative Person. Bagaimana tidak? Dia bisa berceloteh ratusan kalimat di saat saya hanya mampu menuturkan sepuluh. Saya sering berbicara padanya tentang masalah percintaan, karier, passion, bisnis, teknologi, edukasi, dan entertainment. Dia tahu bagaimana caranya menempatkan diri pada sejumlah aspek yang berbeda. Mungkin karena dia seorang Geminian. Biasanya, orang Gemini itu supel dan fleksibel.

Pada suatu siang yang terik di pengujung bulan Maret, kami meninggalkan kos dengan pintu pagar berwarna hijau itu. Menyusuri gang kecil yang terhubung langsung ke jalan raya Ujung Berung. Atmosfer dipenuhi asap kendaraan. Saya mengayuhkan kaki lebih cepat, mencari tempat untuk menanti bus Damri jurusan Kebon Kalapa, atau sekadar berteduh dari panasnya matahari. Sementara itu, teman saya jauh tertinggal di belakang. Mengusap peluh yang membanjiri keningnya dengan kain bercorak batik khas Sunda. Kepalanya tertutup tudung sweater. Dia selalu bermasalah dalam urusan menyeimbangkan kecepatan.

Sebuah pohon yang berdiri di depan bengkel kusam menjadi tempat persinggahan kami. Saya sempat menebak, bus Damri akan mengalami sedikit keterlambatan. Lalu lintas pada jam makan siang dapat mengacaukan segalanya. Selagi menunggu kedatangan bus Damri, saya membahas kembali tentang insiden mengerikan yang kami alami tadi malam. We were kidnapped by stranger, stepped into his car, til we found the way home. Sedikit pun kami tidak pernah menduga hal itu dapat terjadi. Meskipun, ya – kami sempat terpukau oleh Nissan March putih yang dikendarainya.

Butuh waktu lima belas menit sampai bus berwarna biru putih itu muncul di hadapan kami. Seluruh kursi penumpang tampak penuh. Tak ada lagi kesempatan untuk duduk bersebelahan dan memperbincang kejadian tadi malam. Kami tak punya pilihan selain berdiri di antara himpitan mahasiswa UIN bertampang Islami.

Sebuah pesan baru tiba-tiba muncul di layar ponsel saya.

Langsung nonton atau makan dulu, Buk?

Saya bergegas menekan tombol alfabet dan membalas.

Makan dulu aja. Di Giggle Box.

***

Ada beberapa hal di dunia ini yang tak bisa dihindari, tak peduli seberapa besar kita berusaha. Sebagai contohnya, suara sopir angkot Kalapa yang meneriakkan tujuan keberangkatannya. Malam telah naik sejak satu jam lalu. Kawasan Merdeka dihujani cahaya remang oleh sejumlah lampu jalan. Arloji di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul delapan. Sebagian besar angkot jurusan Kalapa memang beroperasi 24 jam. Tapi, bus Primajasa di terminal Leuwi Panjang sana hanya tersedia sampai pukul sembilan.

“I gotta go now.”

Ada getir yang terasa ketika kalimat itu terlontar dari mulut sahabat saya. Dia membenarkan letak ranselnya. Ransel yang hanya berisi dua helai kaus, charger, dan aneka peralatan kecantikan. Ponselnya telanjur mati sejak di dalam bioskop tadi.

Pada saat yang sama, benak saya terputar lagi pada sosok Iko Uwais, Mad Dog, dan Julie Estelle. Film The Raid berhasil membuat saya menjerit dengan kondisi perut melilit. Tapi, keseluruhan film itu tidak ada apa-apanya dibandingkan drama kehilangan tiket masuk studio XXI. Memang kesalahan saya yang kelewat teledor lantaran menyimpan tiket itu asal-asalan. Entah di mana dan bagaimana tiket itu bisa hilang, saya pun tidak ingat. Satu hal yang saya tahu, tiket itu sudah menghilang dari genggaman saat kami tiba di Giggle Box.

Terus terang perasaan saya campur aduk pada waktu itu. Ada rasa bersalah, sekaligus pasrah. Bersalah karena telah mengacaukan agenda siang ini dalam satu kedipan mata. Pasrah karena saya tahu; saya patut mengganti tiket itu dua kali lipat, meskipun pada akhirnya kami masih diizinkan masuk ke Studio berkat bantuan manajer dan kesaksian si Kasir. Terima kasih, Empire XXI.

Dont forget to text me when you’re at home.” Menariknya ke dalam pelukan sebelum dia benar-benar melangkah ke dalam angkot hijau itu.

Dia mengiyakan permintaan saya dengan satu senyuman. Senyum yang seolah-olah menunjukkan, everything will be fine – sooner or later.

Dan semua itu tidak pernah salah.

Karena bagi kami, sebuah perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Saya sudah pernah mengalami hal itu berkali-kali. Making plans, waving goodbye, memulai hidup yang baru, tapi pada akhirnya – waktu selalu membawa kami pada satu pertemuan. Terminal Kampung Rambutan, Mangga Dua Square, Bandung Timur Plaza, dalam momentum yang berbeda, segalanya masih terasa sama. Senyum kami melayang di udara, dua tawa melebur jadi satu, di antara ingar-bingar suara.

Saya selalu berharap jarak dapat menguatkan, meskipun waktu selalu membuat perubahan. Tak peduli di mana pun kita berada nanti, pasti ada satu atau dua hal yang akan kita rindukan. Salah satunya; kebersamaan.

Selamat menjadi genap. Semoga selalu berkecukupan.


Sincerely,
Joy

Minggu, 17 Mei 2015

Chapter 6 - Kenangan dalam Aksara


Langit sudah gelap ketika aku dan Heru tiba di Cilandak Town Square. Pada awalnya, aku memang enggan mematuhi ajakannya. Apalagi bepergian ke sebuah Mall, tempat yang sarat akan kerumunan umat dan segala jenis aktivitas. Aku tidak pernah merasa nyaman berada di tengah keramaian. Selalu berpikir, semua orang akan menyerangku dengan tatapan aneh.

Tapi mau bagaimana lagi, Heru bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menolak ataupun bernegosiasi.

Setiap hari Sabtu, Cilandak Town Square selalu terlihat ramai dibandingkan hari-hari biasa. Seorang DJ akan hadir di tengah-tengah hall utama dan memainkan musik hingga larut malam. Tak heran jika sebagian besar para selebritis sering muncul di tempat ini. Hal itulah yang terjadi sewaktu kami meninggalkan lot parkir.

Seorang pria berperawakan sedang dengan topi jenis flat cap dan kacamata minus melintas di hadapan kami. Wajahnya tampak familier sekali. Dia pernah muncul di sebuah liputan salah satu stasiun televisi swasta, tapi aku lupa namanya siapa. Heru lekas menyadarkanku bahwa pria itu adalah Mas Joko Anwar.

Kami melewati restoran Burger King sebelum tiba di Aksara Bookstore. Heru sengaja membawaku ke sini karena dia yakin, toko buku ini juga menjual buku Memory Of Solferino.

Heru bergegas menuju undakan buku-buku yang disusun pada satu meja khusus. Semua novel best seller, majalah terbaru, dan aneka literatur terpajang rapi di sana. Sementara itu, aku berhenti di rak magazine, lantas meraih majalah entertainment dengan sosok Miranda Kerr yang menghiasi sampul depan. Tulisan-tulisan mencolok seperti; Tren Super Seru, Seks Gaya Asia, Kesan apa yang ia tangkap dalam 5 detik membuatku tertarik untuk mengintip isi majalah tersebut.

Satu demi satu halaman terlewati. Sederet artikel dan gosip membosankan berada di sana-sini. Meletakkan majalah itu ke tempat semula, sembari melayangkan pandangan ke sekitar. Tampak beberapa pengunjung sedang membaca buku secara gratis lantaran plastik pelindungnya telah terbuka. Sebagian lagi, ada yang tengah bercengkerama dengan seorang pramuniaga.

Situasi seperti ini membuatku teringat pada masa di mana aku dan Texas berbincang untuk pertama kalinya.

Aku berdiri di depan rak buku sambil menekuni Modul Praktikum Fisika Dasar milik perpustakaan sekolah. Materi yang terkandung dalam modul itu adalah hukum Newton dan prinsip dasar dinamika untuk gerak lurus. Texas juga berada di lorong yang sama denganku. Mengulurkan jabat tangan perkenalan sekaligus menyinggung tentang buku bacaanku.

Kami masih terlalu muda untuk jatuh cinta semasa itu. Tapi entah kenapa, aku dapat merasakan getaran aneh setiap kali berhadapan dengannya. Mustahil untuk memungkiri segenap keindahan yang dimiliki Texas. Pada sepasang alis tebal dan bulu matanya yang lebat, bola mata berwarna cokelat pekat, dan bibir merah yang kerap membentuk simpul senyum paling memikat.

“Adam...” Sebuah suara yang diselubungi kehangatan tiba-tiba hinggap telingaku.

Selama sekejap, aku sempat berhalusinasi jika pemilik suara itu adalah Texas. Tersenyum ketika mata kami berdua saling bertemu dalam satu garis maya. Menghambur ke dalam pelukannya tanpa peduli komentar orang-orang di sekeliling kami. Namun, semua angan-angan itu terpaksa kumuntahkan selagi aku menyadari sosok yang kini berdiri di hadapanku adalah Heru.

“Elo ternyata,” aku melengos kecewa.

Heru melipat kedua lengannya di depan dada. “Nggak di tempat rame, nggak di tempat sepi, kerjaan lo melamun aja,” gumamnya. “Nggak takut kesambet apa?”

Aku mengabaikan ucapannya dan lebih memilih bertanya, “Jadi gimana? Ketemu novel Solferino-nya?”

Dia menggeleng lesu. “Abis muter-muter ke semua rak buku, tapi gue sama sekali nggak ketemu buku yang dimaksud.”

“Udah coba tanya ke pegawainya?” Aku memberi solusi alternatif. “Biasanya kan mereka punya database semua judul buku di sini.”

“Udah,” tukas Heru. “Emang bukunya nggak ada.”

Sudah kuduga! Buku itu memang agak sulit didapatkan di Jakarta. Selain langka, novel yang ditulis langsung oleh Henry Dunant itu sudah terabaikan bagi mereka yang tidak tahu apa-apa tentang sejarah Palang Merah. Lagi pula, kalau memang benar-benar tersedia di Indonesia, buat apa aku bersusah payah membelinya di situs Amazon?

“Terus? Itu buku apaan?” Aku memperhatikan sebuah buku agak tebal bersampul hitam di genggamannya.

“Stephen King. Different Seasons. Kata Mbaknya, sih, bagus.” Dari judulnya, aku bisa menebak buku itu ber-genre fantasi atau horor thriller. Terbukti sewaktu Heru mengulas secara singkat salah satu chapter berjudul Rita Hayworth and Shawshank Redemption. Kisah seorang banker bernama Andy Dufresne yang dituduh bersalah lantaran membunuh istrinya yang selingkuh. Dufresne menjalani masa-masa tersulitnya selama menjadi tahanan di Shawshank, sebuah penjara di USA.

“Mau pinjam?” Dia menyodorkan buku itu kepadaku.

“Boleh, kalau lo nggak keberatan,” jawabku.

“Tapi ada syaratnya!”

Kebahagiaanku pupus seketika. “Apa?”

“Barteran sama buku Henry Dunant.”

Aku menggeleng mantap, sama sekali tidak terpengaruh pada seringai senyum dan tatapan Heru yang meskipun harus kuakui, sangat memesona. Tapi tetap saja, hal itu tidak akan membuatku berubah pikiran.

“Oke,” Heru mengedikkan bahu. “Mungkin belum diizinkan untuk memiliki kali, ya.”

Di ruang waktu berikutnya, kami berdua membatu dan saling berpandangan selagi irama musik melantun merdu lewat pengeras suara. Itu adalah Unbeliavable, lagunya Craig David.

But, you came and you change my whole world now
I’m somewhere I’ve never been before
Now, I see what love means...

Aku mendadak terenyuh dalam diam. Lagu itu seperti membungkus kami berdua dalam satu terowongan panjang di mana segalanya terasa hening, tanpa gravitasi, sekaligus damai. Tapi entah kenapa, lama kelamaan lagu itu terdengar memuakkan. Apalagi di tengah situasi awkward seperti ini.

Heru yang lebih dulu mengakhiri kecanggungan itu. “Kalau boleh tahu, isi twit lo kemarin sore itu tentang apa, Dam?”

Aku bergeming. Sedikit pun tidak siap untuk menjawab tentang apa, siapa, dan bagaimana penyebabnya sehingga aku terpikir untuk mempublikasikan kutipan itu ke sosial media.

“Prediksi gue, sih – pasti tentang mantan lo?”

“Bukan!” tanggapku, kelewat defensif.

Faktanya, Texas memang bukan mantan kekasihku. Hanya karena ada jarak di antara kami dan minimnya komunikasi, tidak berarti kami berdua telah resmi berpisah. Aku sendiri tidak berhak memproklamirkan siapa dan seperti apa status hubungan kami saat ini. Karena aku tahu, Texas sendiri telah memiliki hubungan asmara yang lebih jelas dengan Sarah, wanita pilihan hatinya.

“Gue tahu elo menyembunyikan sesuatu.” Heru berdiri tepat di hadapanku. “Kalau emang ada yang mau lo utarakan, ngomong aja. Gue bersedia mendengarkan, kok.”

Tenggorokanku tercekat. Sesuatu memaksa nuraniku untuk bercerita, “There was a time – when i need to forget all about my past and live my life like everyone else. Lo pasti bisa membayangkan gimana rasanya ketika semua kenangan dan suka-duka di masa lalu itu menghantui pikiran lo?” Aku menggelengkan kepala, berkedip beberapa kali sebelum melanjutkan, “Dan lo terbawa arus, nggak ada yang bisa lo lakuin selain menanti sesuatu yang nggak pasti.”

Memutuskan untuk berhenti sejenak lantaran tahu bahwa ceritaku sudah terlalu jauh. Bukan hal bijak jika aku memaparkan semua itu di hadapan Heru. Satu-satunya orang yang dapat menyelesaikan masalahmu hanya dirimu sendiri.

“Kenapa berhenti?” tanya Heru.

Aku menggeleng. “Can we skip this conversation?”

“That’s okay, Dam. Just let ‘em out.” Heru meremas telapak tanganku erat-erat. Matanya menyiratkan bahwa dia ingin mendengar satu cerita komplet tanpa melewatkan satu detail pun.

Tapi aku menepis tangannya dan berkata, “Gue tunggu di luar, ya. Gotta find some fresh air.
Sabtu, 02 Mei 2015

Chapter 5 - Pantai, Sosial Media, dan Kamu

“...Please leave a message after the beep.”

Seribu kali aku menghubungi Texas, seribu kali pula suara itu mengiang di telingaku. Suara operator sialan yang membuatku sadar bahwa jarak adalah sesuatu yang sulit untuk dikalahkan. Tak peduli seberapa besar aku berusaha, rindu yang kutanam tak akan pernah terbalas.

Aku sudah memeriksa seluruh jejaring sosial yang dimilikinya. Dimulai dari Twitter; Facebook, Instagram, hanya untuk memastikan Texas sempat mengunggah sesuatu dalam beberapa waktu belakangan. Namun tetap saja, dia tidak pernah berada di sana. Texas bukan seorang internet-addict seperti orang-orang pada umumnya.

Terkenang lagi saat aku dan Texas berlibur di salah satu pantai di Pulau Bangka. Pantai Parai namanya. Di bawah terik matahari bulan Juni, ditemani suara ombak yang berderu dan nyanyian burung laut, rasanya tak ada yang lebih indah selain dapat berdua bersama Texas di pagi yang cerah itu.

Kami berdua berbaring di atas pasir putih yang sehalus gula. Keheningan membuat kami hanyut dalam kesibukan masing-masing; Texas dengan buku bacaannya, sementara aku berkutat di depan layar Blackberry-ku. Angin yang berdesir dari belakang membuat leherku dihujani rasa sejuk. Pelepah pohon kelapa ikut bergoyang ke sana kemari mengikuti arah angin bertiup.

Di antara kebisuan yang menyatu dengan simfoni alam itu, aku memamerkan satu artikel yang kutemui di salah satu  portal berita ternama di Indonesia. Artikel itu berisi tentang seorang pelajar SMA asal Bogor yang divonis penjara lantaran menulis sesuatu yang kurang pantas di Facebook. Tulisan itu ternyata memancing emosi sehingga terjadi aksi saling memaki antara kedua belah pihak. Tidak ada yang menyangka kasus tersebut akhirnya ditangani polisi dan berujung di pengadilan.

“All those fucking social networks can make anything more difficult.” Begitu katanya dulu.

Aku melepas Blackberry-ku dari genggaman dan meletakkannya asal-asalan di sebelahku. “Bukannya kamu selalu peduli sama hal-hal yang berbau hukum?” Menyinggungnya pada salah satu pihak terkait yang terlibat kasus pencemaran nama baik lewat Facebook.

“Tergantung kasusnya.” Texas menutup buku Pride and Prejudice yang dibacanya sejak tadi. Memandangku dari balik kacamata hitam itu sambil berkata, “Kontroversi yang terjadi pada media sosial biasanya bersumber dari hal sepele. Semata-mata cari sensasi. Mereka harusnya tahu, internet seperti pisau bermata dua. Punya kelebihan, tapi bisa juga sangat merugikan.”

Dia bilang, segalanya dapat menjadi mungkin lewat dunia maya. Orang biasa bisa terkenal lewat Youtube, selebritis semakin populer dengan bantuan fanpage di Facebook. Begitu dahsyatnya pengaruh sosial media di kehidupan nyata, sampai kita sering melupakan; hal-hal demikian bisa menjadi bumerang untuk diri kita sendiri.

“Contoh kecilnya kayak gini nih – “ Texas menepuk-nepuk kedua telapak tangannya yang ditempeli pasir pantai sambil berkata, “Kamu posting foto bareng seseorang ke Facebook. Padahal kamu nggak tahu kalau teman kamu itu pernah melakukan tindak kriminal, sebut saja kleptomania atau tukang bawa kabur uang orang.”

“Enak aja! Aku nggak setolol itu juga, kali.” Memutar kedua bola mata dan siap mencibir. “Aku tahu mana yang bersifat umum dan mana yang privat. Lagi pula, aku nggak pernah temenan sama tipe orang kayak gitu.”

“Sekadar perumpamaan. Don’t get me wrong, Babe.” Dia menyeringai lebar, tahu bahwa kisahnya terinterupsi oleh cibiranku. Tapi, Texas sama sekali tidak merasa keberatan. Dia malah mendekatkan wajahnya pada wajahku, sehingga aku dapat merasakan dengan jelas napasnya berembus.

Dan, hal pertama yang ingin kulakukan pada saat itu adalah melumat bibirnya. Terbayang setiap kali anak rambut di dagunya bersentuhan dengan kulitku sehingga kerap menimbulkan sensasi geli.

“Dalam kasus yang aku sebutkan tadi, secara tidak sengaja kamu udah membantu orang lain yang punya urusan sama buronan itu. Mereka cukup interogasi kamu, berbagi infomasi, selanjutnya tinggal cari keberadaan Si Buronan.”

“Social media makes nobody to be somebody.”

“Itu kelebihannya. Kekurangannya?” Pandangannya lurus ke arah lautan. Dia meneruskan, “Orang bakal beranggapan kamu salah pergaulan. Orang juga bisa berpikir kamu sekongkol sama buronan itu.”

Semua perandaian itu membuatku sadar kenapa Texas tidak peduli terhadap Facebook dan semacamnya. Ada banyak cara yang lebih baik untuk berbagi dan menerima infomasi tanpa perlu mengandalkan jejaring sosial. Dia bilang, pesan elektronik lebih efektif meskipun terbilang konservatif.

“Terus gimana sama mereka yang berhubungan jarak jauh?” Aku masih sempat menyanggah, “E-mail kan nggak cukup. Mereka pasti butuh video-chat kayak Skype...”

“Then built trust with each other.” Texas tersenyum dan kembali menekuni bukunya.

Itulah alasan mengapa aku mengagumi sosok Texas sampai saat ini.

Texas selalu menilai segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Pola pikirnya sulit untuk diprediksi. Bahkan, apa pun yang dia lakukan tak pernah salah di mataku. Dia selalu mempertimbangkan setiap konsekuensi yang akan dia terima sebelum bertindak.


Dan aku sepenuhnya percaya, dia tidak akan pernah mengingkari ucapannya.[]
Sabtu, 25 April 2015

This is How Goodbye Feels Like

Sebagian orang berpendapat, ketika hujan turun, itu artinya ada seseorang di tempat yang jauh sedang menangis. Entah menangis karena sedih, atau mungkin karena terharu. Keduanya sama-sama menitikkan air mata.

Mendongakkan kepala selagi kedua kakiku menyambangi jalanan yang terasa lengang daripada biasanya. Awan kelabu membentuk gumpalan tebal di atas sana. Tampak sebuah kilatan kecil yang menyala-nyala di kejauhan. Dalam hati aku membatin, sebentar lagi pasti akan turun hujan.

Aku menengok lagi ke arah belakang. Sebuah bangunan berlantai tiga dengan pintu pagar yang menganga di depannya. Selama beberapa saat, aku masih berdiri di sana sambil mengamati tempat itu baik-baik. Membayangkan sepuluh bulan terakhir yang kulewati dengan tawa dan air mata. Sepuluh bulan yang telah menorehkan banyak sekali peristiwa.

Itu adalah hari di mana aku sedang meringkuk di dalam selimut dengan kondisi setengah terpejam. Beberapa menit yang lalu, aku sudah terbangun dari tidur. Namun udara dingin dan sisa hujan di luar sana membuatku enggan untuk beranjak turun. Mom tiba-tiba muncul di ambang pintu kamarku. Napasnya putus-putus. Menyampaikan sesuatu yang – terus terang saja – belum ingin kuketahui.

Mataku membelalak seusai mendengar berita terlontar dari mulut Mom. Di satu sisi, aku tidak dapat membendung rasa bahagia. Sebagian yang lain justru merasakan gejolak aneh yang membuat perutku seperti dipelintir. Pukul sepuluh pagi, tanpa persiapan apa-apa, aku langsung disuruh bekerja.

Aku mungkin sedang bermimpi.

Entah dari mana datangnya kekuatan itu, aku menuruni tempat tidur dan segera menuju kamar mandi. Sekadar membasahi tubuhku tanpa sempat menyentuh sabun maupun secuil shampo ke kepalaku. Sementara mulutku terus merutuk kesal lantaran tidurku jadi terganggu. Egois memang jika aku masih memikirkan waktu tidurku. Namun suatu hari kelak, aku akhirnya menyadari bahwa itu bukanlah waktu tidur, melainkan waktu bermalas-malasan.

Aku membetulkan kardus yang kupeluk sejak tadi. Aneka kertas dan buku kosong, sejumlah alat tulis yang tersimpan dalam kotak pensil, rasanya masih seperti mimpi. Aku bahkan masih sulit memercayai bahwa ini akan jadi hari terakhirku.

Terbayang lagi saat aku melangkah ke dalam ruangan dan duduk berhadapan dengan atasanku. Jantungku berdegup sepuluh kali lebih cepat. Telapak tanganku mulai basah oleh keringat. Satu demi satu kalimat telah terucap. Napasku kian memburu. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara untuk mengendalikannya.

Lima belas menit berlalu dalam keheningan. Bunyi jarum jam sanggup mengalahkan suaraku yang terlalu lirih. Sampai semuanya telah tersampaikan pun, aku belum dapat bernapas dengan baik. Rasanya seperti habis berlari 1000 kilometer.

Hal itu juga sepertinya dirasakan oleh orang yang berhadapan denganku. Aku dapat melihat mata lelahnya berkaca-kaca. Artikulasi kalimat yang dia ucapkan terdengar kurang jelas. Mungkin aku salah. Tapi, mungkin aku juga benar. Bahwa dia pun merasakan kehilangan.

Semua orang tentu merasakan kehilangan.

Memang tidak dapat kupungkiri, banyak sekali yang kupelajari selama aku berada di sini. Seluruh hal yang tidak pernah kuketahui sebelumnya, berbagai istilah yang asing di telinga, menjadi pengalaman yang bisa kugunakan di masa depan. Pengalaman adalah guru yang paling baik, bukan?

Hujan turun perlahan. Mataku terasa perih. Bangunan yang berdiri tegak di hadapanku kini justru terlihat seperti tempat yang istimewa. Sebuah tempat yang menawarkan segalanya. Sebuah tempat yang akan membuatku rindu dan ingin kembali.

Mungkin kembali, suatu hari nanti.
Minggu, 05 April 2015

Chapter 4 - Pulang Bersama


Ada banyak hal di dunia ini yang bisa saja terjadi dengan mudah tanpa pernah kita prediksi sebelumnya.

Itulah yang kualami saat aku dan Heru sedang dalam perjalanan menuju rumahku.

Dia mengajakku berbincang-bincang agar saling mengenal satu sama lain. Bertanya siapa nama lengkapku, apa saja hobi yang kugemari, pekerjaan apa yang kugeluti saat ini, lulusan universitas mana. Dan aku menjawab semua pertanyaan itu tanpa ada yang harus ditutup-tutupi.

Heru setahun lebih muda daripada aku. Dia sibuk menyelesaikan tesisnya untuk mengambil gelar Master di NTU, Singapore sana. Selain gym, aktivitasnya lebih banyak diisi sebagai master of ceremony di beberapa perhelatan besar seperti; launching kafe, bedah buku, bisnis properti dan acara-acara berkelas lainnya.

Rintik gerimis yang hinggap di kaca mobil menyisakan titik-titik embun. Hujan memang kerap muncul beberapa waktu belakangan ini. Apalagi di pengujung bulan Februari. Angin malam yang berembus dari luar berhasil masuk dan menggigit rusukku, meskipun AC mobil telah dimatikan.

“Yang sebelah kiri itu rumah gue.” Aku menunjuk sebuah rumah bercat putih dengan pagar besi. Lampu terasnya menyala terang. Sama halnya dengan cahaya yang menyeruak lewat jendela di lantai atas.

Dan tentu saja, itu kamarku!

Heru memperlambat laju mobilnya untuk mengurangi kebisingan. Hitung-hitung menghindari gerutu atau amukan dari para tetangga yang mungkin sedangn beristirahat.

Dia menatap layar jam digital yang mnempel di atas dashboard mobil. Empat digit angka berwarna biru itu menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh. Kurang beberapa menit lagi menuju tengah malam.

“Orangtua lo bakal marah kalau lo pulang larut malam?”

Aku menyengir. “Mungkin marah, kalau gue masih SMP.”

Heru ikut-ikutan tertawa. Suaranya bergema memenuhi atmosfer di dalam mobil ini.

Dia bertanya lagi, “Besok masuk kerja jam berapa, Dam?”

Aku tercenung. Bukan karena aku enggan memberi jawaban. Hanya saja, pertanyaan itu terdengar seperti keingintahuan yang bermakna khusus.

Mataku tertambat pada sebuah lambang Nazi yang bergelantungan di kaca spion. Benda itu sepertinya terbuat dari stainless stell. Didesain dan dimodifikasi sekreatif mungkin sehingga menjadi hiasan mobil. Aku jadi bertanya-tanya, apakah orang ini adalah pendukung Nazi dan Mussolini di zamannya?

“Dam...” Tangannya tiba-tiba mendarat di bahuku.

Aku terperanjat kaget mengetahui tindakannya. Sadar bahwa aku tidak menginginkan sentuhan itu sama sekali. Namun, Heru segera mengenyahkan tangannya saat aku menoleh dan mengujar, “Nggak tentu, namanya juga freelancer.”

Seperti itu saja responsnya. Jadi kurasa, sudah saatnya aku menarik kenop pintu mobil, mengangkat kaki dan berjalan ke dalam halaman rumahku detik ini juga. Untuk apa berdiam diri di sini tanpa ada satu topik yang dapat kami perbincangkan?


Tepat saat aku hendak meneruskan niatku, Heru segera menyelinap keluar hingga aku tak yakin dapat mengalahkan gerakannya. Maksudku, dia hanya berlari kecil. Tidak seperti gerakan seorang vampir di filem-filem yang pernah kutonton.

Heru yang sudah berada di luar langsung membukakan pintu mobil untukku, mempersilakanku turun dengan cara yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Bagi sebagian orang, perlakuannya mungkin terbilang manis dan cukup romantis. Tapi entah kenapa, bagiku hal seperti itu terlalu norak dan – menggelikan! Karena lucu sekali jika ada seseorang yang baru kukenal beberapa jam lalu, tiba-tiba menunjukkan perilaku aneh seperti itu.

Satu-satunya tindakan yang hendak kulakukan hanya melangkah keluar dari dalam mobilnya. Berjalan seakan tidak terjadi apa-apa. Walaupun pada akhirnya aku harus berkata, “ Terima kasih untuk tumpangan gratisnya.”

“Jangan sungkan. Gue sama sekali nggak merasa direpotkan.” Sebuah senyum tergurat sempurna di wajahnya.

“Gue – masuk duluan, ya,” ucapku sambil melingkarkan kedua lengan di pinggang, demi mengusir rasa dingin.

Heru mengangguk, mengizinkan aku untuk kembali ke rumah. Tidak beberapa lama sesuai membukakan pintu pagar, dia justru menggamit lenganku dan berseru, “Tunggu sebentar.”

Aku mengernyit heran. “Apa lagi?”

“Nanti gue bakal mention ke Twitter lo kalau gue udah sampe rumah.”

Lagi-lagi masalah Twitter! Kami memang membicarakan hal itu sejak  perjalanan tadi. Namun aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia perlu memberiku kabar seperti itu sedangkan kami baru bertemu.

Mention-nya nggak akan gue balas. Ya – barangkali gue bakal nge-block akun lo, terus ambil tindakan report as spam.”

“Gue bakal bikin akun baru,” balasnya bersikeras.

“Coba aja kalau berani!”

Heru kembali melepaskan tawa, sama sekali tidak tersinggung akan penuturanku. Tawanya begitu hangat, seksi, dan memikat sehingga aku merasa ditelanjangi – tidak mampu berbuat apa-apa melainkan kejujuran kalimatku sendiri.

“Bercanda. Lagian gue bukan anak ABG yang doyan minta follow-back atau berusaha di-follow seseorang.”

Aku tersenyum, bersyukur karena dia tidak menanggapi ucapanku terlalu serius.

“Cepat tidur. Kayaknya lo udah ngantuk.”

Well, then. Good night.” Aku berpamitan, sepenuhnya sadar sewaktu melontarkan kalimat selamat malam itu. Karena meskipun Heru bukan siapa-siapa, tetapa saja kata-kata itu mengundang secuil perhatian yang mampu membuat wajahku merona. Setidaknya itu yang tengah kurasakan.

Aku masih mematung di depan pintu pagar, menyaksikan Heru melangkah ke dalam kecebong merahnya, kemudian mulai menyalakan mesin mobil. Tersenyum ketika dia menurunkan kaca jendela dan berusaha memutarbalikkan mobilnya ke arah yang berlawanan.

Hanya butuh lima belas detik sampai Toyota Yaris yang dia kendarai menembus kabut tebal di kompleks perumahanku.
Kamis, 19 Februari 2015

Chapter 3 - Apollo Bar

Setelah sekian lama dan untuk ketiga kalinya, aku mengunjungi Apollo.

Karena entah bagaimana, rumah seolah berubah menjadi tempat yang amat membosankan. Tak ada lagi kenyamanan dan kehangatan. Aku sendiri tidak menyangka jika peristiwa waktu itu bisa membawa dampak buruk terhadap sesuatu yang belum pernah kuprediksi sebelumnya. Papa mulai jarang pulang dan lebih memilih bermukim di rumah dinasnya. Bunda semakin sibuk dengan pekerjaannya di klinik. Sementara itu, aku dapat merasakan hubunganku dengan David semakin menjauh.

Seperti ada tembok besar yang membuat kami lupa satu sama lain.

Aku sepenuhnya sadar, semua itu disebabkan olehku – murni kesalahanku. Fakta sederhana bahwa akulah satu-satunya orang yang menyeret adikku ke dalam masalah. Satu-satunya orang yang terlalu percaya diri untuk tampil di tengah gerombolan anak-anak. Tanpa pernah menebak, mereka pasti memvisualisasikanku sebagai pria lemah lembut dan gemulai.

Dan tujuan utamaku mendatangi tempat ini bukan karena aku hendak menatap warna-warni lampu disko sambil menikmati sebotol bir sampai tak sadarkan diri. Aku hanya ingin menemui Bagas. Sekadar bertatap muka dan menceritakan betapa rumitnya masalah yang muncul akhir-akhir ini. Atau barangkali, Bagas mempunya satu cerita mengenai Texas yang belum pernah kuketahui sebelumnya.

“Bir atau cocktail?” Seorang bartender menghampiriku yang tengah melamun di meja bar. Dia berdiri di sana sambil ber-juggling ria dengan botol shaker-nya.

Aku memandang cowok itu dengan alis mengernyit. Berpikir apakah semua bartender di tempat ini harus mahir beratraksi penuh gaya – memutar, melempar botol di udara, lalu menangkapnya – di depan pelanggannya.

“Nanti aja.”

Tidak butuh waktu lama sampai bartender itu menghampiri pelanggan yang lain di ujung bar. Tiga pria metropolitan dengan setelan trendi yang sibuk jelalatan ke sana kemari. Barangkali sedang mencari mangsa di antara lautan manusia yang tengah asyik berjoget itu.

Mengedarkan pandangan ke sepanjang meja bar selagi aku memulai pencarian. Orang-orang dengan kemeja hitam, slayer hitam terikat di kepala, piercing di telinga – terlihat seperti satu keharusan bagi para bartender itu.

Dalam hati aku bertanya, mengapa Bagas sama sekali tidak terlihat?

“Eh, Bro!” panggilku kepada seorang bartender lain yang tengah mengelap meja kerjanya.

Dia menyampirkan lapnya ke bahu. Menghampiriku dan melempar pertanyaan yang sama, “Bir atau cocktail?”

“Bukan...” Aku menggeleng takjub. “Gue mau cari Bagas. Ada lihat dia nggak?”

“Bagas – “ Dia memutar kedua bola matanya. “Bagas yang mana, ya?”

“Bagas yang kerja di sini, yang jadi bartender,” ujarku sambil mengetuk ujung jari tengah di atas meja bar.

“Waduh, gue kurang tahu, Bro. Gue baru dua bulan kerja di sini masalahnya.”

Musik berdentum semakin keras. Lampu laser bergerak lincah seperti sorotan mercusuar. Aku memperhatikan panggung yang kini mengeluarkan efek asap berwarna-warni. Samar-samar terlihat beberapa pria yang muncul di antara gumpalan asap itu.

Pria-pria berbadan tegap yang hanya mengenakan briefs sebagai pelengkap.

Sorak-sorai penonton melambung di udara menyambut kedatangan mereka. Tentu saja, inilah satu pertunjukan yang ditunggu-tunggu. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menonton aksi seronok para pria nyaris bugil di atas panggung. Tak ada larangan bagi siapa pun yang mau menggoda atau meraba-raba tubuh mereka. Bahkan, ada yang rela merogoh kocek lebih dalam hanya untuk menikmati fasilitas short-time dengan para penari erotis itu.

Aku tiba-tiba teringat seseorang.

“Kalau sama Tommy yang anak go-go boy, lo kenal?” tanyaku setengah berteriak, mencoba menyaingi lagu I Don’t Like You-nya Eva Simons yang di-remix sedemikian oleh DJ.

Tommy kerja di Apollo juga. Semua orang mengenalnya sebagai go-go dancer. Meskipun harus kukatakan – dia juga berprofesi sebagai escort yang biasa dipanggil untuk acara-acara tertentu. Bagas yang mengenalkannya padaku dulu. Selain itu, Tommy pernah memiliki keterkaitan dnegan Texas, di mana keduanya sempat berpacaran untuk waktu yang singkat di masa lalu.

Dan seandainya  aku bertemu Tommy, barangkali dia juga tahu keberadaan Bagas.

“Kurang tahu juga, Bro,” jawabnya polos. “Setahu gue emang banyak dancer lama yang udah pada cabut.”

Aku tertunduk lesu. Meratapi semua agenda yang telah tersusun rapi, namun hancur berantakan dalam waktu kurang dari 1 jam. Tidak ada satu pun dari rencana itu yang berjalan sesuai keinginan. Aku bahkan tidak tahu harus melarikan diri ke mana. Tak ada lagi tempat yang bisa dijadikan persinggahan.

Sebagian besar pengunjung Apollo kini mengerumuni area panggung. Lantai dansa terasa lengang. Mengamati kemeriahan yang berlangsung di atas sana dari kejauhan. Ada empat orang pria muscle bertopi pelaut sedang meliuk-liuk seperti ulat. Tubuh mereka yang dibanjiri keringat tampak berkilauan di bawah sorot lampu. Dua di antara empat orang itu saling berhadapan dan menggerayangi satu sama lain.

Dua tahun lalu, aku pernah menyaksikan pertunjukan serupa di sini. Texas duduk di sebelahku waktu itu, lebih tertarik berbincang dengan Bagas yang baru kukenal dalam hitungan menit. Sesekali Texas menegurku hanya untuk menawarkan minum dan mengajakku bergabung dalam percakapan mereka.

Tapi aku mengabaikan imbauannya. Tak pernah merasa nyaman saat berbincang dengan orang-orang baru.

“Punya lighter?”

Aku tersentak kaget dan praktis menyudahi semua lamunan. Menolehkan kepala pada seorang cowok bertubuh jangkung yang tiba-tiba saja berada di sebelahku. Sebatang rokok putih teracung di antara telunjuk dan jari tengahnya. Dia terus menatapku dalam-dalam sampai aku terdiam dalam kebingungan.

Cricket? Umm – “ Aku mulai bertingkah tidak keruan, melirik ke sekitar kemudia meraba saku jinsku. “Sori, gue nggak merokok.” Karena memang benar, aku sudah berhenti merokok sejak dua tahun terakhir.

Dia mengangguk sambil menyeringai. “That’s okay.” Cowok asing berkemeja denim ini pun membalikkan badan dan memanggil seorang bartender. Berbicara sedemikian dekat untuk meredam bunyi bising yang berasal dari sound system. Tak beberapa lama, bartender itu kembali dengan membawa sebuah korek gas Zippo dan meletakkannya di atas meja.

Api Zippo perlahan menyambar ujung rokok sampai mengeluarkan asap kecil. Refleks membungkam mulut dan hidung dengan kedua telapak tangan supaya terhindar dari zat beracun itu.

“Lo terganggu?” Cowok itu memandangku dengan tatapan bersalah. “Maaf. Gue nggak tahu lo alergi asap rokok.”

Dan sebelum aku sempat menanggapi ucapannya, dia lebih dulu mematikan rokok itu ke alam asbak di hadapannya.

“Dulunya gue emang bukan perokok. Anti banget malah sama asapnya.” Dia mengulas tanpa kuminta. Meneguk cairan merah di gelasnya sebelum bercerita, “Sekarang boro-boro mau berhenti, sehari aja biasa habis dua bungkus.”

Aku hanya tersenyum tipis, tidak tahu menunjukkan reaksi yang tepat terhadap kisahnya. Dalam hati menduga-duga, cowok ini pasti sedang kesepian. Dia datang ke sini untuk menghibur diri; minum-minum sambil mencari teman untuk berbagi cerita.

Musik di sekeliling kami memelan sejenak. Lampu laser masih berkelap-kelip, hanya saja dalam kecepatan yang sedikit lambat. Leherku terjulur untuk mencari tahu keanehan yang sedang terjadi.

Cowok dengan potongan rambut a la Morrisey itu bersuara, “Bagian dari pertunjukan. DJ sengaja bikin situasi kayak gitu supaya audience ikutan cooling down.”

Tingkahku barusan mungkin agak konyol dan kelewat parno. Karena terus terang saja, pengalamanku di dunia malam masih sangat kurang. Bisa dibilang, aku perlu membiasakan diri dengan hal-hal seperti ini.

“Sama siapa ke sini?”

“Sendiri,” jawabku datar. “Lo?”

Dia mengedikkan jempolnya ke balik bahu, satu isyarat bahwa dia tidak datang sendirian.Dugaanku sebelumnya ternyata salah besar.

“Gabung yuk! Temen-temen gue lagi di table tuh.”

Perasaanku semakin tidak enak. Mencium sesuatu yang ganjil dari ucapannya. Perutku seperti dipelintir sewaktu kami berpandangan.

Sekilas kulirik arloji digital di pergelangan tanganku. “Gue mesti pulang.” Ucapanku terdengar seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kaca.

“Cepat amat! Acaranya kan masih belum selesai.”

“Mendadak ngantuk nih.” Ralat, maksudku mendadak jenuh.

“Lo yakin?” Sepertinya dia sedang berusaha mengulur-ulur kepergianku.

Aku mengangguk mantap, tidak perlu membantah maupun mengalah. Meyakinkan diri untuk turun dari kursi tanpa perlu berpikir dua kali. Berusaha membuang muka saat melewati meja yang dihinggapi sekelompok pria bertampang mesum. Dan pada saat itu, aku sepenuhnya menyadari bahwa tidak ada gunanya berlama-lama di tempat ini.